Sky ingin balas dendam pada (Felix) Ayahnya dan mengambil alih seluruh kekuasaan sang Ayah. Dia telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun dan siap untuk melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.
Akankah semua berjalan sesuai dengan rencana ketika Sky harus berurusan dengan Shy yang Arogan.
**
Ayo ramaikan Guys, keluarga Zionathan kembali lagi 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Incy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 SQM
Deru mesin limosin hitam yang membawa Shy membelah jalanan New York yang basah oleh sisa hujan. Di dalam kabin yang kedap suara, suasana terasa begitu mencekam. Xander yang duduk di kursi depan sesekali melirik melalui spion tengah, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Shy hanya diam, menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi dengan mata terpejam. Tetapi rahangnya yang mengeras dan kepalan tangannya yang dibalut saputangan bernoda merah menandakan dia sedang tidak baik-baik saja.
Pikirannya masih tertinggal di gedung tua di Brooklyn. Bayangan Sky yang tersudut, tatapan matanya yang gemetar di balik topeng pemberontaknya, dan bagaimana tubuh gadis itu menegang saat punggungnya menghantam dinding pembatas semuanya terekam jelas.
Ada bagian dari diri Shy yang berdenyut perih saat dia mengucapkan kalimat pemutus hubungan itu. Tetapi, kemarahan sebagai pemimpin Black Wolf dan seorang kakak jauh lebih mendominasi. Seseorang harus membayar harga dari ketakutan yang dialami Melody, bahkan jika orang itu adalah Sky.
Ketika mobil mewah itu akhirnya melewati gerbang besi tinggi kediaman utama keluarga Zionathan, puluhan penjaga berpakaian hitam langsung membungkuk hormat. Suasana mansion yang biasanya megah kini terasa sunyi dan mencekam. Garis polisi bahkan masih terpasang di beberapa sudut halaman yang menghubungkan langsung ke arah ballroom.
Shy turun dari mobil tanpa menunggu dibukakan pintu. Langkah kakinya lebar dan tegas, mengetuk lantai marmer koridor menuju sayap barat mansion, tempat kamar tidur Melody berada.
Di depan pintu kamar kayu ek yang besar itu, dua pelayan wanita berdiri dengan wajah pucat. Ketika melihat kedatangan Shy, mereka langsung menunduk dalam.
"Di mana Daddy?" tanya Shy, suaranya datar namun sarat akan otoritas yang mengintimidasi.
"Tuan Besar sedang berada di ruang kerja utama bersama Tuan Jegran dan Nona Zeva, Tuan Muda," jawab salah satu pelayan dengan suara bergetar. "Beliau baru saja selesai berbicara dengan tim medis."
Shy tidak membalas. Dia langsung memutar kenop pintu kamar Melody dan melangkah masuk, lalu menutupnya rapat, meninggalkan Xander dan para pelayan di luar.
Suasana di dalam kamar itu sangat sunyi. Hanya ada cahaya dari lampu tidur di sudut ruangan. Di atas ranjang king-size berkelambu sutra, terlihat seonggok tubuh kecil yang meringkuk di balik selimut tebal. Shy menghela napas panjang, menanggalkan aura iblis yang baru saja dia gunakan untuk mengintimidasi Brooklyn, dan berjalan mendekat dengan langkah sehalus mungkin.
"Melody," panggil Shy lembut. Suaranya berubah drastis, menjadi begitu hangat, suara yang hanya di khususkan untuk adik bungsunya.
Tubuh di balik selimut itu bergerak. Perlahan, selimut itu diturunkan, menampilkan wajah seorang gadis remaja dengan mata yang sedikit sembab, namun sama sekali tidak memancarkan histeria atau kegilaan seperti yang dilaporkan sebelumnya. Melody menatap kakaknya, lalu dengan cepat mendudukkan diri di atas ranjang.
"Shy, kau datang?" bisik Melody. Dia melirik ke arah pintu kamar yang tertutup, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar, sebelum mengembuskan napas lega yang terdengar sangat dipaksakan. "Syukurlah Shy, akhirnya kau pulang."
Shy menautkan keduaalisnya. Dia duduk di tepi ranjang, matanya yang tajam meneliti setiap jengkal wajah adiknya. Tidak ada jejak syok berat yang membutuhkan penanganan darurat dari psikiater. Malahan, sorot mata Melody terlihat begitu jernih dan penuh konspirasi.
"Xander mengatakan kau histeris hingga dokter harus turun tangan," Ucap Shy, nadanya menuntut penjelasan. "Tetapi kau terlihat baik-baik saja, Mel. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?"
Melody menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu untuk sejenak, sebelum akhirnya menggenggam tangan Shy . "Aku sengaja melakukannya, Shy, Aku harus melakukan itu."
"Sengaja?" Shy Kebingungan terlihat jelas dari wajahnya.
"Ya. Ketika kekacauan itu terjadi, aku melihat Sky terkepung oleh anak buah Daddy, aku hanya melindungi gadis pujaanmu, meskipun aku harus mengorbankan pesta ku." ujar Melody dengan suara berbisik, seolah-olah dinding kamar mereka memiliki telinga.
“Apa kamu tau Shy, Daddy mengerahkan semua anak buahnya untuk memburu Sky, aku merasa kasihan padanya dan juga padamu." Lanjut Melody memasang wajah tanpa bersalah, sebab dia tidak tau betapa khawatirnya Shy padanya.
