NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 - Hukuman Yang Menyakitkan

Keputusan itu dijatuhkan tanpa banyak pembicaraan, seolah semuanya sudah disepakati bahkan sebelum Alyssa dipanggil ke ruangan itu. Pagi hari setelah insiden dokumen, seluruh penghuni rumah berkumpul di ruang keluarga dengan suasana yang terasa lebih kaku dari biasanya, tidak ada percakapan ringan atau sapaan yang biasa terdengar. Alyssa berdiri di tengah ruangan, sementara ibu Daren duduk dengan sikap tegas, punggungnya lurus dan tatapannya tajam, seperti seseorang yang sudah menimbang semuanya tanpa perlu mendengar penjelasan tambahan.

“Kita tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja. Ini bukan sekadar kesalahan kecil.”

Kalimat itu diucapkan dengan tenang, tetapi jelas tidak memberi ruang untuk bantahan. Beberapa anggota keluarga yang lain mengangguk pelan, bukan karena benar-benar memahami, melainkan karena tidak ada alasan untuk menentang keputusan tersebut.

Alyssa tetap berdiri diam, tidak lagi mencoba menyela seperti sebelumnya. Sejak malam kemarin, ia sudah mengerti bahwa penjelasan panjang tidak akan mengubah pandangan siapa pun di ruangan ini, dan setiap usaha hanya akan memperpanjang sesuatu yang tidak memiliki arah.

“Kamu akan menerima konsekuensi sebagai pelajaran.”

Alyssa mengangkat wajahnya sedikit, menatap ibu Daren dengan ekspresi yang lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya. Ia tidak menunjukkan penolakan, tetapi juga tidak tampak menerima dengan mudah.

“Apa yang harus saya lakukan?”

Pertanyaan itu keluar tanpa tekanan, tidak juga terdengar seperti permintaan belas kasihan. Ibu Daren menatapnya sejenak, mungkin sedikit terkejut dengan sikap Alyssa yang tidak lagi menunjukkan perlawanan, lalu menjawab tanpa ragu.

“Kamu akan dikunci di ruang gudang belakang, tanpa akses keluar sampai kami memutuskan.”

Beberapa pelayan yang berdiri di sisi ruangan saling berpandangan singkat, karena mereka tahu kondisi gudang itu tidak layak untuk ditempati. Ruangan tersebut jarang digunakan, lembap, dan hampir tidak pernah dibersihkan dengan baik, tetapi tidak satu pun dari mereka berani mengangkat suara.

“Dan selama itu, tidak ada makanan sampai kamu mengakui perbuatanmu.”

Suasana menjadi lebih sunyi setelah kalimat itu diucapkan, bukan karena terkejut, tetapi karena semua orang memilih diam. Alyssa merasakan kata-kata itu masuk perlahan ke dalam pikirannya, namun tidak lagi mengguncang seperti sebelumnya.

“Baik.”

Jawaban itu singkat, tetapi cukup untuk membuat beberapa orang di ruangan itu saling menatap. Tidak ada protes, tidak ada usaha untuk menawar, seolah ia menerima semuanya tanpa syarat.

Daren berdiri di sisi ruangan sejak tadi tanpa banyak bicara, hanya mengamati jalannya keputusan itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tatapannya sempat tertuju pada Alyssa saat wanita itu menjawab, dan ada sedikit perubahan di garis wajahnya, meskipun ia tidak mengatakan apa pun.

Cassandra berdiri tidak jauh dari sana, menunduk sedikit dengan sikap yang terlihat tenang. Di balik itu, ada senyum tipis yang sempat muncul sebelum ia menyembunyikannya kembali, cukup untuk menunjukkan bahwa situasi ini berjalan sesuai dengan yang diharapkannya.

Dua pelayan kemudian mengantar Alyssa menuju gudang belakang, langkah mereka terdengar pelan di lorong yang panjang. Alyssa berjalan tanpa melawan, tidak juga memperlambat langkah, seolah ia sudah menerima apa yang akan terjadi sejak awal dipanggil ke ruang keluarga.

