NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Dunia Lain / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.

Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.

Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 - Kecurigaan

Pagi itu, langkah Aureliana Virestha terasa sedikit lebih berat saat ia kembali menuju pasar yang sama seperti kemarin. Bukan karena tubuhnya lelah, melainkan karena pikirannya terus memutar ulang apa yang sudah terjadi sebelumnya. Ia masih membawa hasil panen dalam jumlah terbatas, tetap menjaga agar semuanya terlihat wajar dan tidak berlebihan.

Sejak keluar dari rumah sakit, ada perasaan yang tidak bisa ia abaikan. Bukan ketakutan yang jelas, melainkan sesuatu yang samar namun terus mengganggu. Ia tidak bisa memastikan sumbernya, tetapi instingnya mengatakan bahwa ada hal yang mulai berubah di luar kendalinya.

Aureliana berhenti sejenak sebelum memasuki area pasar, menarik napas perlahan untuk menenangkan diri. Suasana di dalam terlihat sama seperti biasanya, pedagang sibuk menata barang, pembeli berjalan santai sambil memilih kebutuhan mereka. Dari kejauhan, tidak ada yang tampak berbeda.

Namun begitu ia melangkah masuk, perasaan itu kembali muncul dengan lebih jelas. Beberapa orang yang lewat tidak hanya melirik sekilas, melainkan memperhatikan lebih lama sebelum akhirnya berpaling. Hal itu cukup halus, tetapi tidak luput dari perhatiannya.

Ia tetap berjalan menuju sudut yang sama, mencoba menjaga ritme langkahnya agar tidak terlihat ragu. Tempat itu masih kosong, tidak ada yang menempati, seolah menunggunya kembali. Aureliana duduk dengan tenang, membuka kantong kainnya, lalu mulai menata hasil panen seperti hari sebelumnya.

Sayuran hijau itu terlihat segar seperti biasa, warna dan bentuknya tidak berubah. Ia menyusunnya dengan rapi, memastikan tidak ada yang terlihat berantakan. Tangannya bergerak stabil, meskipun pikirannya terus mengamati keadaan di sekitarnya.

Belum lama ia duduk, seorang pria paruh baya yang berjualan tidak jauh dari situ mulai melirik ke arahnya. Tatapannya tidak sekadar penasaran, melainkan seperti seseorang yang mencoba mencari pola. Aureliana pura-pura tidak menyadarinya, tetap fokus pada barang di depannya.

Beberapa saat kemudian, pria itu mendekat dengan langkah santai. Ia tidak terlihat mencurigakan di luar, tetapi cara pandangnya cukup membuat suasana berubah.

“Baru lagi?”

Aureliana mengangkat kepala, memberikan senyum tipis yang tidak berlebihan.

“Iya, Pak.”

Pria itu berjongkok sedikit, memperhatikan sayuran di depannya lebih dekat. Tangannya menyentuh salah satu daun, lalu mengangguk kecil seolah mengakui kualitasnya.

“Masih segar juga.”

Nada suaranya terdengar ringan, tetapi Aureliana bisa merasakan ada maksud lain di baliknya. Ia tetap menjaga ekspresinya, tidak menunjukkan perubahan apa pun.

“Baru dipetik,” jawabnya singkat.

Pria itu tidak langsung berdiri, masih memperhatikan dengan diam beberapa detik. Keheningan kecil itu terasa lebih lama dari seharusnya, cukup untuk membuat ketegangan perlahan muncul.

“Dari mana kebunnya?”

Pertanyaan itu akhirnya datang, terdengar sederhana namun langsung mengarah ke inti. Aureliana menahan napas sejenak sebelum menjawab, memastikan suaranya tetap stabil.

“Di daerah pinggir, Pak. Kecil saja.”

Ia tidak menambahkan detail apa pun, membiarkan jawabannya tetap umum. Pria itu mengangguk pelan, tetapi tidak terlihat puas sepenuhnya.

“Dekat sini?”

Aureliana menggeleng ringan.

“Lumayan jauh.”

Jawabannya tetap singkat, menutup ruang untuk pertanyaan yang lebih dalam. Namun pria itu masih diam sejenak, seolah menimbang apakah akan melanjutkan atau tidak.

Aureliana tetap menunduk, menjaga gerakannya agar terlihat biasa. Ia tidak ingin terlihat gelisah, meskipun pikirannya mulai waspada.

Beberapa saat kemudian, pria itu akhirnya berdiri.

“Ya sudah. Lanjut jualannya.”

Nada suaranya kembali santai, seolah tidak ada apa-apa. Namun sebelum pergi, ia sempat melirik sekali lagi ke arah barang dagangan itu, dan tatapan itu tidak terasa biasa.

Aureliana menunduk pelan, mencoba menenangkan napasnya. Percakapan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat pikirannya bekerja lebih cepat. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada dalam posisi yang sepenuhnya aman.

Pembeli mulai berdatangan seperti sebelumnya, meskipun suasana di sekitarnya terasa sedikit berbeda. Ada yang membeli tanpa banyak bicara, ada juga yang memperhatikan lebih lama sebelum memutuskan.

Di tengah itu, seorang wanita muda berhenti di depannya. Wajahnya terlihat ramah, tetapi cara ia memperhatikan tidak sesederhana pembeli biasa.

“Ini yang kemarin ya?”

