sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 15.
hari ini hari minggu, Mala berencana bermalas-malasan saja dikos. menyibukkan diri dengan apapun itu. agar fikirannya teralihkan dari masalah pernikahannya.
Mala memicingkan matanya dengan terpaksa. ponselnya sudah berdering beberapa kali. dengan malas ia meraih ponsel yang sudah tertimbun bantal itu. telfon dari ibu.
"nak, sudah bangun belum? ayo antar ibu ke pasar bringharjo. banyak saudara kita yang pesan kain batik."
"iya bu, sebentar lagi mala jemput."
"tidak usah di jemput. ini ibu sudah ada di depan kosmu."
mendengar itu seketika Mala langsung bangun. merapikan rambutnya yang acak-acakan, menyeka bekas air liur yang sudah mengering diujung bibirnya.
"ibu masuk saja, Mala mandi dulu."
"tidak usah, nanti saja. ibu tunggu disini saja."
"yasudah, tunggu sebentar ya bu,, Mala mandi sebentar."
Mala mempercepat durasi mandinya. dia tidak ingin membuat ibu terlalu lama menunggu. setelah rapi berpakaian, Mala langsung keluar menemui ibunya.
sesaat Mala menghentikan langkahnya. Micko sedang berdiri dan menyandarkan tubuhnya di samping mobil. satu tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. sebuah tas selempang bertengger didadanya. untuk sesaat Mala mengagumi pria itu.
buru-buru Mala menggeleng-gelengkan kepalanya. mengusir perasaan aneh yang tanpa malu sempat mampir dihatinya. dia tidak tau kalau ibu sudah berada didalam mobil Micko.
"La.! mau kemana?" Dewi baru pulang dari pasar. dia nampak membawa beberapa bungkus makanan. ia menatap Micko sekilas.
"ehmm, mau ke bringharjo Wi,"
"oo,, mas Micko mau kemana? gayanya keren begitu?"
"mengantar ibu jalan-jalan." sebelumnya Micko sudah diancam Mala dengan tatapan.
"oo,, yaudah,,aku masuk dulu ya.." kemudian Dewipun masuk kedalam kosnya.
apa Dewi curiga?
diperjalanan Mala masih terdiam. sedangkan ibu dan Micko mengobrolkan apapun. mereka nampak sangat akrab.
sesampainya di pasar bringharjo, mala menggandeng lengan ibu dengan erat. menyusuri setiap toko yang menjual kain batik. dia tidak mempedulikan Micko yang terus mengikuti mereka dibelakang sambil menenteng barang-barang belanjaannya dan ibu. Mala berniat mengerjai Micko habis-habisan. dia masih tidak terima dipermainkan seperti orang bodoh.
Mala mengajak ibu berkeliling hampir seharian. dia sangat tau kalau ibu suka diajak jalan-jalan, apa lagi berkeliling tempat belanja seperti itu, ibu tidak akan pernah merasakan lelah sedikitpun. walaupun tidak banyak yang akan ibu beli.
dibelakang mereka, Micko dengan susah payah berusaha mengimbangkan diri dengan barang-barang yang dibawanya. dia nampak kesulitan menenteng barang-barang itu dengan tangannya. didepan, Mala tersenyum senang karna merasa sudah berhasil mengerjai Micko.
"ibu mau makan apa? biar mas Micko yang traktir." ucap Mala tanpa rasa malu.
kok jadi Micko? ternyata Mala belum puas mengerjainya. bagi seorang bos kos-kosan tentu bukan hal sulit untuk mentraktir mertuanya kan?
"ibu kepingin sekali makan itu lho,, sop ayam yang terkenal enak itu."
"oo,, itu adanya di klaten bu, dekat candi prambanan." timpal Micko. entah kenapa dia harus menunjukkan tempat yang jauh, padahal cabangnya ada dipenjuru kota.
"kita kesana ya bu, tapi nanti Mala tidak perlu pulang ke kos. biar kita langsung pulang kekulon progo saja."
lhah? kok begitu? kenapa jadi Mala yang kena? bathin Mala kesal.
"oo,, ide bagus itu." ibu langsung menyetujui rencana Micko.
ibu nampak sangat menikmati sajian sop ayam dihadapannya. aroma gurih kuahnya membuat lapar siapapun yang menghirupnya. ibu bahkan sampai nambah 2 kali.
"kenapa kau tidak makan?" tanya ibu yang melihat Mala sedang asyik memainkan ponselnya. Mala memang tidak memesan apapun.
"mala masih kenyang bu."
"tapi kan kau belum makan sejak pagi."
"nanti kalau Mala lapar Mala pasti makan kok bu."
melaparkan diri merupakan rencana Mala untuk melarikan diri dari rumah Micko. itu akan jadi alasan yang pas untuk kabur. ogah sekali dia harus tidur dirumah itu. para orang tua pasti akan memaksanya untuk tidur sekamar dengan Micko. membayangkannya saja membuat Mala bergidik ngeri. dia takut Micko akan melakukan 'hal itu' padanya. karna sekarang ia tidak berhak menolaknya. jadi sebisa mungkin dia menyusun rencana sempurna itu.
"jangan suka menunda-nunda makan nak, nanti magh kamu kambuh dan merepotkan suamimu." nasehat Ibu, Micko yang mendengar itu hanya tersenyum saja sambil menyeruput es jeruk dihadapannya. dia merasa mendapat pembelaan dari ibu mertua.
"iya bu."
"mau kupesankan?" Micko menawari.
Mala hanya menggeleng tanpa berpaling dari ponselnya.
"kamu jangan ngeyel Mala."
"ibu. aku benar-benar tidak merasa lapar. sudah ya,, ibu nikmati saja sop nya. jangan kebanyakan mengomel, nanti sop nya jadi tidak enak." Mala mengelak.
"memang ya. kamu ini." kata ibu kemudian melanjutkan makannya.
tapi Mala tidak peduli. rencana sempurnanya itu tidak boleh gagal.
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