NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan Untuk Ajudan Daniel.

Di kursi pengemudi, Daniel memegang setir dengan kedua tangannya, namun matanya sesekali melirik ke kaca spion tengah.

Di sana, ia bisa melihat dengan jelas segala apa yang terjadi di kursi belakang. Sebagai ajudan yang sudah bertahun-tahun mengabdi, Daniel hapal betul karakter, sifat, dan kebiasaan atasannya.

Komandan Sejiwa.....atau nama aslinya yang tertera di dokumen resmi dan panggilan di lingkungan dinas, Sejiwa Braja Kusuma.

Sosok yang tegas, dingin, berwibawa, dan.... sangat tertutup. Jarang sekali tersenyum, apalagi tertawa. Dia tidak mau berdekatan dengan sembarang orang, apalagi wanita. Dan yang paling penting, selama Daniel mengenalnya, Komandan tidak pernah, menyembunyikan identitas aslinya.

Tapi apa yang dilihat dan didengar Daniel malam ini... membuat rahangnya hampir saja menyentuh kemudi. Mulutnya sedikit menganga, bibirnya melongo tak percaya, dan di dalam hatinya ia berteriak.....heboh sendiri.

"Ya ampun... ini benar Komandan Sejiwa Braja Kusuma yang saya kenal gak sih? Apa jangan-jangan orangnya tertukar?" Daniel bergumam heran sambil matanya beralih dari jalan raya ke spion, lalu kembali ke jalan raya lagi.

Ia mendengar jelas saat Komandan memperkenalkan diri.

"Nama lengkap saya Adji Sejiwa..."

Daniel hampir saja mengerem mendadak karena kaget. Adji Sejiwa? Sejak kapan nama itu ada? Sejak kapan nama besar dan gagah Braja Kusuma yang melekat di belakang nama depannya itu dihilangkan begitu saja? Sejak kapan atasannya mulai suka memakai nama samaran? Padahal kalau dipikir-pikir, nama aslinya saja sudah sangat gagah dan berwibawa.... Sejiwa Braja Kusuma. Artinya pun dalam sekali.....Jiwa yang Satu, Api Kekuatan yang Abadi. Tapi kenapa tadi dia menyebut nama yang dipotong, bahkan terbalik?

Dan bukan hanya soal nama. Sikap dan tingkah laku Komandan malam ini benar-benar di luar nalar Daniel, jauh berbeda dari biasanya.

"Biasanya, Komandan adalah sosok yang kaku, berbicara seperlunya saja, tidak banyak senyum, dan menjaga jarak dengan siapa saja." Daniel tak berhenti bergumam. Hanya untuk dirinya sendiri.

"Tapi sekarang! Komandan duduk berdampingan sangat dekat dengan Bu Aini. Dia yang memindahkan posisi duduk anak-anak, mengangkat Syafa dengan lembut, dan dengan senang hati menggendong Satria sampai anak itu tidur pulas di pelukannya. Bahkan dia tersenyum... sering sekali tersenyum malam ini. Senyum yang lembut, senyum yang penuh arti, senyum yang seolah ada rahasia besar yang hanya dia yang tahu."

"Belum lagi saat gadis kecil itu....Syafa. Dengan polosnya mengatakan bahwa ibunya sering menangis dan menatap rumah kosong itu setiap malam."

Daniel bisa melihat jelas di spion, bukannya marah, bukannya canggung, atau bukannya berusaha mengalihkan pembicaraan seperti yang dilakukan orang normal... Komandan malah terlihat sangat senang, sangat puas, dan sangat bahagia mendengarnya. Wajahnya bersinar terang, matanya berkilat gembira seolah baru saja mendapatkan berita kemenangan besar.

"Aneh... aneh dan unik sekali kelakuan Komandan malam ini," gumam Daniel dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, berusaha tetap fokus menyetir meski pikirannya penuh tanda tanya.

"Sejak kapan dia jadi selembut ini? Sejak kapan dia jadi seperhatian ini sama seorang wanita dan anak-anaknya?"

Pikiran Daniel berputar kencang.

"Eh...tunggu dulu! Bukankah kasus Bu Aini dulu Komandan minta dilaporkan setiap hari, dia yang atur semuanya diam-diam, dia yang kirim orang....jangan.....jangan!!!!"

Tiba-tiba sebuah pemahaman menyambar benak Daniel. Matanya membelalak sedikit, dan ia hampir tersedak ludahnya sendiri.

"Jaja... Jaja yang dicari anak-anak itu... Jaja yang dikatakan sangat mirip... Jaja yang selalu ada dan pergi tiba-tiba... Ya Tuhan! Jangan-jangan... Jaja itu Komandan sendiri? Pakai penyamaran, pakai jenggot, pakai baju lusuh, pakai nama lain? Makanya dari dulu Komandan sangat perhatian sama keluarga ini! Makanya dia minta laporan terus! Sering menghilang dalam waktu yang lama."

Semua potongan teka-teki itu tiba-tiba tersusun rapi di kepala Daniel. Semua keanehan, semua perubahan sikap, semua rahasia yang selama ini diajukan atasannya... semuanya punya jawaban yang sama.

Daniel menahan tawanya sendiri. Ia merasa lucu sekaligus kagum.

