NovelToon NovelToon
10th Anniversary

10th Anniversary

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Poligami
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Laviolla

Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...

Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.

Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.

Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anniv 16. Pindah Kamar

Nak, maaf, Bapak dan ibu tidak bisa meninggalkan warisan apa-apa ketika kami tiada nanti. Kami hanya memiliki sebidang tanah ini. Semoga tanah ini bisa bermanfaat untuk hidupmu kelak ya.

Di hamparan tanah yang cukup luas, Ganis berdiri dengan tatapan menerawang. Kata-kata yang diucapkan oleh kedua orang tuanya kembali terngiang di telinga. Kala itu sebelum Ganis menikah, orang tua Ganis mengajaknya ke satu tempat di pinggiran kota di mana terdapat sebidang tanah yang cukup luas. Dan tanah itulah yang menjadi peninggalan terakhir kedua orang tuanya sebelum terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa keduanya.

"Bagaimana menurutmu Ga? Kira-kira prospek atau tidak jika tanah ini dijadikan coffee shop seperti ide dan konsepmu?" tanya Ganis membuka pembicaraan setelah sedikit larut dalam pikirannya mengenang masa lalu.

Sekilas pandangan Rangga mengedar ke sekeliling. "Aku rasa prospek Nis. Di sana ada Perguruan tinggi kan? Kita main di marketing untuk promosi, aku rasa bisa makin prospek."

"Kira-kira bisa dimulai kapan Ga?"

"Itu semua terserah padamu Nis. Kapan kamu siap, bisa langsung kita mulai."

"Dari RAB yang dibuat oleh temanmu, kira-kira membutuhkan dana berapa ya Ga? Aku takut kalau dana yang aku punya tidak cukup."

"Emmmmm... Begini saja Nis, jika kamu tidak keberatan, bagaimana kalau aku ikut investasi di kafemu ini? Bisa lima puluh lima puluh, tujuh puluh tiga puluh atau berapapun yang kamu perlu."

Ganis menatap Rangga dengan tatapan penuh tanya. "Sungguh kamu mau ikut investasi, Ga?"

"Mengapa tidak? Aku bakal bekerjasama dengan seseorang yang amanah dan aku lihat tempat ini punya prospek yang bagus, jadi tidak ada salahnya jika aku ikut berinvestasi."

"Sepercaya itu kamu Ga," ucap Ganis dengan kekehan kecil yang keluar dari bibirnya.

"Bagaimana aku tidak percaya pada mantan sekretaris OSIS yang pastinya sudah teruji kinerjanya, kan?"

Ganis tergelak bisa-bisanya Rangga membandingkan kinerja menjadi sekretaris OSIS dengan realita kehidupan di dunia nyata seperti ini.

"Oh iya, kamu dokter apa Ga? Dan praktek di mana?"

"Spesialis obgyn, Nis. Aku biasa praktek di RS pusat kota dan juga buka praktek di klinik milik keluargaku," ucap Rangga menerangkan. "Kenapa? Apa kamu mau mendaftar untuk jadi salah satu pasienku?"

Ganis tersenyum sumbang. Entah sudah berapa lama ia memilih untuk tidak berhubungan dengan yang namanya dokter obgyn, USG, dan yang berhubungan dengan kandungan. Lelah, hanya itulah kata-kata yang sanggup menggambarkan segala rasa yang membelenggu jiwa.

"Nis, kamu baik-baik saja?" tanya Rangga yang keheranan melihat Ganis yang hanya terdiam membisu. "Atau ada ucapan dariku yang menyinggung perasaanmu?" sambungnya pula.

Ganis meraup udara dalam-dalam untuk kemudian ia hembuskan perlahan. Ia menggeleng samar.

"Tidak Ga, ucapanmu tidak ada yang menyinggung. Hanya saja aku sedang berhenti dari segala hal yang berhubungan dengan kandungan."

Dahi Rangga mengernyit. "Maksudmu?"

"Pernikahanku dengan suamiku sudah memasuki usia sepuluh tahun. Tapi sampai saat ini kami belum dikaruniai keturunan. Sudah lima tahun aku menjalani macam-macam promil namun tidak membuahkan hasil. Akhirnya lima tahun terakhir ini aku memilih untuk berhenti."

Rangga hanya tersenyum tipis. Ia sangat paham dengan apa yang dirasakan oleh teman SMA nya ini.

"Tidak apa jika kamu memilih untuk berhenti, Nis, asal jangan berputus-asa. Tapi jika saat ini kamu memutuskan untuk memulai kembali, aku siap membantu."

