Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mansion utama ( Revisi )
Hari ini Anisa begitu sibuk dengan pekerjaan nya. Apalagi hari ini tanggal penghujung bulan pastinya ada saja laporan yang harus segera di selesaikan oleh nya.
Anisa membaca setiap tulisan yang ada di sebuah dokumen yang dia pegang. Setelah memastikan tak ada yang salah, dia beranjak dari tempat duduknya dan kemudian melangkah menuju ruangan Kais.
Saat Anisa ingin mengetuk pintu yang tak tertutup rapat itu, indra pendengaran nya mendengar suara Kais yang sedang melakukan panggilan dengan seseorang.
"Mama tenang saja, Kais akan segara bicara dengan Anisa soal ini." suara Kais terdengar begitu serius dalam pembicaraan lewat telepon itu.
"Kais yakin Anisa bisa menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi. Kais akan berusaha untuk menjelaskan semuanya dengan baik. Kais akan mempertahankan Anisa apapun resikonya nanti ma.."
"Ya, Kais tahu...masalah ini harus segara di selesaikan. Kais juga nggak mau berlarut-larut menahan diri agar semuanya baik-baik saja. Pernikahan ini sudah rusak sejak awal. Itu kenyataannya."
Deg..
Pembicaraan Kais yang Anisa duga melibatkan Sekar ibu Kais, terdengar begitu serius. Bahkan Anisa sempat di buat terkejut saat namanya di sebut-sebut dalam pembicaraan itu.
Klek...
"Anisa?" Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka lebar dan melihat sosok Kais kini sudah berdiri di depan Anisa dengan wajah terkejut. "Ka_kamu dari tadi disini?" Anisa yang juga terkejut karena tak menyangka Kais memergoki keberadaan nya.
"Emmm ..aku baru mau ketuk pintu. Eehhh...bapak sudah buka duluan." Anisa merubah ekspresi keterkejutan nya dengan cepat. Lalu berpura-pura baru saja ingin mengetuk pintu ruangan Kais.
"Oh..gitu, terus kamu ada keperluan apa mau temui saya?"
"Saya mau minta tanda tangan bapak buat laporan bulanan ini." Anisa menyodorkan sebuah dokumen ke arah Kais.
Kais menatap wajah Anisa dengan tatapan yang sulit di artikan. Sedangkan Anisa yang terlihat menundukkan kepalanya perlahan menatap ke arah Kais yang masih terlihat diam tanpa berniat mengambil berkas yang ada di tangan Anisa.
Kais terlihat menghela nafas panjang dan kemudian mendekatkan wajahnya di samping telinga Anisa sembari berbisik. "Aku tahu kamu dengar sesuatu. Tapi, aku nggak akan cerita sekarang. Akan ada waktu nya, sayang.." bisikan itu membuat Anisa menelan ludah nya dengan susah payah.
Kais menarik dokumen yang ada di tangan Anisa dan kemudian membawanya masuk ke dalam ruangannya. "Masuklah.." perintah itu terdengar di telinga Anisa.
Anisa berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan Kais. "Malam ini kamu ikut aku. Dokumen-dokumen yang belum sempat aku tanda tangani, kamu bawa sekalian."
Mendengar ucapan Kais, Anisa terkejut. "Maaf pak, tapi..dokumen yang bapak maksud akan saya selesaikan segara. Habis ini, saya akan siapkan dengan cepat."
Kais mengangguk sambil menyodorkan berkas yang baru saja selesai dia periksa.
...----------------...
Sesuai dengan pembicaraan Kais dan Anisa tadi siang, Anisa ikut bersama Kais menuju ke Mansion utama keluarga Kais.
Sampai di depan sebuah rumah besar mobil Kais berhenti. Saat Anisa dan Kais keluar dari mobil, mata Anisa melihat Sekar sudah berdiri di teras rumah dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Akhirnya kalian sampai juga." Kais meraih tangan Sekar dan menciumnya dengan takzim.
"Selamat datang di rumah kami Anisa ." dengan suara ramah Sekar menyapa Anisa.
Anisa yang sempat takut akan kedatangannya di sambut dengan tatapan mata Sekar yang selalu mengatakan tajam, langsung di seketika hilang rasa takut itu berganti dengan rasa terkejut.
