NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan Muda

Pukul 12.00

Seluruh rangkaian acara berjalan mulus bagi semua orang, kecuali bagi Myra. Gadis itu sibuk menghindar bak tengah bermain petak umpet yang melelahkan. Berjam-jam ia berpindah tempat hanya demi menjauh dari seorang pria yang terus mengekorinya. Myra bahkan terpaksa melewatkan sesi evaluasi tim di akhir acara demi memastikan dirinya bisa menghilang tanpa jejak.

Tap... tap... tap...

Langkah kakinya menggema cepat di lorong gedung. Myra setengah berlari, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan pembatas gedung tetap kosong. Tak ada tanda-tanda pengejar.

Duk!

"Aduh!" Myra memekik. Akibat terlalu sibuk waspada ke arah belakang, ia tak menyadari seseorang berdiri tepat di jalannya. Wajahnya menghantam dada bidang seorang pria.

Aroma mint yang samar segera menyerbu indra penciumannya. Myra mundur beberapa langkah, siap melontarkan protes, namun urung saat menatap paras asing di hadapannya. Pria itu menatapnya datar, dengan lengkung tipis di ujung bibir yang tampak dipaksakan.

"Halo, Nona Myra," sapa pria itu dingin.

"Siapa lagi pria bodoh ini? Apa dia juga berniat menggodaku?" batin Myra sambil mengernyit. Ia mulai membandingkan tatapan beku pria ini dengan senyum ramah, meski menyebalkan, milik Rafan.

"Sial! Kenapa aku malah memikirkan pria mesum itu?"

"Hei, tatapan apa itu? Aku membenci sorot mata dinginmu," celetuk pria itu tanpa ragu. Ia mengulurkan telunjuk, menekan titik di antara kedua alis Myra yang berkerut.

"Hei! Jauhkan jari kotormu dari wajahku---" Kalimat Myra terputus. Matanya membulat saat menangkap kilasan benda di pergelangan tangan pria itu.

Refleks, Myra meraih tangan kekar tersebut, mengamati gelang tali hitam bersimpul yang melingkar di sana. Dadanya berdesir. "Ini... seperti gelang yang kubuat untuk---"

"Yosep?" Myra mendongak dengan raut penuh tanya.

Pria itu diam, bibirnya terkatup rapat, namun ia memberikan jawaban melalui kedipan sebelah mata yang kaku. Myra tak kuasa menahan senyum. Ia benar-benar terkejut melihat sosok yang tak pernah ia sangka akan muncul di sini.

"Bagaimana kamu bisa ke sini?! Sendirian? Tanpa pengawal?" bisik Myra panik sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Oh, ayolah. Aku bukan Yosep yang dulu. Aku tidak butuh Gelda dan teman-temannya," jawabnya angkuh.

"Lalu apa tadi itu? Kamu mengedipkan mata padaku! Sejak kapan kamu belajar melakukan itu?" Myra tertawa kecil, menirukan gaya Yosep yang terasa asing. "Tersenyum, menyapa... itu bukan gayamu."

"Aku pikir kamu menyukai hal-hal seperti itu," Yosep mengedikkan bahu. "Selama perjalanan ke sini, aku mempelajari perilaku pria-pria di tempat ini. Cara mereka bicara dan memperlakukan gadis."

Myra menggeleng pelan, "Tapi kamu aktor yang buruk, Yosep. Itu sama sekali tidak cocok untukmu."

"Apa?!"

"Maksudku... ekspresi dingin dan angkuh jauh lebih pantas di wajah tampanmu," gumam Myra lirih sambil menggigit bibir, berharap pria itu tidak tersinggung.

Yosep tertegun sejenak. "Oke... akan kuanggap itu sebagai pujian."

Drap... drap... drap...

Suasana hangat itu pecah oleh suara langkah kaki yang tergesa. Rafan muncul dengan wajah panik, menoleh ke sana-kemari seperti kehilangan barang berharga.

