Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15—Wilayah Bersalju
Hutan kala itu terlihat sangat damai dengan burung-burung berkicau merdu di antara dahan-dahan tinggi, sementara sinar matahari yang hangat menembus celah daun dan jatuh ke tanah dalam bercak-bercak cahaya. Udara terasa tenang, dan suasana hutan membuat setiap makhluk yang tinggal di sana menjalani aktivitasnya dengan lebih bersemangat dari biasanya.
Di permukaan tanah, serangga bergerak di antara rumput dan akar pohon. Beberapa hewan kecil keluar dari persembunyian mereka, memanfaatkan cuaca yang hangat. Semuanya berjalan seperti hari biasa, tanpa tanda-tanda bahaya ataupun gangguan.
Namun di tengah kedamaian itu, tiba-tiba tanah bergetar pelan.
Getaran itu awalnya kecil, seperti sesuatu yang jatuh dari kejauhan. Tetapi beberapa detik kemudian, getaran itu datang lagi, kali ini lebih terasa. Daun-daun di pohon bergetar, dan beberapa burung langsung terbang menjauh dari dahan mereka. Seekor tupai yang sedang berdiri di atas cabang pohon pun terkejut dan segera menoleh ke bawah. Dari arah semak-semak, sesuatu yang besar sedang bergerak. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar dan ranting-ranting kecil patah di bawah tekanan beratnya.
Tak lama kemudian, terlihat sebuah kaki raksasa melangkah keluar dari balik pepohonan. Kaki itu besar dan ditutupi oleh bebatuan panas, meninggalkan jejak dalam di tanah setiap kali menapak. Kaki raksasa itu adalah milik Di Xinyuan—seekor kera raksasa yang menjadi pemimpin wilayah hutan bagian selatan, wilayah tempat kelompok mereka tinggal dan menguasai daerah tersebut.
“Houmm…” Yuofan menguap dengan sedikit air mata menetes di ujung matanya. ”Aku tak menyangka pertemuan kami akan sangat cepat.” lanjutnya yang duduk santai di atas pundak Di xinyuan.
“Kemarin dia menghubungiku, katanya ia memerlukan bantuan ku. Maka dari itu aku membawa tuan muda untuk sekalian dikenalkan dengan nya!” ucap kera itu yang masih dengan semangat membaranya.
Yuofan mengusap matanya pelan, karena rasa kantuk masih sangat melekat dikedua matanya. Sebab kera itu mengganggu tidurnya dan datang menjemputnya ketika matahari bahkan belun memunculkan dirinya. Untung saat itu ibunya ikut terbangun dan ia bisa memberi makan terlebih dahulu dan pamit kemudian.
“Menghubungi?” Yuofan mengangkat satu alisnya.
Di Xinyuan mengangguk membenarkan. “Kami melakukan telepati.” ucapnya seraya menunjuk keatas kepala.
Yuofan tak membalasnya dan hanya mengangguk mengerti. Ia menatap ke sekelilingnya dan merasakan bahwa energi di sekitarnya mulai berubah. “Sepertinya kita hampir sampai, ya?” tanya nya, tetapi Di xinyuan menggelengkan kepalanya membalas pertanyaan tersebut.
“Kita masih setengah jalan, masih memerlukan beberapa waktu lagi untuk sampai.” ucap kera itu yang dibalas helaan nafas oleh Yuofan. Apalagi matahari yang sebelumnya belum muncul, kini sudah memunculkan dirinya.
Akhirnya Yuofan pun hanya bisa diam dan menikmati perjalanan mereka, hitung-hitung menambah pengetahuannya tentang hutan ini. Disana ia melihat berbagai binatang unik yang belum pernah ia lihat di daerah dekat gua tempatnya tinggal, ia juga melihat ada berbagai macam tumbuhan herbal yang pernah ia baca di buku terkait ilmu kesehatan sebelumnya. Ia pun mengambil kesempatan itu untuk menguji hafalannya terhadap tanaman herbal dan mencoba menebak setiap tanaman yang menurut akrab.
Namun, berbeda dengan Yuofan yang terus memperhatikan sekitarnya, Di xinyuan justru memperhatikan Yuofan. Pandangannya beberapa kali tertuju pada anak itu, karena ia menyadari sesuatu yang terasa tidak biasa.
Yuofan terlihat terus menyerap energi qi di tempat itu, padahal posisinya sedang tidak melakukan meditasi. Ia hanya duduk dengan santai, kadang menengok ke kanan dan kirinya, kadang juga terlihat takjub dengan sekitarnya, tetapi aliran qi di sekitarnya tetap bergerak perlahan menuju tubuhnya. Hal itu terlihat jelas bagi seseorang yang peka terhadap aliran energi.