Ganis menoleh ke arah Rangga. "Maksudmu?"

Rangga terkekeh pelan. "Mungkin kamu sudah berpindah-pindah dari dokter satu ke dokter yang lain. Barangkali aku adalah dokter ke sekian yang dikirimkan oleh Allah untuk menemani proses ikhtiarmu."

"T-tapi aku sudah lelah Ga. Seperti tidak memiliki semangat lagi."

"Ya sudah, aku tidak akan memaksa. Satu saat jika kamu mau berikhtiar lagi, kamu bisa langsung datang ke klinikku atau ke rumah sakit di mana aku praktek."

Tatapan mata Ganis menerawang. Hati dan pikirannya diselimuti oleh kekalutan yang luar biasa. Ingin rasanya ia mengiyakan tawaran Rangga, namun melihat kondisi saat ini di mana sang suami akan memiliki anak dari istri keduanya, seakan semua akan sia-sia.

****

"Loh, pak Krisna, bu Puspa, pak Herman, ini siapa?"

Maryati sedikit terkejut dengan kehadiran rombongan yang dibawa oleh Krisna. Jika dengan Puspa ataupun Herman, Maryati tidaklah asing. Namun dengan sosok wanita yang digandeng oleh Krisna, sungguh membuat Maryati bertanya-tanya. Siapa gerangan orang itu. Mengingat biasanya sang majikan hanya menggandeng bu Rengganis, namun sekarang ia menggandeng wanita lain.

"Mbok Mar, biarkan kami masuk dulu!" ucap Herman mengingatkan. Pasalnya sedari tadi mereka tak kunjung dipersilahkan masuk.

"Oh iya, mari silakan masuk!"

Krisna, Dinda, Puspa, Herman berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Mereka mendaratkan bokong masing-masing di atas sofa ruang keluarga.

"Bu Mar, jadi wanita ini namanya Dinda. Mulai sekarang posisi Dinda sama dengan Rengganis," ucap Krisna memperkenalkan.

Maryati terhenyak. "Apa? Posisi Mbak ini sama dengan bu Ganis? Maksud pak Krisna apa?"

"Jad Dinda ini istri keduaku, Bu. Kuharap bu Mar memperlakukan Dinda dengan baik..."

"Apalagi saat ini Dinda tengah hamil darah daging Krisna, jadi aku minta mbok Mar memperlakukan Dinda dengan baik. Ingat ya Mbok, yang dikandung Dinda adalah calon cucu pertama di keluarga Herman," ujar Puspa memperingatkan.

"Hah, dengan bu Ganis saja sampai sepuluh tahun belum dikaruniai keturunan, masa dengan wanita ini langsung jadi? Jangan-jangan bukan benih pak Krisna," ucap Maryati lirih. Ia pastikan tidak ada yang mendengar selain dirinya dan Tuhan.

"Apa Mbok? Kamu bicara apa?" tanya Puspa begitu penasaran melihat Maryati yang komat-kamit sendiri.

"Eh tidak Bu, bukan apa-apa," jawab Maryati sedikit keki. "Hanya saja saya takjub, kok bisa secepat itu ya? Langsung jadi gitu. Padahal sama bu Ganis kan sampai sekarang belum dikasih."

"Ya itu artinya Ganis yang mandul, Mbok," seloroh Puspa. "Sudah, sudah, buatkan kami minum Mbok, panas sekali nih."

"Baik, Bu."

Maryati melenggang pergi meninggalkan ruang tengah. Menuju dapur untuk membuat minuman segar seperti yang diminta oleh sang majikan.

"Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam!"

"Baru pulang, Sayang? Dari mana saja?"

Kepulangan Ganis sudah disambut oleh orang-orang yang berkumpul di ruang tengah. Ekspresi wajah mereka nampak biasa-biasa saja seperti menganggap Ganis bukanlah orang penting di rumah ini.

"Dari toko kue. Ada beberapa hal yang harus aku pastikan sebelum mengerjakan pesanan."

"Memang di toko kue milikmu itu banyak orderan ya Nis?" tanya Puspa kepo.

"Ya alhamdulillah sih Ma, banyak atau sedikit tetap aku syukuri."

"Hmmmmmm... Kalau sepi, apa tidak lebih baik ditutup saja? Daripada menghabiskan banyak biaya operasional, sehingga bikin kamu rugi terus menerus?" usul Puspa yang terdengar menggelitik di telinga.

"Mau rugi ataupun untung itu semua urusanku Ma. Toh kalaupun rugi aku tidak pernah minta bantuan ke mas Krisna ikut berkontribusi untuk memberikan suntikan dana bantuan. Jadi aku rasa tidak merugikan siapapun."

