Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 35
Sementara itu...
Di kampus tempat Alya menempuh pendidikan.
Suasana pagi hingga siang hari berjalan seperti biasa.
Di dalam ruang praktik kedokteran, Alya tampak fokus memperhatikan penjelasan dosen yang sedang menjelaskan materi mengenai pemeriksaan sistem kardiovaskular.
Tangannya bergerak lincah mencatat setiap poin penting.
Sesekali ia mengangkat kepala untuk memperhatikan demonstrasi yang dilakukan dosen di depan kelas.
Meski beberapa hari terakhir hidupnya dipenuhi berbagai masalah keluarga yang menguras emosi, Alya tetap berusaha menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Menjadi dokter masih menjadi cita-cita terbesar dalam hidupnya.
Dan ia tidak ingin kehilangan fokus hanya karena masalah pribadi.
Bel tanda berakhirnya kelas akhirnya berbunyi.
Ting!
Para mahasiswa mulai berkemas dan meninggalkan ruangan.
Alya ikut membereskan buku serta alat tulisnya sebelum berjalan keluar.
Baru saja membuka pintu kelas, senyum kecil muncul di wajahnya.
Widya dan Ayi sudah berdiri di depan sambil menunggunya.
"Nah, calon dokter akhirnya keluar juga," celetuk Ayi.
Alya terkekeh.
"Kalian nggak ada kerjaan selain nungguin gue?"
"Nggak ada."
Jawaban cepat Ayi membuat Widya langsung memutar bola mata.
"Jangan percaya. Tadi dia hampir tiga kali ngajak gue masuk buat nyeret lo keluar."
"Eh, itu bentuk kasih sayang!"
"Kasih sayang apaan? Gangguan ketertiban umum iya."
Alya langsung tertawa.
Suasana hatinya yang sempat berat perlahan terasa lebih ringan setiap kali bersama kedua sahabatnya.
"Ayo ke kantin aja," ajak Widya.
"Setuju."
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju kantin kampus.
Seperti biasa, kantin cukup ramai dipenuhi mahasiswa dari berbagai jurusan.
Masing-masing segera memesan makanan.
Alya memilih nasi ayam dan jus jeruk.
Widya memesan mie ayam serta es teh.
Sedangkan Ayi membeli bakso lengkap dengan minuman cokelat dingin favoritnya.
Tak lama kemudian mereka duduk di salah satu meja kosong.
Baru saja hendak mulai makan—
Suara langkah kaki mendekat dari arah belakang.
Ketiganya menoleh bersamaan.
Dan senyum mereka langsung memudar.
Sari.
Gadis itu datang bersama dua orang temannya.
Meski bibirnya tersenyum, sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan keramahan.
Terutama saat menatap Alya.
Tatapan itu penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.
Dendam.
Iri.
Dan kebencian.
Namun Alya memilih mengabaikannya.
"Ada apa?" tanya Alya sopan.
Sari mengulurkan tiga buah amplop undangan berwarna emas.
"Ulang tahun gue besok malam."
Nada suaranya terdengar angkuh.
"Gue datang buat ngasih undangan."
Ayi langsung mengangkat sebelah alis.
"Wah! Niat banget."
Sari pura-pura tidak mendengar sindiran itu.
"Anak-anak yang lain udah dapat undangan dari kemarin."
"Kalian bertiga saja yang belum." lanjutnya kemudian
Widya melipat kedua tangan di depan dada.
"Kalau nggak diundang juga sebenarnya nggak masalah."
Senyum Sari sedikit menegang.
Namun ia tetap mempertahankan ekspresinya.
"Sebaiknya kalian berterima kasih sama gue. Gue udah cukup baik hati ya mau gundang kalian."
Kali ini Ayi sampai hampir tersedak minumannya.
"Baik hati?"
Gadis itu menoleh ke Widya sambil menaikan sebelah alisnya
"Gue nggak salah dengar kan?"
Widya mencibir.
"Kayaknya nggak."
Alya langsung menyenggol lengan kedua sahabatnya sebelum keadaan berubah menjadi perang mulut.
Sari hanya mendengus pelan.
Kemudian berbalik pergi bersama teman-temannya.
