NovelToon NovelToon
ELDISKA

ELDISKA

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa-Percintaan bebas / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Tamat
Popularitas:259.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Shann29

"Sekarang topinya dulu, besok hatinya." Ucap El pada Diska.

AWAS SENYUM SENYUM SENDIRI DAN JADI BAPER!!

Cerita cinta ditahun 90'an.
Yg kangen cerita 90an silahkan merapat dan mengenang bersama masa-masa cinta monyet dan cinta pertama.

Diska Adalah Seorang Remaja Yang Ceria, senang membaca buku dan hobi membeli banyak buku dan Pandai membuat puisi Sementara Eldirga atau yang biasa dipanggil El Seorang Pria Cool dan Galak yang mempunyai hobi bermain gitar dan menciptakan lagu.
Diam Diam Mereka Saling Jatuh Cinta Namun Saling Gengsi.

Bagaimana Kelanjutannya? Simak Terus Kelanjutannya Ya.
Mohon Kritik dan Saran Yang Membangun Untuk Penulis Agar Lebih Berkreatif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERPIHAN HATI DISKA

Sore itu, langit Jakarta tampak muram, seolah ikut menanggung perasaan Diska yang pulang dengan langkah gontai. Sepatu putihnya kotor oleh debu jalan, sementara matanya sembab—entah karena debu atau air mata yang tak lagi bisa ia tahan.

Begitu tiba di rumah, Diska langsung menutup pintu perlahan, berharap tak seorang pun melihat dirinya dalam keadaan seperti ini. Untung saja, rumah sepi. Ibu, Ayah, dan Kak Dhika belum pulang. Napasnya terasa berat ketika menaiki tangga menuju kamar.

Begitu pintu terkunci, semuanya pecah.

Diska duduk di lantai, bersandar pada ranjang, dan menangis sejadi-jadinya. Tangannya menutupi wajah, suaranya parau.

“El…” lirihnya. “Kenapa lo tega banget sama gue?”

Telepon di meja terus bergetar. Nama El muncul berulang kali, tapi tak satu pun panggilan itu ia angkat. Ia hanya menatap layar itu dengan hati yang remuk, lalu melempar ponsel ke kasur.

Sementara itu, di rumah El…

Ryan baru saja sampai di rumah Kakek El, tempat di mana sahabatnya kini tinggal sementara. Tak lama kemudian, El datang, wajahnya kusut, mata merah, dan tanpa ekspresi.

“Tega ya lo sama Diska,” ucap Ryan datar.

El tak menjawab. Ia hanya menatap lantai, kedua tangannya saling menggenggam kuat di atas meja.

“Lo tau nggak, El? Diska tuh chat gue semalam. Dia minta gue nemenin dia ke mall buat beli kado lo. Kado dua tahunannya kalian,” suara Ryan meninggi, menahan emosi. “Dan lo tau lagi? Dua kali dia bilang sama gue kalau dia kangen lo. Tapi dia gak berani datang karena lo nggak balas chat-nya!”

El mengangkat wajahnya perlahan. “Bantu gue, Yan…”

Ryan menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Gila ya lo. Lo masih berani minta tolong gue?” katanya lalu pergi meninggalkan El begitu saja.

El hanya terdiam. Ia membuka chat dari Diska yang belum sempat ia baca.

“El, gue rindu lo.”

Kata itu sederhana. Tapi cukup untuk menamparnya keras-keras.

Keesokan harinya, Ryan menemui Airin dan Bima di rumah Airin. Ia menceritakan semua yang terjadi, termasuk bagaimana Diska menyiapkan kado dan bagaimana El malah menjauh.

Airin sampai tak percaya. “El sebrengsek itu?”

Ryan mengangguk pelan. “Dan sekarang, Diska nggak mau denger suara siapa pun.”

Airin menatap Bima dan Rizki yang juga hadir sore itu. “Besok pagi kita ke rumah Diska.”

“Diska bakal nolak,” ucap Ryan.

“Makanya kita datang pagi-pagi. Dia gak bakal bisa kabur,” kata Airin tegas.

Minggu pagi, jam delapan tepat.

Airin, Ryan, Bima, dan Rizki sudah berdiri di depan pagar rumah Diska.

Ibunya yang membuka pintu tampak ramah seperti biasa. “Eh, ada Airin, Kok nggak janjian dulu?”

“Surprise, Tante,” jawab Airin cepat, tersenyum. “Kami kangen Diska.”

“Oh, begitu. Ya sudah, masuk aja. Diska di kamar. Tante mau pergi dulu, ya.”

“Baik, Tante.”

Begitu pintu pagar tertutup, keempatnya melangkah menuju kamar Diska. Airin mengetuk pelan.

Tok, tok, tok…

“Diska?”

Pintu terbuka, menampakkan wajah lelah yang seolah baru saja selesai menangis.

“Rin…?” suara Diska nyaris tak terdengar.

Airin langsung memeluknya. “Lo kenapa gak cerita, Dis? Gue sahabat lo, lo pikir gue nggak peduli?”

Diska tak kuat menahan tangisnya. Ia terisak di bahu Airin, sementara Ryan hanya berdiri menunduk, merasa bersalah.

“Gue bingung, Rin,” katanya pelan di sela tangis.

“Gue tau,” jawab Airin lembut. “Tapi lo gak sendiri.”

Ryan akhirnya bicara, suaranya berat. “Dis… gue nggak bermaksud bohongin lo waktu itu.”

“Gue tau, Yan. Gue gak salahin lo kok,” ucap Diska dengan senyum hambar.

“El udah hubungi lo?” tanya Bima hati-hati.

“Udah. Tapi gak gue angkat.”

Suasana kamar hening beberapa detik. Hanya suara isak kecil yang terdengar.

“Gue harus gimana, Rin?” tanya Diska, matanya memerah lagi. “Hati gue sakit… sakiiit banget, Rin.”

Airin mengusap punggungnya. “Masih bisa diperbaiki, Dis. Lo cuma butuh waktu buat tenang.”

Diska menggeleng lemah. “Enggak, Rin. Arah hati El udah bukan ke gue lagi.”

Ryan menatapnya. “El gak jadian sama Novi, Dis. Gue tau itu.”

“Tapi hatinya udah beda, Yan. Udah bukan buat gue.”

“Dis, hubungan kalian cuma lagi kebentur badai,” kata Bima mencoba menenangkan. “Kalau arah kalian masih sama, lo bisa balik ke jalur semula.”

Diska menatap Bima dengan mata berkaca. “Arah gue masih sama, Bim. Hati gue masih buat El. Tapi dia yang ngerubah arah itu sendiri.”

Airin menggenggam tangan Diska. “Tapi hubungan kalian harus ada kejelasan.”

Diska menunduk. “Gue nyerah, Rin.”

Ryan spontan menatapnya. “Lo gak inget gimana lo dulu mulai sama El?”

“Masalahnya, El juga udah lupa gimana dia mulai sama gue,” balas Diska lirih.

Bima menarik napas panjang. “Dis, jangan nyerah.”

“Bima… lo tau rasanya gak?” suara Diska bergetar. “El bawa gue terbang tinggi banget. Gue udah liat langit, liat keindahan yang dia kasih. Tapi pas gue lagi terbang, dia patahin sayap gue. Gue jatuh. Dan rasanya… sakit banget.”

Airin memeluknya lagi, sementara Ryan menatap ke arah Rizki dan memberi isyarat diam-diam. Rizki mengangkat ponselnya, merekam momen itu diam-diam. Video itu nanti akan dikirimkan ke El — bukan untuk mempermalukan Diska, tapi agar El tahu betapa hancurnya perempuan yang dulu ia jaga.

Sebulan berlalu.

Diska tetap tak mengangkat telepon dari El.

Sementara El… makin berantakan.

Ia kehilangan semangat sekolah, jarang masuk kelas, dan bahkan sempat terlibat tawuran. Hingga akhirnya, namanya dipanggil ke ruang BK dan dinyatakan drop out.

Ryan kaget setengah mati mendengar kabar itu. Ia langsung datang ke rumah kakek El.

“El! Apa yang lo lakuin ke diri lo sendiri?” serunya.

El hanya diam di pojokan kamar, menatap lantai. Ryan mengeluarkan ponselnya, membuka video rekaman dari Rizki, lalu memutarnya tanpa banyak bicara.

Suara Diska terdengar lirih dari video itu: “El bawa gue terbang tinggi, tapi dia patahin sayap gue.”

El terdiam lama. Lalu tiba-tiba air matanya jatuh. “Gue… gue brengsek, Yan.”

Ryan duduk di tepi ranjang. “Lo harus berubah, bukan malah hancur.”

“Diska gak akan maafin gue. Gue udah nyakitin dia banget,” kata El serak. “Gue pantas kehilangan dia.”

Ryan menatapnya iba. Ia tahu El menyesal, tapi penyesalan itu datang terlambat.

Waktu terus berjalan.

Diska naik ke kelas dua SMA. Sementara Kak Dhika lulus dan diterima di AKPOL, mengikuti jejak sang Ayah.

“Hati-hati di sekolah ya, Dis. Lo sekarang sendiri. Jangan deket-deket sama cowok kelas tiga,” pesan Kak Dhika sebelum berangkat.

Diska tersenyum kecil. “Iya, Kak. Lagian gue udah gak bisa buka hati lagi.”

“Masih cinta sama El, ya?”

Diska hanya menatap hoodie abu-abu milik El yang tergantung di balik pintu. “Arah hati gue masih ke sana, Kak.”

Kelas dua berjalan, Diska memilih jurusan IPS. Ia sekelas dengan Naya, Fahmi, dan Soni — teman-teman lamanya yang selalu membuat suasana ceria.

