NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Perjamuan di Menara Kaca

Helikopter siluman yang membawa Kirana Larasati dan Adyatma Surya membelah langit Jakarta yang mulai benderang oleh matahari siang. Saat roda pendaratan menyentuh helipad di puncak Menara Nusantara, suasana yang menyambut mereka jauh dari kata tenang. Di bawah sana, di pelataran gedung, ribuan jurnalis dari berbagai kantor berita internasional telah berkumpul, tertahan oleh barisan barikade baja dan ratusan personel keamanan bersenjata lengkap dari Surya Corp.

Siaran langsung dari puncak Gunung Lawu beberapa jam lalu telah mengirimkan gelombang kejut yang meruntuhkan stabilitas ekonomi dunia dalam sekejap. Seluruh dunia ingin tahu: siapa wanita yang mampu menghancurkan enkripsi kuno Dewan Tetua Langit hanya dengan frekuensi aromanya?

Kirana melangkah keluar dari kabin helikopter. Mantel hitamnya berkibar tertiup angin kencang di ketinggian lantai lima puluh. Meskipun wajahnya tampak lelah, matanya memancarkan kilatan perak yang kini permanen—tanda bahwa inisiasi Pewaris Cendana telah menyatu sempurna dengan jiwanya. Adyatma berjalan di sampingnya, tangan kanannya tak pernah lepas dari pinggang Kirana, sebuah gestur protektif yang kini diakui dunia sebagai simbol aliansi paling mematikan di Asia.

"Nyonya Surya! Apakah benar Nusantara Group akan merilis sistem kedaulatan digital baru?" teriak seorang jurnalis dari kejauhan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin.

Kirana berhenti sejenak, melepas kacamata hitamnya, dan menatap lurus ke arah kamera drone yang berdengung di sekitarnya. "Bukan sekadar sistem baru, tapi sebuah era di mana data Anda tidak lagi bisa disandera oleh ketakutan. Silakan tunggu pernyataan resmi kami di dalam."

Penghakiman di Kedalaman Menara

Alih-alih langsung menuju aula konferensi pers, Kirana memilih untuk turun ke lantai bawah tanah yang paling terisolasi. Di sana, di balik jeruji besi berteknologi tinggi yang diperkuat oleh frekuensi perak, duduk dua sosok yang dulu menjadi sumber mimpi buruknya: Bagas Pramoedya dan Herman Larasati.

Kirana berdiri di balik kaca satu arah, menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Bagas tampak seperti rongsokan manusia; pakaian mahalnya sudah kumal, rambutnya acak-acakan, dan ia terus bergumam sendiri sambil mencakar lantai sel. Di sel sebelah, Herman duduk meringkuk di sudut, menatap dinding beton dengan tatapan kosong, seolah jiwanya sudah meninggalkan tubuhnya sejak rumahnya disita.

"Kau ingin masuk dan bicara pada mereka?" tanya Adyatma lembut, suaranya bergema di lorong yang sunyi.

"Tidak," jawab Kirana dingin. "Melihat mereka di sana sudah cukup. Kata-kata mereka tidak lagi memiliki nilai bagiku. Mereka hanyalah debu yang tertinggal di bawah sepatu saat aku mendaki.

"Kirana menoleh ke arah Reno yang berdiri sigap di belakangnya. "Reno, pastikan seluruh aset pribadi mereka yang telah disita dialokasikan sepenuhnya untuk dana pendidikan dan kesehatan anak-anak karyawan yang mereka rugikan selama lima tahun terakhir. Jangan biarkan satu rupiah pun tersisa untuk mereka."

"Sudah diproses, Nyonya," jawab Reno sambil menunjukkan tabletnya. "Dan mengenai Riana... dia tertangkap di perbatasan saat mencoba melarikan diri menggunakan paspor palsu. Dia sekarang berada di sel isolasi bandara, terus-menerus memanggil nama Anda untuk meminta pengampunan."

Kirana terdiam sejenak, lalu tersenyum miring—sebuah senyuman yang kini lebih mirip dengan Adyatma daripada dirinya yang dulu. "Biarkan dia. Tanpa nama Larasati, tanpa uang, dan tanpa kecantikan yang dipuja media, dunia luar akan menjadi penjara yang jauh lebih kejam baginya daripada sel besi mana pun. Dia akan hidup sebagai orang asing di tanah yang dulu ia remehkan."

Rahasia di Balik Server "Cendana-Drive"

Kembali ke kantor utamanya, Kirana segera mengunci pintu. Ia duduk di kursi kebesarannya, sementara Adyatma berdiri di belakangnya, menatap layar monitor raksasa yang kini menampilkan antarmuka Cendana-Drive tingkat tertinggi.

