NovelToon NovelToon
Angkasa (Captain The Orion )

Angkasa (Captain The Orion )

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi
Popularitas:674.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nurul Setya

Bias Fajar Angkasa
&
Marsya Nanda Pramudita

ORION

Berawal dari sebuah pertengkaran antara seorang ketua geng motor yang bernama Angkasa dengan seorang ratu wacana bernama Marsya. Membuat keduanya saling dekat.

Apakah dihati mereka akan hadir perasaan saling suka ataukah tidak?

Disini juga menceritakan kehidupan suatu club motor di SMA Respati yang benama ORION.

Dengan semboyan mereka yaitu :

Dimana bumi dipijak, disitu kami melangkah.


Jangan lupa vote, like, and komennya ya!

Ini adalah novel kedua yang aku buat.

Semoga kalian suka sama ceritaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chat

...Jangan suka-suka sama yang lain. Suka sama gue aja udah.~Angkasa...

...______________________...

"Oh my God, Sya!"

"MARSYAAAA!"

"Aduh Qi, lo jangan teriak-teriak!"

"IH LO SERIUSAN, SYA? ANGKASA MINTA ID LINE LO? KOK BISA SIH? BUAT APAAN?"

"Gue juga kagak tau. Gue gak ngerti sama tuh cowok atu."

"Apa jangan-jangan dia mau teror lo, Sya?"

"Ish ya nggak lah. Tuh bocah udah gue ancem, kalo dia berani-beraninya teror gue. Bakal gue panggilin guru gue si Thanos!"

"Wah daebak lo Sya. Kalo perlu panggilin aja pak Thanos sekarang, gue mau daftar jadi salah satu anak didiknya. Sekalian nyalon jadi anak angkatnya juga, siapa tau di terima," ucap Qinan sambil nyengir lebar.

"Ngarep lo. Pak Thanos kagak nerima murid yang tidak berbudi pekerti luhur macam lo!" Marsya mulai mengeluarkan kata-kata pedasnya.

"Huh pedas! Hahaha," Fina, Kiran, dan Laras kompak menertawakan Qinan.

"Kamu itu berdosa banget sama gue, Sya! Salah eneng apa? APA?!" kata Qinan mulai mendramatisir.

"Ratu drama lo," sinis Marsya.

"Eh, Sya. Tapi aneh banget ya, kok si Angkasa cuman minta ID LINE lo doang? Sedangkan sama kita berempat kagak," ucap Kiran.

"Iya, gue kan mau dimintain ID LINE juga," ucap Qinan.

Kiran menoyor kepala Qinan. "Ngarep lo, Qi. Bukannya dapet ID LINE Angkasa, palingan juga dapet ID LINE di Dul lo."

Qinan mengerucutkan bibirnya, kesal kepada Kiran.

"Eh jangan-jangan.." Fina menjeda ucapannya membuat teman-temannya penasaran.

"Jangan-jangan apa Fin?" tanya Marsya.

Fina nyengir pada Marsya. "Jangan-jangan dia suka sama elo, Sya."

Marsya melotot ke arah Fina yang tengah nyengir lebar ke arahnya. "Apaa dah lo Fin, Fin. Angkasa? Suka sama gue? Gak mungkin tau gak!"

"Loh kenapa gak mungkin sih, Sya?" tanya Fina. "Bisa aja kan?"

"Gak! Gak mungkin lah. Gak deh, jangan sampe."

"Kenapa gitu? Kan bisa aja Marsya!"

"Ya kali si curut Angkasa suka sama gue."

"Tapi bisa jadi kan?" Laras ikut-ikutan mendesak Marsya, ia menaik turunkan alisnya sambil nyengir lebar.

"Cieee Marsya. Bentar lagi kita bakal dapet traktiran dari ratu bos wacana Respati nih," goda Qinan.

"Gue orang pertama yang bakal minta traktiran sama lo, Sya!" kata Kiran sambil mengangkat satu tangannya.

"Elah males gue sama lo pada," kata Marsya. "Harusnya gue kagak cerita ya sama kalian?"

"Yah gitu aja bu bos dah marah."

"Tapi tuh cowok kok aneh banget ya?" gumam Marsya.