Pintu gudang dibuka, dan aroma lembap langsung terasa begitu masuk. Udara di dalamnya terasa berat, dengan satu jendela kecil di bagian atas yang hanya membiarkan sedikit cahaya masuk. Beberapa kotak lama tersusun di sudut ruangan, sebagian tertutup debu yang menandakan jarangnya tempat itu disentuh.

“Maaf, Nona…”

Suara pelayan itu terdengar pelan, hampir seperti bisikan yang takut terdengar oleh orang lain. Alyssa menoleh sebentar, melihat wajah yang penuh rasa tidak enak, lalu menggeleng kecil.

“Tidak apa-apa.”

Ia melangkah masuk tanpa ragu, tidak mencoba menunda atau mencari alasan untuk bertahan di luar lebih lama. Pintu ditutup dari belakang, dan suara kunci yang berputar terdengar jelas, menandai bahwa ia benar-benar sendiri di dalam ruangan itu.

Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya, seolah setiap detik memanjang tanpa alasan. Alyssa duduk di lantai yang dingin, bersandar pada dinding dengan posisi yang tidak nyaman, tetapi ia tidak berusaha mencari tempat yang lebih baik.

Ia tidak tahu berapa lama akan berada di sana, apakah hanya beberapa jam atau lebih lama dari itu. Perutnya mulai terasa kosong, tetapi rasa lapar itu masih bisa ia abaikan, karena pikirannya jauh lebih penuh daripada tubuhnya.

Keheningan menjadi hal yang paling terasa, tidak ada suara langkah, tidak ada percakapan, hanya dirinya sendiri dan pikiran yang terus berputar. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat kembali semua yang terjadi dari awal, dari hal-hal kecil yang dulu terasa tidak penting sampai kejadian besar yang membawanya ke titik ini.

Potongan-potongan itu mulai tersusun dengan lebih jelas, dan semakin ia memahaminya, semakin terasa bahwa semua ini bukan kebetulan. Ada pola yang terlalu rapi, terlalu konsisten, dan semuanya selalu berakhir dengan dirinya sebagai pusat masalah.

Di luar, kehidupan tetap berjalan seperti biasa, para pelayan menjalankan tugas mereka tanpa banyak perubahan. Namun pembicaraan tentang Alyssa tidak berhenti, bahkan semakin sering muncul di antara mereka yang merasa memiliki alasan untuk menilai.

“Dia memang terlihat aneh dari awal,” kata salah satu anggota keluarga dengan suara pelan.

“Aku sudah curiga sejak kejadian pertama,” jawab yang lain, seolah memastikan pendapat itu tidak berdiri sendiri.

“Kalau tidak bersalah, kenapa tidak melawan?”

Kalimat-kalimat itu terus berulang dalam berbagai versi, tanpa ada yang mencoba melihat dari sudut pandang lain. Semuanya terasa mudah untuk disimpulkan, karena tidak ada yang benar-benar ingin mencari kebenaran.

Cassandra duduk di ruang tamu bersama ibu Daren, sikapnya terlihat tenang dengan tangan yang terlipat rapi di pangkuannya. Ia sempat menunduk sedikit sebelum berbicara, seolah ragu untuk menyampaikan sesuatu.

“Aku sebenarnya tidak nyaman dengan semua ini.”

Nada suaranya terdengar lembut, tetapi matanya tidak menunjukkan keraguan yang sama. Ibu Daren hanya menatapnya sekilas sebelum menjawab dengan tenang.

“Kamu tidak perlu memikirkan itu. Ini keputusan keluarga.”

Cassandra mengangguk pelan, menerima jawaban itu tanpa keberatan.

“Semoga dia segera mengaku.”

Kalimat itu terdengar seperti harapan, tetapi lebih mirip dorongan agar semuanya segera selesai sesuai arah yang diinginkan.

Sementara itu, Daren berada di ruang kerjanya, mencoba fokus pada berkas-berkas yang terbuka di hadapannya. Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana, karena beberapa kali ia berhenti tanpa sadar, memikirkan sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

Bayangan Alyssa yang berdiri diam kemarin terus muncul, terutama cara wanita itu berhenti menjelaskan dan tidak lagi mencoba membela diri. Sikap itu tidak sesuai dengan yang ia kenal sebelumnya, dan justru itulah yang membuatnya sulit diabaikan.

