NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:95.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berlatih Kembali di Sekte Bukit Bintang

Keesokan harinya, embun pagi masih menggantung di ujung daun ketika Gao Rui sudah berdiri tegak di tengah halaman rumahnya. Udara pagi terasa sejuk. Tanah masih sedikit lembap. Cahaya matahari baru saja muncul di balik bukit memantulkan kilau keemasan di rerumputan.

Gao Rui mengenakan pakaian latihan sederhana. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tenang tanpa sedikit pun kesombongan yang biasanya muncul pada anak seusianya.

Beberapa bulan terakhir namanya memang telah mengguncang seluruh Kekaisaran Zhou. Pendekar Naga Bintang. Jenius nomor satu generasi muda. Anak ajaib yang tak tertandingi.

Namun Gao Rui tahu satu hal. Semakin tinggi seseorang berdiri, semakin jelas langit luas yang belum terjangkau. Masih terlalu banyak hal yang belum ia pahami. Masih terlalu banyak jalan yang belum ia tempuh.

Karena itulah pagi ini ia tetap berlatih. Bukan demi pujian. Bukan demi nama. Melainkan demi terus melangkah.

“Huff”

Gao Rui menarik napas panjang. Kakinya perlahan bergeser membentuk posisi awal.

Hari ini ia melatih Teknik Langkah Petir. Salah satu teknik gerak kaki tingkat tinggi yang diwariskan gurunya, Boqin Changing. Teknik yang mampu meningkatkan kecepatan tubuh hingga batas yang lebih tinggi.

Namun justru karena itu teknik ini sangat sulit dikuasai. Satu kesalahan kecil dan aliran tenaga dalam bisa kacau. Satu pijakan meleset, tubuh bisa kehilangan keseimbangan.

Tatapan Gao Rui menjadi fokus. Lalu....

Sret!

Tubuhnya lenyap dari tempat semula. Daun-daun di halaman mendadak beterbangan. Sosok Gao Rui muncul di sisi timur halaman lalu menghilang lagi sebelum bayangannya sempat utuh.

Sret! Sret! Sret!

Gerakannya seperti sambaran cahaya. Kadang muncul di dekat pohon plum. Kadang di atas batu taman. Kadang sudah berada di atap teras… hanya dalam satu tarikan napas.

Namun jika diperhatikan lebih teliti langkahnya bukan sekadar cepat. Setiap pijakan, ringan. Setiap perpindahan, presisi. Setiap tarikan napas, selaras dengan aliran tenaga dalam di tubuhnya.

Waktu terus berlalu. Keringat tipis mulai muncul di pelipis Gao Rui. Napasnya sedikit lebih berat namun matanya justru semakin terang.

Ia terus mengulang. Terus memperbaiki. Saat gerakannya terlalu cepat hingga mengganggu aliran tenaga, ia ulangi. Saat pijakannya sedikit meleset, ia perbaiki.

Tak ada rasa puas diri. Tak ada rasa cukup. Karena bagi Gao Rui, puncak bukan tempat untuk beristirahat. Puncak hanyalah awal untuk melihat gunung lain yang lebih tinggi.

Beberapa saat kemudian…

Sret!

Tubuh Gao Rui berhenti di tengah halaman. Debu halus turun perlahan di sekelilingnya. Daun-daun yang tadi beterbangan jatuh satu per satu.

Ia berdiri diam. Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“…Sudah cukup lama bersembunyi di sana?”

Suaranya tenang. Tidak keras namun jelas terdengar. Gao Rui perlahan menoleh ke arah sebuah pohon besar di sudut halaman. Pohon tua dengan batang lebar, tempat bayangan pagi jatuh paling pekat. Tatapannya lembut bahkan sedikit jenaka.

“Kalau terus mengintip seperti itu…” katanya santai, “aku jadi merasa langkahku tadi terlalu jelek.”

Beberapa detik suasana hening. Lalu sebuah tawa kecil terdengar dari balik batang pohon.

“Hehehe… bocah ini.”

Sosok tua perlahan melangkah keluar dari balik bayangan. Jubah abu-abu sederhana membungkus tubuh kurus namun tegap. Rambut putihnya tergerai, matanya tajam seperti elang. Namun dalam tatapan itu ada kebijaksanaan yang menekan langit.