"Wah... unik juga ya Pak Komandan kita ini. Berani-beraninya main drama begini. Pakai nama samaran segala. Pintar juga dia memutar kata supaya mirip tapi tidak sama persis. Dan sekarang... lihatlah dia. Dia pasti sengaja duduk di dekat Bu Aini, sengaja membiarkan anak-anak panggil 'Paman Jaja', sengaja biarkan Bu Aini bingung dan salah tingkah. Dia pasti sedang menikmati momen ini."

Di spion, Daniel melihat lagi wajah Aini yang sedang menunduk. Di samping wanita itu, Sejiwa Braja Kusuma....atau malam ini menyebut dirinya Adji Sejiwa....duduk tegap dengan senyum terkembang yang tak luntur sedikit pun. Tangan kanannya masih setia mengelus punggung Satria yang terlelap damai di pelukannya, sementara tangan kirinya santai diletakkan di atas paha sendiri, sangat dekat dengan paha Aini.

"Dasar Komandan unik... siapa sangka sosok yang ditakuti banyak orang ini ternyata bisa selembut dan seceria ini kalau sudah urusan hati," batin Daniel sambil tersenyum sendiri, menggelengkan kepala sambil terus menyetir menembus kegelapan malam.

Daniel memutuskan untuk diam saja. Ia tidak akan bertanya, tidak akan mengungkapkan apa-apa. Ia akan menjadi saksi bisu atas drama indah dan unik yang sedang dimainkan atasannya ini.

Biarlah Komandan menikmati permainannya, biarlah kebenaran itu terungkap pada waktunya sendiri.

Mobil mewah itu melaju pelan lalu berhenti tepat di depan pagar rumah kayu sederhana milik Aini. Suara mesin menderu halus sebelum akhirnya mati total, digantikan oleh keheningan malam desa yang sejuk dan tenang. Daniel segera turun dari kursi pengemudi, bergerak sigap membukakan pintu belakang dengan sikap hormat yang biasa ia lakukan.

Ia berdiri tegak di pinggir jalan, membiarkan Aini yang turun duluan sambil memapah Syafa yang sedikit mengantuk. Lalu keluarlah Sejiwa, masih dengan penuh kehati-hatian menggendong tubuh mungil Satria yang masih terlelap nyenyak, wajah anak itu tersandar manja di dada bidang laki-laki itu. Sejiwa mengangguk pelan ke arah Daniel, memberi isyarat agar ia tetap menunggu di dalam kendaraan, tidak perlu ikut masuk atau membantu membawa barang.

Daniel mengangguk mengerti, kembali duduk di kursi pengemudi namun membiarkan pintunya terbuka sedikit demi menghirup udara malam yang segar. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, kedua tangannya bertumpu di kemudi, sementara pandangannya kini tertuju lurus ke satu arah.... rumah kecil di sebelah rumah Aini.

Rumah itu. Rumah yang selama ini dikenal warga sebagai tempat tinggal Pak Jaja.

Dari luar, bangunan itu tampak sangat sederhana, bahkan bisa dibilang jauh dari kata layak bagi orang yang terbiasa dengan kemewahan. Dindingnya papan kayu yang sudah mulai kusam dimakan usia, atapnya seng yang kadang berisik kalau angin kencang, ruangannya sempit dan hanya ada beberapa jendela kecil. Halamannya pun tidak luas, hanya cukup untuk menjemur pakaian atau menaruh sepeda tua. Tidak ada pagar tinggi, tidak ada taman indah, tidak ada fasilitas apa pun yang mewah. Hanya sebuah gubuk kecil yang fungsional, tempat berteduh yang sangat sederhana.

Daniel menatap bangunan itu lekat-lekat, matanya berkedip-kedip menahan rasa geli dan kekaguman yang bercampur jadi satu. Mulutnya menyunggingkan senyum yang makin lama makin melebar, sampai rasanya ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak... sendirian di dalam mobil itu.

"Ya Tuhan... andai benar dugaan saya, andai benar Pak Jaja itu adalah Komandan Sejiwa Braja Kusuma... luar biasa sekali orang ini," batin Daniel bergumam tak percaya, matanya kembali menatap rumah kecil itu dengan pandangan takjub.

"Kalau soal hati, orang memang bisa jadi kurang waras ya..." bisik Daniel pelan pada dirinya sendiri, tertawa geli sambil menggeleng kepala berulang kali.

"Siapa sangka sosok yang ditakuti banyak orang, sosok yang punya segalanya, rela merendahkan diri sampai sejauh ini. Rela hidup susah, rela menyamar, rela menjadi orang biasa saja... cuma demi cinta. Cuma demi bisa ada di dekat wanita yang dicintainya tanpa beban, tanpa membuat wanita itu merasa rendah diri atau berhutang budi pada nama besarnya."

Di halaman rumah Aini, Sejiwa masih berdiri sebentar, memastikan pintu pagar sudah tertutup baik, memastikan Aini dan anak-anaknya sudah masuk dengan selamat.

Daniel menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia kembali menatap rumah kosong di sebelah rumah Aini. Rumah kecil yang menjadi saksi bisu sejarah cinta yang luar biasa.

"Semoga mereka bahagia. Semoga pengorbanan besar Komandan ini berbuah kebahagiaan yang abadi," doa Daniel dalam hati, bersiap menunggu sampai Sejiwa selesai berpamitan dan kembali ke mobil.

********

1
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!