NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit yang penuh dengan obrolan ringan dan kenyamanan, mobil akhirnya memasuki sebuah gerbang besar yang sangat megah dan kokoh. Gerbang itu terbuka otomatis dengan mulus begitu mobil mendekat, seolah menyambut kedatangan tuannya dengan hormat.

Pemandangan yang terlihat di depan mata Aira sungguh membuatnya takjub dan terpana tak bisa berkata-kata.

Sebuah rumah tinggal bergaya modern minimalis yang sangat luas, megah, namun tetap terlihat sangat rapi, bersih, dan elegan. Bangunannya tidak terlalu tinggi, namun terlihat sangat lebar dan memakan lahan yang sangat luas. Cat rumah berwarna putih bersih dipadukan dengan ornamen kayu cokelat muda yang memberikan kesan hangat namun mewah.

Taman di halaman depannya sangat luas dengan rumput hijau yang terawat sangat rapi, ditambah dengan berbagai jenis bunga berwarna-warni yang ditata dengan indah, menciptakan pemandangan yang sangat menyejukkan mata dan hati.

“Wah… indah sekali, Mas…” gumam Aira pelan takjub, matanya berbinar-binar melihat keindahan itu. “Besar dan megah sekali rumahnya.”

Elvano tersenyum kecil mendengar kekaguman istrinya. “Rumah ini memang didesain agar nyaman untuk ditinggali. Yuk, kita masuk.”

Mobil berhenti tepat di depan teras rumah yang luas dan beratap tinggi. Belum sempat Elvano mematikan mesin dan membuka pintu, pintu utama rumah itu sudah terbuka lebar dengan cepat.

Dari kejauhan, datanglah dua orang sosok dengan wajah yang ramah, senyum lebar, dan sikap yang sangat sopan. Seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat rapi, bersih, dan memakai baju seragam rumah tangga yang rapi. Dan seorang pria berkacamata yang tampak sangat sigap, cekatan, dan berwibawa.

Itu adalah Bibi Asih, kepala pembantu yang sudah mengurus rumah ini bertahun-tahun, dan Pak Budi, asisten pribadi kepercayaan Elvano.

“Selamat datang, Tuan Muda! Selamat datang, Non Aira!” seru mereka berdua secara bersamaan dengan suara yang penuh dengan semangat dan sukacita.

Elvano turun dari mobil dengan langkah yang gagah dan santai. Ia mengunci mobil, lalu berjalan memutar ke sisi lain untuk membukakan pintu bagi istrinya. Seorang gentleman sejati.

“Terima kasih, Bi, Bud,” jawab Elvano singkat namun ramah. Ia lalu menoleh ke arah Aira yang baru saja turun dengan langkah pelan dan masih terlihat sedikit gugup. “Masuk, Ra. Ini rumah kita.”

Bibi Asih langsung mendekat dengan antusiasme yang sangat tinggi. Ia memegang kedua tangan Aira dengan hangat dan lembut.

“Ya ampun… ini ya Non Aira yang cantik itu? Subhanallah… cantiknya luar biasa! Manis lagi, baik banget kelihatannya!” puji Bibi Asih tak henti-hentinya dengan wajah yang berseri-seri. “Bibi sudah nunggu lamaaa sekali lho, akhirnya Tuan Muda bawa istri pulang. Rumah ini rasanya sepi banget, kaku banget, kalau gak ada wanita yang menghuni dan memberi warna. Sekarang rasanya beda saja suasananya!”

Aira tersenyum malu-malu namun sangat ramah dan tulus. “Te… terima kasih banyak pujiannya, Bibi. Aira juga senang sekali akhirnya bisa ketemu Bibi sama Pak Budi. Mohon bantuannya ya ke depannya.”

“Sama-sama Non. Sama-sama,” sahut Bibi Asih senang.

“Saya Pak Budi, Non,” sapa pria berkacamata itu sambil membungkuk sedikit sopan. “Selamat datang di rumah. Mulai sekarang, Non Aira adalah bosnya Bibi Asih dan saya juga lho. Kalau butuh apa-apa, kurang apa, tinggal perintah saja. Kami siap melayani Non dengan sebaik mungkin.”

