NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Suara mesin mobil tua milik Pak Kromo, yang dipinjamkan sebagai rasa terima kasih menderu membelah sunyinya malam di lereng Merapi. Di dalam kabin yang sempit, suasana terasa begitu menyesakkan. Bukan hanya karena penuh dengan empat orang dan barang bawaan, tetapi karena atmosfer di luar mobil yang seolah-olah membeku.

Nirmala duduk di kursi belakang bersama Ibu Lastri. Ia terus menutupi wajah kanannya dengan selendang hitam. Serat kayu di pipinya terasa berdenyut, seirama dengan setiap guncangan mobil. Ia bisa merasakan "keinginan" dari Biji Purba di dadanya untuk menarik semua kehidupan di sekitarnya.

"Arka, jangan melihat ke belakang." bisik Aki yang duduk di kursi penumpang depan.

Arka, yang kini memegang kemudi dengan mata hijau zamrudnya yang menyala di kegelapan, mengangguk kencang. Ia tidak butuh spion untuk tahu apa yang sedang terjadi. Lewat penglihatan energinya, ia melihat ribuan benang kelabu yang merayap di aspal, mencoba membelit ban mobil mereka.

"Mereka tidak berhenti, Aki. Mereka berlari di sela-sela pohon pinus." suara Arka terdengar datar, namun ada nada ketegangan yang nyata.

"Terus pacu mobilnya Ka. Jangan injak rem sebelum kita mencium bau garam." sahut Ibu Lastri sambil memeluk bahu Nirmala yang terasa keras seperti batang pohon. Tiba-tiba...

BRAK!

Sesuatu menghantam atap mobil dengan keras. Atap kaleng mobil itu melesat ke dalam, membentuk cetakan tangan raksasa yang pucat. Nirmala menjerit. Dari sela-sela pintu mobil, mulai merembes cairan hitam yang berbau seperti tanah kuburan yang basah.

"Nirmala... beri... kami... napas..." suara desisan itu terdengar dari atas atap.

"Jangan dengarkan! Itu hanya gema dari rasa lapar mereka!" teriak Aki. Ia mengeluarkan botol berisi air yang sudah dicampur garam laut lama, lalu memercikkannya ke arah langit-langit mobil.

Suara jeritan melengking terdengar dari luar, diikuti oleh suara benda jatuh yang terseret di aspal. Arka membanting stir, menghindari sosok bayangan yang tiba-tiba berdiri di tengah jalan. Sosok itu tampak seperti seorang pria tanpa kepala yang membawa raga anak kecil yang sudah membusuk.

"Nir, tutup matamu! Jangan beri mereka celah lewat batinmu!" Arka berteriak sambil terus memacu mobil melewati jalanan berkelok yang gelap gulita.

————

Setelah dua jam pengejaran yang melelahkan, mobil mereka tiba di pinggiran kota yang sudah sepi. Namun, di sebuah persimpangan lampu merah yang mati, Arka mendadak menginjak rem.

"Kenapa berhenti nak?" tanya Ibu Lastri panik.

"Lihat di depan." Arka menunjuk ke arah jalan raya yang seharusnya menuju ke arah Bantul.

Di tengah jalan, berdiri puluhan orang. Mereka bukan hantu, melainkan penduduk desa yang tampak seperti sedang berjalan dalam tidur (sleepwalking). Mata mereka putih semua, dan mereka berdiri menutup jalan seolah-olah menjadi pagar hidup. Di tengah-tengah mereka, berdiri sosok wanita tua yang tadi dilihat Nirmala di bawah pohon pinus. Ia memegang mawar hitam yang kini sudah mekar sepenuhnya.

"Mereka menyandera manusia hidup untuk menghentikan kita." desis Aki. "Hutan Merapi tidak ingin 'obat'-nya pergi."

Nirmala melihat ke arah orang-orang malang itu. Ia bisa merasakan rasa sakit mereka. Mereka semua sedang dihisap energinya oleh si wanita tua untuk menghalangi jalan Arka.

"Aku harus keluar." kata Nirmala pelan.

"Jangan gila, Nir! Mereka akan mencabikmu!" Arka menahan tangan Nirmala.

"Jika aku tidak menyentuh mereka, mereka akan mati kering, Arka. Wanita itu menggunakan mereka sebagai tumbal untuk menangkapku." Nirmala menatap Arka dengan mata yang kini mulai memiliki semburat hijau di pupilnya. "Percayalah padaku. Biji Purba ini... dia ingin melawan."

Nirmala membuka pintu mobil sebelum Arka sempat melarang. Begitu kakinya menyentuh aspal, tanah di bawahnya bergetar. Serat kayu di pipi dan lengannya bersinar terang, menembus kain bajunya.

Wanita tua itu tertawa, suara yang terdengar seperti dahan kering yang bergesekan. Ia menggerakkan tangannya, memerintahkan kerumunan orang yang terhipnotis itu untuk menyerang Nirmala.

Nirmala tidak lari. Ia justru merentangkan kedua tangannya.

"Ambil apa yang kalian butuhkan, tapi lepaskan mereka!" teriak Nirmala.

Cahaya putih kehijauan meledak dari tubuh Nirmala, lebih terang dari lampu sorot mobil. Namun, ini bukan serangan. Ini adalah pembagian. Nirmala secara paksa menyalurkan energi kehidupan dari Biji Purba di dadanya ke arah puluhan orang itu.

Satu per satu, penduduk desa itu tersadar. Mata putih mereka kembali menjadi hitam. Mereka bingung, ketakutan, dan mulai berlari menjauh dari jalan raya. Wanita tua itu menjerit marah saat "pagar hidupnya" hancur. Ia melompat ke arah Nirmala dengan kuku-kuku hitam yang tajam.

