Risha yang akan dijodohkan memilih kabur dari rumahnya, dan akan bertahan dengan bekerja menjadi ART.
Namun siapa sangka ternyata tempat ia bernaung adalah rumah lelaki yg akan dijodohkan olehnya.
Bagaimana Risha mengahadapi perjodohan ini, bagaimana lika liku yang akan dihadapi Risha?
Nantikan ceritanya disini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nie Junie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 15 - KISAH DIBALIK RAYHAN
"Kalau mau ketawa aja, ga usah ditahan tahan!" ketus Rayhan melihat kedua sahabatnya yang sedang menutup mulut mereka dan seketika mereka pun tertawa terbahak-bahak, begitu juga dengan Bu Dian dan Pak Bagas.
Rayhan hanya bisa diam dan merutuki dirinya sendiri. Sedangkan Risha yang berada di sampingnya tengah menutup mulutnya agar tak tertawa lepas seperti yang lainnya. Rayhan hanya mendengus kesal dan segera mengambil makanan untuknya sendiri.
"Dari pada kesal mending makan aja gue!" Rayhan kemudian mengambil setiap makanan yang terhidang dan setelah itu yang lain pun mengikutinya.
"Tapi masih pada ketawa, terusin aja dulu" ucap Rayhan masih kesal.
"Kakak gitu aja ngambek!" ucap Vina ketus.
"Ya ngambeklah kamu lagian!" jawab Rayhan tak kalah ketus.
"Udah-udah jadi makan ga sih, kalian nih berdua aja kaya kucing sama anjing" ucap Bu Dian melerai anak-anaknya bertengkar.
"Lagian ini kan makan malam sambutan buat Adrian kenapa jadi aku sih Mah yang jadi pemeran utamanya" kesal Rayhan.
"Ga apa Kak sekali-sekali" ucap Bu Dian tersenyum penuh arti.
Risha yang melihat ke arah Rayhan pun langsung memalingkan wajahnya karena tatapan Rayhan yang tajam ke arahnya. Ia memang menceritakan kepada Vina tentang apa yang ia lakukan untuk Rayhan dan lagi pula Vina memang mengetahuinya, tapi tak disangka semua akan dibongkar di depan keluarga dan dua sahabatnya, sungguh tragis.
*******
Rayhan yang kini sedang duduk dibangku sekolah dasar sedang bermain dengan teman-teman sebayanya di depan rumahnya. Seperti biasa mereka sedang bermain kelereng di tepi jalan raya. Saat mereka tengah bermain ada penjual bakso yang lewat, karena ia dan teman-temannya merasa lapar maka mereka membeli bakso yang lewat tadi.
Rayhan yang belum begitu tahu dengan rasa pedas mencoba untuk memakan sambal yang ada di mangkuk yang ia lihat bersebelahan dengan kecap. Diambilnya satu sendok dan setelah dicicipi belum terasa, kemudian diambilnya dua sendok lagi. Ternyata saat Rayhan mengambil pertama kali ia belum mencampur sambal dengan kuah baksonya. Dan saat sudah ia campur ternyata rasanya sangat pedas, lidahnya seperti terbakar dan telinganya sampai berdengung.
"Pedas banget nih" ucap Rayhan kecil kala itu.
Teman Rayhan yang lain pun men,coba kuah bakso miliknya.
"Ah segini belum pedas, punyaku lebih pedas Ray" ucap teman satunya.
"Iya ya. Oke deh kumakan aja" jawab Rayhan kecil.
Sedangkan teman Rayhan yang tadi bicara hanya tersenyum-senyum. Rayhan kecil memakan baksonya dengan lahap, agar ia tak merasakan pedasnya dengan cepat ia memakan semua baksonya.
Saat sudah selesai ia langsung membayar baksonya dan pergi pulang untuk minum. Bukan meminum air hangat agar cepat reda pedasnya, Rayhan malah minum air dingin yang membuatnya minum air dingin semakin banyak. Tak lama ia pun merasakan sakit diperutnya, dengan cepat ia lari ke kamarnya dan menuju toilet.
