NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16:Cahaya di Balik Kabut Gedangan

Perjalanan pulang dari Mojokerto menuju Sidoarjo seharusnya menjadi perjalanan yang santai. Namun, begitu mobil memasuki perbatasan, suasana berubah menjadi mencekam. Langit yang seharusnya gelap malam itu tertutup kabut hitam pekat yang tidak wajar. Suhu udara mendadak turun drastis, membuat kaca mobil berembun.

"Mas Faris, kok tiba-tiba dingin begini ya? Apa AC mobilnya bocor sampai ke luar?" tanya Brewok sambil memeluk tubuhnya sendiri yang masih bau sate kambing.

Jono yang duduk di bangku depan langsung waspada. "Diam, Brewok! Ini bukan AC bocor, ini aura ilmu hitam tingkat tinggi. Lihat di depan itu!" Jono menunjuk ke tengah jalan raya yang mendadak sepi tanpa satu pun kendaraan lain yang melintas.

Di tengah jalan, berdiri sosok tinggi besar dengan jubah compang-camping. Di tangannya, ia memegang sebuah gada kayu yang dililit rantai berkarat. Matanya bersinar hijau gelap, menatap tajam ke arah mobil Faris.

"Sial! Sepertinya Ki Ageng Blorong belum kapok, dia mengirim algojonya untuk menghadang kita," gerutu Faris Arjuna. Ia turun dari mobil dengan langkah mantap. Rasa kenyang setelah makan enak tadi memberinya kekuatan ekstra. "Kangmas, biar saya yang tangani ini. Sampeyan jaga Brewok dan Jono di dalam."

Arjuna Hidayat mengangguk, tapi tangannya tetap memegang tasbih. "Hati-hati, Dikmas. Musuh ini membawa energi tanah kuburan. Jangan biarkan kakinya menyentuh bayangan sampeyan."

Faris melangkah maju, Keris Kyai Jalak Suro di pinggangnya bergetar hebat, seolah tidak sabar ingin keluar dari sarungnya. "He, Ki Algojo! Sampeyan tidak tahu ya kalau saya ini baru saja ziarah dan sholat panjang? Energi saya lagi penuh, kalau sampeyan cari masalah, nanti saya kirim balik ke alam kubur sekarang juga!" teriak Faris dengan gaya khas terminalnya.

Si algojo tidak bicara, ia langsung mengayunkan gadanya ke arah Faris. BRAKK! Aspal jalanan hancur berkeping-keping saat gada itu menghantam tanah. Faris melompat lincah ke udara, melakukan salto yang hanya bisa dilakukan oleh pesilat tingkat tinggi.

"Hiyatttt!" Faris melesatkan tendangan ke arah dada si algojo, namun kakinya seperti menghantam tembok baja. Si algojo hanya mundur satu langkah lalu kembali menyerang dengan lebih babi buta.

Di dalam mobil, Brewok sibuk berdoa sambil memegang kerupuk sisa makan tadi. "Ya Allah, selamatkan Mas Faris... kalau Mas Faris kenapa-napa, siapa yang bayar tol pulang nanti?" bisik Brewok polos.

Faris mendarat dengan mulus, ia mulai menarik napas dalam, mempraktikkan Ilmu Manunggaling Kawula Gusti yang ia pertajam saat di Trowulan tadi. Ia tidak lagi menyerang secara fisik, melainkan mulai memutar batinnya. "Gusti, nyuwun panguwasa-Mu!"

Seketika, aura keemasan terpancar dari telapak tangan Faris. Ia tidak mencabut kerisnya, melainkan hanya menunjuk ke arah si algojo dengan jari telunjuknya. Sebuah cahaya putih melesat cepat, menembus kabut hitam dan menghantam tepat di jantung si algojo gaib tersebut.

AARRGGHHH!

Sosok tinggi besar itu melolong kesakitan, tubuhnya perlahan memudar menjadi asap dan ditiup angin malam. Kabut hitam yang menutup jalan pun seketika sirna, dan lampu jalanan kembali menyala terang. Suara klakson mobil di belakang mereka mendadak terdengar lagi, menandakan dimensi mereka sudah kembali normal.

Faris kembali ke mobil dengan santai sambil mengusap keringat. "Ayo lanjut jalan. Musuhnya cuma pemanasan, mungkin dia iri lihat kita habis makan enak," ucap Faris sambil nyengir.

Brewok langsung lega. "Waduh Mas Faris, saktinya nambah berkali-kali lipat! Habis makan sate kambing kok jadi kayak Gatotkaca begini!"

Perjalanan berlanjut, namun Faris tahu, ini baru awal dari peperangan yang sesungguhnya di tanah Sidoarjo

Mobil akhirnya berhenti tepat di depan rumah di Gedangan. Faris turun dengan tubuh yang terasa sedikit kaku, namun hatinya terasa sangat lapang. Brewok langsung melompat keluar, menghirup napas dalam-dalam seolah baru saja lolos dari lubang jarum.

