Nasib Alea, memutuskan menikah dengan pria yang sudah dia pelajari selama kurang lebih 2 tahun.
Siapa sangka pernikahan itu tidak sesuai dengan impian. Keluarga dari suaminya bukanlah orang sembarangan, menginginkan keturunan yang jelas dari menantu mereka. Alea jelas mampu memberikan keturunan untuk keluarga suaminya.
Tetapi masalah sesungguhnya bukan terjadi pada dirinya, tetapi pada Dharma suaminya yang mengalami masalah pada hubungan seksual.
Sampai akhirnya kekonyolan dari sang suami, meminta sahabatnya yang sudah dianggap sebagai keluarga untuk menggantikan posisi dirinya menanamkan benihnya rahim istrinya.
Bagaimana Alea menghadapi pernikahannya yang tidak waras, terjerat dalam hubungan yang tidak benar dengan sahabat suaminya. Lalu apakah Alea akan bertahan dan justru menjalin hubungan intes dengan Raidan sahabat suaminya?"
Ayo jangan lupa untuk memberi dukungan pada karya saya, baca dari bab 1 sampai akhir dan jangan pernah nabung bab....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 Di tinggal
Alea terlihat berada di ruang tamu sembari membaca buku tentang kehamilan. Suara pintu kamar terdengar membuat Alea menoleh.
"Sayang..." panggil Dharma.
"Mas, mau kemana?" tanya Alea melihat suaminya itu membawa koper.
"Hmmm, ada perjalanan bisnis beberapa hari ke Hongkong sayang," jawab Dharma.
"Mendadak sekali," sahut Alea terlihat mengerutkan dahi.
"Kamu seperti tidak tahu saja sayang dengan banyaknya pekerjaan yang datang secara mendadak," jawab Dharma sudah berada di hadapan istrinya.
"Ya sudah sayang, kalau begitu aku langsung pergi saja. Kamu hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi Mama dan aku juga sudah perintahkan Daniel untuk menjaga kamu," ucap Dharma.
"Daniel siapa lagi itu?" tanya Alea.
"Asisten pribadiku akan menjemput kamu kemanapun kamu ingin pergi tidak akan mengantar kamu kembali ke rumah, dia juga akan menjaga kamu agar tidak terjadi sesuatu," jawab Dharma.
"Mas, aku tidak butuh siapa-siapa untuk menjagaku dan memang apa tidak bisa aku kali ini ikut pergi tuh sama kamu?" tanya Alea.
"Sayang kamu sedang hamil dan aku sedang bekerja, jika kamu ikut bersamaku bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan yang adanya aku juga tidak akan bisa fokus kerja. Suatu saat nanti kita berdua pasti akan bisa liburan bersama," ucap Dharma memberi alasan kepada Alea.
"Suatu saat nanti, tetapi tidak tahu entah kapan," gumam Alea dengan wajah sendu tampak kecewa karena ditolak oleh sang suami.
Dharma menarik nafas dan berjongkok perlahan ke depan, kemudian menghampiri Alea dengan berjongkok di hadapan Alea, memegang kedua tangan Alea dan menatapnya begitu dalam.
"Kamu jaga anak kita baik-baik. Aku akan pulang secepatnya dan setelah itu akan membuat planning untuk kita berdua liburan," ucap Dharma membujuk istrinya itu.
"Benarkah?" tanya Alea memastikan.
"Benar sayang," jawab Dharma dengan menganggukkan kepala.
"Ya sudah, kalau begitu Mas hati-hati dan terus kabari Alea," ucap Alea
"Baik sayang, kalau begitu aku langsung pergi saja, kamu baik-baik ya," ucap Dharma mencium lembut kening Alea dan kemudian langsung pergi.
Alea melihat kepergian suaminya itu keluar dari Apartemen tanpa ikut mengantar suaminya.
"Huhhhhh, sudahlah, pekerjaan Mas Dharma mungkin begitu banyak dan lagi pula adanya Mas Dharma di rumah ini juga tidak pernah memberi perhatian kepadaku, mungkin ini yang terbaik," batin Alea dengan menghela nafas berat.
Lagi dan lagi Alea ditinggalkan sendiri oleh suaminya. Alea akan kembali menjanda dan mengurus kehamilannya sendirian, seperti apa yang dia katakan walau Dharma ada di sana, tetapi tetap saja Dharma tidak pernah memberikan perhatian apapun kepadanya.
******
Alea saat ini sedang berada di dalam mobil yang duduk di kursi belakang. Daniel asisten pribadi dari Dharma tadi baru saja menjemputnya.
Dharma memang tidak mengijinkan Alea untuk pergi sendirian karena takut terjadi sesuatu pada kehamilannya. Dharma juga takut mendapatkan masalah dari kedua orang tuanya.
Dratt-dratt-dratt.
Alea melihat ponselnya yang berdering. Alea langsung mengangkat panggilan dari Raidan.
"Hallo!" sapa Alea.
"Hmmm, maaf aku mengganggu kamu? Aku hanya ingin mengatakan jika aku harus ke Luar Negri," ucap Raidan tampak begitu gugup saat berpamitan pada Alea.
"Ke Luar Negri?" tanya Alea.
"Benar, ada pekerjaan mendadak di Singapura," jawab Raidan.
"Mas Dharma juga pergi ke Luar Negri dan sekarang Raidan juga pergi," batin Alea saat ini benar-benar kesepian karena orang-orang yang berkaitan dengannya pergi.
"Alea...." tegur Raidan ketika tidak mendapatkan respon dari Alea.
"Hmmm, ya sudah jika memang kamu harus pergi. Tidak apa-apa. Kamu hati-hati dan semoga semua pekerjaan kamu lancar," ucap Alea.
