NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baku Tembak

“Bajingan…” desis Esmond, ludahnya berhamburan. “Aku bakal bunuh kamu!”

Dia bangkit dengan goyah dan menerjang seperti orang gila. Raymon mengarahkan pistol ke kepalanya dan menarik pelatuk.

DOORR

Tubuh Esmond ambruk ke lantai. Darah mengalir di sekitar kepalanya.

“Kesempatan kamu udah habis,” kata Raymon dingin.

Raymon berdiri dan berjalan menuju pintu, ketika ponsel Esmond berdering. Dia sempat ragu untuk mengabaikannya, tapi akhirnya berjongkok dan mengambilnya, meski lututnya berdenyut sakit.

Nomor tak dikenal.

Raymon mengangkat panggilan itu.

“Aku udah nemuin dia,” kata suara di seberang. “Siapin transfernya.”

Sambungan pun terputus.

...***...

“Kamu yakin?” Gwen menatap vas yang sedang dia pegang. “Ini jelek banget. Aku yakin mereka bakal suka sih, tapi harganya lebih mahal dari mobil.”

“Presiden bilang harus yang besar,” jawab Whitman sambil mengangkat bahu di belakangnya. "Aku tanyain aja kalau ada yang lebih besar lagi.”

Gwen menoleh ke pramuniaga. Dia merasa kewalahan melihat semua dekorasi mewah di sekelilingnya. Rasanya tidak nyaman mengetahui barang termurah di tempat ini saja harganya sudah fantastis. Sebenarnya ada banyak pilihan hadiah pernikahan yang lebih masuk akal, tapi entah kenapa Raymon bersikeras menyuruhnya datang ke Chicago dan memilih sesuatu dari toko ini.

Semuanya terasa berlebihan. Dari kandil emas sampai patung David ukuran asli. Melihatnya saja membuat Gwen merinding. Selera orang memang aneh-aneh.

Dia berjalan melewati lemari kaca tinggi berisi set gelas kristal, ketika tiba-tiba terdengar suara tembakan memecah udara.

Kaca itu meledak dan jatuh ke lantai, pecah menjadi ribuan serpihan kecil yang berhamburan ke mana-mana.

Orang-orang mulai berteriak.

Tangan seseorang mencengkeram pinggang Gwen dan menariknya ke bawah. Dalam sekejap, Whitman sudah berada di atasnya, melindunginya sambil menyeretnya ke arah belakang toko.

Tembakan lain terdengar. Gwen tersandung dan mengulurkan tangan untuk menahan diri agar tidak menghantam lantai. Rasa perih langsung menyambar telapak tangannya.

Whitman terus menariknya menuju pintu darurat sambil berteriak ke telepon di tangannya.

Mereka menerobos keluar ke gang tepat saat sebuah mobil membelok cepat. Ban berdecit saat mobil itu berhenti mendadak.

Whitman langsung mendorong Gwen kembali ke dalam, merogoh jaketnya, dan mengeluarkan pistol.

Dua tembakan terdengar hampir bersamaan.

“Di situ aja,” katanya tanpa menoleh, lalu menghilang dari pandangan.

Beberapa detik kemudian, terdengar satu tembakan lagi.

Gwen tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini tembakan acak atau memang ada yang mencoba membunuh mereka?

Dia harus tetap di sini atau kembali masuk?

Atau keluar mencari Whitman?

Dia terlalu takut sampai tidak yakin bisa bergerak, bahkan kalau dia tahu harus ke mana.

Tatapannya jatuh ke tangan kirinya. Sebuah pecahan kaca besar menancap setengah di telapak tangannya, darah mulai menggenang di sekitarnya.

Sakitnya luar biasa.

Langkah kaki terdengar dari arah gang, cepat. Gwen menahan napas, menunggu siapa yang muncul.

Whitman muncul, langsung menggenggam tangannya dan menariknya berlari menyusuri jalan.

Sekilas Gwen menoleh ke belakang dan melihat mobil itu. Pintu pengemudi terbuka, dan sebuah tubuh tergeletak tak bergerak di tanah.

Suara sirene terdengar di kejauhan, semakin lama semakin dekat.

Langkah Gwen mulai goyah, tapi Whitman tetap menariknya, berbelok menuju area parkir tempat mobil mereka berada.

Whitman membuka pintu mobil dan hendak mendorong Gwen masuk, tapi tiba-tiba dia melihat tangan Gwen dan bersiul pelan.

“Gwen! Ya Tuhan, kenapa kamu gak bilang dari tadi?”

“Kayaknya itu bukan prioritas barusan,” jawab Gwen sambil mengangkat tangannya. “Dokter yang jahit Dalton bisa nanganin aku juga gak?”

