Naina..gadis penuh luka ditubuh dan hatinya...... Dipukul, dilukai, dikecewakan, dianggap murahan, dikasihani, sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi ia selalu bangkit. Bukan untuk menjadi Cinderella, tapi hanya untuk menjalani yang telah Tuhan gariskan.
Arkana...lelaki yang pernah terluka begitu dalam. Menganggap dirinya cacat dan hanya pentas dengan kesendirian.
Saat keduanya dipertemukan dalam ikatan pernikahan..... saat itulah mereka tidak bisa melawan yang Tuhan takdirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Yatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Kehilanganmu
Seperti biasa.. jalanan macet bukan main. Mereka terjebak dijam makan siang. Arkana sedang menuliskan kontaknya di ponsel Naina.
"Kontak siapa itu?" Naina memiringkan tubuhnya melihat nama kontak yang aneh walaupun ia sudah menduga itu kontak siapa.
Mas Suami.
"Tentu saja kontak ku. Memang nya kau punya suami berapa?" Arkana cemberut.
Naina tertawa...tawa pertama yang didengar Arkana.
Tawanya terdengar begitu renyah, menular membuat Arkana ikut tersenyum, dan membuat wajahnya tampak bersinar.
Tanpa sadar Arkana mencondongkan tubuh dan mencium pipi gadis itu. Naina tampak terkejut... wajahnya bersemu merah sambil menyentuh pipinya yang tadi dicium Arkana.
Arkana menyerahkan ponsel dengan wajah seperti tidak terjadi apa-apa.
"Aku sudah memasukkan kontak rumah dan Samuel. Kontak Bella dan Mang Barjo nanti kau pinta sendiri."
"Iya Mas. Tapi buat apa kontak mang Barjo?"
"Dia akan menjadi supir mu."
"Aku tidak..."
"Jangan membantah."
"Baik Mas. Aku kan membantah bukan tidak menurut, aku hanya belum terbiasa dengan keadaan sekarang."
"Kalau begitu cepat biasakan. Dan satu lagi.... jangan simpan kontak macam-macam."
"Macam-macam seperti apa?"
"Teman laki-laki."
Naina tersenyum melihat Arkana yang sedang menatapnya galak.
" Jangan khawatir Mas, aku cuma punya satu teman laki-laki dan sudah lama lost contact."
"Bagus kalau begitu."
"Kalau simpan kontak mantan pasien yang suka nge-DM boleh gak?"
Arkana cemberut.
Cekrek!
Naina mengambil fotonya untuk dijadikan wallpaper sambil tersenyum senang.
Arkana hendak protes tapi ponselnya berdering. Naina tidak memperhatikan, ia asyik melihat wajah cemberut Arkana di ponselnya.
"Nai, aku harus kembali kekantor. Ada masalah dengan klien dari Jepang. Kita putar balik y," pinta Arkana.
"Eh, gak usah Mas, aku turun disini aja. Rumah Sakit nya sudah dekat."
"Tapi kau sendirian."
"Biasanya juga sendirian."
Arkana berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Aku antar sampai depan rumah sakit. Nanti Mang Barjo jemput lagi kesini. Jangan kemana-mana."
"Baik Mas."
Mang Barjo memberhentikan mobil didepan rumah sakit.
"Berapa lama kau akan berada di dalam?" tanya Arkana sebelum Naina turun.
"Mungkin satu jam. Dua jam kalo boleh sama dokternya."
"Baiklah."
Naina mengulurkan tangannya pada Arkana. Seperti baru sadar Arkana mengeluarkan dompet dan memberikan sebuah kartu ATM ke tangan calon istrinya.
Naina tertawa lagi.
"Bukan minta uang Mas, aku mau salim," ucap Naina. Ia mencium tangan Arkana dan mengacuhkan kartu ATM nya.
Arkana tertegun. Mungkin karena sebagian hidupnya ia habiskan diluar negeri ia jadi tidak terbiasa dengan tatakrama seperti ini. Ia bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir ia mencium tangan orang tuanya.
"Aku pamit Mas. Hati-hati di jalan," ucap Naina sebelum masuk ke dalam rumah sakit.