Aureliana mengangguk pelan.

“Iya.”

Wanita itu mengambil satu sayuran, memeriksanya dengan lebih teliti dari yang lain. Matanya mengikuti setiap detail, seolah mencoba memastikan sesuatu.

“Segar banget. Aku keliling dari tadi, jarang yang kayak gini.”

Aureliana tersenyum tipis, menjaga nada suaranya tetap ringan.

“Terima kasih.”

Wanita itu tidak langsung membeli. Ia justru menatap Aureliana beberapa detik, cukup lama untuk membuat suasana terasa sedikit menegang.

“Serius, kamu tanam sendiri?”

Pertanyaan itu lebih langsung, tanpa basa-basi. Aureliana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, tetapi wajahnya tetap tenang.

“Iya.”

Jawabannya singkat, tanpa penjelasan tambahan. Wanita itu mengangguk perlahan, meskipun ekspresinya masih menyimpan keraguan.

“Hebat sih kalau bener.”

Aureliana tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya menunggu, membiarkan keheningan itu berlalu dengan sendirinya.

Akhirnya, wanita itu membeli beberapa dan pergi tanpa berkata lagi. Namun perasaan yang ditinggalkan tidak hilang begitu saja.

Aureliana melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, tetapi kini setiap interaksi terasa lebih berat. Setiap pertanyaan terasa seperti ujian kecil yang harus ia lewati dengan hati-hati.

Tidak butuh waktu lama sampai semua barangnya kembali habis. Ia segera membereskan kantong kainnya, tidak ingin berada di sana lebih lama dari yang diperlukan.

Langkahnya sedikit lebih cepat saat meninggalkan pasar, meskipun ia tetap berusaha terlihat santai. Ia hampir mencapai jalan keluar ketika sebuah suara memanggilnya dari belakang.

“Sebentar.”

Aureliana berhenti, lalu menoleh perlahan.

Pria paruh baya tadi berdiri beberapa langkah di belakangnya, kali ini tanpa senyum santai yang sebelumnya ia tunjukkan.

“Kalau memang punya kebun, kenapa baru jual sekarang?”

Pertanyaan itu lebih tajam, tidak lagi sekadar basa-basi. Aureliana menggenggam kantong kainnya lebih erat, tetapi ekspresinya tetap terjaga.

“Baru mulai, Pak.”

Jawaban itu terdengar sederhana, namun cukup masuk akal. Pria itu menatapnya lebih lama dari sebelumnya, seolah mencoba membaca sesuatu di balik kata-katanya.

“Biasanya orang yang punya hasil kayak gitu sudah lama jual.”

Aureliana tidak langsung menjawab. Ia tahu, semakin banyak ia berbicara, semakin besar kemungkinan ia membuat kesalahan.

“Masih belajar, Pak,” katanya akhirnya.

Nada suaranya tetap tenang, tidak terburu-buru. Pria itu menatapnya beberapa detik lagi, lalu mengangguk pelan.

“Ya sudah.”

Ia tidak melanjutkan pertanyaan. Namun tatapannya masih menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah.

Aureliana tidak menunggu lebih lama. Ia langsung berbalik dan melanjutkan langkahnya, keluar dari pasar tanpa menoleh lagi.

Begitu berada di luar, napasnya terasa sedikit lebih berat. Ia tidak berhenti berjalan, tetapi pikirannya terus memutar ulang percakapan tadi.

Ini mulai berbahaya.

Apa yang ia lakukan sudah cukup menarik perhatian untuk memunculkan pertanyaan. Mungkin belum besar, mungkin belum serius, tetapi cukup untuk membuatnya harus berpikir ulang.

Ia berjalan tanpa tujuan beberapa saat, membiarkan langkahnya mengikuti arah jalan. Pikirannya mencoba menyusun ulang semuanya, mencari celah yang mungkin ia lewatkan.

Ia tidak bisa berhenti. Itu bukan pilihan yang ia miliki sekarang.

Namun ia juga tidak bisa melanjutkan dengan cara yang sama.

Aureliana akhirnya berhenti di satu titik, menatap jalan di depannya dengan pandangan yang lebih tenang. Wajahnya tidak lagi menunjukkan kegelisahan yang tadi sempat muncul.

Ia mulai mengerti.

Ruang itu memang memberinya keunggulan, tetapi dunia luar tetap memiliki batas yang tidak bisa ia abaikan. Jika ia ingin terus menggunakan apa yang ia miliki, maka ia harus menyesuaikan diri dengan lebih cermat.

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Pikirannya mulai menyusun ulang rencana.

Mengurangi frekuensi agar tidak terlalu mencolok.

Mengganti lokasi secara berkala.

Mengatur jumlah agar tetap terlihat wajar.

Semua harus diperhitungkan dengan lebih matang.

Aureliana kembali melangkah, kali ini dengan ritme yang lebih stabil. Ia tidak lagi hanya bereaksi terhadap keadaan, melainkan mulai mengatur langkahnya sendiri.

Karena sekarang ia tahu satu hal dengan jelas.

Ia tidak bisa sembarangan lagi.

1
SENJA
hapalin cara masuk dan keluar ruang dimensi nya 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Andira Rahmawati
kok bisa keluar masuk dgn bebas pdhl ststusnya msh pasien..
Andira Rahmawati
hadir thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!