NovelToon NovelToon
The Tyrant King'S Love Obsession

The Tyrant King'S Love Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiana Ayu novita

Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.

Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.

apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 15

 Siang di Odelions benar-benar berbeda dengan Ilos. Sudah sebanyak apa Eva menyeka keringat, bahkan dia yang lebih suka menggerai rambut jadi harus menyanggulnya karena lehernya terasa tidak nyaman.

  Sejak pesta perkenalan nya, dia sering mendapat undangan dari para lady untuk acara pesta teh kecil. Jujur karena dia tidak terlalu nyaman dengan gadis Odelions, jadi dia menolak setiap undangan acara pesta teh.

 Terlebih suhu yang panas membuat Eva tidak nyaman untuk keluar istana. jadi dia berjalan di taman istana di temani satu pelayan, sejak dia datang pertama kali hanya pelayan itu yang mau berbincang dengannya dengan santai. Sisanya terlalu kaku, dan itu sangat membosankan.

 "yang mulia, apa anda mau di ambilkan minuman?", pelayan yang menemaninya menatap Eva tidak tenang, melihat wajah Eva yang merah karena ke panasan.

 "tidak perlu, terlebih kalau kita hanya berdua panggil seperti biasa saja, aku tidak terlalu nyaman dengan panggilan seperti itu", eva menatap pelayannya.

Pelayan itu menyengir lebar, mengingat kan Eva pada Luantys. Entah seperti apa reaksi ketiga sahabatnya saat tau dia menikah dengan sosok tiran dari Odelions, saat dia pingsan di perbatasan saja mereka begitu cemas, apa lagi Eva yang menikah dan tinggal di Odelions.

Eva menoleh, melihat banyaknya prajurit yang berlatih. Baik dari prajurit kelas Alva atau kelas Beta, semua berlatih dalam satu arena luas yang diawasi langsung oleh felix dan Brian.

Eva mengamati dengan cermat pelatihan para prajurit , jika di ingat dia sudah lama tidak berlatih pedangnya. Dalam beberapa peti yang dia bawa, pedang dan busur nya tersimpan rapih. Dia membawa dua benda itu karena harus bersiap-siap akan banyaknya kemungkinan buruk.

Felix menoleh, Eva berdiri di lorong istana menatap para prajurit yang berlatih.

Eva mempelajari gerakan para prajurit, bisa dibilang itu gerakan yang paling cerdas dalam perang, Eva memahami tiap kuda-kuda para prajurit agar bisa lebih mudah berlatih.

"apakah ada kesatria wanita di Odelions?" eva menatap pelayannya.

"yang ku tahu para lady tidak terlalu menyukai medan perang", Eva mengangguk paham.

Eva bisa paham hal itu ketika pesta perkenalan, tingkat sosialisasi mereka cukup terlihat. Mungkin akan sulit mencari guru berlatih diam-diam di lain waktunya.

eva tersentak ketika pelayannya dengan mudah menangkis anak panah, wajah yang ramah seketika berubah menjadi awas ke arah arena latihan prajurit. Menatap salah satu prajurit Beta yang berlari ke arah mereka.

"apa kamu tidak tau kecerobohan mu akan melukai yang mulia putri mahkota", Eva sedikit kaget dengan nada datar pelayannya.

"maaf kan saya, saya baru masuk ke menjadi prajurit baru. Saya masih gugup", prajurit itu membungkuk memohon maaf.

Eva melihat ke busur yang di bawa prajurit itu.

"bukan karena gugup, busur mu memang bermasalah". Prajurit itu menatap Eva.

Eva mengambil busur itu, memeriksanya dengan teliti, dia mengambil panah yang sempat di tangkis pelayannya, dan mencoba memanah. sesuai perkiraan, panah berbelok dan mengenai sasaran di arena yang tidak dia inginkan.

Prajurit dan pelayan itu menatap Eva tidak percaya, Eva masih sibuk memperbaiki busur itu sebelum akhirnya dia berikan kembali ke prajurit baru itu.

"sudah ku perbaiki, SE gugup apapun seorang pemanah dia tidak akan semudah ceroboh itu. Kau ada potensi jika giat berlatih " ,Eva Tersenyum kecil.

Prajurit itu mengangguk, membungkukkan hormat sekaligus berterima kasih dan kembali ke arena latihan.

Eva melihat Felix yang entah sejak kapan memperlihatkan gerak-gerik nya. Sebagai gadis yang pernah bertemu di perbatasan, mungkin dia tidak akan asing dengan gerakan memanah Eva.

eva melangkah menjauh, dia harus kembali karena kulitnya kembali memerah tidak nyaman.

"gerakan memanah itu, seperti gadis Ilos yang pernah menghadapi mu di perbatasan", Brian menatap Eva yang pergi menjauh.

"yah jika memang itu dia kau mau apa?", Felix melirik Brian.

Brian menatap Felix, hanya menatap sebelum menghela nafas berat. Dia kembali fokus ke pengawasan berlatih para prajurit, karena dia tidak mau berurusan dengan ide gila pangeran di samping nya.

eva berbaring nyaman di ranjangnya, kalau bukan karena bunga yang dia bawa dari Ilos kamarnya tidak akan se nyaman itu untuk di tempat kan. kalau dia ingat suhu yang berbeda antara dua daerah, terlebih dia memang suka berendam jadi kulitnya sulit dengan suhu tinggi.