"Di mana Myra? Aku tidak melihatnya saat evaluasi tadi," gerutu Rafan. Langkahnya mendadak terhenti. Matanya memanas melihat pemandangan di depannya, Myra berada dalam jarak yang sangat dekat dengan pria asing.

Hati Rafan terasa diremas saat melihat pria tinggi itu mendaratkan kecupan singkat di kening Myra.

"Sial! Pria itu benar-benar tak tahu diri!" geram Rafan. Amarahnya membakar sisa-sisa rasa sedihnya. Tanpa pikir panjang, ia berlari mengejar mereka yang mulai bergerak menuju mobil putih di tepi jalan.

"Myra!" teriaknya lantang.

Kedua orang itu menoleh serentak. Myra membelalak, jantungnya seakan merosot ke perut. "Sial! Kenapa dia selalu bisa menemukanku?"

"Siapa dia?" Yosep mengerutkan alis, tatapannya seketika berubah sedingin es.

"Entahlah. Aku tidak kenal," bohong Myra, mencoba bersikap acuh.

"Benarkah? Kalau begitu biarkan aku yang mengurusnya. Kamu diam di sini." Yosep melingkarkan lengan di pinggang Myra, menariknya mendekat dengan posesif. "Kamu tidak keberatan, kan?"

"Hm, tentu saja tidak," sahut Myra dengan senyum dipaksakan, meski dalam hati ia cemas memikirkan sisi bengis Yosep yang bisa meledak kapan saja.

Rafan tiba di hadapan mereka dengan napas memburu. Matanya tertuju pada tangan Yosep yang melingkar di pinggang Myra.

Yosep menatap Rafan dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Hei, siapa kamu?"

Keduanya saling melempar tatapan tajam, mengukur kekuatan lawan. Rafan memperhatikan detail wajah Yosep, hidung mancung, jenggot tipis yang rapi, dan aura orang kaya yang kental. Ia sempat merasa minder, sampai menyadari sesuatu.

"Huh, aku lebih tinggi tiga senti dari pria ini. Wajahku juga tampak lebih muda," batin Rafan sombong. "Kamu terlalu tua untuk Myra, Pak Tua."

"Sial, beraninya mengabaikanku! Apa kamu tuli?!" bentak Yosep yang mulai habis kesabaran.

Rafan tiba-tiba mengubah raut wajahnya menjadi polos, meniru ekspresi para penggemar fanatik yang ia lihat tadi pagi. Ia merogoh kantong plastiknya dan menyodorkan sebuah buku.

"Aku... aku hanya salah satu penggemar yang ingin meminta foto dan tanda tangan," ucap Rafan dengan suara memelas. "Aku menghabiskan banyak uang untuk buku ini. Tolong, biarkan penulis terkenal ini memberikan tanda tangannya."

Yosep mendengus. Ingin rasanya ia memukul pria di depannya ini, namun ia teringat karier Myra. Ia tahu betapa kerasnya Myra bekerja sebagai penulis. Meski kesal, Yosep memilih mengalah demi reputasi gadisnya.

Yosep berbalik, mendekati Myra yang masih terpaku. "Cepatlah ke sana dan temui dia."

"Apa?!" Myra nyaris tersedak. "Kamu menyuruhku menemuinya?"

"Dia merengek meminta tanda tangan. Aku ingin sekali menghajarnya, tapi itu akan buruk bagi kariermu," bisik Yosep.

Myra menggeram dalam hati. "Dasar Yosep bodoh! Bisa-bisanya ketipu."

Dengan langkah berat, Myra menghampiri Rafan yang kini memasang senyum kemenangan. "Apalagi yang kamu mau?" desis Myra melalui sela giginya.

"Tanda tangan," jawab Rafan santai sambil menyodorkan buku.

Myra merampas buku itu dan mengeluarkan pulpen dari saku. Namun, gerakannya terhenti. Matanya membelalak menatap sampul buku di tangannya. Ia mendongak, menatap Rafan dengan amarah yang meledak-ledak.

"Buku karya siapa yang kamu bawa kepadaku?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!