Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Vair membeku, dia menghentikan pukulan didada Mafia. Menatap wajah yang selalu menampakan wajah datar dengan perasaan tidak menentu.
"Apa maksud kamu Mafia?"
"Bunuh aku."
Vair menggeleng. "Nggak!"
"Kenapa? Nyawa bayar dengan nyawa. Jadi ayo, bunuh aku seperti aku membunuh adikmu," Mafia menatap Vair dengan serius.
"Tapi sebelum kamu bunuh aku. Ada hal yang ingin aku katakan padamu."
"Apa itu?"
Mafia menggenggam kedua telapak tangan Vair, menciumnya lalu menempelkannya didada. Perbuatan ini membuat Vair tertegun. Debar itu kembali hadir seperti kala itu, dimana Vair mencium Mafia pertama kalinya. Vair menunduk dia merasa tidak sanggup menatap mata jernih tajam tapi menyejukkan itu.
"Aku mencintaimu..."
Vair mendongak cepat, menatap Mafia seksama. "Apa?" napas Vair terasa berhenti. "Nggak mungkin."
"Kenapa nggak mungkin? Bukankah cinta nggak pandang apapun?"
Vair menunduk menarik paksa tangan yang masih Mafia genggam. Jantungnya berdetak kencang, Vair sampai kesulitan mengendalikannya. Vair yakin tadi dia hanya salah dengar.
Mafia nggak cinta sama aku, dia cuma sedang mabuk atau mungkin lagi demam.
Buru buru Vair menyentuh kening Mafia, membuat kernyitan tipis muncul dikening itu. Vair bisa merasakannya tapi kening Mafia tidak panas em kemungkinan dia lagi mabuk
"Kamu mabuk Mafia?"
"Enggak. Aku baik-baik saja. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Maksud kamu?"
"Aku benar-benar mencintai kamu Vair, menikahlah denganku. Aku ingin kamu jadi milikku selamanya, didunia ini ataupun didunia lain, sekali lagi aku katakan, Aku mencintai mu,"
"Mafia ak---"
"Jawaban mu cukup iya atau tidak. Jadi... jawaban mu adalah?"
Vair diam, dia tidak mungkin menerima Mafia yang sudah membunuh adiknya. Bahkan setelah bertemu Vari, Vair masih berniat untuk mencari pembunuh kedua orangtuanya yang Vair tahu pembunuh keji itu memakai gelang warna merah bergambar tengkorak biru.
Vair menggeleng. "Maaf Mafi---"
"Iya atau tidak?"
"Mafia aku," Vair menggeleng. "Tidak."
Rahang Mafia mengeras kedua tangannya terkepal kuat tatapannya tajam seperti pisau yang siap menusuk apa saja dan siapa saja.
"Aku masih harus cari pembunuh orang tua ku. Makanya aku menolak."
Mafia terperangah mendengar alasan Vair menolaknya. "Hanya itu alasannya?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Aku belum tenang jika pembunuh keji itu belum mendapat balasan setimpal dari aku."
"Lalu jika kamu sudah menemukannya apa yang akan kamu lakukan?"
"Membuat dia sengsara, menderita lebih dari apa yang aku rasakan." kedua mata Vair berkobar terlihat begitu besar dendamnya. "Aku menderita karena hidup sendirian. Aku makan makanan sisa orang orang demi bertahan hidup. Menahan cacian makian dari orang orang. Bahkan aku beberapa kali akan di lecehkan oleh beberapa orang. Aku benar benar di buat menderita olehnya bertahun tahun..."
Air mata tidak bisa Vair tahan, mengucur deras di kedua pipinya. Tanpa Vair tahu ada orang yang saat ini menahan nyeri di ulu hati. Rasa bersalah menggerogoti hatinya. Kedua lututnya gemetar. Wajah yang selalu datar bengis itu berubah pias. Tak sengaja Mafia membuat wanita yang dia cintainya menderita terpuruk di luaran sana bertahun tahun lamanya demi keegoisannya ingin memilikinya.
Lalu apa yang akan Mafia lakukan jika Vair tahu dirinyalah yang membunuh kedua orang tuanya? masihkan Vair mau menatapnya? Rela kah jika Vair membencinya?
"Tidak!"
"Tidak Vair!"
"Aku minta maaf!"
