Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
POV: Nara
"Aku tahu akan menggunakan uang itu untuk apa," kataku akhirnya setelah Dev mendesakku untuk menggunakan uangnya.
Bukannya aku tidak mau menggunakan uang dari Dev. Aku hanya benar-benar bingung harus memakainya untuk apa. Membeli baju, tas, sepatu mahal seperti perempuan-perempuan pada umumnya, entah kenapa semua itu tidak pernah terlalu menarik bagiku. Lagipula aku jarang pergi ke luar rumah. Untuk apa membeli banyak hal jika akhirnya hanya akan menjadi koleksi berdebu di dalam lemari?
Aku tidak suka benda yang dibeli hanya untuk dipajang lalu dilupakan. Rasanya sia-sia saja.
Jadi selama ini, aku hanya memakai uang itu untuk hal-hal yang memang benar-benar penting. Keperluan yang benar-benar kubutuhkan. Selebihnya? Ya dibiarkan begitu saja di rekening. Kadang aku juga heran melihat orang-orang bisa sebahagia itu hanya karena membeli barang baru. Seolah luka hidup bisa sembuh lewat checkout keranjang belanja. Manusia memang makhluk unik.
Bagiku, selama masih punya tempat nyaman untuk tidur, makanan enak, dan suasana tenang untuk hidup itu saja sebenarnya sudah cukup.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya sebuah ide muncul di kepalaku. Ide yang menurutku cukup cemerlang. Pasti ini efek terapiku tadi. Lihat kan? Kadang menjadi simpanse ternyata bisa meningkatkan kualitas berpikir.
“Kalau gitu, hari ini aku mau keluar beli sesuatu.” kataku tiba-tiba sambil menoleh ke arah Dev.
Kami berjalan berdampingan menuju rumah, langkah kami pelan melewati taman belakang yang masih terasa sejuk. Dev melirikku sekilas, terlihat cukup terkejut mendengar kalimat itu.
“Mau aku temani?” tanyanya spontan.
Aku langsung menggeleng cepat. “Nggak perlu. Kamu ke restoran aja.”
Jujur saja aku lebih nyaman pergi sendiri daripada harus ditemani olehnya. Bukan apa-apa. Hanya saja aku malas melihat tatapan perempuan-perempuan setiap kali Devandra lewat. Tatapan yang terlalu terang-terangan, kadang seperti ingin menerkam, menyebalkan.
Apalagi pria itu juga terlalu mencolok untuk ukuran manusia biasa. Tinggi, tampan, kaya, lalu masih punya kebiasaan berjalan terlalu dekat seolah dunia cuma berisi kami berdua. Paket lengkap pembuat keributan sosial. Dan anehnya aku tidak suka jika terlalu banyak mata tertuju padanya, menjengkelkan.
Dari kejauhan, Bima anaknya tukang kebun tersenyum padaku, aku membalas senyumannya dan melambaikan tangan.
"Aku lupa baca buku yang aku pinjam dari dia," celetukku.
"Jangan terlalu dekat sama dia," ucap Dev tiba-tiba.
Aku mengernyit heran, "kenapa?"
"Cuma nggak suka aja."
Lagi-lagi seperti itu.
"Kamu nggak bisa seenaknya membatasi orang untuk berinteraksi dengan siapa saja, tanpa alasan yang jelas," ucapku kesal.
"Terserah! Yang penting aku sudah memperingatkan."
"Kamu nggak lihat wajahnya yang masih imut? Dia hanya anak kecil." Aku menoleh ke belakang melihat bima.
"Entahlah, aku nggak begitu yakin."
Sesampainya di rumah, kami sarapan bersama. Lalu Dev bersiap untuk berangkat ke kantornya. Dan aku pun bersiap untuk pergi dengan Bagas ke suatu tempat. Saat di perjalanan, tiba-tiba Leon menelponku, aku mengernyit heran kenapa dia menghubungiku?
"Apa?" kataku menjawab telponnya.
"Kamu di mana?"
"Di jalan."
"Mau kemana?"
"Ada pokoknya."
"Bisa bertemu?"
Hah? Dia ingin bertemu? Tiba-tiba jantungku berdegup.
"Nggak! Nanti pacar kamu cemburu lagi."
"Ayolah! Kenapa bahas dia? Ini hanya antara kita, please!"
Aku menghela nafas panjang, berpikir beberapa saat, dan akhirnya,
...***...
"Bagas, tolong antar saya ke studio tato dulu. Tapi setelah itu kamu langsung pulang ya, soalnya barang-barang saya yang di bagasi harus cepat di keluarkan."
"Baik, Non."
