Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf Itu Terucap
POV Zayn
Zayn Devandra tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.
Tidak dalam hidupnya.
Tidak di depan publik.
Tidak… untuk siapa pun.
Namun malam ini,semua prinsip yang selama ini ia pegang seolah dipaksa runtuh satu per satu.
Dan penyebabnya
Satu orang.
Aluna si gadis biasa yang memiliki hobi bicara ceplas ceplos
Langkahnya terhenti beberapa meter dari gadis itu.
Aluna berdiri di dekat salah satu pilar ballroom, seolah berusaha menjadi bagian dari bayangan. Gaunnya masih sama, wajahnya masih menyimpan jejak tangis yang belum sepenuhnya hilang.
Dan untuk pertama kalinya
Zayn benar-benar melihatnya.
Bukan sebagai seseorang yang “ia bawa”.
Bukan sebagai sosok yang harus menyesuaikan diri.
Tapi sebagai seseorang yang… ia lukai.
Tangannya mengencang sedikit pada buket bunga yang ia pegang.
Bunga itu bukan pilihannya.
Ia tahu itu.
Ayahnya yang menyiapkannya.
Mengatur semuanya.
Seolah sudah tahu… Zayn tidak akan tahu harus berbuat apa tanpa dorongan.
Sial.
Ia melangkah lagi.
Satu.
Dua.
Semua terasa lebih berat dari biasanya.
Bukan karena orang-orang di sekitarnya.
Tapi karena dirinya sendiri.
“Aluna.”
Suaranya keluar lebih rendah dari biasanya.
Tidak setajam tadi.
Tidak sedingin sebelumnya.
Gadis itu menoleh.
Dan begitu mata mereka bertemu
Zayn bisa melihatnya.
Jarak.
Bukan jarak fisik.
Tapi sesuatu yang lebih dalam.
“saya…” Zayn berhenti sejenak.
Mencari kata.
Hal yang jarang ia lakukan.
“saya ingin bicara.”
Aluna tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih menyimpan luka.
Dan itu
Lebih sulit dihadapi dari pada kemarahan.
Zayn menarik napas pendek.
Lalu
Melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Ia berlutut.
Suara napas tertahan terdengar di sekeliling mereka.
Beberapa orang berhenti berbicara.
Beberapa lainnya langsung menoleh.
Dalam hitungan detik
Mereka menjadi pusat perhatian.
Zayn tidak peduli.
Atau setidaknya
Ia memaksa dirinya untuk tidak peduli.
Buket bunga itu ia arahkan ke depan.
Ke arah Aluna.
“saya minta maaf Aluna Maharani”
Hening.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi untuk seseorang seperti Zayn
Itu bukan hal kecil.
“saya kehilangan kendali,” lanjutnya, suaranya tetap rendah, tapi kali ini lebih jujur. “Dan saya mengatakan hal yang tidak seharusnya saya katakan.”
Tatapannya lurus.
Tidak menghindar.
Untuk pertama kalinya—
Ia benar-benar menatapnya tanpa jarak.
Aluna masih diam.
Syok.
Jelas terlihat dari ekspresinya.
Di sekitar mereka
Bisikan mulai terdengar.
“Dia… berlutut?”
“Itu Zayn Devandra, kan?”
“Gila… untuk siapa dia melakukan itu?”
Beberapa orang bahkan mulai mengangkat ponsel mereka.
Mengabadikan momen.
Zayn mengabaikannya.
Fokusnya hanya satu.
“saya salah.”
Tiga kata.
Singkat.
Tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah.
Ia mengangkat sedikit buket bunga itu.
“Terima ini.dan maukah kamu berdansa dengan saya ”
Aluna akhirnya bereaksi.
Sedikit mundur.
Lalu berdesis pelan
“Zayn… jangan mengada-ngada.”
Zayn mengernyit.
Namun belum sempat ia berkata apa-apa
Aluna melanjutkan, suaranya masih tertahan tapi jujur seperti biasanya.
“aku tidak bisa dansa.”
Zayn terdiam.
“Di kampung… aku cuma bisa joget dangdutan.”
Untuk beberapa detik
Zayn tidak tahu harus merespons bagaimana.
Lalu
Tanpa sadar
Ia mendengus pelan.
Bukan mengejek.
Bukan juga kesal.
Tapi… sesuatu yang hampir seperti tidak percaya.
Di tengah situasi seperti ini
Di saat semua orang memperhatikan
Di saat ia melakukan hal yang bahkan tidak pernah ia bayangkan
Gadis ini…
Masih bisa berkata sejujur itu.
Tanpa filter.
Tanpa pura-pura.
Dan entah kenapa
Itu justru membuat sesuatu di dalam dirinya… sedikit melunak.
“Tidak masalah,” ucapnya akhirnya.
Suaranya lebih ringan.
Sedikit.
Aluna menatapnya.
Masih ragu.
“saya tidak meminta kamu untuk sempurna.”
Kalimat itu keluar pelan.
Namun jelas.
Zayn berdiri perlahan.
Masih memegang buket bunga itu.
Masih menatapnya.
“Saya hanya meminta kamu… untuk memberi kesempatan.”
Tangan Zayn terulur.
Bukan memaksa.
Tapi menunggu.
“Berdansa denganku.”
Hening lagi.
Namun kali ini—
Berbeda.
Tatapan Aluna bergetar sedikit.
Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tarian.
Di sekitar mereka
Kamera mulai lebih banyak terangkat.
Bisikan berubah menjadi gumaman kagum.
“Ini gila…”
“Dia benar-benar melakukannya…”
“Ini pasti masuk berita besok.”
Dan memang
Momen itu terlalu besar untuk dilewatkan.
Zayn tahu.
Ia sadar sepenuhnya.
Apa yang ia lakukan malam ini
Akan menjadi sorotan.
Akan dibicarakan.
Akan menyebar.
Dan entah bagaimana—
Satu nama terlintas di benaknya.
Selena.
Rahangnya mengeras sedikit.
Ia belum tahu bagaimana reaksi wanita itu nanti.
Belum tahu apa yang akan terjadi setelah ini tersebar.
Namun
Untuk pertama kalinya
Ia tidak menjadikannya prioritas.
Karena saat ini
Yang ada di depannya
Lebih nyata.
Aluna.
Dengan segala kepolosannya.
Dengan segala ketidaksempurnaannya.
Dengan segala hal yang tidak pernah cocok dengan dunianya
Namun entah kenapa
Justru menjadi satu-satunya hal yang tidak bisa ia abaikan malam ini.
Tangan Zayn masih terulur.
Menunggu.
Tidak memaksa.
Tapi juga tidak akan menariknya kembali.
Dan di tengah sorotan semua orang
Di tengah dunia yang selama ini ia kuasai
Zayn Devandra…
Akhirnya belajar satu hal.
Tidak semua hal bisa dikendalikan.
Dan tidak semua orang…
Harus menjadi seperti dirinya.
Apakah menurutmu Aluna akan mengabulkan permintaan Zayn untuk berdansa???
Komentar ya, terimakasih