NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Memangnya Ci Selena Punya Niat Jahat?

"Akun yang menjual tas palsu bekas itu diberikan Ci Selena kepadaku. Ci bilang penjualnya teman yang bisa dipercaya."

Selena terlihat terpukul. "Aku memang memberi akun itu, tapi aku nggak tahu barangnya palsu. Penjualnya direkomendasikan teman. Aku juga korban."

"Korban apa?" tanya Karina.

"Aku percaya kepada orang yang salah. Setelah kejadian, aku juga malu dan sudah memarahi penjualnya."

"Tapi yang ditertawakan satu sekolah Maya."

Nada Karina tidak keras. Justru ketenangannya membuat Selena semakin sulit bersembunyi di balik tangis.

"Waktu itu aku masih muda, Ma. Aku lalai."

"Kamu lebih tua dari Maya dan lebih mengerti barang seperti itu." Karina merapatkan syal di bahunya. "Kalau kamu yang mengenalkan penjual, seharusnya kamu periksa dulu sebelum menyuruh adikmu membeli."

Itu pertama kalinya Karina mengkritik Selena di depan tamu, bukan sekadar meminta dua anaknya berhenti bertengkar.

Meihwa mengerutkan kening. "Kesalahan anak sekolah tidak perlu dibesar-besarkan di pesta."

"Bagi Oma mungkin kecil," jawab Amaya. "Waktu itu aku baru lima belas, baru pulang dari gunung. Aku bahkan nggak tahu barang bermerek punya nomor seri, dust bag, atau jahitan khusus."

Ia menatap tas kecil milik Vanya, lalu kembali kepada Selena.

"Nggak seperti Ci Selena. Uang jajannya besar, sering belanja, punya banyak teman yang paham. Jadi saat Ci bilang penjualnya aman, aku percaya."

Setiap kalimat terdengar seperti pujian terhadap pengalaman Selena. Setiap kalimat juga mengurangi kemungkinan ia benar-benar tidak tahu.

Selena meremas sisi gaunnya. "Aku sudah bilang, aku juga tertipu."

"Iya, Ci. Aku percaya."

Jawaban mudah itu membuat Selena tidak lega.

Vanya menyela, "Lagi pula cuma tas. Semua orang pernah salah beli. Kenapa dibicarakan seakan hidup seseorang hancur?"

Jessica tertawa dingin. "Karena kamu yang membuka tas itu di depan kelas, memanggil orang-orang, lalu mengunggah fotonya ke grup sekolah. Lupa?"

"Aku cuma membantu mengecek."

"Sambil merekam Maya menangis? Bantuanmu unik."

Vanya menegakkan bahu. "Waktu itu kami anak SMA."

"Maya juga anak SMA," balas Jessica. "Bedanya dia baru sepuluh tahun jauh dari keluarga dan kalian punya seluruh sekolah untuk menertawakannya."

Beberapa tamu yang memiliki anak remaja mulai memandang Vanya dengan tidak nyaman. Citra selebgram percaya diri terasa berbeda ketika dibaca sebagai mantan pelaku perundungan.

Selena buru-buru meraih tangan Amaya. "Kalau aku tahu penjualnya buruk, aku nggak akan pernah merekomendasikannya. Kamu adikku. Aku juga sedih waktu kamu ditertawakan."

Amaya membiarkan tangannya digenggam.

"Ci sedih?"

"Tentu."

"Kenapa setelah itu Ci tetap berteman dengan Vanya?"

Jari Selena mengendur.

"Vanya sudah minta maaf."

"Kapan?"

Tidak ada jawaban.

Vanya menoleh tajam kepada Selena. Jelas ia tidak menyangka akan dijadikan perisai tanpa persetujuannya.

"Aku nggak pernah merasa harus minta maaf," katanya. "Selena sendiri yang bilang Maya perlu diberi pelajaran supaya nggak sembarangan pamer barang palsu."

Wajah Selena langsung pucat.

"Van, kamu salah ingat."

"Aku masih punya percakapan lama kita."

