Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pesawat kapsul itu melesat seperti anak panah yang tersesat di langit yang sedang murung. Awan-awan menggumpal tebal, berwarna abu-abu gelap seperti tinta yang ditumpahkan sembarangan. Kilat menyambar di kejauhan, membelah langit dengan garis cahaya yang menyilaukan, disusul gemuruh yang terasa sampai ke dalam dada.
Di dalam kabin, lampu-lampu indikator berkedip tenang, kontras dengan keganasan di luar.
Bumi menempelkan dahinya ke jendela kecil pesawat. Kaca itu dingin, sedikit berembun oleh perbedaan suhu.
“Kita ada di daerah mana?” tanyanya, suaranya setengah tenggelam oleh dengung mesin.
Pam duduk di kursi sebelah, membuka ikatan rambutnya yang sudah berantakan, lalu mengikatnya kembali dengan gerakan cepat. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh ke wajah, membuatnya terlihat lebih manusiawi setelah semua kekacauan yang mereka lewati.
“Mungkin di sekitar Panama,” jawabnya santai, seolah mereka tidak sedang terbang di tengah badai yang bisa menelan pesawat kapan saja.
Di kursi belakang, Nuri menyandarkan punggungnya, matanya setengah terpejam, tapi pikirannya jelas masih bekerja.
“Kita harus cari tempat turun,” katanya pelan.
Bumi menoleh sedikit. “Buat apa, Kak?”
Ia melirik lagi ke luar jendela. Tidak ada apa-apa selain lautan awan. Mereka berada di ketinggian lebih dari dua puluh ribu kaki, terjebak di antara langit dan ketidakpastian.
“Buat ganti bahan bakar,” jawab Nuri, sambil mengangkat tangannya. Cincin di jarinya memantulkan cahaya lampu kabin. “Energi inti bumi ini nggak bisa dipakai terus tanpa stabilisasi.”
Pam menambahkan sambil menunjuk pakaian mereka, “Sekalian ganti baju. Ini udah kayak karung berjalan.”
Bumi menunduk. Seragam prajurit kerajaan Arbuck yang mereka pakai memang berat, penuh noda debu dan darah yang sudah mengering. Bau logam dan keringat bercampur jadi satu.
“Kalau bisa mandi,” celetuk Nuri, matanya kini terbuka.
“Tidur di kasur,” sahut Pam, nadanya seperti orang yang sudah terlalu lama hidup di tempat yang tidak layak.
“Mancing ikan… dan makan malam yang layak,” tambah Nuri, kali ini ada sedikit senyum di sudut bibirnya.
Bumi menatap mereka berdua dengan ekspresi tidak percaya.
“Serius? Di saat begini kalian mikirin makan malam?”
Nuri membuka satu mata, menatapnya.
“Emang kamu nggak mau makan enak?”
Pam tiba-tiba terkekeh, bahunya bergetar kecil.
“Dia mah udah kebiasaan makan daging nenek-nenek, Kak.”
Bumi langsung menoleh tajam. “Pam!”
“Makan daging orang?” Nuri langsung duduk tegak, wajahnya berubah antara kaget dan jijik.
“Iya!” Pam semakin menikmati situasi. “Dia makan daging orang!”
“Kok bisa?” Nuri menatap Bumi seperti melihat makhluk baru.
“Ceritanya panjang!” Bumi menggerutu, wajahnya memerah.
Namun Pam belum selesai.
“Dia juga hampir bikin nenek-nenek hamil!”
“APA?!” Nuri hampir berdiri dari kursinya.
Bumi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya ampun, tolong… jangan bahas itu lagi…”
“Kamu mau nidurin nenek-nenek?” suara Nuri setengah tertawa, setengah tidak percaya.
“STOP!” teriak Bumi, membuat pesawat terasa lebih sempit sesaat. “Kita cari tempat bermalam, oke?!”
Pam dan Nuri tertawa. Tawa itu ringan, seperti jeda kecil di tengah perjalanan yang terlalu berat.
Nuri melirik Pam, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. “Kamu harus ceritain semuanya ke aku.”
Pam mengangguk cepat. “Siap, Kak!”
Bumi hanya bisa menghela napas panjang. Di tengah badai, di tengah misi yang tidak jelas ujungnya, ia tetap saja jadi bahan candaan.