Aura yang ia bawa tenang. Namun justru karena tenang itu terasa menggetarkan. Tetua Agung Xu Qung. Salah satu tetua tertinggi Sekte Bukit Bintang. Sosok yang bahkan para pendekar senior pun segan.

Gao Rui tersenyum tipis. Sama sekali tidak terkejut. Ia lalu menangkupkan tangan dengan hormat.

“Selamat datang… Tetua Agung. Apa yang membuatmu repot-repot kemari?”

Xu Qung tersenyum kecil. Keriput di sudut matanya tampak semakin jelas namun justru memberinya wibawa yang hangat.

“Aku hanya sedang berjalan-jalan pagi,” katanya santai sambil menatap halaman yang masih dipenuhi bekas pijakan Gao Rui. “Lalu dari kejauhan… aku mendengar suara angin berdesir aneh dari kediamanmu. Kukira ada murid nakal sedang merusak halaman orang.”

Ia terkekeh pelan.

“Ternyata… bocah monster ini sedang berlatih.”

Gao Rui tersenyum tipis. Ia menunduk hormat.

“Maaf jika mengganggu ketenangan Tetua Agung.”

“Mengganggu?” Xu Qung mendengus pelan. “Justru aku datang karena tertarik. Teknik langkah kakimu… jauh lebih matang dari terakhir kali kulihat. Pijakanmu ringan, aliran tenagamu stabil, bahkan ritme napasmu hampir sempurna.”

Tatapan lelaki tua itu menajam penuh apresiasi.

“Kemampuanmu semakin meningkat saja, Gao Rui. Di usia seperti ini, kau sudah bisa membuat para tetua sekte terdiam.”

Gao Rui tidak menunjukkan kebanggaan sedikit pun. Ia hanya tersenyum rendah hati.

“Terima kasih atas pujian Tetua Agung. Tapi aku masih jauh dari cukup. Teknik ini masih banyak celahnya… dan aku pun masih harus belajar lebih banyak.”

Xu Qung memandangnya beberapa saat lalu mengangguk puas. Sikap seperti inilah yang paling ia hargai dari bocah ini. Bakat tinggi bukan hal langka di dunia persilatan. Namun hati yang tetap rendah justru jauh lebih sulit ditemukan.

“Bagus,” katanya akhirnya. “Kalau begitu… daripada terus berkutat di halaman, bagaimana kalau kau menemaniku berjalan-jalan keliling sekte?”

Gao Rui sedikit terdiam. Meski Xu Qung bicara santai, ajakan seorang Tetua Agung jelas bukan sesuatu yang pantas ditolak begitu saja. Lagipula Gao Rui tahu, orang setingkat Xu Qung tidak mungkin datang hanya untuk memuji latihannya.

 Gao Rui segera menangkupkan tangan.

“Tentu. Aku akan menemanimu.”

Xu Qung tersenyum puas.

“Bagus. Sudah lama aku tidak berjalan santai ditemani anak muda.”

Tak lama kemudian keduanya pun meninggalkan halaman.

Pagi di Sekte Bukit Bintang begitu damai. Jalan setapak batu membelah taman-taman luas yang dipenuhi pohon pinus, bambu, dan bunga plum. Kabut tipis masih menyelimuti lereng gunung membuat seluruh sekte terlihat seperti negeri di atas awan.

Xu Qung berjalan santai dengan tangan di belakang punggung. Langkahnya lambat namun mantap. Gao Rui berjalan di sampingnya, tenang dan hormat.

Sepanjang jalan para murid yang berpapasan segera berhenti dan menangkupkan tangan.

“Salam untuk Tetua Agung!”

“Salam, Senior Rui!”

“Senior Rui!”

Suara-suara hormat terdengar silih berganti. Bahkan beberapa murid yang jelas lebih tua usia darinya tetap menunduk hormat sambil memanggilnya senior.

Gao Rui hanya membalas dengan anggukan sopan. Wajahnya tetap tenang seolah semua itu hal biasa.

Di dunia persilatan, usia memang bukan penentu utama penghormatan. Yang dihormati adalah kekuatan. Siapa yang lebih tinggi jalannya dialah yang layak disebut senior.