Ruangan mendadak jauh lebih sunyi. Tangan Robert yang semula berada di pinggang Karina turun perlahan. Tatapannya beralih kepada Selena, tenang tetapi tajam.

"Percakapan apa?" tanyanya.

Vanya akhirnya menyadari dirinya baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup. Ia mengangkat dagu, berusaha mempertahankan harga diri.

"Sudah lama sekali, Om. Aku juga nggak ingat persis. Mungkin cuma candaan anak sekolah."

"Tadi kamu bilang masih punya percakapannya," sahut Jessica. "Sekarang mendadak nggak ingat?"

"Ponsel lamaku sudah rusak."

"Aneh. Selebgram biasanya paling rajin menyimpan arsip."

Beberapa orang tertawa kecil. Bukan bersama Vanya, melainkan menertawakannya. Perubahan itu membuat rahangnya menegang.

Selena mencoba tersenyum kepada Robert. "Pa, waktu itu Maya benar-benar membeli barang tanpa memeriksa. Aku cuma kesal karena takut nama keluarga kita ikut dipermalukan."

"Jadi kamu tahu sebelum tas itu dibawa ke sekolah?" tanya Robert.

"Bukan begitu maksudku. Aku baru tahu setelah Vanya memeriksanya."

"Lalu kenapa kamu bilang dia perlu diberi pelajaran?"

Selena membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Amaya menunduk seolah tidak sanggup melihat kakaknya terpojok. Di balik bulu matanya, matanya sangat tenang.

Ia tidak perlu membuktikan seluruh rencana lama malam ini. Satu retakan kecil sudah cukup. Setelah kepercayaan rusak, apa pun yang Selena katakan kelak akan diperiksa dua kali.

Itulah hukuman yang paling cocok untuk seseorang yang selama bertahun-tahun hidup dari kepercayaan orang lain.

Amaya menarik tangannya perlahan. Ia bisa terus menekan sampai Selena kehilangan seluruh alasan. Namun malam ini pusatnya bukan sang kakak angkat.

Ia berbalik kepada Karina.

"Aku nggak peduli tas itu lagi, Ma. Aku cuma peduli Mama suka hadiahku atau nggak."

Air mata Karina kembali jatuh. "Mama suka. Ini hadiah paling berharga yang pernah Mama terima."

"Lebih berharga dari kalung giok?"

"Jauh lebih berharga."

"Kalau begitu jangan menangis terus. Nanti semua foto ulang tahun Mama matanya bengkak." Amaya melirik Robert. "Papa, hibur Mama, dong. Masa kerjaannya cuma berdiri sambil ikut merah matanya."

Robert mendengus pelan, lalu merangkul Karina dari belakang. "Istri Papa menangis karena anaknya terlalu pintar membuat kejutan. Papa bisa apa?"

"Bilang dia tetap cantik."

"Mama tetap cantik."

Karina tertawa di sela tangis dan memukul lengan suaminya pelan. Para tamu ikut tersenyum.

"Anak ini pengertian sekali," ujar seorang perempuan. "Dia tahu kapan bicara dan kapan mengembalikan perhatian kepada ibunya."

"Hadiah mahal bisa dibeli. Yang seperti itu butuh hati."

Seseorang meminta staf hotel memindahkan kotak kalung giok ke meja samping agar album bisa diletakkan di tempat utama. Gerakan kecil itu terasa seperti pergantian kedudukan. Selena melihatnya, lalu buru-buru memalingkan wajah.

Di dekat panggung, Vanya berbisik kepadanya, "Jangan seret namaku lagi."

"Kalau kamu nggak bicara sembarangan, semua tadi bisa selesai."

"Kamu yang bilang dia nggak akan berani melawan."

"Diam."

Amaya tidak perlu mendengar seluruh pertengkaran itu. Cara keduanya berdiri saling membelakangi sudah memberitahunya bahwa persahabatan yang dibangun dari satu korban akan mudah retak ketika korban tersebut berhenti diam.

Amaya mendengar semuanya tanpa terlihat mabuk pujian. Ia menata album di pangkuan Karina, memastikan bunga kering di dalamnya tidak terlipat, lalu memasukkan syal ke bawah rambut ibunya.