“Emma,” katanya akhirnya, mencoba mengalihkan suasana. “Cari tempat mendarat yang aman.”
“Siap,” jawab suara lembut dari sistem pesawat.
Perlahan, pesawat menurunkan ketinggian. Awan gelap mulai terbelah. Cahaya redup dari bawah muncul seperti dunia lain yang menunggu.
Dan di sana ada sebuah daratan. Hijau, luas, dengan kontur bukit yang bergelombang. Di salah satu puncaknya, berdiri sebuah rumah besar. Terpencil. Sendiri. Seperti rahasia yang sengaja disembunyikan.
“Itu…” bisik Pam.
“Kita coba di sana,” kata Nuri.
Pesawat melayang rendah, berputar sekali untuk memastikan keadaan aman. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada kendaraan. Tidak ada cahaya.
Hanya rumah itu.
Mereka mendarat perlahan.
Suara mesin mereda, digantikan oleh keheningan yang hampir terasa asing setelah semua kebisingan yang mereka lewati.
Begitu keluar, udara segar langsung menyambut. Bau tanah basah, rumput liar, dan sisa hujan menggantikan bau logam dan debu.
Bumi menarik napas panjang.
“Ini… enak banget.”
Rumah itu lebih dekat sekarang. Catnya sedikit pudar, tapi tidak rusak. Jendela masih utuh. Pintu tidak terkunci.
Seperti ditinggalkan… tapi tidak benar-benar dilupakan.
Pam menyentuh meja di ruang tamu. Sedikit debu menempel di jarinya.
“Masih baru ditinggal,” katanya. “Paling lima tahun.”
Nuri mengangguk kecil.
Namun tidak ada makanan.
Dapur kosong. Lemari hanya berisi piring dan gelas yang masih rapi.
Akhirnya mereka sepakat—mandi, bersih-bersih, lalu tidur.
Dengan alat pembersih dari pesawat, mereka membersihkan rumah. Debu beterbangan seperti kenangan lama yang terusir.
Setelah itu, air hangat. Sabun. Keheningan. Semua terasa seperti kemewahan yang hampir terlupakan. Malam itu, mereka tidur di kasur empuk. Bumi menatap langit-langit sebelum memejamkan mata. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia merasa aman.
Pagi datang dengan cahaya keemasan yang masuk lewat jendela.
Udara segar. Suara burung.
Dunia terasa normal.
Terlalu normal.
Mereka keluar, menjelajahi sekitar. Hutan kecil di sekitar rumah menyimpan kehidupan.
Pam berhasil menangkap kelinci.
Nuri mendapatkan tupai.
Bumi… membantu menyalakan api.
Mereka memasak sederhana. Daging dipanggang di atas api unggun. Aroma hangatnya membuat perut mereka bernyanyi.
Saat makan, Bumi mulai bercerita.
Tentang suku Maya immortal. Di mana penghuninya adalah nenek-nenek yang haus akan jiwa muda. Bumi dan Pam hampir kehilangan diri mereka.
Nuri merinding. “Gila…” katanya pelan. “Untung aku nggak terbangun di sana.”
Pam hanya mengangguk. Matanya sesekali menatap Bumi, seolah memastikan ia benar-benar masih ada.
Setelah makan, mereka kembali ke pesawat.
Nuri membantu memasang energi inti bumi ke sistem bahan bakar. Cahaya biru samar mengalir melalui panel, seperti darah baru yang menghidupkan mesin.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Bumi.
Pam ragu. “Kita bermalam sekali lagi?”
Nuri mengangkat bahu. “Terserah.”
Bumi menunduk. “Aku… pengen cepat kembali.” Suaranya pelan. Ada rindu di sana. Ada sesuatu yang belum selesai.
Nuri mendekat, meletakkan tangan di pundaknya. “Aku tahu. Tapi kita butuh istirahat.”
Bumi mengangguk pelan.
Mereka kembali ke rumah.
Tanpa mereka sadari, di kejauhan, di balik pepohonan yang diam, ada sesuatu yang mengamati. Tidak bergerak dan bersuara, tetapi seperti siap menerkam. Ke dua mat aitu datang sejak pertama kali pesawat itu menyentuh tanah.