“Ah bukan begitu maksud Aira, Pak,” jawab Aira cepat dengan nada yang lembut. “Aira harap kita bisa bekerja sama dengan baik, akrab, dan hidup seperti keluarga besar saja ya. Tidak usah terlalu formal atau sungkan-sungkan.”

Mendengar jawaban yang sehalus dan selembut sutra itu, ditambah dengan sikap rendah hati yang luar biasa, Bibi Asih dan Pak Budi langsung tersenyum lebar dan saling pandang satu sama lain. Hati mereka langsung jatuh cinta pada majikannya yang baru ini.

Bagus sekali budinya, tidak sombong, halus bahasanya, tidak merendahkan orang lain. Tuan Muda benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti ini, batin mereka berdua serempak.

“Yuk, aku ajak keliling rumah biar kamu cepat hafal jalan dan tidak tersesat,” ajak Elvano tiba-tiba, suaranya lembut sambil menunjuk ke arah dalam rumah.

“Iya Mas, ayo.” jawab Aira antusias.

Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah yang sangat luas itu. Elvano berjalan di depan sedikit sebagai pemandu, sesekali menoleh ke belakang memastikan Aira mengikuti dan tidak ketinggalan atau takut.

“Ini ruang tamu utama. Ruangan ini biasanya dipakai kalau ada tamu penting, rekan bisnis, atau acara resmi. Kalau kita sekeluarga mau santai atau nonton TV, biasanya pakai ruang keluarga yang ada di bagian belakang sana, lebih cozy dan hangat,” jelas Elvano.

“Besarrr sekali…” Aira menganga tak percaya melihat luasnya ruangan itu. Lantainya mengkilap memantulkan cahaya lampu, perabotannya mewah dan mahal, desain interiornya sangat elegan dan berkelas. “Rasanya Aira kecil sekali di sini ya, Mas.”

Elvano tertawa kecil mendengarnya. “Nanti lama-lama juga terbiasa kok.”

Mereka berjalan terus menuju bagian belakang. “Nah ini dapurnya. Besar kan?” tunjuk Elvano.

“Wah iya Mas! Luas banget!” mata Aira berbinar-binar melihat dapur yang sangat bersih, rapi, dan peralatannya lengkap semua, mulai dari peralatan masak modern sampai perabotannya yang terlihat sangat mahal. “Peralatannya lengkap sekali.”

“Iya Non Aira,” sahut Bibi Asih yang ikut berjalan di belakang. “Kalau Non mau masak apa-apa, Bibi siap bantu kapan saja. Atau Non Aira mau masak sendiri juga bebas banget kok, dapurnya terbuka buat Non.”

“Aira suka banget masak lho, Bi!” jawab Aira ceria. “Nanti kalau sudah biasa, Aira coba masakin Bibi sama Pak Budi dan Mas Elvano ya masakan rumahan. Siapa tahu cocok di lidah.”

“Alhamdulillah! Senang sekali dengarnya, Non! Pasti enak banget itu!” sahut Bibi Asih makin sayang pada majikannya ini.

Setelah puas melihat bagian bawah, mereka pun naik ke lantai dua menggunakan tangga yang lebar dan mewah. Di lantai dua, suasana terasa lebih privat dan tenang.

Elvano berhenti tepat di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat tua yang terlihat sangat kokoh dan mewah.

“Ini kamar utama kita, Ra,” ucap Elvano pelan, suaranya terdengar sedikit lebih lembut dan intim.

Ia memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka lebar.

Mata Aira kembali terbelalak takjub. Kamar itu sangat luas dan di dominasi warna putih dan abu-abu gelap membuat kamar terlihat sangat luas, bersih, lapang, dan sangat maskulin namun tetap elegan.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang king size yang sangat besar dengan seprai berwarna putih bersih yang terlihat sangat empuk dan nyaman. Di sisi kiri dan kanan, terdapat lemari pakaian built-in yang sangat panjang menempel di dinding, serta meja rias yang cantik dan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman belakang yang asri.

