NovelToon NovelToon
Dan Ofid

Dan Ofid

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.

Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.

Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.

Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.

Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Angin Malam di kawasan perbukitan terpencil Los Angeles berhembus kencang, membawa aroma pinus yang basah. Di depan gerbang besi tinggi Saint Jude Rehabilitation Center, sebuah mobil Lamborghini hitam yang tampak asing di lingkungan steril itu berhenti dengan decit pelan.

Knox Lambert Riccardo keluar dari mobil, membetulkan jaket kulitnya yang sedikit berantakan. Di sampingnya, Zack turun sambil menggelengkan kepala, melihat sahabatnya yang tampak gelisah namun bertekad bulat.

"Kau yakin ingin melakukan ini, Knox? Jika Nyx tahu kau menemui ibunya tanpa izin, dia bisa memotong lehermu," bisik Zack sambil memperhatikan kamera pengawas di gerbang.

Knox menarik napas panjang. "Dia tidak akan tahu. Aku sudah bilang padanya aku akan menginap di markas untuk lembur proyek mesin. Dia bahkan memberiku ciuman manis dan bilang 'hati-hati sayang'. Aku merasa seperti pengkhianat, tapi aku harus tahu... aku harus melihat siapa wanita yang melahirkan malaikat mautku."

Nyx, di apartemen, memang sama sekali tidak curiga. Ia terlalu terbiasa dengan kesibukan Knox di laboratorium dan markas The Outcasts. Baginya, Knox yang gila kerja adalah hal normal, dan ia justru senang Knox memiliki dedikasi pada pendidikannya—tanpa tahu bahwa dedikasi Knox saat ini tertuju pada masa lalu Nyx yang kelam.

Setelah melalui birokrasi yang rumit dan menggunakan nama besar keluarga Riccardo sebagai jaminan, Knox dan Zack akhirnya diizinkan masuk ke taman khusus pasien. Di sebuah bangku kayu yang menghadap ke arah matahari terbenam, seorang wanita duduk diam. Agnesia Beckham.

Wajahnya tampak pucat dan pandangannya kosong, persis seperti laporan medis yang menyebutkan dia menderita gangguan jiwa berat. Namun, saat Knox melangkah mendekat, ia merasakan aura yang berbeda. Wanita ini cantik, sangat cantik, dengan struktur wajah yang merupakan cetakan biru dari wajah Nyx.

"Nyonya Agnesia?" sapa Knox lembut, ia berlutut di depan bangku kayu itu sementara Zack berjaga beberapa meter di belakang, memberi privasi.

Agnesia tidak merespons. Ia tetap menatap lurus ke depan, jemarinya memilin ujung kain gaun rumah sakitnya. Namun, di dalam hatinya, Agnesia sedang waspada. Siapa pemuda ini? Dan kenapa dia memiliki aura keluarga yang kuat?

Knox menarik napas, ia tidak peduli jika wanita di depannya dianggap tidak waras. Ia hanya ingin bicara. Ia merasa butuh "meminta restu" meskipun dengan cara yang aneh.

"Nama saya Knox, Knox Lambert Ricardo,Nyonya. Saya... saya adalah pria yang mencintai putri Anda, Nyx," ucap Knox, suaranya bergetar karena emosi yang murni.

Agnesia tetap diam, namun telinganya menajam saat nama putrinya disebut.

"Saya datang ke sini bukan untuk bertanya tentang David Beckham atau siapa pun. Saya hanya ingin memberitahu Anda betapa beruntungnya Anda memiliki putri seperti Nyx," Knox menunduk, menatap tangannya yang mengepal. "Dia adalah wanita paling kuat, paling tangguh, dan paling indah yang pernah saya temui. Dia bisa memukulku sampai lebam, tapi dia juga bisa membuatku merasa menjadi pria paling berharga di dunia hanya dengan satu senyuman."

Zack di kejauhan hanya bisa menepuk dahinya. Knox benar-benar sudah gila karena cinta, batinnya.

Knox mulai bercerita panjang lebar, seolah Agnesia adalah pendengar yang paling memahami. Ia bercerita tentang pertemuan pertama mereka, tentang bagaimana Nyx dikira seorang pria, hingga malam-malam yang mereka habiskan bersama.

"Maafkan saya, Nyonya Agnesia," ucap Knox tiba-tiba, suaranya merendah penuh penyesalan. "Saya benar-benar minta maaf karena saya telah... merusaknya. Saya tidak sanggup menahan diri. Demi Tuhan, saya mencintainya begitu dalam hingga saya menggempurnya Tiga malam berturut-turut. Saya tahu ini terdengar kurang ajar, tapi saya benar-benar tidak berani merusak masa depannya. Saya hanya ingin dia menjadi milikku sepenuhnya."

Agnesia, di balik topeng kegilaannya, hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia ingin memutar bola matanya. Pria ini... apa dia baru saja mengakui kehidupan ranjangnya di depan ibu mertuanya yang 'gila'? Namun Knox belum selesai. Ia mengeluarkan sebuah pengakuan yang lebih gila lagi.

