NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Suara gelas pecah dan raungan tangis Ibu yang begitu memilukan ternyata menjadi lonceng kematian bagi ketenanganku. Suasana ruang tamu yang tadinya tertutup rapat, kini terasa seperti panggung sandiwara yang terbuka paksa. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah luar.

"Bu? Ada apa, Bu? Kok suaranya sampai luar?" tanya Bude Ratmi, tetangga samping rumah yang datang tergopoh-gopoh bersama dua tetangga lainnya.

Mereka berhenti tepat di ambang pintu yang memang tak sempat kukunci. Mata mereka membelalak, memindai pemandangan kacau di hadapan mereka: Ibu yang terduduk lemas di lantai di antara pecahan gelas, aku yang menangis bersimpuh, dan rombongan keluarga Mas Dika yang wajahnya tampak kaku.

"Astaghfirullah, ada apa ini?" bisik Bude Ratmi. Pandangannya mulai beralih ke arah perutku yang tak lagi bisa kusembunyikan di posisi duduk seperti ini. Detik itu juga, aku melihat perubahan di matanya. Dari rasa khawatir, menjadi sorot mata penuh selidik dan penghakiman.

Aku ingin mati saja saat itu juga. Rasa malu merayap dari ujung kaki hingga ke kepala, membakar harga diriku sampai menjadi abu. Inilah yang paling kutakuti. Rahasia yang kupendam rapat-rapat, kini menjadi konsumsi tetangga yang mulutnya lebih tajam dari pisau dapur.

Ibu masih terus menangis tersedu-sedu, tangannya gemetar menunjuk ke arahku. "Aira... kamu jahat, Ra... kamu jahat..."

Melihat Ibu yang begitu hancur, hatiku ikut luruh. Di balik rasa malu ini, ada satu kenyataan pahit yang menghantam kepalaku: kuliahku. Rencanaku untuk mendaftar kuliah tahun ini, tabungan yang kukumpulkan setiap bulan dari gaji bekerja di toko, semuanya baru saja menguap menjadi mimpi buruk. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku ingin jadi sarjana, aku ingin mengangkat derajat Ibu dan Bapak. Tapi sekarang? Jangankan melangkah ke kampus, untuk keluar rumah saja aku tidak akan sanggup menahan beban tatapan orang-orang.

"Bapak, Ibu... mohon maaf, ini masalah internal keluarga kami. Mohon beri kami waktu untuk bicara," ucap Bapak Mas Dika sembari berdiri, mencoba menutup pintu rumah dengan halus untuk menghalau mata-mata yang mulai berkumpul di teras.

Begitu pintu tertutup, suasana kembali hening namun jauh lebih mencekam.

"Ra... kuliahmu gimana?" suara Ibu mendadak lirih, nyaris seperti igauan di tengah tangisnya. "Tabunganmu... niatmu buat membahagiakan Bapak... kenapa kamu malah begini?"

Kalimat Ibu seperti godam yang menghancurkan sisa-sisa harapanku. Aku menutup wajahku, menangis sesenggukan hingga dadaku sakit. Aku sudah menabung rupiah demi rupiah, menahan lapar demi biaya pendaftaran, membayangkan diriku memakai toga dan membuat Bapak bangga. Tapi kini, tabungan itu mungkin akan berubah menjadi biaya persalinan dan pernikahan yang didasari rasa malu.

"Mas Dika akan kuliahkan Aira nanti, Bu. Dika janji," sahut Mas Dika pelan, suaranya terdengar sangat bersalah.

"Kuliah apa?" Mbak Diana menyela dengan nada ketus, tak peduli pada suasana yang sedang panas. "Hamil besar begini mau kuliah? Yang ada cuma bikin malu kampus. Fokus saja urus anakmu, Dika! Jangan tambah beban pikiran Bapak lagi."

