NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tes Bakat Yang Mengejutkan

Episode 6

Mentari pagi menyapu kabut tipis yang menyelimuti atap-atap bangunan Kota Hijau. Udara terasa dingin, namun suhu di sekitar lapangan utama Akademi Elang Hijau justru terasa panas karena antusiasme ribuan orang yang berkumpul. Hari ini adalah hari penentuan. Dari ribuan pendaftar, hanya sekitar seratus orang yang akan diterima menjadi murid resmi.

Reno berdiri di tengah kerumunan peserta, mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin, satu satunya pakaian terbaik yang ia miliki, meski tetap terlihat kontras dengan jubah-jubah sutra para anak bangsawan. Di tangannya, ia memegang lencana kayu nomor 742.

"Semuanya, harap tenang!" sebuah suara menggelegar melalui bantuan sihir pengeras suara.

Di atas panggung tinggi, berdiri seorang pria tua berjubah hijau tua dengan lambang elang emas di dadanya. Dialah Wakil Dekan, Master Gandos. Tatapannya tajam seperti elang, menyapu seluruh lapangan dengan wibawa yang membuat para remaja yang tadinya berisik seketika bungkam.

"Tes bakat hari ini sangat sederhana," lanjut Master Gandos. "Di tengah lapangan, kami telah meletakkan sepuluh Patung Pengukur Kekuatan. Patung ini terbuat dari Batu Obsidian yang sangat keras. Tugas kalian adalah memerintahkan binatang kontrak kalian untuk menyerang patung tersebut. Nilai akan diberikan berdasarkan tingkat kerusakan yang kalian hasilkan."

Bisik-bisik kembali terdengar. Memecahkan Batu Obsidian bukanlah perkara mudah bagi binatang tingkat pemula.

"Hanya memukul batu? Membosankan sekali," keluh Nidhogg dari balik baju Reno. "Reno, biarkan aku menghancurkan seluruh panggung itu. Itu akan jauh lebih efektif untuk menunjukkan siapa bosnya di sini."

"Diamlah, Naga Kecil," bisik Reno sambil menepuk kantongnya. "Ingat rencana kita. Kita hanya perlu lulus, bukan mencari musuh. Jika kau menghancurkan panggung itu, kita akan langsung ditangkap karena dianggap berbahaya."

Satu per satu peserta dipanggil ke depan. Bagas, dengan nomor urut yang jauh lebih awal, maju dengan penuh percaya diri. Serigala Berduri miliknya tampak gagah, bulu-bulu tajam di punggungnya berdiri tegak, memantulkan sinar matahari.

"Bagas, dari Desa Tanah Merah! Maju!" teriak penguji.

Bagas menatap ke arah Reno dengan senyum meremehkan sebelum mengarahkan pandangannya ke patung batu di depannya. "Serigala Berduri, gunakan Serangan Taring Besi!"

Serigala itu melesat, cakarnya yang kuat menghantam patung batu itu dengan suara dentuman keras. BRAK! Retakan besar muncul di permukaan patung, dan beberapa serpihan batu terlempar ke udara.

"Bagas! Kerusakan tingkat 4! Sangat Bagus!" seru penguji.

Tepuk tangan meriah terdengar. Bagas berjalan kembali ke barisan dengan dada membusung. Saat melewati Reno, ia sengaja menyenggol bahu Reno. "Lihat itu, Miskin? Itu namanya kekuatan. Cacingmu mungkin hanya bisa membuat patung itu sedikit lebih kotor, hahah!"

Reno tidak membalas. Ia terus memperhatikan peserta lain. Ada seorang gadis berbaju merah yang membawa burung Elang Api, burung itu menyemburkan api yang membuat patung batu itu meleleh sebagian. Ada juga seorang pemuda pendiam yang membawa kura-kura raksasa, kura-kura itu hanya menyentuh patung, namun patung itu langsung hancur menjadi debu karena getaran energi.

Dunia ini benar-benar luas, batin Reno. Jika aku tidak bereinkarnasi, aku tidak akan pernah tahu ada kekuatan seperti ini.

Jam demi jam berlalu. Antrean semakin pendek, dan akhirnya...

"Nomor 742, Reno dari Desa Tanah Merah! Maju!"

Seketika, lapangan yang tadinya ramai menjadi sedikit sunyi, lalu diikuti oleh tawa tertahan dan bisik-bisik mengejek. Nama Reno sudah menjadi bahan lelucon sejak kemarin karena mendaftar dengan seekor cacing.

Reno berjalan maju dengan tenang. Langkah kakinya mantap, ekspresi wajahnya datar, tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Ia berdiri di depan patung obsidian yang masih utuh.