Setelah selesai mencari sesuatu yang ingin kubeli, dan memastikan semuanya sudah benar-benar beres, aku akhirnya memenuhi keinginan Leon untuk bertemu. Entah kenapa, sepanjang perjalanan perasaanku terasa aneh. Tidak nyaman, tapi juga penasaran. Namun saat pertama kali melangkah masuk ke studio itu, aku justru disambut pemandangan yang membuat langkahku berhenti begitu saja, menjijikkan.
Di sofa ruang santai, sepasang kekasih tengah tenggelam dalam momen mesra mereka. Seolah dunia ini hanya milik mereka berdua. Refleks aku langsung ingin berbalik pergi. Tapi sebelum sempat melangkah jauh, Leon menahanku.
“Nara... ini semua cuma sandiwara.” Suaranya terdengar pelan, seolah tahu isi kepalaku sedang kacau.
Aku langsung menoleh menatapnya. Sandiwara? Omong kosong macam apa lagi ini? Bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu dengan begitu mudah? Sedangkan sejak tadi, kedua matanya menatap perempuan itu begitu lekat. Tangannya membelai rambut pendek sebahunya dengan pelan. Bahkan senyum di wajahnya terlihat terlalu tulus untuk disebut pura-pura. Aku mengepalkan jemari pelan.
Kalau itu semua akting maka Leon memang aktor terbaik yang pernah kulihat. Atau mungkin laki-laki memang sehebat itu dalam berpura-pura. Mereka bisa berkata tidak mencintai seseorang. Tapi di lain waktu, mampu bersikap seolah menjadi manusia paling setia di dunia. Dan bodohnya perempuan sering kali tetap mempercayainya. Menyedihkan sekali.
Saat aku bersikeras ingin pergi, tiba-tiba Tasya datang menghampiriku. "Kak Nara, aku pengen ngobrol bentar dong."
Aku sempat kesal, seolah mereka sedang mempermainkanku. Tapi akhirnya aku lagi-lagi menurut untuk duduk mendengarkan perempuan itu.
"Kata Leon, kakak ini sahabat dari kecil ya?"
Hah?! Sahabat dari kecil?
"Emm... iya." Aku mengikuti permainan pria itu.
"Karna kakak udah kenal lama sama Leon, jadi aku cuma pengen tanya-tanya tentang dia."
"Loh? Kamu kan pacarnya, seharusnya udah kenal banget dong."
Dasar aneh.
"Emm..." Dia berpikir sesaat, "sebenarnya aku sama Leon, jadian dadakan."
"Hah?" Aku reflek kaget.
"Aku udah kenal lumayan lama sama dia, kenalnya di grub Seni. Leon kan alumni dari kampusku. Tapi tiba-tiba dua Minggu yang lalu dia nembak aku, ya karna aku emang udah suka sejak awal, jadi kenapa nggak. Walaupun bagiku agak aneh sih soalnya selama ini dia nggak nunjukin tanda-tanda perasaannya sama aku."
Setelah Tasya menjelaskan dengan rinci tentang hubungan mereka, tentang perasaannya terhadap Leon, tentang sikap aneh Leon. Aku mulai sedikit percaya jika apa yang dikatakan Leon benar. Anehnya, harusnya aku merasa lega.
Tapi kenapa malah terasa sedikit kesal?
Saat kami masih sibuk mengobrol, Leon keluar dari ruang kerjanya. Rambutnya terlihat sedikit berantakan, mungkin habis sibuk melayani pelanggan.
“Nara, aku mau hubungi Devandra. Bilang kalau kamu ada di sini.”
Seketika aku langsung menoleh cepat. “Leon...” kataku pelan, nada suaraku terdengar seperti peringatan. Tapi pria itu malah memberi kode lewat ekspresi wajahnya, seolah menyuruhku tenang. Beberapa detik kemudian, suara dering ponsel terdengar memenuhi ruangan. Aku menggigit bibir bawah tanpa sadar. Jujur saja, aku masih sedikit takut jika Dev kembali marah seperti waktu itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya panggilan itu tersambung. “Bro,” kata Leon santai. “Nara ada di sini, sama Tasya.”
Mereka berbicara cukup lama. Aku tidak bisa mendengar semuanya dengan jelas, tapi dari ekspresi Leon, sepertinya percakapan itu normal? Tidak ada teriakan, tidak ada makian. Tidak ada suara benda dilempar seperti biasanya yang kubayangkan dari Dev saat emosi. Hingga akhirnya panggilan itu ditutup. Leon memasukkan kembali ponselnya ke saku lalu menatapku.
“Kata Dev... dia nitipin kamu ke aku.”