"Aneh dari mananya Marsya? Udah biasa kali, kalo cowok minta ID LINE atau no WA cewek. Itu artinya dia mau deket atau bisa di bilang ya, semacam PDKT-an lah."

"PDKT? Apa?" Marsya berdiri lalu ia beranjak berdiri di dekat jendela kamarnya.

"Lo sih kagak pernah PDKT-an sama cowok. Padahal cowok yang antri banyak."

"Masalahnya gak ada cowok yang menarik menurut gue."

"Lah terus lo tertariknya sama saha neng?"

Marsya nyengir lebar. "Angga Yunanda gue mah. Tertarik banget."

"Halu lo, Sya!"

"Jangan ngejek!"

"Iya iya. Galak banget lo neng."

Marsya diam. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil memandang rumahnya yang ada di dekat jendela. Marsya menyuruh teman-temannya ke rumah untuk bermain. Ia memang seeung mengajak teman-temannya bermain ke rumahnya, agar ia tak kesepian di rumah. Seluruh keluarganya sudah tau, bahkan pembantu fi rumahnya pun sudah hafal kepada mereka.

"Eh Sya. Kita numpang tidur sekalian di sini yah. Boleh gak?" tanya Qinan.

"Iya terserah lo pada aja deh. Tapi jangan pada di kasur gue semua tidurnya, ntar gue gelarin kasur lipat juga buat kalian."

"Siap bu bos!"

Marsya mengambil sesuatu di pojokan kamar. Ia kemudian membentangkan kasur lipat untuk tempat tidur teman-temannya. Kan gak mungkin juga satu ranjang di tempatin 5 orang. Yah walaupun kasurnya yang king size.

Kiran dan Fina langsung menjatuhkan badannya di kasur lipat yang sudah di siapkan Marsya. Sedangkan Laras dan Qinan swdang duduk-duduk di kasur tidur Marsya.

Marsya berjalan mengambil ponselnya yang ada di meja belajar, lalu ia melihat ada notifikasi chat dari Angkasa. Cowok itu mengirimnya chat lagi. Kemudian perlakuan cowok itu kembali terliang di kepalanya.

"Kalo emang gak suka, mending gak usah di pikirin, Sya."

Marsya terdiam sejenak mendengar perkataan Qinan. Marsya tidak pernah merasa sebegininya dalam menghadapi cowok. Jadi, bagaimana ia bisa tidak kepikiran?

Marsya kemudian membuka chat dari Angkasa.

Bias Angkasa : Kenapa cuman lo read sih?

Marsya buru-buru keluar dari aplikasi LINE. Bisa-bisanya ia bersikap bodoh, karena sejak tadi ia membuka chat itu. Dan sekarang pertanyaannya. Marsya harus membalas apa?

*****

Warung pojok

Angkasa sedang memegang botol minumnya dan melihat chat yang ia kirim pada Marsya. Keringat membasahi badannya. Ia hanya memakai kaos biasa berwarna hitam. Munggar yang baru saja keluar dari permainan basket dengan teman-teman yang lain memandang Angkasa heran. Angkasa tengah fokus dengan ponselnya, namun sudut bibirnya tertarik, membuatnya terlihat sedang tersenyum kecil.

Bias Angkasa : Test Angkasa

Bias Angkasa : Kenapa cuman lo read sih?

Marsya Nanda : Kenapa?

Bias Angkasa : Kenapa lo malah balik nanya?

Marsya Nanda : Kenapa emang? Suka-suka gue lah.

Bias Angkasa : Jangan suka-suka sama yang lain. Suka sama gue aja udah.

Marsya Nanda : Dih. Apaan sih?!

Marsya Nanda : Kenapa?

Bias Angkasa : Gue kan nanya tadi

Marsya Nanda : Emang harus banget gue jawab gitu?

Bias Angkasa : Ya se enggaknya lo bales gitu.

Marsya Nanda : Y

Bias Angkasa : Singkat amat jawabnya.

Marsya Nanda : Yang penting udah gue bales.

Bias Angkasa : Iya udah sayang.

"Kenapa lo senyum-senyum sendiri? Gila lo?" Munggar duduk di sampingnya. "Tadi gimana sama Marsya?"

"Gak gimana," kata Angkasa meletakan ponselnya yang sudah ia matikan di atas meja.

"Lo suka sama dia , Ka?" tanya Munggar membuat Angkasa menoleh.

"Mungkin."

"Kenapa cuman mungkin?"

"Marsya tuh beda dari cewek kebanyakan. Di saat semua cewek deketin gue, dia tuh malah ngejauh."

"Ya itu terserah lo aja. Tapi, gue denger-denger Marsya itu sepupunya Elang. Elang juga katanya udah nganggep Marsya kek adeknya sendiri. Trus lo mau gimana?"

"Kalo bisa gue mau berdamai sama Scorpio, Gar."

"Tapi kalo mereka gak mau di ajak berdamai sama Orion gimana?"

"Gue usahain."

"Ya udah terserah lo aja dah, kapten."

Angkasa berdiri dari duduknya. "Gue mau pulang. Lo pulang kapan?"

"Gue pulang bareng sama anak-anak aja ntar. Abis itu gue mau apelin Laras di rumah Marsya."

"Apa?! Di rumah Marsya?"

"Hooh, katanya Laras sama temen-temennya malam ini bakal nginep di rumah Marsya." kata Munggar. "Kenapa? Lo mau ngikut gue? Sekalian apelin si Marsya?"

Angkasa berpikir sejenak. "Eh kagak lah. Gue malam ini ada acara main game bareng temen-temen yang lain."

"Serius nih? Gak mau ikut apelin neng Marsya?" goda Munggar.

"Kagak lah," tolak Angkasa. "Woy! Gue balik duluan yah! Jangan lupa ntar malem, kita nge-game bareng di rumah gue!" teriak Angkasa kepada teman-temannya yang sedang bermain basket.

"Yoi, hati-hati kapten," kata Maul. Sementara yang lainnya hanya memberi tanda jempol dan lanjut fokus bermain lagi.

*****

Bias Angkasa : Jangan suka-suka sama yang lain. Suka sama gue aja udah.

Bias Angkasa : Iya udah sayang

Marsya melamun setelah membaca chat dari Angkasa. Angkasa memanggilnya dengan sebutan 'sayang'? Tiba-tiba lamunannya buyar setelah mendengar suara seseorang yang meneriakinya.

"Sya! Di bawah ada abang kamu tuh! Sono samperin sekalian buatin minum," teriak Cakra.

"Bang Cakra aneh banget sih. Emang dia bukan abang gue apa!" gerutu Marsya.

"Mungkin abang lo yang satunya, si Arka kan?" kata Qinan.

"Bang Arka biasanya kalo pulang kuliyah juga gak pake nyuruh gue ke bawah buat sambut atau bikinin minum."

"Udah lah, Sya. Dari pada lo mgomel-ngomel, mendingan samperin aja sono ke bawah." kata Fina.

"Iya sana turun gih. Sekalian siapa tau aja, si Munggar udah nyamperin gue ke sini," kata Laras.

"Lah emang lo ngundang si Munggar ke sini Ras?!" tanya Kiran yang sedang tiduran santai.

"Enggak. Tadi gue cuman ngasih tau dia kalo gue mau main sekaligus nginep di rumah Marsya. Tapi si Munggar ngotot banget pengin nyamperin gue ke sini. Katanya sih mau malam mingguan bareng pacar," jawab Laras sambil nyengir lebar.

"Eh apaan tuh si Munggar. Di kira rumah gue tempat malam mingguan apa?" ucap Marsya. "Ntar kalo dia udah nyampe ke sini, bakal langsung gue usir tuh bocah."

"Usir aja, Sya! Usir!" Qinan memprovokasi Marsya.

"Usir Munggar."

"Ih kok kalian gitu amat sama pacar gue?" protes Laras kemudian memanyunkan bibirnya.

"Bodo amat."

"Sya! Buruan di bawah ada abang lo tuh," kini bukan hanya teriakan Cakra, melainkan sebuah gedoran di pintu kamar Marsya.

Dengan malas, Marsya berjalan menuju pintu lantas membukanya.

"Apaan?"