Meski Gao Rui jauh lebih muda, semua orang tahu kenyataannya. Di generasi muda Sekte Bukit Bintang bahkan mungkin di seluruh Kekaisaran Zhou nyaris tak ada yang mampu menandinginya.

Xu Qung melirik Gao Rui dari samping. Melihat bocah itu tetap tenang meski disapa dengan hormat dari segala arah, hatinya semakin kagum.

Bakat luar biasa, hati setenang air, dan tidak silau oleh pujian. Dalam hati, Xu Qung bergumam pelan.

“Anak ini… benar-benar calon pilar sekte di masa depan.”

Langkah mereka terus berlanjut menyusuri jalur batu yang menanjak ke arah paviliun puncak. Angin gunung berembus lembut membawa aroma pinus dan embun.

Lalu… Xu Qung tiba-tiba membuka suara.

“Gao Rui… apa kau sudah mendengar kabar gurumu, Boqin Changing?”

Gao Rui sedikit mengernyit. Langkahnya melambat sepersekian saat. Nama gurunya selalu mampu membuat hatinya bergetar.

Ia menoleh pada Xu Qung, tatapannya tenang namun jelas menyimpan harap.

“Belum,” jawabnya jujur. “Sudah cukup lama aku tidak mendapat kabar apa pun tentang Guru. Terakhir kali aku hanya tahu ia pergi ke Kekaisaran Qin untuk urusan penting.”

Nada suara Gao Rui tetap terkendali namun Xu Qung bisa menangkap rasa rindu yang samar di balik ketenangan murid muda itu.

Tetua tua itu tersenyum kecil. Janggut putihnya bergoyang tertiup angin gunung.

“Kebetulan… aku baru saja mendengar kabar tentangnya.”

Mata Gao Rui langsung menajam. Wajahnya yang biasanya tenang… kini tampak lebih hidup.

“Kabar apa?”

Xu Qung berhenti sejenak di tepi jalur batu. Dari sana, hamparan pegunungan terlihat luas, lautan awan membentang di bawah kaki mereka. Ia menatap cakrawala sejenak lalu berkata pelan, namun setiap katanya terasa berat.

“Gurumu… baru saja membantu Kaisar Shang merebut kembali tahtanya.”

Angin gunung berembus lembut… namun Gao Rui merasa dadanya bergetar.

Xu Qung melanjutkan.

“Kekaisaran Shang beberapa waktu ini dilanda kekacauan. Kudeta dari dalam istana hampir membuat dinasti itu runtuh. Banyak jenderal besar gugur… para bangsawan saling mengkhianati.”

“Tapi di saat paling genting… Boqin Changing muncul.”

Tatapan Xu Qung sedikit berubah bahkan seorang Tetua Agung seperti dirinya tak bisa menyembunyikan rasa kagum saat menyebut nama itu.

“Dengan pedangnya, ia membuka jalan bagi Kaisar Shang untuk kembali duduk di singgasana.”

Xu Qung menghela napas pelan.

“Dan bukan hanya itu…”

Ia menatap Gao Rui lurus-lurus.

“Setelah peristiwa itu… Kaisar Shang secara resmi mengangkat gurumu sebagai Pelindung Kekaisaran Shang.”

Gao Rui terdiam. Untuk sesaat… langkahnya benar-benar berhenti.

Xu Qung melanjutkan dengan nada dalam.

“Itu berarti… sekarang Boqin Changing bukan hanya pelindung Kekaisaran Qin… Tapi juga pelindung Kekaisaran Shang.”

“Dua kekaisaran… berada di bawah bayang namanya.”

Suasana mendadak hening. Burung-burung kecil berkicau di kejauhan. Kabut pagi perlahan tersibak oleh cahaya mentari. Namun bagi Gao Rui semua suara seolah menjauh. Yang tersisa hanya satu hal di dalam hatinya. Bangga.

Mata Gao Rui perlahan berbinar. Biasanya bocah itu selalu tenang. Selalu menahan emosi. Namun kali ini sinar di matanya begitu terang hingga sulit disembunyikan.

Sudut bibirnya terangkat, senyum tulus yang jarang terlihat.

