NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Jakarta — Bukan Akhir, Tapi Awal

Hari Minggu, pukul 14.00. Bus pariwisata memasuki gerbang sekolah.

Perjalanan pulang dari Puncak terasa lebih sunyi dari perjalanan pergi. Mungkin karena semua orang kelelahan. Mungkin karena gossip tentang penangkapan Rio dan Vania sudah menyebar seperti api di hutan kering.

"Nay, lihat," bisik Sasha, menyikutku pelan.

Aku menoleh ke jendela. Di halaman sekolah, beberapa mobil polisi masih terparkir. Rio dan Vania mungkin sudah dibawa ke kantor polisi sejak pagi, tapi penyelidikan masih berlangsung.

"Banyak yang bakal diinterogasi," ucap Rasya dari kursi di depanku—dia pindah kursi setelah Sasha ketiduran, biar Sasha bisa tidur lebih nyenyak dengan dua kursi.

"Termasuk kita?"

"Termasuk kita."

Aku menghela napas.

"Tapi setidaknya," lanjut Rasya, "kita punya bukti. Rekaman Sasha, botol racun, kesaksian Andre. Rio tidak akan bisa kabur."

"Kamu yakin?"

"Yakin."

Aku ingin percaya. Tapi di dalam hatiku, ada firasat buruk yang tidak bisa kusebutkan. Sesuatu seperti... ini belum selesai.

---

Pukul 16.00 — Di Rumah

Begitu aku masuk ke rumah, Bunda langsung memelukku erat-erat.

"Kamu nggak apa-apa? Bunda dengar ada anak ditangkap polisi di karyawisata? Kamu nggak terlibat kan?"

"Bunda, aku aman."

"Beneran?"

"Beneran."

Bunda melepas pelukannya, tapi matanya masih menyelidik. "Tadi Bunda dihubungi guru BK. Katanya kamu... jadi saksi?"

"Aku cuma kebetulan ada di tempat yang salah, Bun."

Bunda tidak terlihat puas dengan jawaban itu. Tapi dia tidak memaksa.

"Cuci tangan dulu. Makan. Nanti kamu cerita semuanya ke Bunda dan Ayah."

"Aku cerita nanti, ya, Bun. Capek."

Aku naik ke kamar, merebahkan diri di tempat tidur, dan menatap langit-langit.

Handphone bergetar.

Rasya (16.05): "Sampai rumah?"

Nayla (16.06): "Udah. Bundaku panik."

Rasya (16.06): "Wajar. Anaknya jadi saksi kasus percobaan pembunuhan."

Nayla (16.07): "Kamu gimana? Orang tuamu?"

Rasya (16.07): "Ibuku panik. Ayahku marah. Tapi setelah aku jelasin, mereka agak tenang."

Nayla (16.08): "Kamu cerita semuanya?"

Rasya (16.08): "Tidak. Hanya yang perlu mereka tahu."

Aku menggigit bibir.

Nayla (16.09): "Rasya, aku takut."

Rasya (16.09): "Takut apa?"

Nayla (16.10): "Rio punya bos. Dan bos itu belum muncul. Kita nggak tahu siapa dia, apa rencananya, kapan dia akan bergerak."

Rasya (16.10): "Aku tahu."

Nayla (16.11): "Terus kita gimana?"

Rasya (16.11): "Kita bersiap. Kita berjaga-jaga. Dan kita tidak akan sendirian."

Aku menarik napas.

Nayla (16.12): "Iya. Kita tidak sendirian."

---

Pukul 19.00 — Makan Malam Keluarga

"Ceritakan dari awal," perintah Ayah setelah kami selesai makan. Bundaku duduk di sampingnya, wajahnya tegang.

Aku menarik napas panjang.

"Jadi gini, Yah, Bun..."

Aku menceritakan semuanya—tentu saja dengan versi yang lebih aman. Tidak ada cerita tentang terlahir kembali. Tidak ada cerita tentang kehidupan sebelumnya. Hanya: Rio dan Vania punya rencana jahat, Rasya jadi target, aku dan Sasha dan Rasya dan Andre bekerja sama mengumpulkan bukti, lalu polisi datang.

"Astaga," Bunda memegang dadanya. "Kamu—kamu bisa saja celaka, Nak!"

"Tapi nggak celaka, Bun. Aku hati-hati."

"Kamu masih SMP!" Ayah menekankan. "Seharusnya urusan kayak gini dilaporin ke guru, bukan main hakim sendiri!"

"Kami lapor ke guru, Yah. Pak Bambang yang panggil polisi."

Ayah menghela napas. "Ayah akan hubungi Pak Bambang besok. Dan kamu, mulai sekarang—"

"Aku tahu, Yah. Aku akan lebih hati-hati."

Ayah menatapku lama. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepala.

"Anak ini... keras kepala banget."

"Gen dari Ayah."

Ayah ingin marah, tapi akhirnya dia tertawa kecil. Bunda juga ikut tertawa, meskipun matanya masih berkaca-kaca.

"Pokoknya kamu selamat," kata Bunda, meraih tanganku. "Itu yang penting."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!