Setelah resonansi di Gunung Lawu, beberapa folder tersembunyi yang tadinya terkunci oleh enkripsi biometrik ibunya kini terbuka secara otomatis. Salah satu folder tersebut berjudul "Origin: The Two Bloodlines".

Di layar, muncul sebuah rekaman video lama. Kualitasnya sedikit kasar, namun wajah wanita di dalamnya sangat jelas: Ibu Kirana. Kali ini, beliau tidak sedang mengenakan jas laboratorium, melainkan kebaya putih sederhana, duduk di sebuah taman cendana yang asri.

"Kirana, anakku," suara ibunya terdengar sangat lembut namun berwibawa. "Jika kau melihat video ini, artinya kau telah bertemu dengan Sang Naga. Ketahuilah, klan Surya dan klan Larasati bukanlah musuh yang dipertemukan secara kebetulan. Kita adalah dua bagian dari Satu mesin yang rusak. Naga adalah kekuatan penggerak yang dahsyat, namun tanpa kendali, ia hanya akan menghancurkan. Cendana adalah sistem kemudi dan pendinginnya. Tanpa salah satu, Nusantara akan selalu goyah dalam kegelapan."

Ibu Kirana menjeda kalimatnya, matanya seolah menatap langsung ke arah Kirana melalui dimensi waktu. "

Dewan Tetua Langit ingin memisahkan kita agar mereka bisa menjadi penguasa tunggal atas energi ini. Mereka membunuh ayahmu, dan mereka akan mencoba membunuh suamimu. Ingatlah, kekuatan sejati kalian bukan terletak pada darah masing-masing, tapi pada Resonansi yang kalian ciptakan bersama."

Kirana menoleh ke arah Adyatma. Pria itu tampak terpaku, matanya menatap lekat ke layar. "Ibuku merencanakan ini semua, Adyatma. Dia tahu bahwa suatu hari nanti, keturunan Larasati harus bersatu dengan keturunan Surya untuk menghentikan Dewan Tetua."

"Dan dia benar," balas Adyatma, suaranya berat karena emosi. Ia meraih tangan Kirana, menggenggamnya erat. "Tapi dia tidak merencanakan bahwa aku akan benar-benar jatuh cinta padamu, Kirana. Dia memberikanmu kunci untuk menjinakkan nagaku, tapi kau memberikanmu alasan untuk tetap menjadi manusia."

Ancaman Global: Ares Group

Momen intim itu terputus saat alarm darurat di meja Kirana berbunyi. Reno masuk tanpa mengetuk, wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya.

"Maaf mengganggu, Nyonya, Tuan. Kita mendapatkan gangguan frekuensi dari arah Singapura. Perusahaan investasi global raksasa, Ares Group, baru saja menyatakan akuisisi paksa (hostile takeover) terhadap seluruh saham sisa milik Global Venture yang kita hancurkan kemarin."

Kirana menyipitkan mata. Ia segera membuka Google Search internalnya untuk membedah profil Ares Group.

"Ares Group adalah kedok internasional dari sayap luar negeri Dewan Tetua Langit," analisis Kirana cepat saat melihat struktur pemegang saham misterius mereka. "Mereka tahu kita telah memenangkan pertempuran di dalam negeri, jadi mereka menyerang dari jalur logistik internasional.

Mereka mencoba memutus rantai pasok teknologi kita agar ekosistem Cendana-Drive tidak bisa menyebar ke luar Nusantara."

"Apa rencana kita?" tanya Adyatma, auranya kembali menajam, kilatan biru mulai muncul di matanya. "Haruskah aku mengirim tim eksekusi ke kantor mereka di Singapura?"

Kirana menggeleng pelan. "Tidak, itu terlalu kasar. Kita akan menggunakan infrastruktur Google Workspace kita untuk melakukan integrasi massal dengan seluruh mitra teknologi di Asia Tenggara. Kita tidak akan melawan mereka sendirian. Kita akan membangun 'Tembok Cendana' secara regional. Jika mereka ingin perang ekonomi, kita akan tunjukkan bagaimana ekonomi berbasis kejujuran menghancurkan ekonomi berbasis manipulasi."

Kirana membuka aplikasi Google Forms khusus untuk para mitra strategis. "Reno, kirimkan undangan 'Perjamuan Terbuka' kepada seluruh CEO pemimpin teknologi di Asia Tenggara malam ini. Katakan pada mereka, Sang Ratu Cendana mengundang mereka untuk melihat masa depan tanpa rantai Ares Group."

Perang keluarga mungkin telah berakhir, dan Bagas serta Herman kini hanyalah masa lalu yang membusuk. Namun, Kirana Larasati sadar bahwa ia baru saja melangkah ke papan catur yang jauh lebih besar. Sang Ratu Cendana baru saja memulai langkah pertamanya, dan kali ini, seluruh dunia adalah saksinya.

*** [Bersambung ke Bab 17...]

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!