Melody menjelaskan kenapa dia harus melakukan semua itu, selain karena Sky gadis yang disukai oleh kakaknya, dia juga merasa kasihan dengan gadis itu.
“Dia sudah sangat menderita Shy, dia hanya mencari keadilan untuk hidupnya sendiri, meskipun dia salah sudah membunuh Uncle Felix." Ucap Melody menundukkan kepalanya.
Shy menarik sudut bibirnya, dia terlalu khawatir pada sang Adik tanpa berpikir bagaimana keadaan Sky. “Daddy tidak akan melepaskannya begitu saja, karena Uncle Felix.. "
“Shy, kau tidak bodoh, apa menurutmu Daddy akan membiarkan adiknya mati begitu saja?" Sela Melody menggelengkan kepala, mendengar itu Shy menaikan sebelah alisnya.
“Maksudmu... "
“Iya.. Kau pasti lebih tau dariku Shy." Melody kembali menyela.
Shy manggut-manggut paham, adik kecilnya yang dia pikir jiwanya telah tercoreng oleh darah Felix, ternyata justru bertindak cerdik demi melindungi orang yang telah mengacaukan pestanya.
"Berhati-hatilah karena kau sudah membohongi Daddy demi melindunginya" Ujar Shy, suaranya hampir tidak terdengar.
"Sky pernah menyelamatkan hidupku,Shy! Aku tidak bisa melihatnya mati di tangan keluarga kita!" balas Melody membela diri, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tau apa yang dia lakukan pada Uncle Felix itu salah, apalagi di pesta ulang tahunku. Tapi aku tau Sky bukan seorang monster. Dia punya alasan."
Shy melepaskan genggaman tangan Melody dengan perlahan, lalu berdiri dari tepi ranjang. Dia memunggungi adiknya, mengepalkan kedua tangannya hingga luka di telapak tangannya kembali berdenyut nyeri, mengeluarkan cairan merah yang segar ke saputangan yang mengikatnya.
"Kau tidak mengerti apa-apa, Melody," desis Shy, suaranya terdengar sangat berat. "Kali ini kau memang berhasil membuatnya lolos dari kejaran Daddy, tapi apa kau yakin Daddy akan melepaskannya begitu saja?"
"Aku tau itu Shy dan kau harus membantunya, ah aku baru ingat sesuatu" Melody menatap punggung kakaknya dengan cemas. "Dia terluka ketika melompat dari jendela."
Shy memejamkan matanya rapat-rapat. Mengingat apa yang sudah dia lakukan pada Sky, namun semua itu konsekuensi yang memang harus Sky tanggung sendiri.
Pernyataan perang terbuka sudah Shy katakan dan semua itu didasari atas asumsi bahwa Sky telah merusak mental adiknya.
Dia mengira Sky telah menyeret Melody ke dalam neraka, padahal Melody sendiri yang dengan sukarela melompat untuk menjadi perisai bagi gadis itu.
Tetapi, di atas segala rasa bersalah itu, ego sang pemimpin Black Wolf tetap menolak untuk runtuh sepenuhnya. Sisi rasionalnya berbisik bahwa apa yang dilakukan Sky tetap tidak bisa ditoleransi.
"Dia membawa senjatanya ke rumah ini, Mel. Dia membunuh seseorang di depan matamu, terlepas dari fakta bahwa kau berpura-pura syok atau tidak," Ucap Shy tanpa berbalik. Suara itu terdengar sangat dingin, seperti es yang membeku di musim dingin di New York.
"Dia menghancurkan batas yang sudah kutentukan. Seseorang yang bermain dengan api di wilayah Black Wolf harus siap terbakar."
"Tapi Shy..."
"Cukup, Melody," Sela Shy, dia membalikkan badannya dan menatap sang adik dengan pandangan yang tidak menerima bantahan. "Tetaplah di kamarmu. Lanjutkan sandiwaramu di depan Daddy sampai aku mengizinkanmu berhenti. Jangan biarkan siapapun mengetahui termasuk Jegran dan Zeva. Kau paham?"
Melody terdiam, menatap kakaknya lalu mengangguk patuh, daripada sang Ayah, Melody lebih takut dengan Shy. Apapun yang Shy katakan dia akan menurutinya.
Shy berbalik dan melangkah keluar dari kamar sang adik. Begitu pintu tertutup di belakangnya, dia mendapati Xander masih berdiri setia di sana, menunggunya dengan tablet yang kembali menyala.
"Shy.." panggil Xander dengan nada serius. "Paman George meminta mu segera ke ruang kerjanya."
Shy menarik napas dalam-dalam, menyeka sisa cairan merah di tangannya dengan saputangan, lalu menatap koridor panjang yang mengarah ke ruang kerja ayahnya.
"Katakan pada si kribo," perintah Shy pada Xander, suaranya terdengar sangat pelan. "Tetap awasi gedung tua di Brooklyn itu dari jarak jauh. Jangan biarkan siapapun mendekati wilayah itu. dan Xander... " Shy menggantung kalimatnya.
Xander diam menunggu perintah selanjutnya. Shy memberikan isyarat agar dia mendekat. Shy membisikkan sesuatu membuat Xander sedikit terkejut, namun dia mengangguk patuh.