“Wah… kamarnya luas dan adem sekali, Mas,” bisik Aira takjub, matanya memandang ke sekeliling dengan penuh kekaguman. “Sinar mataharinya masuk bagus sekali, jadi tidak gelap.”

“Iya,” jawab Elvano singkat. “Lemari sebelah kiri itu sudah aku kosongkan separuh isinya khusus buat baju-baju kamu. Taruh saja di sana sesukamu, atur sendiri sesuai selera kamu biar nyaman.”

Aira menoleh ke arah suaminya dengan wajah yang berseri-seri. “Makasih banyak ya, Mas. Mas Elvano perhatian sekali sudah siapkan tempat buat baju Aira. Aira kira nanti harus minta sendiri atau cari tempat kosong.”

“Tentu saja harus aku siapkan,” jawab Elvano santai namun tegas. “Itu kan sudah jadi kewajiban aku sebagai suami buat nyiapin segalanya buat istri aku. Yuk, mulai rapikan barangnya pelan-pelan saja.”

Siang harinya, setelah berkeliling dan sedikit beristirahat, suara perut Aira ternyata sudah berbunyi minta diisi. Mereka pun berjalan menuju ruang makan yang tidak kalah megahnya dengan ruangan lainnya.

Meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati pilihan yang sangat kokoh sudah tertata rapi, dengan piring-piring cantik dan peralatan makan yang bersih mengkilap.

Bibi Asih dengan sigap menyajikan menu masakan rumah yang sangat lezat dan menggugah selera. Ada ayam goreng lengkuas, sayur asem, sambal terasi, dan tahu tempe goreng yang masih hangat mengepul. Wanginya semerbak memenuhi ruangan.

“Silakan dimakan ya, Non Aira. Masakan Bibi seadanya saja nih, semoga cocok di lidah Non ya,” kata Bibi Asih sambil berdiri di samping dengan senyum yang ramah, siap melayani jika ada yang kurang.

“Wah, kelihatannya enak banget! Aira jadi lapar nih melihatnya,” jawab Aira ceria. Wajahnya berseri-seri melihat makanan rumahan yang begitu menggoda selera.

Ia pun mulai mengambil nasi dan lauk dengan gerakan yang sopan dan anggun. Elvano duduk tepat di hadapan Aira, matanya tak lepas memperhatikan istrinya makan dengan lahap.

“Enak?” tanya Elvano sambil menyuap makanannya, suaranya terdengar santai dan akrab.

“Enak banget, Mas!” jawab Aira dengan mata yang berbinar, mulutnya masih mengunyah dengan sopan. “Bumbunya pas banget, gurih gitu, dan ayamnya empuk. Enak sekali masakan Bibi.”

“Itu karena Bibi Asih memang jago masak. Sudah bertahun-tahun masakin aku,” balas Elvano santai, lalu ia menatap Aira dalam-dalam. “Tapi nanti kalau kamu yang masak, aku yakin pasti jauh lebih enak lagi rasanya.”

Aira tersenyum lebar mendengar pujian itu, wajahnya memerah menahan malu yang bercampur bahagia. “Aira bakal berusaha semampu Aira masak yang terbaik buat Mas Elvano dan keluarga di sini.”

Di sudut ruangan, di dekat pintu masuk, Pak Budi dan Bibi Asih yang berdiri menunggu instruksi saling mengedipkan mata dan tersenyum lebar satu sama lain.

Gokil banget sih ini, batin Pak Budi sambil menggeleng kepala takjub. Bos yang biasanya kaku, dingin, wajahnya datar kayak patung, dan makan tanpa bicara sepatah kata pun, sekarang bisa ngobrol santai, senyum-senyum sendiri, dan bahkan memuji-muji istrinya! Berubah total nih bos!

“Non Aira ini baik banget ya, Bud,” bisik Bibi Asih pelan sekali pada Pak Budi, suaranya penuh suka cita. “Sopan, ramah, gak angkuh sama sekali, rendah hati pula. Cocok banget pasangan sama Tuan Muda. Rumah ini rasanya jadi beda aja suasananya sekarang. Lebih hidup, lebih hangat, kayak ada nyawanya gitu.”