"Mana binatang kontrakmu, Nak?" tanya penguji dengan nada malas, seolah ingin segera mengakhiri tes ini.

Reno merogoh kantongnya dan mengeluarkan Nidhogg. Ia meletakkan cacing merah itu di telapak tangannya. "Ini binatang kontrak saya, Tuan."

Tawa ledakan pecah di seluruh lapangan. Bahkan beberapa instruktur di panggung atas tidak bisa menahan senyum geli.

"Dia benar-benar membawa cacing!"

"Hei, Reno! Apakah cacingmu mau menggelitik batu itu sampai pecah?" teriak salah satu pengikut Bagas.

Lani, yang berdiri di barisan peserta yang sudah lulus, menggenggam tangannya dengan cemas. "Reno, ayo... tunjukkan pada mereka," bisiknya lirih.

Reno menarik napas panjang. Ia menatap Nidhogg yang sedang menggeliat malas di tangannya. "Nidhogg, ingat... hanya pengerasan tubuh. Jangan gunakan aura naga."

"Terserah kau sajalah," gerutu Nidhogg.

Reno meletakkan Nidhogg di depan kaki patung obsidian. Ia kemudian mundur dua langkah. "Lakukan."

Nidhogg mulai bergerak. Ia tidak menyerang dengan kecepatan tinggi. Sebaliknya, ia merayap perlahan ke atas patung batu itu, seolah olah sedang mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Orang-orang semakin keras tertawa melihat pemandangan konyol itu.

Namun, tawa itu tidak bertahan lama.

Begitu Nidhogg sampai di bagian tengah patung, ia melingkarkan tubuh kecilnya. Tiba-tiba, warna merah di tubuh Nidhogg berubah menjadi hitam pekat yang mengkilap seperti logam paling murni di dunia.

KREK...

Sebuah suara retakan halus terdengar. Penonton yang tadinya tertawa mulai terdiam, mencoba mendengarkan suara itu.

KREK! KRAK!

Retakan mulai muncul tepat di tempat Nidhogg melingkar. Retakan itu menyebar dengan sangat cepat ke seluruh permukaan patung, seolah olah patung batu seberat ratusan kilogram itu sedang dihimpit oleh raksasa yang tak terlihat.

"Apa yang terjadi?" gumam Master Gandos dari atas panggung, ia kini berdiri dan mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas.

Reno hanya berdiri diam dengan tangan bersedekap. Di kehidupan lamanya, ia tahu bahwa tekanan yang fokus pada satu titik jauh lebih menghancurkan daripada hantaman besar yang menyebar. Ia memerintahkan Nidhogg untuk memusatkan seluruh massa energinya pada satu lingkaran kecil.

BOOM!

Patung obsidian itu tiba-tiba meledak menjadi ribuan kepingan kecil. Debu hitam beterbangan di udara. Di tengah reruntuhan batu itu, Nidhogg masih melingkar tenang, kembali berubah menjadi warna merah pucat, seolah tidak terjadi apa-apa.

Keheningan total menyelimuti lapangan. Tidak ada tawa. Tidak ada ejekan. Yang ada hanyalah ribuan mata yang terbelalak tidak percaya. Seekor cacing... baru saja menghancurkan batu obsidian hingga menjadi serpihan terkecil hari ini?

Penguji yang berdiri di dekat patung itu sampai menjatuhkan papan catatannya. Ia mendekat, memungut satu kepingan batu, dan melihat bahwa batu itu hancur karena tekanan yang luar biasa, bukan karena hantaman fisik biasa.

"Reno... Kerusakan tingkat... 10! Maksimal!" teriak penguji dengan suara gemetar.

Seluruh lapangan meledak dalam kegaduhan.

"Tingkat sepuluh? Itu nilai yang sama dengan peserta jenius dari kota pusat!"

"Bagaimana mungkin seekor cacing punya kekuatan tekanan seperti itu?"

Bagas berdiri mematung. Wajahnya yang tadi merah karena tawa, kini menjadi pucat karena rasa malu dan tidak percaya. "Tidak mungkin... itu pasti trik! Patung itu pasti sudah rusak sebelumnya!"

Reno tidak memedulikan kegaduhan itu. Ia berjalan maju, memungut Nidhogg, dan memasukkannya kembali ke kantong baju. "Terima kasih, Tuan," ucapnya singkat kepada penguji.

Saat Reno berjalan kembali ke barisan, orang-orang secara otomatis memberinya jalan. Tatapan mereka yang tadinya penuh penghinaan, kini berubah menjadi rasa takut dan penuh selidik. Reno merasa sedikit tidak nyaman dengan perhatian berlebih ini, namun ia tahu ini adalah bagian dari jalannya.

