Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Mendadak Asing
Ahsan duduk bersebelahan dengan Regan di sofa. Ia membuka laptop, dan menjelaskan beberapa isi dari berkas yang Alvero berikan.
Tatapan Regan terus bergantian, antara layar laptop dan berkas di pangkuannya.
"Ini terlalu rumit," gumamnya dengan nada kesal. Rambutnya sudah sangat berantakan.
"Pak Regan, saya lanjut jelasin lagi, ya." Kata Ahsan.
Regan membuang napas kesal. "Pak! Pak! Emang saya setua itu? Kamu bisa kan jangan terlalu formal."
Rahang Ahsan refleks menegang. Pasalnya, entah ke berapa kalinya Regan terus keluar dari jalur pembahasan.
"Maaf, Regan. Sekarang bisa kita mulai? Kalau nggak, saya mau ngerjain yang lain."
"Yaudah."
Ahsan berdehem kecil. Ia mengambil berkas dari pangkuan Regan. Lalu, membuka halaman pertama.
"Perusahaan ini bergerak di bidang logistik. Mereka sedang mencari peluang investasi untuk memperluas armada." Suara Ahsan berhenti, ia memastikan Regan benar-benar mendengarkannya kali ini.
"Kalau tertarik, mereka biasanya minta prestasi keuntungan tahun terakhir," lanjut Ahsan.
"Hm, terus?" Tanya Regan sebelum ia menguap.
"Regan, kamu mendengarkan saya, kan?"
"Dengar, makanya aku diem."
"Oke," Ahsan mengangguk. "Emangnya saya barusan jelasin apa?"
Regan tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap Ahsan dari samping.
Ahsan menaikkan alis, memastikan jawaban Regan.
"Intinya mereka jual logistik," jawab Regan.
"Bukan!" Pekik Ahsan dengan ekpresi berubah capek.
Ahsan mengusap wajahnya. "Saya ulangi. Dengarkan baik-baik."
Mulut Ahsan terbuka perlahan, mengulang penjelasan halaman utama berkas untuk investor.
Regan mendengarkan serius. Tapi hanya di awal, sekarang dia sudah menyandarkan kepala, memeluk bantal sofa di pangkuannya. Dan perlahan, matanya terpejam.
"Gimana? Sudah paham sekarang?" tanya Ahsan setelah beberapa menit ia menjelaskan.
Begitu ia menoleh ke orang di sebelahnya. Dia sudah benar-benar tertidur, napasnya bahkan stabil. Kontras dengan napas Ahsan yang sedikit terengah karena terus mengulang penjelasan.
Ahsan mendecak. "Ini orang emang kelakuan kayak gini? Mentang-mentang perusahaan ini punya Bapaknya."
Ia menghela napas panjang. "Apa jangan-jangan selama sama Pak Alvero juga gini? Apa gak darah tinggi ya Pak Al?"
Tanpa sadar, Ahsan menatap wajah Regan lebih lama. Tapi dengan ekspresi jengkel yang dari tadi ia tahan. "Saya aja yang belum sehari ngajarin dia udah pusing duluan. Apalagi Pak Al, setiap hari diikutin. Sekali lagi! Setiap hari!"
Sekarang, Ahsan menggoyangkan tubuh Regan. "Bangun!"
Tapi Regan hanya menggeram.
"Regan bangun! Mau saya lanjutin atau nggak?" tanya Ahsan.
Ahsan mendesah pelan. "Yaudah, saya ke ruangan Pak Al, sekarang." Ia menutup laptop di hadapannya, dan menyimpan berkas.
Tak lama setelah ia berdiri, tangannya kembali ditarik Regan. "Jangan aduin ini ke Alvero." Katanya lirih.
"Kalau gak mau di aduin, kamu perhatikan baik-baik, Regan."
Regan kembali duduk tegak, ia mengangguk. "Oke-oke. Sekarang akan aku simak."
Ahsan kembali duduk, laptop dan berkas yang sudah di tutup, sekarang dibuka lagi.
Lalu Ahsan mulai menjelaskan lagi. Sekarang lebih pelan. Sesekali ia menunjukkan grafik. Dan menjelaskan istilah-istilah investasi.
Setelah beberapa kali ia tidak serius, kali ini Regan benar-benar mendengarkan. Karena biasanya, Alvero yang selalu menjelaskan hal-hal kerjaan perusahaan.
Hampir satu jam lamanya, akhirnya penjelasan Ahsan selesai. Dan Regan bisa menjawab apa yang Ahsan tanyakan setelah selesai penjelasan itu.
"Kenapa tidak dari tadi serius, Regan? Mungkin sekarang saya sudah duduk santai di kantin." Gerutu Ahsan sambil menutup berkas, lalu melemparkan pelan ke atas meja.
"Kepalaku pusing, aku butuh tidur."
"Baiklah, saya pergi dulu." Kata Ahsan. Ia melangkah ke arah pintu.
"Ahsan, apa kamu mau ke kantin?" Suara Regan menghentikannya.
Ahsan menoleh, dan hanya mengangguk.