"Maafkan aku. Aku yang salah, maaf, maafkan aku, aku egois." Mafia bertekuk lutut di depan Vair bahkan dia mencium kedua kaki Vair.
Melihat apa yang mafia lakukan, vair kebingungan. Merasa bermimpi melihat sisi Mafia yang lain. "Mafia, kamu ini kenapa? Kenapa minta maaf sama aku. hei bangun! ayo berdiri."
"Nggak!"
"Ayo bangun!"
"Vair maaf."
"Maaf untuk apa?"
"Aku yang bunuh orang tua kamu,"
Sekujur tubuh Vair menegang, bagai tersayat belati tajam, hatinya terasa perih. Vair mundur menatap Mafia yang punggungnya bergetar hebat.
"Mafia. Apa kamu sadar sama apa yang kamu katakan barusan?" wajah Vair tak berekspresi pandangannya kosong seluruh persendian terasa lepas dari tulang belulangnya. Vair jatuh terduduk di lantai perlahan air mata keluar tanpa henti.
"Kamu tega Mafia. KAMU TEGA...!!" Vair meneriaki Mafia yang masih saja menunduk penuh sesal. Sesal yang sudah terlambat dan percuma.
"Aku benci kamu! BENCI...!"
"Arghhh...!"
Vair berdiri dan keluar dari sana dengan tangis yang menguasai. Haru dan Kasim yang berjaga di luar rumah besar itu masih dengan wajah babak belur mencegat Vair saat melihat wanita itu akan keluar dari rumah.
"Nona ja----"
"AWAS KAMU...!!"
"Vair tolong jangan pergi..." di belakang sana Mafia berdiri sudah dengan pakaian lengkap. Dia berjalan mendekati Vair dan memeluknya dari belakang. Tidak peduli vair menolak dan memberontak. Mafia menggendongnya seperti karung beras dan membawanya lagi ke kamar.
Brrrak
Dentuman keras pintu kamar yang mafia tutup membuat Haru dan Kasim meneguk ludah. Mereka berdua sudah dewasa mereka sudah menebak akan yang terjadi selanjutnya di dalam kamar itu.
"Sim, aku jadi kepingin pulang."
"Lah? Kenapa?"
"Jadi pengen kaya tuan mafia juga."
Kasim menepuk jidatnya. "Alamaaakkk Haruuu....sudah sudah ayo lanjut jaga aja."
"Bik...bibik....!"
Suara teriakan Mafia dari depan pintu kamar membuat yang di panggil begegas datang. Bibik yang sedang merebus singkong terpaksa meninggalkan aktivitasnya. Haru dan Kasim yang mendengar meringis ngilu membayangkan apa yang baru saja tuannya lakukan.
"Iya tuan?"
"Belikan baju wanita, cepat!"
Bibik bingung. "Untuk siapa tuan di sini ka---"
"Jangan banyak tanya atau bibik saya pec---"
"Iya iya. Iya tuan, bibik akan belikan."
"Ini uangnya."
"Siap. Saya permisi tuan," bibik undur diri segera menuju ke pasar sesuai perintah tuannya untuk membeli pakaian wanita.
Saat melewati dua orang yang tidak terpisahkan Bibik melirik kesal. "Apa liat liat?!" galaknya membuat Haru dan Kasim terkejut. Baru kali ini dengar bibik segalak itu.
"Bibik mau kemana?" Kasim bertanya.
"Itu tuan Mafia minta di belikan pakaian wanita. Memangnya sejak kapan tuan suka pakaian wanita? Kalian berdua tahu sesuatu?"
"Nggak tahu apa apa. Makanya ini aku nannya sama bibik."
Bibik mendekat pada Haru dan Kasim. Mencodongkan tubuh pada mereka lalu bekata, "Jangan jangan tuan Mafia jadi tulang lunak ya?" Bibik berbisik sangat pelan karena tidak mau tuannya sampai mendengar. Bisa bahaya kalau tuannya mendengar ucapannya. Bisa bisa bibik di lemparkan ke kandang buaya untuk santapan mereka. Aduh seram sekaliii....
"Hus! Bibik jangan ngawur begitu. kalau tuan dengar kita bisa di hukum." sergah Haru. "Di dalam sana ada nona Vair."
"Hah?!" bibik terkejut bukan main mendengar fakta baru ini. "Kapan nona Vair datang? Kok aku tidak tahu?"
"BIBIIIKKK... CEPAAATTTT....!!!"