Aku langsung membeku. Hah? Devandra? Nitipin aku? Ke Leon? Otakku langsung penuh tanda tanya. Apa sebenarnya yang terjadi? Jangan bilang pria psikopat itu akhirnya tobat? Atau jangan-jangan ini cuma ketenangan sebelum bencana berikutnya.
Karena jujur saja, mengenal Devandra terlalu lama membuatku sulit percaya pada hal-hal yang terlalu damai.
...***...
Waktu tanpa terasa sudah berganti malam. Saat mataku kembali melirik jam tangan, jarum pendeknya sudah bergerak jauh lebih larut dari yang kukira.
Di luar, hujan turun begitu deras. Petir beberapa kali menyambar langit, suaranya menggelegar hingga terasa sampai ke dalam dada. Namun anehnya, hujan itu seperti tidak punya niat untuk reda. Aku berdiri di depan cermin besar lemari, menatap pantulan diriku sendiri dari ujung kepala hingga kaki. Rambutku sedikit berantakan, mataku terlihat lelah. Dan entah kenapa, wajahku tampak seperti orang yang baru selesai bertengkar dengan hidup.
Kurenggangkan leherku ke kanan lalu ke kiri, krek. Bahuku terasa pegal, aneh. Padahal seharian ini aku tidak melakukan aktivitas berat. Tidak ada pekerjaan melelahkan, tidak ada drama besar, tapi kenapa tubuhku terasa selelah ini? Apa karena terlalu banyak berpikir? Atau mungkin ada jenis lelah yang tidak datang dari tubuh, melainkan dari kepala yang terlalu penuh dan hati yang terlalu sibuk pura-pura baik-baik saja. Menjadi orang dewasa ternyata menyebalkan. Bahkan diam saja pun tetap bisa terasa capek.
Apa mungkin aku terlalu banyak minum? Setelah Tasya pulang sore tadi karena cuaca mulai terlihat akan hujan, Leon menawarkan diri untuk mengantarnya. Dan aku? Aku tetap tinggal di studio tato, menunggu.
Entah kenapa suasana dingin seperti ini membuatku ingin sesuatu yang hangat. Jadi aku mencoba minum beberapa gelas saja. Hanya sedikit, berharap tubuhku yang mulai dingin bisa terasa lebih nyaman.Tapi mungkin aku memang kebanyakan minum. Karena Leon terlalu lama kembali hanya untuk sekadar mengantar seseorang pulang.
Dan otakku mulai bekerja terlalu liar. Mungkin mereka berhenti di suatu tempat untuk berteduh. Mungkin setelah itu mereka mengobrol di mobil. Atau mungkin mereka berciuman untuk saling menghangatkan tubuh di tengah hujan dingin seperti ini.
Argh. Aku langsung mengacak rambut sendiri. Kenapa pikiranku mulai kacau begini?
Sepertinya aku memang terlalu banyak minum. Beberapa saat kemudian, pintu studio akhirnya terbuka. Leon masuk dengan pakaian yang terlihat sedikit basah karena hujan. Rambutnya juga berantakan, beberapa helainya menempel di dahi. Entah kenapa, pemandangan itu justru membuat dadaku terasa semakin tidak nyaman.
Aku hanya tersenyum tipis.
Leon sempat menatapku bingung sebelum akhirnya pergi ke kamar untuk mengganti pakaian. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan pakaian yang lebih santai. Dan tanpa banyak bicara, pria itu ikut duduk di hadapanku. Ikut minum bersamaku. Hening terasa aneh malam itu.
Yang awalnya aku hanya ingin minum sedikit, akhirnya aku terbawa suasana. Dua botol anggur itu habis oleh kami berdua.
"Aku mau rebahan di kamar kamu," kataku sambil memijat pelipisku yang mulai tersenyum berat.
Leon hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan. Dan di sinilah aku sekarang, di sebuah kamar yang pernah menjadi memori kenangan buruk bersama dua pria gila.
Suara decitan pintu terdengar, Leon datang menghampiriku. Pria itu berdiri terlalu dekat di belakangku, tangannya melingkar di pinggang, wajahnya tertunduk di pundak. Aku bisa melihatnya dari pantulan cermin.
“Aku mencintaimu, Nara.” Bisiknya jatuh pelan di telingaku. Bibir Leon menyusuri leher, naik ke pipi dengan kecupan singkat. Ketika wajahku menoleh, ia mengecup bibirku, sekali, dua kali. Kecupan ketiga kubiarkan terjadi, sampai tubuhku menegang saat tangannya mencengkeram dadaku, sementara satu lagi bergerak ke balik kain celanaku.