"Lo gak denger tadi gue teriak-teriak di bawah ada abang lo?" tanya Cakra.

Marsya menatap datar abangnya yang ada di hadapannya. "Emang lo bukan abang gue?" tanya Marsya.

Cakra yang di tanya seperti itu jadi salah tingkah sendiri. "Oh iya. Maksud gue, ada abang sepupu lo di bawah."

"Abang sepupu gue banyak. Jadi yang mana atu?"

"Udah samperin sendiri sono. Sekalian suruh masuk terus buatin minum gih!" suruh Cakra.

"Lah kenapa harus gue? Lo kan bisa bukain pintu."

"Gue lagi sibuk."

"Sibuk ngapain?"

"Gue lagi nge-game sama Arka. Sono bukain cepet!"

Marsya menghela napas. "Ok. Gue bukain."

Dengan langkah malas, Marsya turun menuju ruang tamu. Ia membuka pintu rumahnya lalu melihat orang yang ada di hadapannya.

"Bang Elang!" kata Marsya antusias. "Bang Elang tumben main ke sini? Ada apaan? Mau ajakin gue jalan-jalan yah? Maaf kalo sekarang gue gak bisa ikut bang Elang jalan-jalan. Soalnya ada temen-temen yang lagi main di rumah. Bang Elang..." ucapan Marsya di potong oleh Arka yang tiba-tiba ada di belakangnya sekarang.

"Elang ke sini mau main, bukan mau dengerin lo yang cerewet, Sya!" kata Arka yang sedang mengambil minum di dapur.

Marsya tersenyum malu-malu. "Hee maaf bang. Ayo masuk."

Elang pun masuk ke ruang tamu. "Tante sama om mana?"

"Mama sama papa lagi pergi."

"Abang lo? Cakra?"

"Bang Cakra lagi main game sama bang Arka tuh."

Elang mengangguk-anggukan kepalanya. "Mana temen-temen lo, Sya?" Katanya mereka lagi main ke rumah."

"Owh, mereka lagi main di kamar gue bang."

"Bang gue bikinin minum dulu yah," ucap Marsya mendapat anggukan kepala dari Elang.

Tok tok tok

Terdengar suara ketukan pintu. Elang menoleh lalu berjalan ke arah pintu. Ia terkejut melihat orang yang ada di hadapannya. Sama halnya dengan Elang, orang itu pun terkejut bukan main saat melihat Elang yang membukakan pintu.

Elnino Shareefa Munggaran. Ya orang itu yang ada di hadapan Elang sekarang. "Lo ngapain ke sini?" tanya Elang datar.

"Mau apel," jawab Munggar santai.

"Lo mau apelin siapa?"

"Pacar gue lah."

"Marsya?"

"Mana ada gue pacaran sama Marsya. Bisa abis gue di hajar sama cowok yang lagi deketin dia."

"Kalo bukan Marsya siapa lagi? Trus apa lo bilang tadi? Marsya lagi di deketin cowok? Siapa?" tanya Elang tak sabaran.

"Kepo lo."

"Lo berani sama gue, huh? Pengin gue hajar lo?" tanya Elang sedikit emosi.

Munggar tersenyum remeh. "Emang lo siapanya Marsya, huh? Cuman sepupunya aja kan? Ngapain lo ngepoin hidupnya dia?"

Emosi Elang terpancing mendengar ucapan Munggar. Ia pun langsung menarik kerah Munggar.

"Kalian lagi ngapain?" tanya Marsya sambil membawa nampan berisi minuman dan cemilan.

Kedua orang itu pun menoleh. Elang pun melepaskan cekalan tangannya dari kerah Munggar.

"Kalian mau berantem ya?" tanya Marsya sambil memincingkan matanya menatap Elang dan Munggar.

"Eng_enggak kok, Sya. Siapa yang mau berantem, gue cuman kaget aja. Kenapa si Munggar ada di sini," ucap Elang.

"Gue mau apelin Laras, Sya! Dia lagi main ke sini kan? Gue mau ajakin malming nih," kata Munggar sambil nyengir lebar.

Marsya memutar bola matanya malas. "Iya Laras ada tuh lagi main di kamar gue."