Nathan memperhatikan dari tempatnya berdiri.

Ia pernah mengenal Amaya yang menunduk setiap kali orang berbicara, menunggu satu pembelaan kecil darinya, lalu tersenyum hanya karena ia mengirim pesan. Perempuan malam ini tidak menunggu siapa pun. Ia mengubah seluruh ruangan dengan satu kotak tanpa meminta izin.

Seperti melihat orang asing memakai wajah yang sangat dikenalnya.

Sebagian dirinya merindukan Amaya yang dulu. Bukan karena perempuan itu lebih baik, melainkan karena ia mudah dipastikan akan tetap berada di tempat yang sama.

Amaya yang sekarang bisa berjalan pergi.

Dan Nathan baru menyadari ketakutan itu setelah melihat orang lain mulai mendekat.

Sebastian juga menatap Amaya, tetapi dengan masalah yang berbeda.

Pada malam hujan, ia hanya menginginkan tubuh perempuan tersebut. Hasrat sederhana bisa ditekan dengan jarak, pekerjaan, dan rasa bersalah. Kini ia ingin tahu kenapa Amaya menyimpan kesedihan orang lain seperti miliknya sendiri, bagaimana ia mempelajari proyek dalam tiga malam, dan kenapa ia bisa tertawa setelah membakar satu baskom laki-laki kertas.

Ia masih ingin menyentuhnya.

Namun sekarang ia juga ingin berbicara, mendengar, dan mengenalnya lebih jauh.

Keinginan semacam itu jauh lebih berbahaya.

Sebastian membenci dorongan untuk mendekat tersebut.

Seorang tamu mengangkat album dengan izin Karina. "Kalau dinilai, dokumen pencarian dan pekerjaan restorasinya pasti mahal juga."

"Nilai pasarnya tidak terhingga," kata Sebastian.

Semua orang menoleh.

"Waktu tidak bisa diputar dan ingatan tidak bisa digandakan. Benda ini menyimpan keduanya." Ia memandang album, lalu Amaya. "Giok atau berlian punya pembanding. Ini tidak."

Tatapan Amaya bertemu dengannya.

Hanya beberapa detik, tetapi udara di antara mereka terasa tertarik tegang. Jessica melihatnya dan harus menahan senyum di balik gelas.

Karina menutup album. "Mulai sekarang, urusan Maya jangan kamu campuri lagi, Selena. Kalau dia butuh bantuan, biar dia meminta sendiri. Jangan mengambil keputusan atas namanya."

Selena menahan napas. "Aku cuma ingin menjaganya."

"Delapan tahun cukup. Beri dia ruang."

Kalimat itu mendorong Selena keluar dari lingkaran keluarga yang selama ini ia kuasai. Ia menunduk agar tak seorang pun melihat kebencian di matanya.

Cara terang-terangan tidak bisa dipakai lagi.

Setelah ini, ia harus bergerak pelan dari balik layar.

Amaya mendekat dan menyentuh lengannya dengan lembut. "Mama jangan marah. Ci Selena pasti nggak berniat jahat. Waktu itu kami sama-sama muda."

Selena mengangkat wajah, waspada.

"Kalau mau menyalahkan," lanjut Amaya, "salahkan saja penjualnya yang nggak bisa dipercaya. Ci Selena cuma kebetulan memberi akun itu kepadaku, lalu kebetulan Vanya mempermalukanku di sekolah."

Kata kebetulan yang pertama masih bisa diterima sebagai penghiburan. Kata kedua terdengar seperti pisau tipis yang diselipkan di antara tulang rusuk.

Para tamu tidak lagi melihat dua kejadian terpisah. Mereka melihat sebuah jalur yang dimulai dari rekomendasi Selena dan berakhir pada penghinaan yang dilakukan sahabatnya.

Vanya menatap lantai. Meihwa mencengkeram tongkatnya tanpa membela siapa pun. Robert menunggu jawaban, sedangkan Karina merangkul pinggang putri kandungnya semakin erat.

Selena tidak punya tempat untuk mundur.

Ia tersenyum manis.

"Iya kan, Ci?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!