"Kamu baik-baik saja saat ini?" tanya Raidan.
"Ya, aku baik-baik saja, karena jika tidak baik-baik saja pun tidak ada gunanya," jawab Alea terdengar begitu pasrah.
"Alea, maafkan aku jika beberapa hari ke depan aku tidak bisa membantu kamu untuk mengurus kehamilan kamu, aku tidak ada di sisi kamu dan bukan berarti aku tidak ingin melakukannya atau sengaja untuk tidak melakukannya, ini benar-benar pekerjaan mendadak. Aku mendapatkan tugas penting ini dari Raidan, jadi aku harus menyelesaikan pekerjaan ini," jelas Raidan.
"Sudahlah Raidan tidak apa-apa, lagi pula aku baik-baik saja," ucap Alea.
Daniel yang tampak fokus menyetir ternyata sekali melihat dari kaca spion. Alea menyadari hal itu dan sepertinya tidak harus berbicara begitu lama lewat telepon dan apalagi sempat menyebut nama Raidan.
"Hmmm, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Kamu hati-hati dan semoga semuanya lancar," ucap Alea buru-buru mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Alea mengetahui jika sopir yang menemaninya itu tak lain adalah asisten dari suaminya dan otomatis ataupun pergerakan Alea akan dilaporkan pada Dharma. Alea tidak ingin mencari masalah dan lebih baik mengakhiri telepon tersebut.
"Hmmm, Nona kita jadi ke Supermarket?" tanya Dharma.
"Iya," jawab Alea.
"Baiklah," sahut Dharma.
"Hmmmm, saya tahu kamu merupakan asisten dari suami saya, tapi saya juga ingin privasi saya tetap dijaga, jangan sampai saya tidak nyaman kepada kamu dan harus berhati-hati kepada kamu," ucap Alea memberi ingat kepada pria di hadapannya itu.
"Baik Nona, saya juga memiliki batasan dalam pekerjaan," sahut supir tersebut.
"Syukurlah," sahut Alea cukup merasa lega dengan apa yang dikatakan pria yang sedang menyetir itu.
Alea tidak ingin jika Daniel akan menyampaikan kepada Dharma bahwa dia baru saja saling menelpon dengan Raidan.
********
Alea berada di kediaman rumah kedua orang tua suaminya. Sudah 4 hari Alea ditinggalkan, selama beberapa hari ini Alea selalu menghindar untuk tidak datang ke rumah kedua orang tua suaminya itu karena pasti berurusan dengan kehamilannya yang membuatnya tidak nyaman.
Alea saat ini berada di ruang tamu bersama dengan Adiwijaya dan Liana.
"Kamu sudah check up ke Dokter Alea?" tanya Liana pada menantunya itu.
"Belum. Ma," jawab Alea.
"Alea kamu jangan mengulur-ngulur waktu untuk memeriksakan kandungan, bagaimana jika terjadi sesuatu pada calon cucu saya, apa kamu akan bertanggung jawab," ucap Liana.
"Iya. Ma, nanti Alea akan mencari waktu yang tepat untuk konsultasi dengan Dokter," sahut Alea.
"Jangan nanti-nanti dan harus disegerakan!" tegas Liana.
Alea hanya menganggukkan kepala dan apapun yang dia katakan pasti mertuanya juga yang paling benar.
"Dharma juga apa-apaan berada di Luar Negri lama sekali, apa dia lupa jika istrinya sedang mengandung dan seharusnya tidak ditinggal lama-lama," gumam Liana terlihat begitu kesal pada putranya sendiri.
"Alea kamu sebaiknya tinggal di rumah ini sebelum Dharma pulang," ucap Liana tiba-tiba saja mendapatkan ide membuat Alea.
"Tidak usah. Ma, Alea tetap di rumah saja dan lagi pula ada beberapa asisten rumah tangga yang berada di rumah," Alea dengan cepat langsung menolak permintaan mertuanya itu.
"Ini demi kebaikan kandungan kamu, Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungan kamu," sahut Liana.
"Sudahlah Ma, biarkan Alea mencari kenyamanannya ingin tinggal di mana, jika terjadi sesuatu dia juga bisa menghubungi kita jadi jangan terlalu memaksanya," sahut Adiwijaya ternyata lebih paham.
"Ya sudahlah yang terpenting kamu harus menjaga kondisi kandungan kamu. Mama tidak ingin terjadi sesuatu!" tegas Liana membuat Alea menganggukkan kepala.
"Syukurlah Mama tidak memaksaku untuk tinggal di rumah ini dan jika aku tetap dipaksakan, maka semua benar-benar akan berantakan," batin Alea merasa lega karena Ayah mertuanya tidak ikut-ikutan Liana memaksa dirinya.
"Hmmmm, Papa ada meeting hari ini. Raidan sudah memimpin rapat jadi Papa harus buru-buru ke kantor," ucap Adiwijaya berdiri dari tempat duduknya.
"Raidan, apa dia sudah pulang?" batin Alea.
"Memang Raidan sudah kembali dari Luar Negeri?" tanya Liana mewakilkan pertanyaan Alea yang sebenarnya.
"Benar, dia baru saja kembali tadi pagi dan langsung ke kantor untuk pemimpin rapat hari ini. Jadi juga harus menyusul," jawab Adiwijaya.
"Ya sudah kalau begitu Papa hati-hati," sahut Liana cipika cipika dengan suaminya itu. Adiwijaya juga berpamitan dengan Alea membuat Alea hanya tersenyum.
Mendengar Raidan pulang, sepertinya terlihat excited yang besar bagi Alea.
Bersambung....