"Ya itu usul Mama sih. Lagipula mulai saat ini ada banyak hal yang harus dipersiapkan oleh Krisna untuk menyambut kelahiran anak pertamanya. Jadi harus banyak persiapan uang."

"Ckkckkckkk... Aku tidak akan pernah mengganggu keuangan mas Krisna. Silakan saja semua digunakan untuk menyambut kelahiran anak pertamanya. Aku tidak akan menggangu."

"Syukurlah kalau kamu bisa paham. Oh iya, Mama minta kamu pindah di kamar yang satunya ya. Biar kamarmu sebelumnya dipakai oleh Dinda," pinta Puspa.

"Apa Ma? Aku yang harus pindah?" tanya Ganis dengan raut wajah penuh keterkejutan. "Dia yang tamu, kenapa bukan dia yang menempati kamar satunya? Kenapa harus mengganggu kamarku?" sambung Ganis seraya menunjuk ke arah Dinda.

"Betul apa kata mbak Ganis, Ma. Biar aku saja yang menempati kamar satunya. Mbak Ganis biar tetap di kamarnya," timpal Dinda dengan wajah polosnya.

"Baguslah kalau sadar diri dan sadar posisi," celetuk Ganis. Namun ia tahu persis jika istri kedua suaminya ini hanya berakting untuk mendapatkan simpati.

"Tidak bisa Din. Kamu akan mempunyai anak, jadi kamu memerlukan kamar yang luas. Kamar Ganis sangat luas dan itu cocok untuk jadi kamarmu juga kamar bayimu nanti," terang Puspa.

"Tapi Ma... "

"Sudah, untuk perkara ini Mama rasa sudah selesai. Nis, kamu bisa mulai untuk memindahkan barang-barangmu. Biar Mama juga bisa segera mulai untuk merompak kamar untuk Dinda."

Ganis tersenyum getir. Untuk perkara kamar pun, ia juga harus mengalah dan terabaikan. Ganis melirik ke arah Krisna yang sedari tadi hanya terdiam tak bersuara sedikitpun.

Bahkan dalam posisi seperti inipun kamu tidak membelaku, Mas. Aku ragu, kamu bisa berbuat adil kepadaku dan kepada istri keduamu itu.

.

.

.

1
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen, follow, subscribe dan share ya... mkasih
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
bagus Ar... klo gitu kan enak, biar Krisna cepet ketahuan
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
hayooloohhhhh awal-awal minta dikenalin, Lama-lama minta warisan🤣
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
sampai di magelang kamu yang akan terkejut Nis😂😂
cinta semu
ya lihat aja biasa ny pelakor tu licik ny tiada tanding😂😂benar u nis ..manis asam garam sudah u makan hidup bersama Krisna ...jadi g masalah mau harta terbagi bahkan jatah tubuh terbagi ..gass aja ...
Anonim
basi anying
Anonim: asli .. muak lapar malah basi
total 2 replies
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
siap2 hancur akibat ulahmu sendiri Kris
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
Krisna pintar ngibulll... udah pro banget dia kayaknya...
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
hahaha terlalu banyak yang dipikirkan sampai nge-blank gitu🤣
Laviolla
selamat membaca semua... jangan lupa untuk like, komen follow subscribe dan share ya.. makasih
Masitoh Masitoh
seruuu
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
hayoloohhh ketemu juga tuh foto USG nya.... besok bakal ketahuan tuh🤣
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
tuh kan si tukang bohong udah mulai beraksi... entah kebohongan apa lagi yang bakal ia katakan.. pasti ada yang lain juga kan..
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
kasian sampai ketiduran gitu.. padahal suaminya lagi ehem-ehem sama istri keduanya
☠novi¹Kᵝ⃟ᴸ
wah wah kira2 bener gak ya yang disampaikan oleh pak dirman??
Fumiko Sora
tema cerita menarik, tulisan rapi, pilihan kata juga bagus, alur juga teratur, konflik ringan, pokoknya cocok dibaca untuk menemani waktu senggang kalian
Fumiko Sora
nis, panas2in Dinda.. kamu bisa lebih mesra dan manja ke Krisna biar Dinda panas & sebel sendiri😂
Fumiko Sora
kasian jadi ganis, dia se-berjuang itu loh untuk mendapatkan anak. semoga berhasil ya Nis
Fumiko Sora
satu lagi pengetahuan soal promil.. keren thor
Fumiko Sora
promil sendiri nis, gak usah pake acara minta uang ke Krisna.. kamu sanggup kok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!