Begitu sosok mereka menjauh—
Ayi langsung memutar bola matanya dengan jengah.
"Sok banget sih itu orang."
"Dinding aja kalah tebal sama muka dia."
Widya langsung mengangguk setuju.
"Jarang-jarang gue sependapat sama Ayi."
Alya hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.
"Kalian ini."
Meski begitu, ia tetap membuka amplop undangan tersebut.
Matanya membaca detail acara yang tertera di dalamnya.
Pesta ulang tahun Sari.
Diselenggarakan di sebuah hotel mewah.
Sabtu malam.
Tanpa sadar Alya mulai berpikir.
Sekarang dirinya sudah menikah.
Ia bukan lagi gadis lajang yang bisa pergi ke mana saja tanpa memberi kabar.
Apakah ia perlu meminta izin kepada Max?
Atau setidaknya memberitahunya terlebih dahulu?
Entah kenapa pikiran itu membuat pipinya sedikit menghangat.
"Alya."
Suara Widya membuyarkan lamunannya.
"Hm?"
Widya terlihat sedikit ragu.
"Lo... nggak apa-apa kan?"
"Maksudnya?"
"Soal nyokap lo itu."
Alya langsung memahami arah pembicaraan tersebut.
Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar.
Beberapa detik ia terdiam.
Mencari jawaban yang tepat.
Jujur saja, semua yang terjadi masih terasa menyakitkan.
Tetapi bukan karena ia kehilangan sosok Helena.
Melainkan karena melihat Tyo terluka begitu dalam.
Alya mengaduk jusnya perlahan.
"Gue nggak terlalu memikirkannya." Ayi dan Widya saling pandang.
Alya tersenyum kecil. "Selama ini dia memang nggak banyak berperan dalam kehidupan gue. "
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun keduanya bisa merasakan luka yang tersembunyi di baliknya.
"Gue sedih, tapi bukan karena kehilangan kasih sayang dari nyokap gue." Alya menunduk.
"Gue sedih karena Papa harus mengalami semua itu."
Sorot matanya melembut ketika membicarakan Tyo.
"Untungnya gue masih punya Papa, buat gue.. " Alya menjeda kalimat nya sejenak senyumnya perlahan kembali muncul.
"Papa adalah orang tua terbaik yang pernah gue miliki."
Mendengar itu, hati Widya dan Ayi ikut terasa hangat.
Mereka tahu betul bagaimana Tyo selalu memperlakukan Alya dengan penuh kasih sayang.
Dan bagaimana pria itu selalu menjadi pelindung bagi putrinya.
Beberapa saat kemudian, topik pembicaraan kembali beralih.
Kali ini menuju undangan yang masih berada di atas meja.
Widya menunjuk amplop tersebut.
"Jadi?" Widya mencoba mengalihkan pembicaraan agar Alya tak larut dalam kesedihan
"Lo bakal datang?"
Ayi langsung menggeleng cepat.
"Kalau gue jadi lo, mending nggak usah datang."
"Iya kali."
"Bisa aja itu jebakan sosial."
Widya tertawa kecil mendengar istilah aneh tersebut.
Namun Alya justru tersenyum tenang.
"Gue mungkin tetap datang."
"Kok mau?" tanya Ayi heran.
Alya mengangkat bahu.
"Setidaknya sebagai bentuk menghargai."
"Lagipula dia udah ngundang kita kan? ."
"Datang sebentar lalu pulang juga nggak masalah."
Widya mengangguk pelan.
"Masuk akal."
"Tapi tetap hati-hati."
Ayi langsung menambahkan.
"Kalau ada yang aneh langsung telepon gue."
Widya melirik sahabatnya.
"Emang lo bisa ngapain?"
Ayi membusungkan dada.
"Gue bisa panik bersama-sama."
Mereka bertiga langsung tertawa.
Namun tak seorang pun menyadari...
Di tempat lain, seseorang justru sedang tersenyum sambil memandangi daftar tamu pesta ulang tahunnya.
Dan tepat di samping nama Alya...
Sudah tersusun sebuah rencana yang perlahan mulai dijalankan.
"Gue nggak bakalan biarin lo menang kali ini, Alya! "