NovelToon NovelToon
AKHIR DARI PENYESALAN

AKHIR DARI PENYESALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Rumah Tangga / Selingkuh
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.

"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.

Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.

Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.

Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.

Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ENAM

"Aku pengen liat, kalau seandainya dia sendiri lah yang ada di posisiku, kira-kira bisa nggak dia ngelakuin hal yang dia suruh ke aku. Aku penasaran apa dia beneran bisa melakukan hal yang dia minta dengen entengnya ke aku." Lanjut Kanaya, ekspresi sebalnya belum pergi.

"Jadi, aku mau cari ani-ani yang seeeeeksi dan

Caaaaantik, plus jauuuuuuh lebih muda buat jadi simpanan dan bahkan istri kedua suaminya. Aku mau liat secara langsung reaksi dia. Orang kan enteng kalau ngomong doang, giliran ngalamin sendiri kebanyakan pada nggak sanggup." Lanjut Kanaya sambil mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.

Kini wanita itu kembali tersenyum lebar, tampak sangat sumringah.

Dayu dan Leah tampak terdiam membisu, mereka tak habis pikir dengan ide luar biasa Kanaya.

"Waaw,...." Ucap Leah dan Dayu bersamaan.

"Waaaw, memang. Cemerlang kan otakku?" Kanaya berucap penuh bangga.

"Apa ngelakuin hal kaya gitu nggak cuma buang-buang waktu aja? Kamu kan udah dapet semuanya, bisa tinggal hengkang sambil bawa semua harta dia."

"Nggak, terlalu gampang kalau gitu. Lagi pula aku punya banyak banget waktu, jadi nggak masalah kalau dibuang-buang. Aman." Pungkas Kanaya.

"Jadi, gimana? Ada nggak, Dayu? Perempuan muda, cantik, semok, seksi dan mata duitan ekstrim? Dia minta berapa pun aku kasih deh." Ulang Kanaya bertanya.

"Ada sih, pasti ada. Namanya ani-ani ya mereka rela ngelakuin apapun demi uang. Asal ada uang, disuruh ngapain pun pasti nurut."

"Euhm, okay. Tapi dia mau kan kalau disuruh sampe nikah? Alias jadi istri kedua?" Tanya Kanaya kembali memastikan.

"Aku bisa cariin yang mau, gampang. Berapa duit yang mau kamu kasih?" Tanya Dayu.

"Berapa pun yang dia minta, asal dia bisa ngelakuin persis sesuai yang aku minta." Jawab Kanaya mantap.

Senyum licik semakin lebar terukir di bibir merah mudanya.

***

"Kanaya? Sayang? Kamu dari mana? Kok keluar rumah nggak bilang-bilang? Aku dari tadi cari-cari kamu lho, telfon juga kenapa nggak diangkat? Chat aku juga nggak ada yang dibales."

Suara Andra yang beruntun bertanya menyambut Kanaya yang baru saja berjalan melewati pintu masuk.

Hatinya yang sejak tadi riang gembira seketika berubah sumpek, kesal dan marah membuat dadanya terasa begitu panas.

Tapi, ia harus menekan semua emosinya agar semua hal yang sudah susah payah ia rencanakan dengan matang bisa berjalan sesuai dengan keinginan.

"Oh,... Aku baru pulang dari ketemu Leah sama Daya.

Udah lama banget kami bertiga nggak kumpul." Jawab Kanaya sambil berjalan menuju chiller dan mengambil botol air kemudian menenggaknya secara langsung.

"Kamu bikin aku khawatir, Sayang. Aku pikir kamu kemana. Lain kali kalau mau keluar itu bilang dulu, supaya aku nggak kelabakan nyari." Ucap Andra sambil berjalan mendekat.

Kanaya rasanya ingin melarikan diri sejauh mungkin

dari Andra.

Entah lah, kehadiran pria itu kini membuatnya terganggu dan sentuhan Andra membuat Kanaya merasa mual.

Bayangan tentang Andra yang kembali menyentuhnya setelah menyentuh perempuan lain benar-benar membuat Kanaya ingin muntah.

Ia tak sudi dibelai oleh tangan dan tubuh yang sama yang pria itu gunakan untuk meraba tubuh perempuan lain.

Eugh!

Membayangkannya saja Kanaya sudah benar-benar mual tak terkira.