Menurut yang ia tahu, manusia biasanya harus berada dalam posisi meditasi untuk mendapatkan fokus yang tinggi. Hanya dengan pikiran yang tenang dan tubuh yang diam, seseorang bisa merasakan dan kemudian menyerap energi qi dari lingkungan sekitarnya. Itu adalah dasar yang diketahui hampir semua praktisi kultivasi.
Namun yang terjadi pada Yuofan berbeda. Ia tidak duduk bersila, tidak mengatur napas secara khusus, bahkan pikirannya terlihat sedang memperhatikan banyak hal di sekelilingnya. Meski begitu, energi qi di sekitar tetap tertarik pelan ke arahnya, seolah tubuhnya secara alami menyerap energi tersebut tanpa perlu usaha sadar.
“Tuan ku memang hebat!” Batin Di xinyuan seraya menghembuskan asap dari dalam hidungnya.
Yuofan pun menangok menyadari bahwa kera itu semakin bersemangat. “Ada apa, Yuan?” tanya nya pelan.
“Tidak ada tuan! Aku hanya merasa bahwa keputusan yang ku ambil sudah sangat benar!” balasnya sembari mengepalkan tangannya dan mengangkatnya keatas.
Yuofan memiringkan kepalanya merasa bingung, tetapi ia hanya mengangguk dan kembali pada kegiatannya. Matanya kemudian tertuju pada sebuah wilayah didepannya yang terlihat sedikit bersalju, ia juga bisa merasakan bahwa hawa disekitarnya perlahan mulai berubah.
“Apakah itu tempatnya?” tanya Yuofan seraya menunjuk wilayah yang di hujani salju.
“Hm!” Di xinyuan mengangguk membenarkan. “Mulai dari sini cuacanya akan sedikit dingin, jadi tuan harus bersiap.” lanjutnya.
Di Xinyuan kemudian mempercepat langkahnya. Senyumannya terangkat jelas, menandakan betapa tidak sabarnya ia untuk segera bertemu dengan sosok yang paling dekat dengannya. Langkahnya menjadi lebih ringan dan cepat, hampir seperti berlari kecil, seolah ia sudah terlalu lama tidak bertemu dan tidak ingin menunggu lebih lama lagi.
Ketika langkahnya akhirnya melewati batas wilayah itu, Di xinyuan langsung menarik napas dalam-dalam. Tanpa ragu, ia berteriak dengan suara yang sangat keras hingga menggema di sekitar tempat itu, membuat Yuofan yang berada tidak jauh darinya harus menutup kedua telinganya agar tidak merasa sakit.
“KAKAK!! ADIK MU TELAH TIBA!”
Bersamaan dengan itu, gelombang udara dingin menyambut mereka, membuat suhu di sekitar tiba-tiba turun dengan cepat. Angin dingin berhembus pelan, membawa butiran es halus yang berputar di udara. Di depan mereka, gumpalan salju mulai bergerak perlahan, seolah ditarik oleh kekuatan yang tak terlihat. Lalu perlahan membentuk sesuatu yang lebih jelas, bentuk itu semakin lama semakin tinggi dan melebar, menyerupai tubuh seekor burung besar.
Tak lama kemudian, bentuknya menjadi semakin sempurna. Terlihat jelas seekor burung besar dengan empat sayap yang terbentang di kedua sisi tubuhnya. Sayap-sayap itu tersusun dari bulu-bulu putih yang sangat bersih, tampak rapi dan tebal, seolah tidak tersentuh kotoran sedikit pun. Kepalanya terangkat tinggi, dengan paruh panjang dan tajam seperti bilah pedang. Paruh itu tampak keras dan berkilau samar di bawah cahaya pucat di sekitarnya. Sementara itu, bola matanya tampak tajam berwarna biru, warnanya jernih namun dingin, seperti bongkahan es yang tidak pernah mencair.
Makhluk itu berdiri diam di depan mereka, ekspresinya datar berbanding terbalik dengan kera raksasa yang terlihat tersenyum lebar penuh semangat.
Dialah Bai Luan—pemimpin hutan bagian timur.
“Aku tahu itu. Tidak perlu berteriak.” ucap burung itu menatap datar kera dihadapannya. Tatapan burung itu kemudian terfokus pada anak laki-laki yang duduk santai di atas pundak kanan Di xinyuan.
Menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan, Yuofan melambaikan tangannya dengan senyuman kikuk. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana dihadapan burung yang terlihat 'dingin' itu.