Arkana terdiam namun ia tersenyum menerima perlakuan santun Naina.
"Berangkat sekarang Tuan?" Mang Barjo ternyata masih menunggu perintah Arkana.
"Gak. Tahun depan," bentak Arkana, lamunan tentang Naina jadi menguap ke udara.
"Baik Tuan.." ucap Mang Barjo kalem.
"Sekarang Mang, mau saya pindahkan ke OB?"
"Jangan Tuan," tidak berani bicara lagi Mang Barjo segera putar arah ke kantor.
Sementara itu di dalam rumah sakit...
Seperti biasa Naina tidak menggunakan lift, ia menapaki tangga dengan perasaan yang begitu ringan seperti ada ribuan kupu-kupu yang mengangkat bebannya. Sambil berjalan ia sering menyalakan ponsel untuk melihat wajah cemberut Arkana dan tersipu-sipu sendiri.
Ia tidak menyadari ada dua orang laki-laki yang mengikutinya dari belakang.
Dan saat keduanya meringkus dan membekap mulutnya dengan obat bius ia hanya bisa meronta tanpa arti. Air matanya mengalir saat mengenali wajah salah satu penculiknya sebelum kedua matanya benar-benar tertutup.
"Ada apa?" tanya Samuel saat dilihatnya Arkana bolak-balik menelepon didalam kantornya. Mereka baru menyelesaikan meeting yang sangat alot setelah dua jam.
"I can't contact Naina," jawab Arkana.
"Memang kau meninggalkannya dimana?"
"Rumah Sakit. Mang Barjo sudah cek kekamar adiknya tapi kata adiknya Naina belum datang dari dua hari yang lalu. Ponselnya juga mati.I have to go to the hospital. Aku ingin memastikan pada adiknya."
"Aku ikut."
Keduanya langsung meninggalkan kantor. Didalam perjalanan Arkana menghubungi orang kepercayaannya agar segera menemui mereka dirumah sakit.
Gadis muda itu tampak bingung mendapati seorang lelaki tua yang menanyakan kakaknya. Lebih bingung lagi saat dua orang lelaki tampan ikut menanyakan hal yang sama setengah jam kemudian.
"Kalian ini siapa? Mengapa menanyakan kakakku?" tanya Lilyana takut.
"Kami temannya," Samuel yang menjawab karena Arkana tampak tidak sabaran. "Jangan takut. Kami bukan orang jahat. Apa kau tau dimana kakakmu?"
Lilyana menggeleng.
"Terakhir aku lihat kakak dua hari yang lalu. Katanya dia akan lama tidak menjenguk ku karena dapat pekerjaan baru," jelasnya.
Arkana makin khawatir. Lalu masuk seorang laki-laki lagi. Lelaki ini tampangnya paling menyeramkan. Tubuhnya tinggi besar berkulit gelap dan berwajah sangar.
Lewat ponsel nya ia menyerahkan rekaman cctv ditangga darurat tiga jam yang lalu.
Arkana melihat bagaimana Naina dibekap dan dimasukkan ke keranjang cuci yang besar dan ditutupi beberapa pakaian sebelum dibawa ke basement oleh dua orang laki-laki.
"Kau kenal dengan laki-laki ini?" Arkana memperlihatkan gambar salah satu penculik Naina yg sudah ia zoom pada Lilyana.
Gadis itu seakan ragu mengatakannya.
"Katakan saja. Jangan takut adik kecil," Samuel membujuknya dengan menggenggam tangan gadis itu.
"Itu....ayah," Lilyana menunduk takut.
Arkana mengumpat membuat Lilyana semakin takut.
"Kau disini saja, aku akan pergi dengan Joseph," tanpa menunggu jawaban Arkana dan lelaki seram tadi meninggalkan kamar itu.
"Sebenarnya kalian siapa? Kakakku kenapa?" Wajah Lilyana sudah siap menangis.
" Jangan menangis ya sayang, aku paling tidak bisa melihat perempuan menangis. Akan aku jelaskan semuanya," bujuk Samuel walau dia tidak tahu harus memulai dari mana.
maaf ya thor itu cuma pendapat q 🙏