Di sana ia merasakan perutnya yang melilit kemudian ia ke kamar mandi dan ternyata setelah kejadian itu ia selalu buang-buang air sampai mengalami dehidrasi dan di rawat di rumah sakit beberapa hari. Dan setelah ditanyakan oleh dokter apa yang ia makan Rayhan kecil pun menjawab semuanya tanpa berbohong sedikitpun.
Pak Bagas yang mendengar penjelasan dokter akhirnya mendatangi rumah teman Rayhan tadi dan bertanya sebenarnya apa salah Rayhan sampai dikerjai seperti itu dan jawaban temannya sangat mengherankan, ia hanya menjawab sekedar bercanda. Pak Bagas yang kesal hanya bisa mendengus, mau berbuat apa ia pun bingung, anak kecil belum terlalu mengerti kalau yang ia lakukan bisa fatal akibatnya.
Akhirnya orang tua teman Rayhan meminta maaf kepada Rayhan dan orangtuanya ia juga berjanji akan mendidik anaknya lebih baik lagi. Pak Bagas hanya bisa pasrah dengan keadaan ini pasalnya karena hal ini perut Rayhan langsung menolak otomatis dengan makanan pedas saat itu dan membuatnya menjadi trauma dengan masakan pedas. Belum lagi Rayhan pernah melihat ulat cabe yang membuatnya jijik. Sehingga ia lebih bersikeras untuk menjauhi makanan pedas.
Namun saat kemarin Risha pertama kali datang membuat masakan pedas dan tak sengaja Rayhan memakannya perutnya tak merespon apapun. Maka dari itu Rayhan meminta dibuatkan lagi sambal yang tak terlalu pedas dan buktinya Rayhan bisa memakannya kapanpun saat ini tanpa rasa takut lagi.
******
Rayhan dan keluarga sudah selesai makan malam, mereka tinggal mencicipi hidangan penutup yang dibuat oleh Bi Zah. Setelah selesai dimeja makan mereka kemudian berkumpul di ruang keluarga. Kedua sahabat Rayhan sudah sangat akrab dengan keluarganya maka dari itu mereka sudah tak canggung lagi.
Risha sedang membantu para pelayan membawa piring kotor ke tempat mencuci piring. Sekalian ia mencuci piring-piring kotor tersebut. Dan setelah selesai mencuci piring ternyata Rayhan sudah berada di belakangnya sehingga membuat Risha memundurkan langkahnya.
"Astaghfirullah" ucap Risha beristighfar sambil mengelus dadanya, jamtungnya seakan ingin melompat karena kaget.
"Hehe sorry Ris" Rayhan pun hanya terkekeh sambil menggaruk tengkuknya.
"Mas Ray nih bisa ga sih kalau ada perlu bilang dulu jangan tahu-tahu nongol. Jantungan beneran saya nih!" kesal Risha karena bisa berkali-kali Rayhan seperti ini padanya dala sehari.
"Yaa kan udah minta maaf Ris" ucap Rayhan lagi kali ini ia tersenyum membuat siapapun pasti luluh.
"Kenapa?" ketus Risha karena ia ingin mengistirahatkan tubuhnya di kasur empuk kamarnya.
"Di panggil Mama" ucap Rayhan sambil menunjuk ke arah ruang keluarga diamana keluarganya sedang berada kini.
"Ris besok buatin sambal lagi ya, yang kemarin udah tinggal sedikit" lanjut Rayhan.
"Hmm" jawab Risha masih kesal karena masih menyisakan deg-degan yang belum juga hilang.
"Jangan marah dong Ris" Rayhan kini menggoyangkan lengan Risha seperti sedang merengek mainan.
"Iya Mas Ray. Ya udah saya samperin Ibu dulu" ucap Risha kemudian ia berlalu dari Rayhan.
Sedangkan Rayhan hanya menatap Risha yang pergi menjauh dari tempat ia berdiri saat ini. Rasanya ia masih tak percaya dengan apa yang sudah mulai berubah dalam hidupnya. Dan setiap apa yang berubah dari dalam dirinya selalu ia sadari semua karena campur tangan Risha juga didalamnya.
