Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Di Bawah Papan Jati
4 November 1930. Pukul 23.45 waktu Batavia.
Atap Gedung Stadhuis (Balai Kota Batavia).
Angin malam berhembus kencang di atas Kota Tua, membawa aroma laut asin dari arah Sunda Kelapa. Di ketinggian dua puluh meter dari tanah, Raden Mas Arya sedang menempelkan tubuhnya erat-erat ke genting tanah liat yang licin dan berlumut.
Dia bukan pencuri profesional, dan malam ini dia menyesali fakta itu.
Arya baru saja memanjat pohon beringin tua di sisi barat gedung, melompat ke talang air, dan merayap naik ke atap utama. Napasnya memburu, jari-jarinya perih tergores permukaan genting yang kasar.
Di bawah sana, di halaman dalam (inner court), dua orang penjaga malam sedang berpatroli sambil membawa lentera minyak.
"Hoor je dat?" (Kau dengar itu?) tanya salah satu penjaga, mengarahkan lenteranya ke atas.
Arya membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Dia menekan tubuhnya sedatar mungkin, berdoa agar bayangan cerobong asap menyembunyikannya.
Seekor kucing liar melompat dari talang air, mengeong keras, lalu lari.
"Ah, katten," (Ah, kucing) gerutu penjaga itu. Mereka kembali berjalan menjauh.
Arya menghembuskan napas panjang. Aman.
Dia kembali merayap menuju struktur menara pantau heksagonal di puncak gedung. Kayu-kayu menara itu tua dan berkerit setiap kali dipijak, jadi Arya harus melangkah dengan sangat hati-hati, menumpukan berat badannya pada balok utama.
Sampai di dalam kubah menara, Arya menyalakan korek api sebentar untuk orientasi.
Di sana, di pojok utara sesuai instruksi Alina, ada sebuah papan lantai jati yang pakunya sedikit terangkat.
"Ini dia," bisik Arya.
Dia mengeluarkan linggis kecil yang diselipkan di pinggangnya, lalu mencongkel papan itu perlahan.
Kreeek...
Suaranya ngilu di telinga. Arya berhenti, menunggu reaksi dari bawah. Hening.
Papan terbuka. Di bawahnya terdapat rongga gelap antara lantai dan plafon ruangan di bawahnya. Debu setebal satu inci menumpuk di sana.
Arya merogoh tas selempangnya. Dia mengeluarkan sebuah kaleng bekas biskuit merek "Marie Regal" berbentuk persegi. Kaleng itu sudah dia lapisi lilin lebah (beeswax) di bagian sambungan tutupnya agar kedap air dan udara.
Di dalam kaleng itu, tersimpan surat pernyataan jual-beli mesin tik yang baru saja dibuatkan oleh Babah Liong sore tadi. Lengkap dengan tanda tangan, cap jempol, materai tempel 15 sen, dan tanggal yang dimundurkan ke tahun 1928. Nomor seri NK-40992 tertera jelas.
Arya hendak memasukkan kaleng itu ke dalam lubang. Namun, tangannya terhenti.
Dia meraba saku jasnya. Mengeluarkan sebuah benda kecil terbungkus kain beledu merah.
Sebuah cincin perak.
Cincin itu sederhana, bermata batu giok hijau pucat. Itu adalah cincin peninggalan almarhumah ibunya. Satu-satunya harta berharga yang Arya miliki selain mesin tiknya. Seharusnya, cincin ini diberikan kepada istri masa depannya. Kepada Sarsinah, jika dia menuruti adat.
Tapi hati Arya sudah memilih tuannya sendiri.
Arya membuka tutup kaleng biskuit itu lagi. Dia meletakkan bungkusan cincin itu di atas surat bukti pembelian. Dia juga menyelipkan secarik kertas kecil yang dia tulis tangan dengan terburu-buru tadi sore.
"Maafkan saya, Ibu," bisik Arya ke arah langit. "Tapi cincin ini lebih aman di masa depan daripada di tangan saya yang mungkin besok diborgol."
Arya menutup kaleng itu rapat-rapat. Dia meletakkannya di dalam rongga lantai, menimbunnya sedikit dengan serbuk kayu agar tidak bergeser.
Lalu, dia memasang kembali papan jati itu. Dia memalu pakunya kembali—bukan dengan palu, tapi dengan menekan menggunakan linggis dan menginjaknya perlahan agar tidak berisik.
"Tidurlah yang nyenyak selama 94 tahun," gumam Arya, menepuk papan itu. "Sampai jumpa di tangan Alina."
Arya berbalik, bersiap untuk turun kembali ke dunia yang berbahaya. Misi selesai.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Nyawa seolah dalam genggaman penjahat.
Damai sekejap, lepas beban berat
tapi belati dan peluru kembali mengintai.
Jika cinta butuh pengorbanan,semua telah berkorban.
Mengalah
Melepaskan
Merelakan dalam keikhlasan.
Bertahan walau hidup serasa di parit busuk.
Melindungi sekeping hati dari duka.
Menjaga dan mencoba memperpanjang kontrak hidup
mati-matian mencari jalan keluar
Pontang- panting dengan akses masa depan yang canggih
semoga kali ini bisa lolos lagi dari si mata satu
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera