Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sesampainya di dapur utama mansion yang luas dan modern, Nenek Jati langsung melangkah menuju lemari es dua pintu berukuran besar.
Dengan gerakan yang masih tampak lincah, Nenek membuka lemari es dan mengambil daging sapi segar potongan premium untuk ia masak hari ini.
"Nenek memasak apa?" tanya Gayuh penasaran, memperhatikan potongan daging segar yang diletakkan di atas meja konter dapur.
Nenek menoleh sambil tersenyum lebar. "Nenek mau membuat semur daging sapi bumbu Jawa, Sayang. Ini makanan rumahan favorit Jati sejak dia masih kecil. Rasanya yang manis dan gurih pasti bisa membuat energinya pulih setelah penat di pengadilan."
Melihat sang Nenek mulai bersiap, suasana dapur langsung menjadi hidup.
Para pelayan sibuk membantu dengan cekatan. Ada yang mengupas bawang merah dan bawang putih, ada yang mengupas sayuran, hingga menyiapkan panci dan bumbu-bumbu dapur lainnya agar proses memasak menjadi lebih cepat.
Gayuh yang merasa tidak enak jika hanya berdiam diri, mulai mengulurkan tangannya hendak mengambil pisau untuk membantu memotong kentang sebagai isian semur. Namun, gerakan Gayuh langsung dihentikan oleh seruan lembut namun tegas dari Nenek.
"Gayuh, kamu duduk saja dan ini sarapan dulu," ucap Nenek sambil merebut pelan pisau dari tangan cucu menantunya itu.
Seorang pelayan senior dengan sigap menarik sebuah kursi kayu empuk di dekat meja konter dapur agar Gayuh bisa duduk dengan nyaman.
Di atas meja, para pelayan ternyata sudah menyiapkan sepiring nasi uduk hangat lengkap dengan suwiran ayam, kering tempe, dan sambal yang aromanya sangat menggoda.
"Luka di punggungmu itu belum sembuh total, Nenek tidak mau cucu menantu Nenek kelelahan," lanjut Nenek dengan nada protektif yang membuat hati Gayuh menghangat.
"Ayo dihabiskan sarapannya, biar Nenek dan para pelayan yang menyelesaikan semur daging ini. Setelah itu, baru kamu yang bawa ke kantor Jati."
Gayuh tidak bisa membantah perhatian tulus itu. Dengan senyuman manis, ia duduk dan mulai menikmati sarapan paginya, sambil ditemani obrolan hangat dan aroma semur daging yang mulai menguar memenuhi seluruh ruangan dapur.
Setelah selesai sarapan dan memastikan seluruh hidangan nasi uduknya habis tak tersisa, aroma harum dari semur daging sapi buatan Nenek pun mulai memenuhi seluruh sudut dapur.
Kuah cokelat pekatnya tampak meletup-letup, menandakan masakan rumahan favorit Jati itu telah matang sempurna.
Nenek dengan cekatan dibantu para pelayan memasukkan semur daging hangat tersebut ke dalam wadah bekal premium berlapis termos agar suhunya tetap terjaga.
"Ini sudah siap, Sayang. Sampaikan pada Jati, dia harus menghabiskannya tanpa sisa," ucap Nenek sambil menyerahkan tas bekal kain bermotif elegan itu kepada Gayuh.
Gayuh tersenyum manis lalu mencium punggung tangan Nenek dengan takzim.
"Siap, Nek. Gayuh berangkat dulu ya."
Gayuh segera kembali ke kamar sebentar untuk mengambil tas selempang kecilnya dan merapikan pakaian.
Ia sudah bersiap menuju ke kantor suaminya dengan hati yang berdebar senang, membayangkan kejutan yang akan diterimanya dari Jati.
Namun, saat berjalan melewati ruang tengah menuju pintu depan, Gayuh tersadar suasana mansion agak sepi dari biasanya.
Ia sempat mencari keberadaan orang kepercayaan Jati untuk meminta kunci mobil, namun Pak Gunawan sedang berada di taman belakang, sibuk mengoordinasikan puluhan bodyguard baru untuk memperketat sistem keamanan berlapis di sekitar area luar mansion.
Enggan mengganggu kesibukan Pak Gunawan yang tampaknya sangat krusial, dan tidak ingin merepotkan para sopir pribadi yang sedang tidak bersiap di lobi depan, sebuah ide melintas di benak Gayuh. Ia tersenyum tipis mengingat memori manis masa lalunya dengan Jati.
Gayuh memutuskan untuk naik ojek ke kantor suaminya. Bagi orang lain, tindakan Nyonya Aditama naik ojek online mungkin dianggap aneh atau menjatuhkan martabat, tetapi bagi Gayuh, ini adalah cara romantis untuk bernostalgia tentang awal mula pertemuan mereka, saat Jati masih menyamar sebagai seorang driver ojol miskin yang mengetuk pintu hatinya.