"Hmph, lihat mereka," Nidhogg mengejek di dalam pikiran Reno. "Tadi tertawa seperti monyet, sekarang diam seperti tikus. Reno, aku suka ekspresi mereka. Lain kali, biarkan aku menghancurkan sesuatu yang lebih besar."

"Cukup untuk hari ini, Nidhogg. Kita sudah menarik terlalu banyak perhatian," balas Reno.

Reno kembali ke tempat Lani berdiri. Gadis itu menatap Reno dengan mata berbinar binar. "Reno! Itu luar biasa! Aku tidak tahu cacingmu sekuat itu!"

"Dia hanya punya kulit yang sedikit keras, Lani. Kebetulan patungnya memang sudah punya retakan kecil mungkin," Reno mencoba merendah.

"Jangan bohong! Aku melihatnya sendiri!" Lani tertawa kecil, rasa cemasnya hilang sepenuhnya.

Namun, di tengah kegembiraan itu, Reno merasakan sebuah tatapan tajam dari atas panggung. Master Gandos sedang memperhatikannya dengan mata menyipit. Pria tua itu adalah seorang penjinak tingkat Berlian. Ia tahu bahwa apa yang dilakukan cacing Reno bukanlah sekadar pengerasan kulit biasa.

Anak itu... dia menyembunyikan sesuatu yang besar, batin Master Gandos. Seekor cacing tanah yang memiliki massa energi setara dengan Naga Tanah? Menarik. Sangat menarik.

Ujian hari itu berakhir dengan Reno sebagai pusat pembicaraan. Ia dinyatakan lulus dengan nilai tertinggi di angkatannya. Namun, Reno tahu bahwa ini hanyalah awal. Masuk ke akademi berarti ia akan mulai tinggal di asrama, berlatih dengan standar yang lebih berat, dan yang paling berbahaya ia akan berada di bawah pengawasan para guru yang ahli.

Sore harinya, setelah pengumuman kelulusan resmi ditempel, Reno dan peserta lain yang lulus diarahkan menuju asrama akademi.

"Reno, kau di asrama mana?" tanya Lani sambil melihat kertas pengumumannya.

"Asrama Barat, nomor kamar 103," jawab Reno.

"Yah, aku di Asrama Timur. Tapi tidak apa-apa, kita masih bisa bertemu di kelas besok!" Lani melambaikan tangan dengan riang sebelum menuju asramanya.

Reno berjalan menuju asrama barat. Saat ia memasuki lorong asrama yang terbuat dari batu kokoh, ia berpapasan dengan Bagas yang ternyata juga satu asrama dengannya. Bagas tidak lagi berteriak, tapi tatapan matanya penuh dengan kebencian dan dendam yang mendalam.

"Jangan pikir ini sudah berakhir, Reno," desis Bagas saat mereka berpapasan. "Besok adalah kelas pertama: Penjinakan dan Kontrak Energi. Di sana, kekuatan fisik binatangmu tidak akan berguna jika energi mentalmu sampah. Aku akan menjatuhkanmu di depan semua orang."

Reno berhenti sejenak, melirik Bagas dari sudut matanya. "Bagas, kau sudah kalah sekali hari ini. Jika aku jadi kau, aku akan menggunakan waktuku untuk berlatih, bukan untuk menyusun kalimat ancaman yang terdengar seperti anak kecil."

Tanpa menunggu balasan, Reno melanjutkan langkahnya menuju kamar 103. Ia membuka pintu kamar kecilnya, meletakkan tasnya, dan duduk di pinggir kasur yang jauh lebih empuk daripada di desanya.

"Besok akan sangat menyenangkan," ucap Nidhogg sambil keluar dari kantong. "Aku merasakan banyak energi binatang buas di asrama ini. Jika kita beruntung, kita bisa melakukan 'perburuan malam' tanpa ada yang tahu."

Reno menatap jendela yang memperlihatkan pemandangan kota di bawah sinar bulan. "Jangan bertindak gegabah, Nidhogg. Di sini banyak guru hebat. Kita harus bermain cantik."

Reno memejamkan matanya, memulai meditasi malamnya untuk menyerap sisa energi yang diberikan Nidhogg. Di dunianya yang dulu, ia berjuang untuk uang. Di sini, ia berjuang untuk kekuasaan dan ketenangan. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Bagas atau Master Gandos, menghalangi jalannya.

Satu hari di akademi telah berlalu, dan Reno baru saja mulai menunjukkan sedikit taringnya.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!