Umumnya hari pertama masuk sekolah itu mendebarkan di barengi dengan rasa antusias.
Namun hal itu tidak berlaku kepada Hani. Hari pertama sekolahnya mengenaskan. Bagaimana tidak, baru saja melangkahkan kaki ke depan sekolah, dia sudah berpapasan dengan mayat yang di angkut oleh petugas otopsi.
Tidak sampai di situ, Hani pun juga ketempelan arwah Nana korban pembunuhan. Hani yang baru mendapatkan kemampuan sixth sense pun menjadi sasaran empuk Nana sebagai perantara pengungkap pembunuh kasus ini.
Parahnya arwah Nana mengancam Hani dengan kematian, jika Hani tidak membantunya.
Bagaimana cara Hani menuntaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eiiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 15 Cincin pengikat
Pak Rian cemas dengan keadaan Hani saat ini. Hani terlihat pucat karena kelelahan, dan sepertinya kurang fokus.
“Tapi mbak, hari ini mbak Hani kayaknya butuh istirahat dulu. Jadi besok saja ya mbak.”
“Sekarang biar saya yang jaga.” Lanjutnya.
Hani menggeleng.
“Pokoknya sekolah hari ini.” Ucapnya tegas.
Pak Rian tidak bisa membantah lagi. Meskipun dia sangat khawatir dengan keadaan Hani.
“Ya sudah mbak. Pulang sekarang aja ya. Biar bisa siap – siap.”
“Oke, Yuk!”
“Oh ... aku ke dalam dulu pamit sama budhe. Nanti habis nganter aku sekolah pak Rian kesini lagi ya. Biar budhe bisa istriahat. Pulang sekolah aku yang jaga. Pak Rian pulang aja gak papa, aku di temani budhe. Nanti budhe aku kasih ongkos sendiri biar pak Rian gak bolak – balik.” Ucap Hani sambil berlalu ke ICU.
Pak Rian sempat bengong mendengar ucapan Hani. Dia tidak menyangka, Hani bisa sedewasa ini. Karena selama, ini yang dia lihat. Hani hanya remaja berusia enam belas tahun yang ceria dan kekanak – anakan.
“Gak kerasa mbak Hani sudah besar ya. Syukurlah mbak ada hikmah di balik bencana ini.” Gumamnya.
Tidak lama kemudian. Hani keluar dari ruangan ICU. Dia juga membawa beberapa botol minuman kosong dari dalam.
“Pak Rian. Nanti setelah ngantar aku sekolah. Tolong beliin budhe minum mineral botol besar dua ya. Buat di ruang ICU.” Ucap Hani.
“Woh siap mbak.” Ucap pak Rian dengan sangat semangat. Lagi – lagi sambil bergaya hormat.
Hani cukup terkejut dan terhibur dengan tingkah pak Rian. Dia tertawa kecil melihat itu.
Pak Rian melihat senyum kecil di wajah Hani pun iku tersenyum dan lebih bersemangat lagi. Dia cukup bangga bisa berguna bagi keluarga yang telah memperkerjakannya selama tujuh belas tahun lamanya.
“Ayo pak.” Ajak Hani.
Pak Rian mengganguk. Mereka berjalan sejajar sekarang. Saat melewati lorong Hani masih terngiang – ngiang kejadian tadi. Sehingga dia sedikit berjalan menempel ke lengan pak Rian.
Melihat itu pak Rian berpikir kembali.
“Ternyata masih ada sisa sedikit sifat ke anak – anakannya.” Pikirinya.
...***...
Di dalam mobil.
Hani duduk di samping pak Rian sambil memeluk botol kosong yang tadi lupa di buang. Lagi – lagi, pak Rian menggeleng dengan tingkah Hani.
Sedangkan Hani saat ini memikirkan. Apa yang akan dia lakukan di sekolah nanti? Dia tidak ingin mensia – siakan waktunya. Dia ingin semua ini cepat selesai dan terbebas dari arwah penasaran itu.
Saat Hani memikirkan itu tidak sadar dia memeluk botol tadi lebih erat.
Kruk!!!
Tiba – tiba terdengar suara botol kosong itu membentur benda tumpul. Hani kembali teringat cincin yang terpasang tiba – tiba tadi. Dia mencari – cari jari mana yang ada cincinya.
Kemudian dia memperhatikan dengan seksama cincin itu. Dia memutar cincinya yang sudah terpasang di jarinya.
Merperhatikan setiap inchi dari cincin itu.
“Kenapa cincin ini bisa terpasang dengan sendirinya?” Gumamnya.
“Gimana mbak?” Tanya pak Rian.
“Enggak – enggak pak. Hehe.”
“Gak boleh ada orang tau tentang ini.” Batin Hani.
Kemudian dia kembali memeluk botol kosong itu erat – erat.
“Loh pak!! Kok botolnya gak di buang sih pak?” Ucap Hani terkejut.
“Yah... Saya kira memang mau di bawa pulang mbak. Ya saya diam saja mbak.”
“E – Eh... Kok bisa ya pak Hahaha. Aduh kok jadi pelupa gini sih? Deket pak Rian nih jadi groogikan akunya.” Ucap Hani bercanda.