“Guru…”

Ia mengepalkan tangan perlahan di samping tubuhnya. Bukan karena tegang tapi karena hatinya terlalu penuh.

Boqin Changing adalah sosok yang baginya bagaikan langit. Orang yang mengangkatnya dari dasar, membimbingnya, menempanya, mengajarinya arti kekuatan, dan keteguhan hati. Mendengar gurunya kini berdiri di puncak dunia rasanya lebih membahagiakan daripada mendengar pujian untuk dirinya sendiri.

Xu Qung menatap ekspresi Gao Rui… lalu tersenyum kecil.

“Heh… akhirnya aku melihat wajahmu seperti anak seusiamu.”

Gao Rui tersadar. Ia sedikit tertawa kecil lalu menunduk hormat.

“Maaf, Tetua Agung. Aku hanya…”

“Senang?” Xu Qung menyambung.

Gao Rui mengangguk. Tatapannya kembali menatap langit luas di kejauhan.

“Ya. Sangat senang.”

Suaranya lembut namun penuh keyakinan.

“Guru memang pantas berada di sana.”

Ia menarik napas dalam. Angin gunung menerpa wajahnya membawa rasa hangat yang aneh di dada.

Lalu mata Gao Rui perlahan berubah tajam. Binar kebahagiaan itu kini bercampur tekad.

“Dan suatu hari nanti…”

Xu Qung meliriknya.

Gao Rui menatap cakrawala dengan tenang.

“Aku akan berdiri di sampingnya. Bukan sebagai murid yang berlindung di belakang namanya…”

“Tapi sebagai pendekar yang cukup kuat… untuk membuat Guru bangga.”

Sesaat Xu Qung terdiam. Lalu lelaki tua itu tertawa pelan. Tawa yang hangat penuh kepuasan.

“Hahaha… bagus.”

Ia menepuk pundak Gao Rui perlahan.

“Dengan hati seperti itu… cepat atau lambat… seluruh dunia memang akan mendengar namamu.”

Angin pagi kembali berembus. Di atas puncak Sekte Bukit Bintang, seorang bocah berdiri menatap langit yang luas. Di matanya bukan hanya rasa bangga. Tapi juga bara tekad yang perlahan mulai menyala semakin terang.

1
adek Darma
kok up ny cmn keseringan 1eps truss thorrr
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹
Armoire
Aduh duh duh duh duh... Author nya paling pinter bikin readers mati penasaran... Lagi seru2 nya malah "To be continued" 😭😭😭😭
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Rui emang numero uno 🔥🌽
Nanik S
Naga Baja... apakah akan mengubah Kerjasama Patriak Shoi dan Harta Langit terus berlanjut
Nanik S
Gao Rui... membuat kejutan gak main main....Bahkan tidak sebanding dg Emas dan Permata ..Baru Naga Baja
Arie Chaniago70
kapan Thor Gao rui ini melanglana buana seperti gurunya,,,masak main dikandang aja nggak paten,,,jadi kurang Greg ceritanya
Eka Haslinda
hadiah pertama.. hadiah kedua.. ketiga.. owalaahhhh buanyak.. gak payu lagi hadiah rumah dagang Naga Emas 🤣🤣🤣
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
tariii
ayo, Rui.. kamu mau kasih hadiah apa? yg pasti harus lebih wowwww dari si cincaooooo itu yaaa...😂😂
will
klo ada pil anti miskin..mau donk gao rui 🤭👍
Heri Victor Purba
maen kali ceritanya bah.. bikin dag dig dug ser.. jalan ceritanya macam jalan kelok 44 .. gas thor
y@y@
⭐👍🏾🌟👍🏾⭐
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...hadiah yg melebihi hadiah orang lain🤣👍👍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍🤭
indrawanto djiwanto
hadiah pertama berarti ada hadiah lanjutan. hadiah kedua pil utk membantu kultivasi, hadiah ketiga pil kecantikan.
Jeffie Firmansyah: Bisa jadi pil kecantikan tuk istrinya
total 1 replies
Maz Shell
lagi update terbaru
sam
Jagoan turun tangan
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂👍👍👍👍💪💪💪💪🍩🍩🍩🍩☕☕☕🌹🌹🌹
y@y@
👍🏿💥👍🏼💥👍🏿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!