"Saya sangat ingin dia terikat padaku, Nyonya. Semalam... saya dengan sengaja membocorkan tiga bungkus pengaman kami sebelum kami memakainya. Saya harap Nyx hamil anak saya. Saya ingin ada Riccardo kecil di dalam perutnya, agar dia punya alasan untuk tetap tinggal di sisiku selamanya. Aku ingin dia punya keluarga yang nyata, keluarga yang kuberikan padanya."

Agnesia sekuat tenaga menahan kedutan di sudut bibirnya. Gila. Putriku benar-benar mendapatkan pria yang benar-benar gila. Gila karena mencintainya terlalu dalam, pikir Agnesia. Ia mulai merasa simpati sekaligus geli. Sepertinya sifat posesif dan obsesif klan Morrigan memang menarik jenis pria yang sama.

"Kau tahu, Nyonya? Di malam pertama kami... Nyx menangis," Knox terkekeh pelan, teringat momen itu. "Dia menangis karena kesakitan dan marah karena aku tidak pakai hitungan saat 'masuk'. Dia memukuli dadaku dan mengomel bahwa teori teknikku tidak berguna di atas ranjang. Dia sangat menggemaskan saat marah. Aku tidak pernah mengira seorang 'wanita' yang tangguh bisa menangis selembut itu dalam pelukanku."

Agnesia menarik napas panjang secara halus. Ia mengganti tawa yang tertahan dengan senyum palsu yang samar, tipe senyum yang biasa ditunjukkan pasien gangguan jiwa. Ia tidak merespons secara verbal, namun matanya menatap Knox sesaat.

Knox melihat senyuman itu dan merasa seolah-olah ia baru saja mendapat restu dunia.

"Terima kasih sudah melahirkannya, Nyonya. Terima kasih sudah mendidiknya menjadi wanita yang luar biasa. Saya berjanji, selama napas saya masih ada, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuh ujung rambutnya. Saya akan melindunginya dari ayahnya, dari musuh-musuhnya, bahkan dari dirinya sendiri jika perlu."

Knox berdiri, mengecup punggung tangan Agnesia dengan hormat. "Saya harus pergi sebelum dia mencariku. Jaga kesehatan Anda, Nyonya. Suatu hari nanti, saya akan membawanya ke sini—mungkin saat dia sudah mengandung cucu Anda—dan kita akan makan malam bersama sebagai keluarga yang utuh."

Agnesia terus menatap Knox yang berjalan menjauh bersama Zack. Begitu siluet Pria Tinggi itu menghilang dari pandangan, Agnesia mendesah pelan, bahunya yang kaku merileks.

"Pria gila," gumam Agnesia lirih, sebuah senyum tulus yang sangat tipis muncul di wajahnya. "Dia benar-benar merusak pengamannya? Dasar anak muda zaman sekarang."

Agnesia kembali menatap matahari yang terbenam, hatinya sedikit lebih tenang. Ia tahu Nyx berada di tangan yang tepat. Pria Riccardo itu mungkin mesum dan tidak tahu malu, tapi cintanya adalah jenis cinta yang menghancurkan sekaligus melindungi—jenis cinta yang dibutuhkan Nyx untuk bertahan di tengah badai yang sedang disiapkan oleh Christian Morrigan.

Sementara di mobil, Knox merasa bebannya sedikit terangkat. "Zack, menurutmu dia dengar tidak?"

"Dia dengar setiap kata mesum mu, Knox. Aku yakin jika dia tidak pura-pura gila, dia pasti sudah menendang mu keluar dari taman itu," sahut Zack sinis.

Knox tertawa renyah. "Setidaknya aku sudah jujur. Sekarang, ayo ke markas. Aku harus benar-benar mengerjakan proyek itu sedikit agar Nyx tidak curiga saat aku pulang besok dengan bau oli."

Malam itu, di bawah cahaya bulan yang sama, Agnesia mendoakan putrinya, sementara Knox menyusun rencana masa depan yang melibatkan rahim Nyx dan kebahagiaan yang selama ini belum pernah dirasakan oleh gadis Morrigan itu.

1
marchang
lanjut thorr
Ros🍂: Siap kak🙏🥰
total 1 replies
Cristine 1107_
sakit bngt thor😭
Ros🍂: maafkan author 🙏🤣🥰
total 1 replies
ren_iren
serah Thor terserah...
Ros🍂: semoga cepat sembuh ya kak💪🥰
total 3 replies
winpar
lnjut thorrr lgi serius bca nih 💪💪💪💪
Ros🍂: Siap kak, 🥰
total 1 replies
winpar
knox bener2 gila 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ros🍂: cukup kita yang tau kak 🙏🤣🤣
total 1 replies
Cristine 1107_
lanjuttt min🤭
Ros🍂: siapp kak🥰🙏
total 1 replies
ren_iren
lanjutkan.... 🤗
Ros🍂: okay kak🥰🙏
total 1 replies
ren_iren
dapatttt aja visual yg bening2 🤭😂
Ros🍂: biar halu kita lancar jaya kak 😍🤣🤣
total 1 replies
ren_iren
Nyx Knox....
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂
Ros🍂: Ma'aciww kak 🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!