“Yeay! Kita sekelas lagi!” seru Naya sambil menepuk bahu Diska.

Diska tertawa kecil. “Iya, akhirnya.”

Tapi tawa itu tak sepenuhnya tulus. Ada kosong di balik matanya.

Saat jam istirahat, Fahmi memainkan gitar, mengalunkan melodi pelan.

“Kenapa lo diem aja, Dis?” tanya Fahmi.

“Gue inget El.”

Soni menimpali, “Cowo kayak gitu gak usah diinget, Dis.”

Diska hanya tersenyum. “Kadang gak bisa dipilih, Son. Rindu tuh datang aja sendiri.”

Naya dan Soni pamit ke kantin. “Lo mau nitip apa?” tanya Naya.

“Roti sama susu cokelat, ya.”

“Kenapa itu terus?”

“Dulu, waktu SMP, El yang selalu beliin gue itu tiap gue gak istirahat.”

Fahmi terdiam, lalu perlahan memetik gitarnya lagi. “Mau gue mainin lagu Mahadewi?” Tanya Fahmi. Lagu kenangan Diska bersama El.

Diska menatapnya lama, lalu mengangguk. “Iya. Gue rindu lagu itu.”

Suara gitar memenuhi kelas yang sepi.

Nada-nada itu menusuk hati Diska, membangkitkan kenangan yang sudah ia kubur dalam-dalam.

Saat lagu selesai, Diska tersenyum. “Tuh, kan? Gue kuat, gak nangis.” Diska mengangkat wajah — dan air mata justru jatuh perlahan.

“Lo nangis,” kata Fahmi lembut.

Diska menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Gue rindu El, Mi. Gue masih rindu banget.”

Fahmi hanya bisa diam, menatap gadis itu dengan perasaan iba.

Setiap pulang sekolah, Fahmi atau Soni selalu mengantar Diska pulang. Dari jauh, El sering memperhatikan. Ia melihat Diska tersenyum di jok belakang motor seseorang.

“Apa arah hati lo udah berubah, Dis?” gumamnya pelan. “Padahal gue masih di tempat yang sama… masih nunggu lo.”

Malam itu, El duduk di kamar sambil memegang topi milik Diska. Air matanya jatuh begitu saja.

“Andai lo tau, Dis, semua ini gue lakuin karena gue gak mau liat Ryan dimanfaatin orang lain.”

Ryan masuk ke kamar. “Lo gak coba datengin Diska?”

“Diska udah punya cowok lain,” jawab El pelan.

“Lo yakin? Diska bukan tipe yang gampang buka hati, El.”

“El sering gue liat diantar cowok yang sama,” ucapnya ragu.

Ryan menarik napas panjang. “Lo tau gak, El? Diska masih nunggu lo.”

El menunduk. “Gue deketin Novi waktu itu cuma buat ngelindungin lo, Yan. Gue tau dia mau manfaatin lo buat bikin cowoknya cemburu. Gue gak mau lo sakit hati.”

Ryan terdiam kaget. “Lo taruhan segede itu, El? Sampe ngorbanin hubungan lo sendiri?”

El menatap kosong. “Hati gue gak pernah berubah, Yan. Dari awal, cuma buat Diska.”

Ryan menatapnya lama. “Kalau gitu, jelasin ke dia. Jangan biarin semuanya berakhir karena salah paham.”

El menatap keluar jendela. “Kayaknya udah terlambat, Yan. Dia udah bahagia tanpa gue.”

1
Yus Warkop
terimakasih author ceritanya bagus lanjut baca cerita erlan , rehat sbulan nunggu ,puasa dulu
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
alhamdulillah 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
EL junior bakalan cepet nongol dech
Yus Warkop
waaw 4 kali
Yus Warkop
ooh jodoh ryan udah nongol naya kayanya
Yus Warkop
jodohin sama mira thor ryan biar seru
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰
Yus Warkop
udah mau nikah elu gwe nya ganti yah dengan yg lebih romantis
Yus Warkop
🥰🥰🥰🥰🥰😂😂🥰😂
Yus Warkop
betapa menenangkan perkataan ibu 🥰🥰🥰
Yus Warkop
aah si El
Yus Warkop
rasain tuh el
Yus Warkop
masih ginta monyet yah seusia gitu
Yus Warkop
sweet sweet
Yus Warkop
aku bacanya sambil mesem" aja ngingetin diri sendiri
Yus Warkop
ya kasih perhatian Dhisa samaEL yah kasian dan maklummin kslo dikit" galak nanti juga gak deh
Yus Warkop
thn 90 aku belum ngenal hp , yg ada tlpn rumah sama tlpn koin tapi itu fi kampung gak tahu kali di ibukota yah haha
Yus Warkop
seneng juga baca kisah smp haha thn 90 han aku udah tamat sma deh 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!