"Panggilin dong, Sya. Bilang kalo pangeran kuda besinya udah nyampe."

"Idih ngakunya pangeran berkuda besi. Gak cocok sama tampang lo tuh yang minta di gaplok tau gak!" ketus Marsya.

Elang yang mendengar itu pun tertawa remeh. "Gak ada kharismanya sama sekali lo," bisik Elang kepada Munggar.

"Owh, Kharismanya emang gak ada. Lagi main mungkin sama teman-temannya," ucap Munggar santai. Sementara Elang mendengus kesal karena tidak berhasil memancing emosi Munggar.

"Bang Elang. Ini minum sama cemilannya gue taro meja ya," kata Marsya.

"Eh gue mau ikutan main game aja sama abang-abang lo, Sya."

"Ya udah. Langsung masuk ke kamar bang Arka aja."

Elang pun mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Arka. Sedangkan Munggar tengah tersenyum sembari menatap Marsya.

"Ngapain lo senyum-senyum?" tanya Marsya. "Gila lo?"

"Ish ish ish. Pacar temen sendiri lo sangka gila. Parah lo Sya sama makhluk tampan kek gue."

Marsya mendengue kesal. "Mau lo apa?" tanya Marsya.

"Panggilin pacar gue dong."

"Ogah. Mending sana lo pergi. Malming kali ini Laras bakal seneng-seneng sama gue dan teman-teman. Mendingan sekarang lo pergi aja deh. Lagian rumah gue ini bukan tempat orang pacaran tau."

"Yah, Sya. Gitu amat sih. Panggilin Laras deh bentar," bujuk Munggar.

"Ogah. Sana pergi!" usir Marsya.

"Please lah, Sya. Panggilin Laras bentar."

"Gak ada plas plis plas plis. Sekarang pergi lo," ucap Marsya sambil mendorong Munggar agar keluar dari rumahnya.

"Tega banget lo, Sya. Bikin seorang pangeran galau menahan rindu kek gini."

"Buchin lo. Udah sana pergi!" ucap Marsya sembari menutup pintu rumahnya.

"Awas lo, Sya. Gue aduin Angkasa lo," ucap Munggar lalu pergi dari rumah Marsya menaiki motor ninja hitan miliknya dengan perasaan kesal. "Malming bareng pacar, gagal total."

...√...

Bersambung...

Wajib kasih vote, like, dan komen ya!!!

1
MommyHill💖
/Smirk//Smirk/
Febby Harya Setyaningsih
aku nungguin
Febby Harya Setyaningsih
kak kok nggak ada lanjutannya
Adistya Permata Nia Putri
kapan up lagi Thor udah lama g dlanjut pdhal ceritanya bagus q suka banget
Lovelyy
keren
Ari Mulyati
angkasa jadi tengil yahhh skrg,,,,,
mulai ada konflik nih,,,, kaya nya bakalan ada baku hantam dan pengorbanan dan air mata nih hahahahahaha,,,
aku pembaca baru nih,,,, baru semalem nemu nya novel ini,,,,,
jadi aku bacanya marathon sampe skrg,,,,, semoga kedepannya ga bikin kecewa dengan menunggu up lama
Graciendells
nextt thorr
Girl_Official
mampir kak (love in my life) aku tunggu😊
aini:-}
up thorrr
aini:-}
up thorrr
Meida Atini
aduh duh kasian bang angkasa ngakak jdi nya saya
Mochi_04
boy ben EXO aja Thor buat angkasanya biar halunya tinggi dikit🙂
Mochi_04
gx ada yang cocok thor
Feby Afrianingsih
mbak author kaya nya lupa sandi akun novel toon nya kaya nya ini makannya Lama up nya
pembaca dalam hati
ngeri blm up haha ini udh bulan 10 eh mau ke bulan 11 dehh😂😂
Santai Dyah
lnjut
Santai Dyah
boom like untuk karya terbaikmu thor
Santai Dyah
lanjut thor salam kenal dari Kabut cinta
Harni
lama gk up² lgi
Rosita Sari Anggarini
kapan up lagi. mulai ada konflik.
konflik nya sedang aja jangan yg berat2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!