"Aku udah bilang kok sebelum pergi, mungkin kamu nggak denger karena terlalu asyik sama istri kedua kamu."

Ucap Kanaya enteng. Jawabannya itu jelas membuat Andra seketika bungkam.

"O-oh,... Iya kah? Ah, iya. Mungkin aku emang nggak denger. Mungkin tadi aku lagi di kamar mandi." Andra tertawa canggung, terdengar begitu dipaksakan.

Kanaya yang mendengarnya sama sekali tak ingin ikut tertawa.

"O-euhm,... Sayang. Nanti weekend kita mau jalan-jalan ke mana? Kalau ke puncak mau nggak? Kita bisa ajak Nisrin juga,...."

Kanaya menatap Andra lama, menimbang-nimbang apakah kali ini ia harus benar-benar membenturkan botol minum kaca di tangannya ke kepala pria itu.

"Euhm, no. Kayanya aku nggak akan ikut deh. Aku udah ada janji sama Leah, Daya juga. Tapi kalau kamu mau pergi jalan-jalan ke puncak sama dia, go ahead. Nggak apa-apa, pergi aja."

Kanaya menjawab sambil tersenyum manis, tapi Andra yang melihatnya justru malah merinding.

"Kalau kamu nggak bisa ya,... nggak usah berarti. Kita bisa cari waktu lain biar bisa pergi sama-sama."

"Padahal nggak apa-apa, lho. Kan seru bisa berduaan tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Istri kedua kamu itu juga pasti seneng kalo bisa jalan dan stay cation berdua sama kamu."

"Kok kamu gitu sih ngomongnya? Kan kamu juga istri aku. Kalau aku pergi sama Nisrin, ya kamu juga ikut. Kita harus pergi kemana pun sama-sama, bareng-bareng."

Muak, Kanaya sangat muak mendengarnya.

"Gitu gimana? Memang bener kan omonganku? Dia pasti seneng kalau diajak jalan-jalan berdua sebagai istri sah yang nggak harus disembunyiin lagi. Ajak jalan-jalan berdua, gih. Dia pasti happy."

Kanaya merasa tak sudi untuk mengucapkan nama istri kedua suaminya.

"Naya,...." Suara Andra pelan tapi jelas-jelas pria itu sedang memperingatkannya.

Tapi persetan, Kanaya sudah tidak peduli.

"Apa?" Kanaya bertanya seolah menantang.

"Kamu-"

Andra tak sempat menyelesaikan ucapannya saat suara pintu kamar terdengar dibuka dan Nisrin keluar dengan senyum yang di mata Kanaya terlihat sangat menyebalkan.

"Tuh, ayo ajak gih." Dorong Kanaya membuat Andra menatapnya dengan sorot tidak suka.

"Kenapa, Mbak?"

Suara pelan mendayu-dayu itu membuat Kanaya ingin memotong kupingnya agar ia tak perlu lagi mendengar suara wanita itu.

"Euhm, itu. Mas Andra katanya pengen ajak kamu jalan-jalan dan stay cation berdua di puncak. Kamu pasti mau, kan? Mau dong. Kapan lagi bisa berduaan tanpa harus sembunyi-sembunyi takut ketauan, kan?" Meski terdengar ceria tapi jelas sekali kalau Kanaya sedang mengejeknya.

"Mau, Mbak. Mau banget." Nisrin yang entah memang bodoh atau hanya pura-pura tidak mengerti mengiyakan dengan penuh semangat.

"Tuh kan, Mas. Istri kedua kamu itu semangat banget. Ajak gih, kasian. Kayanya dia belum pernah jalan-jalan ke puncak. Pergi berdua sama dia ya." Kanaya kembali menatap Andra yang masih menatapnya dengan sorot mata tak suka.

Pria itu jelas kesal karena Kanaya mendorong mereka berdua untuk pergi dan secara tidak langsung seolah sedang mengusirnya.

"Enjoy libur weekend dan stay cationnya, ya." Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Kanaya kemudian pergi berlalu dan masuk ke dalam kamarnya.

Sepenuhnya mengabaikan Andra yang terus memelas menatapnya.

"Kalau begini kan aku bisa fokus ngurus calon istri kedua bapak mertua,...." Gumam Kanaya tepat setelah pintu tertutup, wanita itu kembali terkikik geli seraya tersenyum licik.

1
Nuna_Pena
😁😁
Anonim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!