"Aku ikut." Regan bangun dari duduknya. Langkah pertama sedikit oleng.
Ahsan mendecak kecil. Ia tahu, Regan pasti sangat menyebalkan.
"Untuk satu bulan kedepan. Makan siangmu gratis." Regan nunjuk Ahsan.
Ahsan mendengus. "Makan siang di perusahaan ini sudah di sediakan. Jadi setiap hari pun saya makan siang gratis."
Sebelah alis Regan terangkat, lalu ia tersenyum miring. "Kalau gitu untuk makan malam setelah pulang kerja, gimana?"
Ekspresi wajah Ahsan kini berubah semringah. Kekesalan yang menggantung di perasannya mendadak hilang, dan seperti tidak pernah ada.
"Deal, ya?!" Tanya Ahsan memastikan.
"Hm," Regan mendahului langkahnya, ia keluar lebih dulu.
Siang ini, lorong menuju cafeteria terasa sedikit sunyi, walaupun ia berdua dengan Ahsan. Karena hari-hari sebelumnya, ia hanya berjalan sendiri, tapi dengan tujuan ke ruangan Alvero sambil membawa makanan.
Area cafeteria sudah ramai menjelang makan siang. Aroma kopi yang baru digiling bercampur dengan berbagai makanan dari meja buffert.
Di sisi kiri tersedia makanan nusantara. Sementara sisi kanan dipenuhi aneka pastry, sandwich dan minuman.
Beberapa karyawan duduk berkelompok sambil ngobrol, lalu tertawa. Sebagian lain sibuk membahas kerjaan meski sendok sudah berada di tangan.
Regan mengambil satu nampan dari rak dekat pintu masuk. Di belakangnya, Ahsan mengikuti.
Keduanya berjalan menyusuri meja buffert yang berisi berbagai menu makan siang.
Setelah mengambil makanan, mereka langsung mencari meja kosong tanpa perlu melewati kasir.
Makan siang kali ini terasa aneh bagi Regan. Biasanya ia duduk di ruangan Alvero. Mengganggu pria itu bekerja, mencuri cemilan dari mejanya, atau sekedar membahas hal-hal tidak penting. Tapi hari ini... tidak ada itu semua.
Jadi tak butuh waktu lama, makanannya sudah habis. Tanpa sambil bercanda, atau banyak omong seperti saat bersama Alvero.
Regan berdiri lebih dulu. "Makananmu masih banyak. Aku duluan, nanti bantu aku memahami berkas yang Alvero kasih."
Begitu ucapannya selesai, Regan langsung pergi tanpa menunggu jawaban.
Ahsan menoleh, menatap punggung Regan yang menjauh. "Kalau bukan demi makan malam gratis. Gak mau berurusan sama orang rese kayak dia," gumamnya sambil ngunyah.
Sementara Regan kembali menghampiri meja buffert. Di dekatnya tersedia food container berwarna hitam lengkap dengan tutup transparan untuk karyawan yang ingin membawa makanannya ke ruangan.
Langkah Regan tidak terburu-buru. Santai seperti biasa, di tangannya membawa satu kotak makanan.
Ia tidak berhenti atau masuk ke ruangannya, melainkan menuju ruangan Alvero.
Saat tiba di depan pintu, Regan diam sebentar. Ia menghela napas. "Aku harus profesional," gumamnya sambil mengangguk sendiri.
Namun, setelah satu detik. Ia mulai meragukan definisi profesional yang ada di kepalanya.
Tangannya terangkat, mengetuk pintu pelan. Tidak rusuh seperti hari-hari sebelumnya.
"Masuk!" Suara itu akhirnya terdengar samar.
Regan membuka pintu. Lalu masuk dengan senyum formal, bukan lagi cengiran yang biasanya ia tunjukkan di depan Alvero.
"Selamat siang, Pak Al." Sapanya. "Aku..." Ucapannya terhenti, ia menggeleng cepat. "Saya hanya ingin mengantarkan siang." Lanjut Regan.
Alvero tak langsung menjawab. Untuk beberapa detik, ia hanya diam sambil menatap Regan.
Melihat Regan yang mendadak berubah menjadi lebih formal seperti ini, justru membuat Alvero merasa aneh. Campuran antara lucu dan asing.
Tak lama, Alvero menelan ludah dan berdehem kecil. "Tolong simpan saja di meja." Jawab Alvero datar.
"Baik, Pak Al." Regan menyimpan kotak makanan itu di atas meja kaca.
"Kalau begitu aku... eh maaf. Saya permisi." Kata Regan sambil melangkah keluar.
Jemari Alvero berhenti mengetik di atas keyboard laptop. Kenapa kali ini suasananya terasa canggung saat kedatangan Regan.
Sementara di lorong, Regan terus-menerus terkekeh. Entah kenapa, dia merasa seperti bukan dirinya.
"Ini demi meyakinkan Alvero, kalau aku bisa serius," gumamnya entah untuk siapa.
Tapi, ia sendiri tidak bisa menyangkal. Pertemuannya dengan Alvero barusan, terasa mendadak asing dengan cara dia bersikap seperti itu.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan