Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: NAPAS DINGIN DI BELAKANG LEHER
malam berganti menjadi pagi, namun rasa yang dingin yang menusuk tulang sepertinya tidak mau pergi begitu saja dari tubuh Raga. Meski matahari sudah bersinar terang dan burung-burung berkicau dengan riang, Raga masih merasa seolah-olah ada selimut es yang membungkus dadanya. Ia duduk di lantai yang masih berantakan, memeluk lututnya, menatap kosong ke arah dinding rumah yang penuh bekas goresan dan noda hitam bekas cakaran misterius.
Mbah Joyo masih terbaring lemas di atas kasur. Setelah kejadian semalam, tubuh tua itu benar-benar habis tenaganya. Menahan serangan gaib dengan kekuatan batin bukanlah hal yang ringan, itu sama saja seperti bertarung fisik melawan puluhan orang sekaligus.
Raga bangkit perlahan, kakinya terasa berat dan pegal. Ia berjalan mendekati kakeknya, memeriksa kondisi lelaki tua itu. Wajah Mbah Joyo pucat pasi, napasnya terdengar berat dan tidak berirama tidak teratur. Namun, ada satu hal yang membuat Raga sedikit lega: denyut nadi kakeknya masih teraba, meski lemah.
"Kek..." panggil Raga pelan, menyentuh kening Mbah Joyo yang dingin. "Maafkan Raga, Kek. Karena Raga, Kakek jadi begini."
Mbah Joyo tidak menjawab, hanya matanya yang bergerak sedikit di balik kelopak yang tertutup rapat.
Raga menghela napas panjang lalu mulai membereskan kekacauan di ruang tengah. Piring-piring pecah disapu, kursi yang terbalik dibangunkan kembali. Namun saat tangannya menyentuh lantai kayu yang tadinya retak dan memuntahkan air hitam itu, Raga mendapati sesuatu yang aneh.
Lantai itu kembali mulus. Retakan-retakan besar yang tadi malam terlihat begitu nyata kini entah bagaimana sudah menyatu kembali, seolah tidak pernah pecah sama sekali. Hanya tersisa noda hitam pekat yang sulit dihapus dan bau anyir yang masih menguar kuat.
"Mereka bisa merusak, tapi mereka juga bisa menyembunyikan jejak," gumam Raga pada diri sendiri. "Agar orang lain tidak percaya kalau hal ini benar-benar terjadi."
Tiba-tiba, rasa bulu kuduk berdiri kembali menyerang tubuh Raga. Bukan karena melihat sesuatu yang menakutkan, tapi karena sebuah perasaan yang sangat kuat.
Perasaan sedang diawasi.
Raga menoleh cepat ke arah jendela depan. Tidak ada siapa-siapa di luar. Langit biru cerah. Ia menoleh ke belakang, ke arah pintu dapur. Juga kosong.
Namun perasaan itu semakin kuat. Rasanya... sangat dekat. Sangat dekat hingga Raga bisa merasakan hembusan udara dingin yang menyapu rambut di bagian tengkuknya.
Hhhhhhuuuuuuu...
Dingin. Sangat dingin.
Raga menelan ludah. Jantungnya kembali berdegup kencang. Ia berani bertaruh, ada seseorang—atau sesuatu—yang berdiri tepat di belakang punggungnya saat ini. Jaraknya tidak lebih dari sepuluh sentimeter.
"Siapa...?" tanya Raga dengan suara parau. Ia tidak berani berbalik. Instingnya mengatakan bahwa jika ia berbalik sekarang, ia akan melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat oleh mata manusia di siang bolong ini.
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas panjang yang terdengar basah dan berat tepat di telinga kanannya.
Hhhhhhuuuuuuu...
Rasa takut mulai merambat lagi. Tapi Raga sadar, ia tidak bisa terus menjadi penakut. Ia adalah cucu penjaga. Ia yang harus melindungi kakeknya sekarang.
Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Raga perlahan meraba saku celananya. Di sana terselip sisa garam kasar yang belum habis semalam.
Tanpa menunggu lagi, Raga memutar tubuhnya dengan cepat sambil melemparkan segenggam garam ke arah belakangnya!
"PERGIII!!!"
BRUSH!
Garam itu beterbangan ke udara. Namun... tidak ada apa-apa di sana. Ruangan itu kosong melompong. Hanya ada angin yang berhembus pelan membuat tirai jendela bergoyang.
Raga mengerutkan kening. Apakah hanya perasaannya? Atau mahluk itu terlalu cepat menghilang?
"Halusinasi kah?" bisiknya. Ia mengusap wajahnya kasar, mungkin karena kurang tidur dan kelelahan ia mulai berhalusinasi.
Namun saat ia akan kembali duduk, matanya tertuju pada cermin besar yang tergantung di dinding depan.
Darah Raga seketika membeku.
Di dalam pantulan cermin itu... ia tidak sendirian.
Tepat di belakang punggungnya, berdiri sosok wanita tinggi menjulang. Pakaiannya panjang berwarna putih pudar, wajahnya tertutup oleh rambut hitam panjang yang menjuntai ke bawah. Wanita itu berdiri tegak, kepalanya sedikit miring ke samping, seolah sedang mengamati Raga dengan penuh rasa ingin tahu.
Dan yang paling mengerikan... meski di dunia nyata tempat itu kosong, di dalam cermin, sosok wanita itu tersenyum. Senyuman yang sangat lebar hingga terlihat gigi-giginya yang tajam dan berjejer banyak.
Raga tidak berani bergerak. Ia tidak berani menoleh ke belakang lagi. Ia hanya bisa menatap pantulan itu melalui kaca.
"Kau... siapa?" tanya Raga terbata-bata.
Sosok di dalam cermin itu tidak berbicara. Ia hanya mengangkat tangannya yang panjang dan kurus, lalu dengan sangat perlahan... ia menunjuk ke arah leher Raga. Tepat ke arah kalung jimat yang melindunginya.
Jari telunjuknya yang panjang dan berkuku hitam itu bergerak-gerak seolah sedang mengancam, seolah berkata 'Suatu saat nanti, benda itu tidak akan bisa melindungimu'.
Tiba-tiba, sosok itu mengangkat kepalanya. Rambutnya yang menutupi wajah terbelah ke samping.
Raga menahan napasnya. Ia melihat wajah itu. Bukan wajah yang rusak atau mengerikan seperti yang ia temui semalam. Wajah ini... sangat cantik. Sangat rupawan dengan kulit seputih susu. Namun matanya... matanya kosong. Hitam pekat tanpa bola mata. Dan dari sudut matanya terus mengalir air mata berwarna merah darah.
"Kita... akan bertemu lagi..."
Suara itu tidak terdengar melalui telinga, melainkan langsung bergema di dalam kepala Raga. Lembut, namun memerintah.
"Jumat Kliwon depan... aku datang sendiri... untuk menjemputmu..."
Seketika itu juga, cermin depan rumah bergetar hebat lalu BERAAKKK!!! pecah berkeping-keping!
"AASUUUUU!!!" Raga terlonjak kaget mundur hingga jatuh terduduk.
Kepingan-kepingan kaca bertebaran di lantai. Dan di setiap pecahan kaca kecil itu, bayangan wajah wanita itu masih terlihat, tersenyum-senyum menatapnya dari berbagai sudut.
"Raga..."
Suara serak memanggil namanya. Raga segera menoleh, melupakan sejenak kaca pecah itu.
"Kakek!" Raga segera merangkak mendekati Mbah Joyo. "Kakek sudah sadar! Alhamdulillah!"
Mbah Joyo membuka matanya perlahan. Pandangannya masih kabur. "Tadi... siapa yang datang? Aku merasakan hawa yang sangat kuat. Bukan hawa anak buah biasa..."
Raga mengangguk, matanya masih berkaca-kaca. "Iya Kek. Ada sosok wanita. Cantik tapi menyeramkan. Dia bilang... dia akan datang sendiri di Jumat Kliwon depan. Dia... Dia mau menjemputku ke."
Wajah Mbah Joyo berubah drastis menjadi pucat pasi mendengar itu. Tangannya mencengkeram lengan Raga dengan kuat, meski lemah.
"Itu dia... Raga! Itu yang Kakek takutkan!"
"Siapa dia sebenarnya, Kek? Kenapa dia bisa muncul di siang bolong? Kenapa dia cuma kelihatan di cermin?" tanya Raga bertubi-tubi.
"Dia adalah Ratu Jin, penguasa wilayah hutan dan tanah desa ini. Namanya... Nyi Blorong," bisik Mbah Joyo dengan napas tersengal. "Dia bukan makhluk sembarangan. Dia bangsawan di alam sana. Dan dia memang punya kekuatan untuk menampakkan diri bahkan saat matahari bersinar, asalkan dia mau."
"Kenapa dia mengincarku, Kek? Apa salahku?"
"Dulu... ratusan tahun lalu, saat leluhur kita membuat perjanjian, ada satu syarat yang tidak pernah diceritakan pada orang lain," Mbah Joyo bercerita dengan susah payah. "Sebagai jaminan keselamatan desa, keturunan kita dijanjikan... sebagai pendamping hidup bagi Ratu mereka."
Raga terbelalak tak percaya. "Apa?! Jadi... aku ini... dititipkan atau dijadikan jaminan?"
"Ya. Selama ini mereka membiarkan kita hidup tenang karena mereka menunggu waktu yang tepat. Dan sekarang... mereka merasa waktunya sudah tiba. Dia datang bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menagih janji sesepuh leluhur."
Raga merasa dunia seakan runtuh menimpanya. Jadi selama ini mereka hidup aman bukan karena kebetulan, tapi karena ada harga mahal yang harus dibayar? Dan harga itu adalah dirinya?
"Berarti... aku harus pergi bersama dia?" tanya Raga putus asa. "Meninggalkan dunia ini selamanya?"
"Jika kita menepati perjanjian lama... ya," jawab Mbah Joyo pelan. "Tapi Kakek tidak akan membiarkan itu terjadi! Darah kita adalah darah penjaga, bukan darah budak! Kita sudah menepati janji dengan menjaga batas selama ratusan tahun, itu sudah lebih dari cukup!"
"Terus bagaimana caranya menolak, Kek? Dia begitu kuat!"
"Kita harus mencari cara untuk memutus ikatan itu. Kita butuh bantuan," kata Mbah Joyo. Matanya mulai bersinar kembali. "Besok, setelah Kakek agak fit, kita akan pergi ke Gunung Lawu. Kita akan menemui Kakekmu yang tua, Eyang Sastro. Dia satu-satunya orang yang masih hidup yang tahu asal muasal perjanjian ini dan cara membatalkannya."
"Eyang Sastro? Bukannya dia sudah meninggal puluhan tahun lalu?"
"Orang seperti dia... sulit untuk mati sepenuhnya, Rag. Dia masih hidup sebagai pertapa di gua-gua terpencil. Hanya dia yang bisa menolong kita sekarang. Karena jika Nyi Blorong benar-benar turun tangan secara langsung di Jumat Kliwon depan... kekuatan Kakek dan keris pusaka ini mungkin tidak akan cukup menahannya."
Raga menatap wajah kakeknya, lalu menatap tumpukan pecahan kaca di lantai. Di salah satu kepingan kaca terbesar, ia masih bisa melihat bayangan hitam yang perlahan menghilang.
Janji itu sudah ada sejak leluhur. Tagihan itu sudah jatuh tempo. Dan dia, Raga, adalah barang jaminan yang harus diserahkan.
"Malam Jumat Kliwon depan..." bisik Raga. "Hanya tinggal lima hari lagi, Kek."
"Kalau begitu, kita tidak boleh membuang waktu," Mbah Joyo berusaha bangkit dengan bantuan Raga. "Siapkan bekal dan perlengkapan. Besok pagi-pagi buta kita berangkat. Jika kita terlambat atau gagal meminta bantuan Eyang Sastro... maka nasibmu dan nasib desa ini... akan berakhir dengan tragis."
Hari itu, Raga belajar satu hal yang paling pahit. Ketakutan terbesar bukanlah melihat hantu atau mendengar suara aneh. Ketakutan terbesar adalah menyadari bahwa nasibmu sendiri sudah jauh ditentukan jauh sebelum kamu lahir, dan kamu tidak punya hak untuk menolak.
Tapi malam itu, di bawah langit yang mulai mendung kembali, Raga berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan menyerah. Ia akan melawan takdirnya. Bahkan jika lawan nya adalah Ratu dari dunia kegelapan sekalipun.