Dengan memegang erat tas bekal di tangan kirinya, Gayuh membuka aplikasi di ponselnya, memesan satu armada ojek, lalu melangkah keluar melewati gerbang samping mansion dengan langkah riang menuju gedung pencakar langit J-Corp.
Langkah kaki Gayuh melangkah mantap memasuki lobi utama gedung pencakar langit J-Corp yang begitu megah dan bernuansa modern. Namun, begitu ia melangkah lebih dalam, atmosfer di sekitar lobi mendadak berubah.
Banyak mata memandang sinis, berbisik-bisik melihat kehadiran Gayuh yang datang hanya dengan pakaian sederhana dan membawa sebuah wadah bekal kain di tangan kirinya. Mereka menganggap kehadirannya sangat tidak cocok berada di gedung elite ini.
Mengabaikan tatapan merendahkan dari sekelilingnya, Gayuh segera menuju ke meja resepsionis yang megah di bagian tengah lobi.
Di balik meja, berdiri seorang wanita dengan riasan tebal dan pakaian kerja yang sangat ketat.
"Selamat siang, Mbak. Saya mau bertemu dengan Mas Jati," ucap Gayuh dengan nada sopan dan senyuman ramah.
Mendengar nama itu disebut tanpa embel-embel jabatan, wanita di balik meja itu langsung menghentikan kegiatannya.
Ia menatap Gayuh dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menghina.
"Mas Jati?" beo wanita itu dengan nada ketus.
"Anda siapa berani-berani memanggil calon suami saya dengan sebutan 'Mas Jati'?"
Gayuh seketika mengerutkan keningnya, merasa ada yang salah dengan pendengarannya.
"Calon suami?"
"Iya! Saya Rini, calon istri Pak Jati Aditama!" ucap wanita bernama Rini itu dengan dagu terangkat sombong, memamerkan posisinya yang merasa paling tinggi di lobi itu.
Gayuh menahan napas sejenak, mencoba meredam emosinya yang mulai terpancing.
Ia tahu betul Jati baru saja menikahinya kemarin, dan wanita di hadapannya ini jelas-jelas hanya sedang berhalusinasi atau mencari perhatian.
"Mbak, tolong beritahu Mas Jati kalau saya ada di sini."
"Eh, kamu itu nggak punya telinga, ya?!" bentak Rini dengan suara meninggi hingga mengundang perhatian seluruh orang di lobi.
"Wanita gembel seperti kamu, sok-sokan memanggil Mas Jati! Sadar diri dong, pakaian compang-camping bawa rantang makanan begitu, mau mendekati bos besar kami? Mimpi!"
Mendengar makian Rini, semua orang di lobi—baik karyawan lain maupun beberapa pengunjung—tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Gayuh.
Mereka berbisik-bisik, menertawakan keberanian seorang wanita yang mereka kira pengantar makanan miskin.
Napas Gayuh mulai memburu, luka di punggungnya bahkan terasa sedikit berdenyut karena emosinya yang meningkat.
"Mbak, saya peringatkan ya, tolong yang sopan kalau berbicara," ucap Gayuh dengan nada yang mulai mendingin dan tegas.
"Cuihh! Sopan?" Rini mendecih meremehkan, memutar bola matanya malas. "Sama orang selevel kamu, saya tidak butuh sopan santun!"
Gayuh yang sudah benar-benar hilang kesabarannya langsung mengamankan ponselnya dari dalam tas selempangnya.
Niat awalnya yang ingin memberikan kejutan manis dengan membawa semur daging buatan Nenek akhirnya runtuh total gara-gara ulah resepsionis ini.
Tanpa ragu, Gayuh langsung menghubungil nomor pribadi suaminya.
Sementara itu, di lantai teratas gedung J-Corp, Jati sedang memimpin rapat divisi krusial bersama para direksi pasca-sidang Tryas.
Begitu ponsel di atas mejanya bergetar dan menampilkan nama "Istriku", Jati langsung mengangkat tangannya, seketika menghentikan rapatnya yang sedang berlangsung tanpa memedulikan wajah bingung para bawahannya.
"Halo, Sayang? Ada apa?" tanya Jati, suaranya langsung melembut.
Di lobi bawah, Gayuh menarik napas dalam-dalam, matanya menatap lurus ke arah Rini yang masih bersedekap dada dengan angkuh.
"Mas, bisa turun ke sini sebentar?" ucap Gayuh langsung pada intinya, menahan getaran kesal di suaranya.
"Kamu di mana?" tanya Jati, mendadak firasatnya merasa tidak enak.
"Aku di lobi kantor kamu. Tapi sepertinya. aku tidak disambut dengan baik di sini," jawab Gayuh dingin, sebelum langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak.
Gayuh menyimpan kembali ponselnya, menatap Rini dengan tatapan datar.
Kejutan manisnya memang gagal, tetapi ia memastikan bahwa setelah ini, wanita sombong di hadapannya akan tahu persis dengan siapa dia sedang berurusan.