“Ah mbak Hani bisa aja.”
...***...
Di rumah.
Hani langsung bergegas ke kamarnya. Di dalam sana Hani masih sibuk melepas cincin di jarinya itu. Melepasnya paksa, mengolesinya dengan minyak, lotion, baby oil tapi tidak berhasil. Akhirnya dia mencoba melepasnya dengan memberikan sabun, berharap dia bisa melepasnya. Tetapi sama saja tidak berahsil, kakinya sudah lelah berdiri di depan wastafel selama beberapa menit untuk melepas cincin itu.
“Ish!!! Cincin sialan.” Umpat Hani.
Tiba – tiba angin dingin yang berhembus. Angin yang terasa tidak enak sangat mengenai badan. Seketika Hani merasa perasaannya tidak enak. Punggungnya mulai panas dan punggungnya mulai berat, dia merasa ada orang yang sedang berdiri di belakangnya.
Perlahan dia mengankat kepalanya, berniat untuk mengintip kaca di depanya. Memastikan apakah benar ada orang di belakangnya.
“Gak ada orang tuh?” Ucap Hani.
“Aish!!!” Kesalnya.
Hani mulai frustasi. Akhirnya dia menyerah. Dia memlilh untuk mandi keramas saja agar amarahnya bisa sedikit turun. Kemudian dia keluar dari kamar mandi. Merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya itu tidak peduli rambutnya masih basah.
Tit tit... tit tit... tit tit...
Suara alarm berbunyi.
“Baru aja rebahan. Udah jam enam aja.” Keluhnya.
Tetapi Hani tetap bergegas untuk ganti baju dan bersiap ke sekolah.
...***...
Di sekolah.
Hani berjalan pelan – pelan sambil mengamati lingkugan sekolah. Ada yang aneh. Kabut yang mengelilingi sekolah ini tidak setebal kemarin.
“Tumben nih sekolah gak berkabut kayak biasanya.” Ucapnya.
“Hai Hani....” Teriak Jaelani dari belakang.
Hani menoleh terkejut. Setelah mengetaui itu Jaelani. Hani memasang wajah malas dan datar. Sedangkan Jaelani memasang wajah yang ceria. Kemudian berlari menghampiri Hani.
Sampai di depan Hani. Jaelani mengamati wajah Hani. Keningnya berkerut.
“Kamu sakit Han?”
“Gak kok Jae.”
“Tapi pucet tuh.”
Hani hanya tersenyum, kemudian melanjutkan langkahnya. Jaelani berusaha berjalan sejajar dengan Hani.
“Han... Nanti duduk sama aku aja ya Han.” Pinta Jaelani memelas.
“Enggak. Aku duduk di depan aja deh.”
“Eh nanti kamu di gangguin hantu Nana lo. Kata anak – anak bangku itu udah di kutuk.” Bisik Jaelani.
Mendengar kata Nana. Hani langsung behenti mendadak, dan menoleh ke arah Jaelani.
“Nana?” Tanyanya.
Jaelani merasa menang. Dia pikir Hani ketakutan karena ucapannya barusan.
“Iya... Makanya, kamu duduk sama aku aja. Aku bakalan melindungi dengan segenap jiwa ragaku.”Ucap Jaelani sambil berpose terlihat seperti orang yang gagah berani.
“Kamu tau tentang Nana?” Tanya Hani antusias.
“Tau.”
“Ceritakan padaku!!!” Serunya.
“Ada syaratnya, harus duduk sama aku. Gimana?”
Mendengar itu Hani meninggalkan Jaelani.
Tiba – tiba Hani merasa cincinya merenggang. Dia langsung menyentuh cicin itu berusaha mengeluarkannya.
“Oh!!! Bergerak?” Ucap Hani bahagia.
“Apanya yang bergerak?” Tanya Jaelani.
“Kepo.”
“Duduk sama aku ya... ya... ya... ya....” Pinta Jaelani.
Hani mengacuhkannya. Dia tetap duduk di bangku yang dulunya, di duduki oleh Nana. Dia masih penasaran dan memutar – mutar cincinya.
“Cincin itu, akan semakin merenggang jika kamu semakin dekat dengan pembunuhnya.”
Entah itu ucap siapa. Tetapi Hani merasa ada orang yang berbicara kepadanya. Matanya berkeliling mencari sumber suara itu.
“Tapi aku tadi gak denger ada yang ngomong. Apa Cuma perasaanku saja ya?” Pikirnya.
“Tapi, kalau benar. Cincin ini seperti sebuah perjanjan dong? Ish curang banget.” Pikirnya lagi.
Bruk!!
Tiba – tiba Della mendorong Hani sampai terjatuh dari kursi.
“Aw...” Rintih Hani.
“Kamu... Kamu... Kamu....” Ucap Della terbata – bata.
Mukanya sekarang terlihat pucat dan ketakutan. Kedua tanggannya saling menggengam erat. Dia terlihat sangat ketakutan.
“Kenapa dia?” Pikir Hani.
~ Terima kasih, sudah mampir baca~
thor, si hani mo sampe kapan di bikin ktakutan dan linglung ? ga maju2 cerita nya