Kata-kata Mbak Diana benar-benar mematikan harapanku. Aku menatap kedua tanganku yang masih gemetar. Mimpi itu sudah mati. Masa depan yang kususun rapi kini berserakan di lantai tegel rumahku, hancur bersama pecahan gelas yang belum sempat dibersihkan. Aku telah mengecewakan Ibu, aku telah membunuh harapan Bapak, dan aku telah menghancurkan hidupku sendiri demi cinta yang kini terasa sangat pahit.

Kamu harus tanggung jawab! Kamu sudah merusak masa depan Aira!" teriak Ibu dengan suara serak, jarinya menunjuk tepat ke wajah Mas Dika yang masih berlutut. Ibu seolah mengabaikan rasa sakit akibat pecahan gelas yang mungkin melukai tangannya saat ia jatuh tadi. Fokusnya hanya satu: kehancuran mimpi anak perempuannya.

Mas Dika menunduk dalam, bahunya bergetar hebat. "Dika tanggung jawab, Bu. Dika benar-benar minta maaf. Dika akan penuhi semua kewajiban Dika sebagai suami dan ayah."

Bapak Mas Dika berdeham, mencoba menengahi amarah Ibu yang meluap-luap. Ia menatap Ibu dengan raut penuh sesal namun juga penuh perhitungan. "Ibu... kami sadar ini kesalahan besar. Karena itu, sebagai bentuk tanggung jawab awal, rencananya mereka akan menikah seminggu lagi secara agama. Kita buat sesederhana mungkin agar tidak menarik terlalu banyak perhatian."

"Seminggu lagi? Secara agama?" sahut Ibu cepat, suaranya naik satu oktav. Beliau tiba-tiba bangkit berdiri, meskipun langkahnya masih gontai. "Tidak! Saya tidak mau mereka hanya menikah siri! Mereka harus menikah secara negara dan agama!"

"Tapi Bu, mengurus berkas ke KUA butuh waktu, apalagi dengan kondisi Aira yang sudah begini..." sela Mbak Diana dengan nada meremehkan, matanya melirik perutku dengan sinis.

"Saya tidak peduli!" bentak Ibu, membuat Mbak Diana terdiam seketika. "Saya tidak mau menanggung malu lebih lama lagi! Saya tidak mau anak yang dikandung Aira tidak punya status hukum yang jelas. Kalian sudah merusak harga diri keluarga saya, setidaknya berikan hak anak itu di mata hukum negara!"

Ibu mengatur napasnya yang tersengal. Air matanya terus mengalir, namun kini ada ketegasan yang lahir dari rasa putus asa. "Kalau kalian cuma mau menikahkan mereka secara agama supaya urusan cepat selesai dan kalian bisa lepas tangan, lebih baik tidak usah! Saya mau Aira punya buku nikah, saya mau Bapaknya tahu kalau urusan ini diselesaikan secara sah, bukan sekadar janji di bawah tangan!"

Bapak Mas Dika tampak terdiam, mempertimbangkan tuntutan Ibu. Menikah secara negara di saat perut sudah membuncit enam bulan tentu akan mengundang lebih banyak gunjingan di kantor urusan agama, namun ia juga sadar bahwa tuntutan Ibu adalah hak yang tak bisa dibantah.

"Baik, Bu. Kalau itu mau Ibu, kami akan usahakan secepatnya. Dika akan urus semua berkasnya besok pagi," ucap Bapak Mas Dika akhirnya.

Aku hanya bisa terdiam bersimpuh, mendengarkan masa depanku ditentukan oleh perdebatan ini. Pernikahan yang kuimpikan akan indah, kini hanya menjadi transaksi untuk menutupi malu. Kuliahku, cita-citaku, semuanya terkubur di bawah perdebatan tentang buku nikah dan status hukum. Mas Dika meraih jemariku, mencoba memberiku kekuatan, namun tangannya terasa sangat dingin sedingin masa depan yang sedang menantiku.

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!