Whitman menatapnya dengan mata melebar, lalu menggeleng sambil menggumam.

“Kita ke rumah sakit. Kalau enggak, Presiden bakal ngamuk.”

“Kayaknya kita emang gak usah mancing emosinya. Belakangan dia lagi sensitif banget. Yaudah, ke sana aja.”

Whitman mendengus pelan, membantu Gwen masuk ke mobil, lalu mereka pun pergi.

...***...

“Terjadi baku tembak, Raymon.”

Raymon menatap Grimm, dan seketika jantungnya terasa berhenti saat panggilan telepon tadi terlintas di kepalanya.

Tidak.

Dia mencengkeram leher Grimm dan menariknya mendekat, wajah mereka nyaris berhadapan.

“Istri aku di mana?” desisnya di sela gigi yang terkatup, menahan diri sekuat mungkin agar tidak langsung mematahkan lehernya.

“Kami belum tahu. Whitman menelepon, bilang ada yang mulai menembak waktu mereka di toko, dan dia lagi bawa Gwen keluar dari sana. Itu lima belas menit lalu. aku gak bisa hubungi dia lagi, teleponnya gak diangkat sejak itu.”

“Yang lain?”

“Cuma Whitman. aku sempat kirim dua orang keamanan buat nyusul, tapi Gwen nolak.”

Rahang Raymon mengeras. Cengkeramannya makin kuat sampai wajah Grimm mulai memerah.

“Kalau ada satu helai rambutnya aja yang kenapa-kenapa, bakal banyak orang yang akan mati,” geramnya. “Dimulai dari kepala keamananku yang berani kirim istri aku cuma sama satu pengawal.”

Dia menatap tajam. “Kamu ngerti, Grimm?”

“Iya, Presiden.”

“Bagus. Sekarang, siapin aku mobil.”

...***...

Gwen hanya mendapat tiga plester kupu-kupu, satu suntikan tetanus, dan sebotol antibiotik. Tidak ada jahitan sama sekali. Perawat bilang dia beruntung dan lain kali harus lebih hati-hati saat mencuci gelas.

Dia mengangkat kepala, mencari Whitman. Semoga pria itu segera datang supaya mereka bisa langsung pulang. Tiba-tiba terdengar suara benturan keras, pintu terbuka, dan suara-suara ribut dari arah lobi masuk.

Gwen sempat berpikir mungkin ada yang dibawa dalam kondisi parah karena teriakannya terdengar sangat kacau. Lalu dia mendengar suara Raymon mengaum.

“Di mana istri akuuuuu!”

Sial. Dia berharap bisa pulang dulu sebelum Raymon tahu apa yang terjadi.

“Itu di luar kenapa ribut banget?” tanya perawat sambil merapikan peralatannya, menoleh ke arah suara.

“Itu suami aku,” jawab Gwen dengan senyum polos. Dia turun dari ranjang periksa dan langsung berlari keluar.

Begitu sampai di resepsionis, dia melihat Raymon berdiri menjulang di depan seorang petugas paruh baya berkepala botak yang gemetar sambil mencoba mengetik.

Tangannya bergetar sampai salah terus menekan tombol. Di dekat situ hanya ada Grimm. Orang-orang lain berdiri menjauh di pinggir, menjaga jarak aman. Whitman muncul dari lorong lain, lalu langsung berhenti saat melihat Raymon yang murka.

“Raymon?” panggil Gwen.

Kepala pria itu langsung menoleh. Dia menarik napas dalam saat melihat Gwen mendekat. Tatapannya turun perlahan dari kepala, menyusuri tubuh Gwen sampai ke ujung kaki, lalu naik lagi. Baru setelah itu dia mengembuskan napas.

Raymon langsung meraih pinggang Gwen dan menariknya keras ke tubuhnya.

“Kamu nggak akan keluar rumah lagi tanpa aku,” bisiknya di telinga Gwen. “Nggak pernah.”

Gwen sempat ingin membantah, tapi dia berubah pikiran. Tubuh Raymon terasa kaku di sampingnya, dan tangan di pinggangnya sedikit gemetar.

Dia memang gila. “Iya, baby. Iya deh. Kita pulang aja, ya?”

Raymon hanya mengangguk, menyerahkan tongkatnya ke Grimm, lalu menggenggam tangan Gwen dan berjalan ke arah keluar. Gwen sempat melirik tangan mereka yang saling menggenggam, lalu mengalihkan pandangan ke mobil di kejauhan. Matanya mulai berkaca-kaca karena bahagia saat dia menyesuaikan langkah dengan Raymon.

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!