Eva termenung sejenak, mengingat gerakan pelayan yang menemaninya cukup baik sebagai pertahanan dasar. Sosok yang ceria yang cepat berubah, dia jadi teringat ketiga sahabatnya lagi.

"jika kami bisa bertukar kabar, ku jamin mereka akan mengomel padaku", gumamnya.

Aroma kamar dengan suhu yang menyejukkan, perlahan membuat kesadaran Eva menipis, dan jatuh terlelap.

Di luar kamar Eva, Flery berusaha mencari ide agar bisa masuk dan menemui Eva tanpa di ketahui identitas aslinya. Eva hanya tau kalau Flery adalah warga Ilos, bukan pangeran dari Odelions. Pertemanan mereka akan rusak jika Eva tau identitas aslinya.

Entah bagaimana Felix bisa terpikir untuk menikah dengan gadis Ilos, dan kenapa begitu kebetulan memilih Eva. kenapa tidak gadis lain, kapan kedua orang itu bertemu dan saling mengenal.

Flery tidak tau apa kebetulan ini sungguh, atau Felix memang mengawasi nya. yang jelas Flery harus bisa membawa Eva Kemabli ke Ilos demi pertemanannya.

"untuk seorang yang suka ikut campur, kenapa kau disini?", tubuh Flery sedikit tersentak.

Felix menatapnya tajam, Flery tau kalau Felix mencurigai nya karena tingkah Flery yang terlalu jelas menghindar dari Eva. Ketika Felix dengan lady lain saja dia sudah gatal menganggu, kali ini dia hanya seperti bersembunyi.

"aku hanya mencari udara segar, sekalian_ jika bisa berjumpa dengan calon kakak ipar", Flery menutup tingkah gugup nya dan bergegas pergi.

Felix hanya tersenyum tipis, melihat punggung Flery yang menjauh. dia masuk ke kamar Eva, suhu yang sejuk menjadi hal pertama yang dia rasakan ketika masuk ke kamar Eva. Gadis itu terlelap tenang di ranjang, wajahnya yang damai membuat sudut bibir yang selalu sinis itu tersenyum tulus

Felix memperbaiki posisi tidur Eva, dan menyelipkan helai rambut yang menutupi wajah cantik Eva.

Sejak awal pertemuan di perbatasan, Felix pernah bertanya dalam hati, getaran apa yang dia rasakan ketika melihat bola mata kristal Eva. Biru yang berkilau bagaikan permata indah, mirip sosok yang pernah dia lihat di gudang istana. Di sebuah lukisan yang lama sudah di buang, salah satu alasan gudang menjadi aset yang hanya bisa dia saja yang masuk.

Felix memainkan helai rambut Eva, perbedaan nya hanya dari segi warna rambut. Pemilik bola mata berkilau dalam lukisan memiliki rambut perak yang indah, seperti peri putih. Kalau Eva memiliki rambut hitam yang sedikit ada ke merehan di beberapa helai nya.

"jangan salahkan aku yang ingin kau terus disisiku, salahkan mereka yang membakar lukisan kehidupan ku itu" gumam Felix.

Flashback.....

Felix berusia sepuluh tahun, selesai berlatih pedang di musim dingin seperti biasa ingin kembali ke gudang istana secara diam-diam.

Sudah empat tahun dia lakukan itu, saat umur tujuh tahun ketika kaisar pergi untuk urusan kerajaan. Permaisuri sering mengurungnya di gudang, dengan alasan tidak bisa menjaga adiknya.

Saat gelapnya gudang, Felix menemukan sebuah lukisan lama yang kusang. Lukisan seorang gadis berambut perak dan bermata biru yang berkilau, dia sangat cantik dalam lukisan. Felix terpesona dengan senyum manis wanita yang ada dalam lukisan itu.

Sejak saat itu, dia suka sekali diam-diam ke gudang untuk melihat lukisan itu.

Langkah nya riang ketika menuruni tangga menuju gudang, dia senang akan melihat wajah Dewi yang dia puja seperti biasa.

Sampai di gudang, tubuh Felix membeku ketika tidak menemukan lukisan dewinya. Dia hampir membongkar gudang untuk mencari lukisan yang membuat tenang, namun nihil. Lukisan itu seperti hilang dari gudang.

Dengan putus asa dia Kembali ke istana putra mahkota, namun di tengah jalan di dekat kandang kuda. Felix melihat permaisuri dan para pelayan sedang membakar sesuatu, tubuh Felix kaku ketika mengenali barang yang di bakar permaisuri.

Lukisan Dewi nya terbakar dengan barang-barang lainya, wajah yang tersenyum indah itu semakin hilang di telan kobaran api.

"yah seharusnya dari dulu ku buang, sampah yang membuat ku muak". Felix mendengar kalimat itu dari permaisuri.

Ketika mereka pergi, Felix menghampiri abu sisa pembakaran. Dia terduduk melihat abu dari lukisan dewinya, tatapan nya menjadi kosong dan datar.

Namun sejak pertemuan di perbatasan, tatapan yang datar itu seketika berubah. Dia baru tau ada pemilik mata yang sama dengan sosok Dewi di lukisan nya, mata yang dulu menatapnya penuh cinta, kini menatap datar ke arahnya.

Dan hal gila mulai dia rencanakan.

Felix tersenyum kecil, mengecup helai rambut Eva

"kau tidak akan ku lepaskan".

...****************...

1
Alia Chans
saling support, sabi kali ya😍✍️👈
Wawan
Salam kenal Buat Eva ✍️
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!