Anisa melihat Sekar menyodorkan tangannya kearah Anisa. Dengan reflek Anisa langsung menyambut tangan Sekar dan menciumnya dengan takzim seperti Kais lakukan.
"Se_selamat sore nyonya..maaf kalau saya__
"Sudah Nisa, jangan terlalu kaku. Sekarang kamu sudah nggak lagi kerja sama Kais. Ayo masuk.." Sekar dengan ramah meraih bahu Nisa dan membimbingnya untuk masuk ke dalam rumah.
Disusul oleh Kais di belakang mereka dengan menahan senyum saat melihat wajah Anisa yang terlihat bingung dan kaget melihat perlakuan Sekar padanya itu.
"Kais, Marsya tahu kalau kamu ke sini?"
Tiba-tiba saja Sekar menanyakan Marsya pada Kais.
"Hemmm.." dengan singkat Kais menjawab pertanyaan sang ibu.
"Aku ke ruang kerja papa dulu ma.."
"Pergilah, Anisa biar sama mama. Anisa, ayo..saya mau bicara sama kamu berdua." Mendengar ucapan Sekar membuat jantung Anisa berdebar kencang.
Anisa bahkan tak bisa lagi menolak ucapan Sekar saat itu Anisa hanya bisa mengangguk setuju. Anisa melihat Kais yang sudah masuk ke dalam sebuah ruangan. Lalu Sekar membawa Anisa ke arah sebuah teras di samping rumah dengan taman kecil dan disana ada sebuah kolam ikan disana.
" Duduk,Nis." Anisa duduk berhadapan dengan Sekar di sebuah kursi yang ada di teras itu dengan jantung berdebar kencang.
Anisa meremas ujung blus nya dengan erat. Walaupun memang sambutan Sekar terlihat ramah, tatapannya pun tak seperti biasa Anisa lihat. Tatapan yang biasa terlihat mengintimidasi kini terlihat sangat berbeda.
"Anisa, kamu sudah lama bekerja dengan Kais?" Anisa mengangguk mengiyakan. "Saya tahu kalau Kais butuh seseorang yang tepat untuk selalu di sampingnya." Sekar terlihat santai saat bicara.
Terlihat Sekar beranjak dari tempat duduknya. Lalu mulai bicara kembali. "Marsya, dia anak baik..tapi dia ceroboh. Dia juga egois, jadi dia tidak akan kuat di samping Kais." Anisa mengerutkan keningnya mendengar ucapan Sekar yang saat ini membelakangi Anisa.
"Marsya begitu mencintai pak Kais." Sekar membalikkan tubuhnya menatap Anisa dengan menerbitkan sebuah senyuman miring.
"Cinta tidaklah cukup untuk sebuah pernikahan Anisa. Kesetiaan, kejujuran, sikap saling pengertian. Tidak berusaha untuk menjadi seorang yang lebih dominan. Pernikahan juga butuh kerja sama." Sekar menjeda ucapannya dan kemudian kembali duduk di kursi samping Anisa.
"Seorang istri bukan hanya mencintai suaminya,tapi juga menjaga kehormatan keluarga, menjaga kesetiaan, menjaga keharmonisan rumah tangga. Tapi apa Marsya melakukan itu?" dari ucapan Sekar membuat Anisa menyipitkan matanya saat mendengar penuturan Sekar yang terkesan mempertanyakan sahabatnya.
Dalam hati Anisa merasa tak enak karena Sekar membicarakan tentang Marsya yang sekaligus sahabatnya.
"Anisa, terkadang orang yang terlihat kuat tak selamanya akan menjadi kuat. Orang yang terlihat buruk tak selamanya akan buruk begitu juga sebaliknya. Ada hal yang terlihat baik dan terlihat sempurna ternyata hanya sampah. Bahkan orang yang sudah sadar jika dia salah, tapi tetap tidak ingin memperbaiki kesalahannya malah bahkan terlalu nyaman dengan kesalahan nya."
Deg.
Ucapan Sekar tentu saja seperti jarum yang menusuk hati Anisa. Karna bagi Anisa, dia tahu hubungan nya dengan Kais itu salah, tapi dia masih tetap melakukan kesalahan itu.
Bersambung