KRAK!

Sebelum kuku itu menyentuh leher Nirmala, sebuah akar raksasa yang tumbuh langsung dari telapak tangan Nirmala melesat dan melilit tubuh wanita tua itu. Akar itu tidak hanya melilit, tapi menyerap habis energi kelabu yang ada di tubuh makhluk tersebut hingga ia lenyap menjadi abu.

Nirmala jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Separuh rambutnya kini berubah warna menjadi putih seperti serat kayu.

Arka segera keluar dan membopong Nirmala masuk ke dalam mobil. "Kita harus pergi sekarang! Energi ini akan memancing sesuatu yang lebih besar lagi!"

———

Menjelang fajar, bau udara berubah. Bau pinus dan tanah gunung digantikan oleh bau amis laut yang tajam dan uap garam yang menusuk hidung. Mereka sampai di kawasan Pantai Parangkusumo.

Deburan ombak besar terdengar menghantam karang, suaranya seperti raungan raksasa yang sedang gelisah. Arka menghentikan mobil tepat di bibir pantai yang berpasir hitam.

Aki turun lebih dulu, membawa keris kecil dan sebuah kendi. "Di sini, pengaruh Merapi tidak akan bisa menjangkau. Air laut selatan adalah racun bagi parasit kayu, tapi ia juga bisa menjadi penyembuh jika digunakan dengan benar."

Nirmala turun dengan dipapah Arka. Ia melihat ke arah laut lepas yang gelap. Di matanya, ombak itu tidak berwarna biru atau hitam, melainkan berwarna perak berkilauan, penuh dengan energi yang dingin dan tenang.

"Nirmala." Aki memanggil. "Kau harus masuk ke dalam air saat ombak pasang menyentuh kakimu. Jangan takut jika kau merasa tenggelam. Laut ini akan mencoba mencuci 'getah' di nadimu."

Ibu Lastri memegang tangan Nirmala, matanya berkaca-kaca. "Berjuanglah, Nak. Kamu sudah menolong banyak orang, sekarang saatnya kamu menolong dirimu sendiri."

Nirmala melangkah menuju air. Begitu kakinya yang mulai keras seperti kayu menyentuh air laut yang dingin dan asin, ia merasakan perih yang luar biasa. Seperti ada ribuan jarum yang menusuk masuk ke dalam pori-porinya.

Kssst...

Uap tipis keluar dari kulitnya saat air garam menyentuh jahitan kayu. Nirmala terus berjalan hingga air mencapai pinggangnya. Tiba-tiba, sebuah ombak besar datang menghantamnya.

Di bawah air yang gelap, Nirmala tidak melihat kegelapan. Ia melihat sosok wanita cantik dengan pakaian serba hijau, namun bukan Nyi Roro Kidul yang biasa digambarkan dalam legenda. Sosok ini lebih purba, dengan mata yang seperti mutiara dan rambut yang menyerupai rumput laut.

Sosok itu menyentuh dada Nirmala, tepat di posisi Biji Purba.

"Biji ini milik daratan, namun akarnya telah meminum terlalu banyak darah." sebuah suara bergema di dalam kepala Nirmala. "Biar laut mendinginkan amarahnya."

Tiba-tiba, rasa sakit itu hilang, berganti dengan rasa dingin yang menenangkan. Nirmala merasa raga kayunya melunak. Jahitan di leher dan pipinya mulai memudar, menyusut kembali ke arah bahunya. Namun, sebagai gantinya, ia merasakan sesuatu yang lain menetap di dalam jiwanya, sebuah janji yang harus ia tepati pada sang penguasa laut.

Nirmala keluar dari air dengan tubuh lemas, namun wajahnya sudah kembali bersih dari kayu. Arka menyambutnya dengan pelukan hangat. Mata hijau zamrud Arka menangkap perubahan itu, aura Nirmala kini tidak lagi murni hijau, melainkan ada semburat biru samudra yang dingin di dalamnya.

"Kau berhasil Nir." bisik Arka.

Nirmala menatap ke arah laut. "Aku berhasil, Arka. Tapi laut ini tidak memberi secara gratis. Aku berhutang satu nyawa pada mereka."

Aki yang berdiri di belakang mereka hanya bisa menghela napas. "Setiap kesembuhan adalah kontrak baru, Nirmala. Dan kontrak dengan laut jauh lebih berat daripada kontrak dengan hutan."

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
bacaaa ahhh, jika tidak lanjut baca berarti mentalku nggak kuat😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: 🤣🤣 aku yakin pasti kuat mentalmu
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Mungkinkah gempa selama ini karena pertarungan itu? 😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: aku juga gk tw😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Gak kebayang kalo aku ikut blusukan kek mereka, pasti asma ku lgsg kambuh🤧
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Bisa nih aku pinjam Nirmala buat bersihin air laut yg butek di daerahku/Proud/
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ: Sip.... Kalo gak dibolehin nanti ku culik Nirmala nya🤣🤣🤣
total 3 replies
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Tiga puluh hari itu sebentar lho, gak bisa apa waktunya ditambah🙄
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: dih dia nego😭
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Oh Nirmala... Hidupmu tidak pernah di berikan nafas lega sebentar saja
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Selamat Hari Raya Idul Fitri untuk semua cast dan para kru di balik cerita Nirmala, Mohon maap lahir dan Batin...

Untuk Othor Juga... Selamat Hari Raya ya, Maapkan pembaca ini yang mungkin sering ngeluh di komentar🤣Mohon maap lahir dan batin kak🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!