Ia menghela napas panjang, mencoba kembali fokus, tetapi perasaan itu tetap mengganjal. Ada sesuatu yang terasa tidak cocok, meskipun ia belum bisa menjelaskannya dengan jelas.

Beberapa jam berlalu, dan cahaya dari luar mulai berubah seiring waktu yang bergerak menuju sore. Di dalam gudang, cahaya yang masuk dari jendela kecil semakin redup, membuat ruangan itu terlihat lebih gelap.

Alyssa masih berada di posisi yang sama, tubuhnya mulai terasa lemah karena tidak ada asupan sejak pagi. Tenggorokannya kering, dan napasnya sedikit lebih berat, tetapi ia tidak banyak bergerak.

Ia hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong, bukan karena tidak berpikir, tetapi karena pikirannya sudah terlalu penuh. Perlahan, semuanya menjadi lebih tenang, bukan karena keadaan membaik, tetapi karena ia berhenti melawan apa yang tidak bisa ia ubah saat ini.

Langkah kaki terdengar di luar, membuatnya sedikit mengangkat kepala. Pintu terbuka, dan cahaya dari luar masuk lebih terang, membuat matanya menyipit sejenak sebelum menyesuaikan.

Daren berdiri di ambang pintu, siluetnya terlihat jelas dari dalam ruangan yang gelap. Ia tidak langsung berbicara, hanya memperhatikan kondisi di dalam sebelum melangkah masuk beberapa langkah.

Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Alyssa yang masih duduk di lantai. Penampilannya terlihat berbeda, lebih pucat dan lelah, dengan rambut yang sedikit berantakan dan pakaian yang tidak lagi serapi biasanya.

Namun yang paling mencolok adalah ekspresinya, yang terlihat tenang tanpa perlawanan.

“Kenapa kamu tidak berdiri?”

Alyssa mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi kakinya terasa berat. Ia akhirnya tetap duduk, tidak memaksakan diri untuk berdiri.

“Saya baik-baik saja.”

Jawaban itu terdengar ringan, tetapi kondisinya menunjukkan hal yang berbeda. Daren mengerutkan kening, lalu melangkah sedikit lebih dekat.

“Apa kamu sudah makan?”

Alyssa menggeleng kecil.

“Belum.”

“Sejak kapan?”

Alyssa tidak menjawab, karena ia sendiri tidak yakin berapa lama waktu sudah berlalu sejak terakhir kali ia makan.

Daren menatapnya beberapa detik, dan perasaan yang tadi ia coba abaikan kembali muncul. Reaksi di depannya tidak sesuai dengan yang ia bayangkan sebelumnya.

“Kalau kamu mengaku, ini bisa selesai lebih cepat.”

Alyssa menatapnya, dan beberapa detik berlalu sebelum ia menjawab dengan suara yang lemah tetapi tetap jelas.

“Saya tidak bisa mengaku untuk sesuatu yang tidak saya lakukan.”

Kalimat itu sederhana, tanpa tambahan apa pun, tetapi cukup untuk membuat Daren terdiam sejenak. Tidak ada nada memohon atau penjelasan panjang, hanya pernyataan yang diucapkan apa adanya.

“Kalau begitu, kamu akan tetap di sini.”

Alyssa mengangguk pelan, seolah sudah menerima kemungkinan itu tanpa keberatan.

Daren memperhatikannya lebih lama, mencoba memahami sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ada bagian dari situasi ini yang terasa tidak sesuai dengan keyakinannya sendiri.

Ia akhirnya berbalik dan berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh kembali. Alyssa masih berada di tempat yang sama, tidak bergerak, tidak meminta apa pun.

Pemandangan itu terasa mengganggu lebih dari yang ia duga, karena tidak menunjukkan reaksi yang biasanya ia harapkan.

Daren keluar dari ruangan, dan pintu kembali tertutup dengan suara yang sama seperti sebelumnya. Namun kali ini, pikirannya tidak ikut menjauh.

Ada satu hal yang terus muncul di benaknya, kondisi Alyssa yang terlalu lemah dan sikapnya yang terlalu tenang. Keduanya tidak cocok dengan gambaran seseorang yang ia yakini bersalah, dan semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin sulit perasaan itu hilang.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!