Risha yang kini sedang menghampiri Bu Dian memperhatikan mereka yang sedang bercanda dan bersenda gurau. Seketika Risha jadi teringat dengan keluarganya, bagaimana kabar mereka, apa yang sedang mereka lakukan. Tiba-tiba pertanyaan itu muncul begitu saja di otaknya.
"Risha, sini sayang" ucap Bu Dian melambaikan tangannya menyuruh Risha mendekat membuat lamunan Risha buyar seketika.
"Eh iya Bu" Risha mendekati Bu Dian kemudian menunduk karena Bu Dian sedang duduk dan berada di bawah Risha yang sedang berdiri.
"Tolong ya brownies yang kemarin kamu buat di bungkusin, dua ya Risha untuk dibawa pulang Adrian dan Esa" ucap Bu Dian sambil berbisik ke telinga Risha.
"Iya Bu" ucap Risha kemudian ia langsung berjalan menuju dapur lagi untuk melaksanakan tugasnya.
Setelah Risha sudah menghilang dari pandangan yang berada di ruang keluarga Esa langsung angkat bicara karena rasa penasarannya.
"Tan jadi gimana Ray sama Risha?" tanya Esa to the point yang mana membuat ia mendapat sikutan di perut dari Adrian.
"Sakit Dri" ketus Esa sambil mencebikkan bibirnya.
"Knowing Every Particular Objects" ketus Adrian dengan tatapannya yang tajam ditujukan kepada Esa.
"Bilang aja kepo Dri, ribet lo! Tapi lo pasti mau tahu juga secara--" Esa menunjuk Adrian dengan jari telunjuknya dan belum selesai ia bicara mulutnya langsung dibekap oleh Adrian.
"Kenapa nih?" tanya Pak Bagas melihat dua sahabat anaknya bersikap aneh.
"Ga ada apa-apa Om" ucap Adrian cepat sambil menggelengkan kepalanya namun tangan satunya belum lepas membekap mulut Esa.
Akhirnya bekapan di mulut Esa di lepas oleh Adrian dengan segala upaya yang dilakukan olehnya. Dan melihat kelakuan dua pria dewasa di depan mereka, orangtua Rayhan hanya menggelengkan kepalanya, tak percaya. Sedangkan Vina jangan ditanya ia hanya melongo melihatnya.
"Semoga udah ada hasil dari upaya Tante sama Om selama ini Esa, Adrian. Kalian doakan ya semoga mereka cepat saling mencintai" ucap Bu Dian dan dianggukkan oleh Pak Bagas.
"Sengaja Tante buat biar Risha selalu berdekatan sama Ray biar mereka saling membutuhkan dan terbiasa" lanjut Bu Dian sambil menyatukan kedua tangannya di depan dadanya.
"Mudah-mudahan bisa cepat ya Tan mereka menyadari semuanya" ucap Esa dengan kebijakannya yang sedang on.
"Maksud kamu Esa?" tanya Pak Bagas bingung sampai ia pun mengernyitkan keningnya.
"Loh emang Om sama Tante ga sadar kalau Ray udah mulai cinta sama Risha?" tanya Adrian sambil menunjuk kedua orang tua tersebut bergantian yang mana membuat mereka menggelengkan kepalanya kompak.
"Tante kok ga ngerti ya?" pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari mulut Bu Dian.
"Tan tadi itu kita keluar Ray peringati aku biar ga dekat-dekat sama Risha. Dia ga akan tinggal diam katanya" wajah Adrian terlihat meyakinkan saat mengatakan kalimat barusan, dan dilihat dari manapun sepertinya memang tak ada kebohongan yang ia ucapkan.
"Are you serious?" tanya Pak Bagas karena memang ia tahu sepak terjang Adrian dan bagaimana nasib sang anak bila berhadapan dengan playboy ulung seperti Adrian.
Esa dan Adrian pun kompak menganggukkan kepalanya karena memang itulah kenyataannya. Mereka kemudian akan menyusun strategi berikutnya agar lebih mendekatkan Rayhan dan Risha. Walau mereka tak secara langsung menjodohkan namun dengan mereka memberi ruang untuk Rayhan dan Risha selalu bersama bukankah akan cepat perasaan cinta itu akan tumbuh bukan?
******
Kita tinggalkan orangtua dan sahabat Rayhan yang sedang menyusun strategi, kembali pada pemeran utama yang kini sedang berada di dapur sedang bercanda berdua. Ya, Rayhan dan Risha sedang bercanda saja berdua, lebih tepatnya Rayhan sedang mengganggu Risha yang sedang menyiapkan brownies untuk dibungkus dan dibawa pulang oleh kedua sahabat Rayhan.
"Udah dong Mas! Ini ga selesai-selesai" Risha menampakkan wajah memohonnya karena sedari tadi Rayhan selalu saja mengganggunya dan terkadang membuatnya tertawa terbahak sampai tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Risha sedang mempercantik brownies yang akan dibungkus namun Rayhan selalu membuatnya gagal meneruskan kegiatannya dengan membuat Risha merasakan geli karena Rayhan yang meniup tengkuknya. Karena memang itulah daerah sensitif Risha, ia selalu menguncir kuda rambutnya bila sedang bekerja maka dari itu tengkuknya selalu terekspos dan dengan mudah dijahili oleh Rayhan.
"Aku udahan kalau kamu mau kuajak ke taman besok" Rayhan memberikan pilihan yang mana pasti akan dijawab ya oleh Risha jika ia sudah tak tahan dengan kejahilannya.
"Ga mau! Kan udah ketemu sama orang anehnya" jawab Risha masih kekeh dengan pendiriannya yang membuat Rayhan semakin gencar menjahilinya.
Kini Rayhan sedang mengambil alih cokelat yang akan Risha tuang keatas brownies tersebut agar mau tak mau Risha akan mengatakan ya ditukar dengan Rayhan memberikan cokelat tersebut, masih belum menyerah. Dengan kekesalan hatinya yang sudah mendongkol mau tak mau apa yang Rayhan harapkan pun terjadi.
"Jangan lupa jam empat ya kamu siap-siap aku ajak ke taman" ucap Rayhan kemudian ia mengacak puncak kepala Risha dan kabur setelahnya karena takut terkena semprot atau amukan dari Risha.
"Mas Raaaayyy!" teriak Risha karena kesalnya sudah memuncak, namun setelahnya ia tersenyum.
Akhirnya selesai juga pekerjaan Risha untuk membungkus kue brownies tersebut. Dua dus kue sudah ia percantik, di bungkus dan diletakkan di paper bag yang sudah tersedia. Kemudian Risha pun membawa kue tersebut ke ruang keluarga, Rayhan pun sudah berada di sana bersama keluarga juga sahabatnya.
"Ini Bu kuenya" Risha memberikan dua kantong paper bag kepada Bu Dian dengan meletakkannya di meja.
"Makasih ya sayang" ucap Bu Dian seraya tersenyum kepadanya.
"Iya Bu, kalau udah ga ada yang diperluin lagi Risha mau ke kamar Bu" ucap Risha sopan.
"Iya ga apa istirahat aja sayang" Bu Dian menganggukkan kepalanya memberi izin kemudian tersenyum.
"Permisi Bu, Pak, Mas-Mas semua" ucap Risha kemudian ia pamit undur diri.
Rayhan hanya memperhatikan Risha sedari tadi, sejak ia datang, meletakkan kue hingga berpamitan kepada mamanya. Tak ia sadari Pak Bagas, Bu Dian, Vina, Esa juga Adrian sedang memperhatikannya.
Dan saat Rayhan menolehkan wajahnya ia terkesiap karena semua mata tangah memandangnya. Ia yang merasa tertangkap basah sedang memperhatikan Risha akhirnya bertanya untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Kenapa?" tanya Rayhan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kakak segitunya lihatin Kak Sha?" tanya Vina dengan polosnya walau ia sudah sedikit mengerti dengan bahasan yang sedari tadi ia dengar dari mama, papa juga kakak-kakak errornya.
"Siapa yang lihatin Risha? Kakak cuma bengong tadi" elak Rayhan karena malu, wajahnya pun sudah memerah.