“Iya betul sekali Bi,” jawab Pak Budi pelan setuju. “Dari tadi kedengeran ketawa dan ngobrol terus. Dulu mah sepi banget di sini, sunyi kayak di kuburan gak ada suara. Alhamdulillah sekarang sudah ada yang nemenin Tuan Muda.”

Mereka berdua benar-benar merasa lega dan bahagia melihat majikannya akhirnya menemukan kebahagiaan dan pendamping hidup yang begitu baik hati.

Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat dan cahayanya menjadi keemasan yang hangat, Aira mulai sibuk mengeluarkan barang-barangnya dari koper-koper dan tas-tas yang dibawanya dari rumah orang tua.

Ia dengan teliti merapikan baju-baju, buku-buku atau bacaan, dan barang-barang pribadinya ke dalam lemari dan meja rias yang sudah disediakan. Wajahnya tampak serius namun sangat cantik saat sedang fokus bekerja.

Di sisi lain ruangan, Elvano duduk santai di sofa sudut kamar sambil membalas beberapa email penting di laptopnya. Namun sesekali, matanya akan otomatis melirik ke arah istrinya yang sedang sibuk bergerak kesana kemari itu.

Melihat Aira yang begitu rajin, bersih, dan rapi membuat hati Elvano terasa sangat damai dan hangat. Rasanya kamar yang dulu terasa begitu besar dan sepi ini kini terasa penuh dan berwarna.

“Pelan-pelan saja rapiinnya, Ra,” tegur Elvano lembut tanpa memalingkan wajah dari laptopnya. “Jangan buru-buru, nanti malah capek dan pusing sendiri. Masih banyak waktu kok.”

“Iya Mas, makasih ya,” jawab Aira sambil tersenyum manis ke arah suaminya. “Sebentar lagi selesai kok, tinggal sedikit lagi nih.”

Tiba-tiba saja Aira menemui kesulitan. Ia ingin menggantungkan beberapa baju yang agak panjang ke gantungan baju yang ada di bagian paling atas lemari. Posisi gantungan itu cukup tinggi, melebihi tinggi badan Aira yang mungil.

Aira berjinjit setinggi mungkin, tangannya meraih-raih ke atas, tapi ujung jarinya saja yang bisa menyentuh gantungan itu, belum cukup untuk meletakkan bajunya dengan rapi.

“Hmm… kok tinggi banget sih…” gumamnya pelan, kesal pada diri sendiri, wajahnya sedikit memincing karena berusaha keras.

“Belum nyampek ya?”

Suara berat Elvano terdengar tepat di sebelahnya. Aira tersentak kaget dan menoleh, ia tidak sadar kalau suaminya sudah berdiri di sampingnya sejak tadi.

“Iya Mas, kependean tangan Aira… tinggi banget gantungannya,” jawab Aira sedikit cemberut lucu.

Elvano tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Dengan santai dan mudahnya, tangannya yang panjang dan kekar terulang ke atas, meraih gantungan baju itu dengan satu kali gerakan cepat.

Ia mengambil baju dari tangan Aira, lalu menggantungkannya dengan rapi dan mudah di tempat yang tinggi itu.

“Nah, udah kan?” ucap Elvano sambil menoleh ke arah Aira, wajahnya sangat dekat sekarang.

“Makasih ya, Mas.” Aira mengangguk cepat, lalu ia spontan mundur sedikit memberi jalan agar Elvano bisa lewat di depannya yang sempit itu. “Maaf ya ganggu, Mas kan lagi sibuk kerja.”

“Enggak ganggu sama sekali,” jawab Elvano santai, ia tidak langsung pergi, melainkan berdiri diam menatap wajah istrinya yang manis itu. “Lagipula membantu istri itu adalah kewajiban dan kesenangan aku. Jadi jangan sungkan minta tolong.”

Setelah mengatakan itu, Elvano pun kembali duduk di sofa, namun matanya tetap mengawasi Aira dengan perasaan hangat yang membuncah di dada. Ada rasa bangga dan sayang yang mulai tumbuh semakin besar setiap detiknya.

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!