"Alhamdulillah! Selamat, selamat! Ternyata jalanan Sidoarjo sekarang lebih seram daripada terminal di tanggal tua," ujar Brewok sambil mengusap dadanya yang masih berdebar.

Nyai Gayatri Sekar Arum sudah menunggu di depan pintu. Beliau tersenyum tipis, matanya yang bening seperti air telaga memancarkan rasa damai yang luar biasa. "Sudah sampai, Le? Bagaimana kabar Trowulan? Apakah wejangan para leluhur sudah kamu simpan di dalam dada?" tanya Simbok sambil mengelus pundak Faris.

Faris langsung bersimpuh, mencium tangan ibunya dengan penuh takzim. "Sudah, Mbok. Terima kasih atas doanya. Tadi di jalan ada sedikit 'gangguan', tapi alhamdulillah semua bisa diatasi," jawab Faris santun. Seketika, gaya preman terminalnya hilang total jika sudah berhadapan dengan Simbok.

Arjuna Hidayat ikut mendekat. "Adikmas Faris sudah bisa menggunakan ilmu batinnya dengan benar, Mbok. Bukan cuma mengandalkan otot, tapi sudah menggunakan rasa," lapor Arjuna Hidayat yang membuat Simbok mengangguk-angguk bangga.

Simbok kemudian mengajak semuanya masuk. Di meja makan sudah tersedia teh hangat dan aneka jajanan pasar. "Le, ingatlah. Kemenanganmu tadi bukan karena sate kambing yang kamu makan, tapi karena sujudmu yang tulus di Trowulan. Musuhmu akan semakin banyak, karena orang yang membawa cahaya pasti akan dibenci oleh mereka yang menyukai kegelapan," tutur Simbok sambil menuangkan teh.

Brewok yang baru saja hendak menyambar kue rondo royal langsung terhenti. "Waduh, Mbok... jadi Ki Algojo tadi itu baru pemanasan saja? Berarti saya harus sering-sering latihan sama Mas Jono ya?"

Jono menjitak kepala Brewok pelan. "Latihan itu wajib, Brewok! Jangan cuma latihan makan saja. Mas Faris sudah naik tingkatan, kita sebagai 'bodyguard' juga harus ikut upgrade diri!"

Faris tertawa mendengar percakapan anak buahnya. Ia menatap Keris Kyai Jalak Suro yang ia letakkan di sampingnya. Ada rasa tanggung jawab yang semakin besar di pundaknya. "Mbok, Faris janji akan menjaga marwah Majapahit dan Sidoarjo. Faris tidak akan mundur walaupun satu langkah," tekad Faris mantap.

Simbok tersenyum lagi, matanya tampak menyimpan rahasia yang lebih besar. "Ya sudah, sekarang istirahatlah dulu. Besok pagi, kamu harus menulis lagi, Le. Ceritakan pada dunia lewat novelmu, bahwa luhurnya budaya kita tidak akan pernah luntur dimakan zaman."

Malam itu, di rumah sederhana di Gedangan, Faris Arjuna tidur dengan sangat nyenyak. Ia tahu, peperangan besar melawan Ki Ageng Blorong dan antek-anteknya sudah menunggu di depan mata, tapi batinnya kini sudah sekeras baja Majapahit.

Setelah obrolan hangat dengan Simbok selesai, Faris melangkah menuju kamarnya. Ia membuka laptop, cahaya layar mulai menerangi wajahnya yang nampak lebih tenang. Jemarinya mulai menari di atas keyboard, mengubah setiap tetes keringat dan debar jantungnya di Trowulan menjadi barisan kata yang penuh nyawa.

"Ternyata benar kata Kangmas Arjuna, pena ini bisa jadi lebih tajam dari keris jika ditulis dengan hati yang sujud," gumam Faris sambil melihat jumlah pembaca novelnya yang terus melonjak.

Di luar jendela, angin malam Gedangan berhembus pelan. Namun, Faris merasakan ada sepasang mata yang mengawasi dari balik kegelapan pohon mangga di halaman rumah. Bukan Ki Algojo, bukan pula anak buah Ki Ageng Blorong, tapi sebuah energi yang terasa sangat kuno dan dingin.

Faris tidak takut. Ia justru tersenyum tipis dan menutup laptopnya. Ia tahu, setiap langkah kebenaran pasti akan mengundang ujian. Namun, dengan restu Simbok dan bimbingan Kangmas Arjuna Hidayat, ia yakin Sidoarjo akan tetap menjadi sakti tanpa harus menyakiti.

"Ayo, majulah. Aku tidak akan lari, karena di belakangku ada doa Simbok dan di dadaku ada restu Majapahit," bisik Faris lirih sebelum mematikan lampu kamar.

Malam itu, Sidoarjo menjadi saksi bahwa Sang Panglima Terminal telah benar-benar bertransformasi. Ia bukan lagi penguasa jalanan yang kasar, melainkan penjaga budaya yang memiliki cahaya di batinnya. Perang yang sesungguhnya belum dimulai, tapi Faris Arjuna sudah memenangkan pertempuran di dalam dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!