"Jangan bohong lo!" giliran Esa kini mengejek Rayhan.
"Udah Ray ungkapin aja!" Adrian pun turut menimpali.
"Nikahin aku Pah" Bu Dian kini yang meledek sang anak.
"Mama" pekik Rayhan karena mamanya terlalu terang-terangan.
"Ya udah Mah kita batalin aja gimana?" ucap Pak Bagas meminta persetujuan sang istri.
"Iyalah Pah, udah berapa minggu nih anak kita ga ada perkembangan" Bu Dian sekilas melirik Rayhan dengan ekor matanya kemudian menarik sedikit sudut bibirnya.
"Jangan Pah Mah. Kasih Ray waktu lagi, kalian tega ya sama Ray" ucap Rayhan memohon dengan puppy eyesnya tangannya ia tangkupkan di depan dada.
"Ga mempan!" ucap mereka kompak bersamaan.
"Iss tega!" kesal Rayhan sambil beranjak berdiri dari duduknya.
"Kalau sampai dibatalin lihat aja Ray yang kabur! Udah sana pulang lo pada gue mau tidur!" ketus Rayhan mengusir sahabatnya dengan melambaikan tangannya ke udara sambil pergi meninggalkan mereka semua menuju kamarnya di lantai dua.
"Kalau kamu kabur nanti Esa papa suruh gantiin kamu ya Ray!" teriak Pak Bagas sebelum Rayhan menaiki tangga.
"Terserah!" balas Rayhan sambil menaiki tangga.
"Dasar anak itu!" Pak Bagas menggelengkan kepalanya, anaknya tak pernah berubah.
"Itu anak kamu pah. Sifatnya turunan" Bu Dian menujuk hidung Pak Bagas dengan telunjuknya kemudian tersenyum.
"Tapi kamu tetap cinta kan?" tanya Pak Bagas sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Duh papah mamah sana me time di tempat lain. Kesucian otak Vina ternoda nanti gara-gara papa mama" kesal Vina yang mana membuat Bu Dian juga Pak Bagas beranjak berdiri dan pergi ke kamarnya.
"Esa, Adrian itu kue untuk keluarga kalian. Jangan lupa dibawa ya" ucap Bu Dian setengah berteriak karena ia sedang berjalan menuju kamarnya digandeng oleh Pak Bagas.
"Iya Tan"
"Makasih Tan" jawab mereka bersamaan.
"Kak Esa sama Kak Rian ga mau pulang?" tanya Vina kesal karena ia ditinggal sendirian bersama sahabat sang kakak.
"Ya ampun kita di usir Dri!" Esa kemudian beranjak berdiri dan mengajak sahabatnya untuk pulang. Vina mengambil paper bag yang berada di atas meja dan memberikannya kepada Esa dan Adrian. Setelah itu langsung pergi menuju kamarnya.
"Bi Zah, tolong kunci pintu ya. Vina mau bobo" teriak Vina sebelum menaiki tangga.
"Ayo Sa pulang" ajak Adrian karena sedari tadi Esa tak beranjak juga hanya berdiri mematung melihat kelakuan kakak adik serta orangtua yang sama persis.
"Eh Mas Esa sama Mas Adrian baru mau pulang?" tany Bi Zah saat ia baru berada di ruang keluarga hendak mengunci pintu seperti yang diperintahkan Vina.
"Iya Bi, kita pamit ya. Makasih Bi" ucap Adrian sambil menarik tangan Esa.
"Ga Ray ga Vina sama aja" Esa merutuki sahabatnya yang sudah meninggalkannya sejak tadi.
"Pulang Bi" ketus Esa dan dijawab senyuman oleh Bi Zah.
Bi Zah memang mengenal mereka dengan baik, walaupun Esa ketus itu bukan ditujukan oleh Bi Zah makanya ia hanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Bi Zah kemudian mengunci pintu dan menghubungi satpam yang berada dipos jaga untuk mengunci semua pagar karena pemilik rumah sudah berada di kamar semua dan tak ada tanda-tanda dari mereka akan pergi lagi.
terima kasih semua...
salam sayang...
Semangat thor nie 🤗