NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Insting Pembunuh

Sinar matahari pagi yang menembus celah atap gubuk Arlan terasa lebih tajam dari biasanya. Tubuh Arlan masih terasa kaku namun ada kekuatan baru yang mengalir di balik otot-otot kecilnya. Setelah kejadian kemarin di pinggir sungai, suasana di rumahnya menjadi sangat sepi. Elena tidak banyak bicara. Ibunya itu hanya sesekali menatap Arlan dengan pandangan penuh rasa takut sekaligus bangga. Elena takut karena anaknya telah menantang penguasa desa, namun dia juga bangga melihat Arlan tidak lagi menjadi sasaran perundungan.

Arlan duduk di lantai tanah sambil mencoba melakukan meditasi pernapasan. Dia merasakan sisa-sisa energi dari Gerbang Pertama yang masih berdenyut di sekitar jantungnya. Meskipun dia berhasil memenangkan pertarungan melawan Gort, Arlan tahu itu hanyalah sebuah kemenangan kecil. Gort hanyalah seorang kepala desa di wilayah terpencil. Di luar sana, ada ribuan orang yang memiliki kekuatan berkah jauh lebih hebat. Jika dia ingin melindungi ibunya dan membalas dendam pada takdir, dia harus melampaui batas manusia biasa.

Arlan bangkit dan mengenakan pakaian kusamnya yang sudah kering. Dia melihat ke arah meja kayu di mana Elena sudah menyiapkan sepotong roti gandum kecil. Arlan memakan roti itu dengan cepat tanpa banyak bicara. Dia membutuhkan kalori untuk latihan berat yang akan dia jalani hari ini. Setelah berpamitan dengan anggukan kepala yang singkat kepada ibunya, Arlan melangkah keluar rumah menuju hutan.

Udara di dalam hutan terasa lembap dan dingin. Arlan berjalan melewati jalan setapak yang biasa dia lalui. Namun hari ini, kakek misterius itu tidak menunggunya di bawah pohon besar. Arlan terus berjalan masuk lebih dalam ke area yang jarang dikunjungi oleh penduduk desa. Suara kicauan burung perlahan menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Arlan mempertajam pendengarannya. Insting dari kehidupan sebelumnya sebagai pebisnis yang selalu waspada terhadap musuh kini bergabung dengan insting bertarung yang baru dia pelajari.

Tiba-tiba, sebuah suara tawa serak terdengar dari balik rimbunnya semak-semak. Kakek tua itu muncul sambil membawa sebuah kantong kulit besar. Wajah kakek itu terlihat lebih serius daripada biasanya. Dia menatap Arlan dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah sedang menilai apakah muridnya ini siap untuk tahap selanjutnya.

"Kamu datang tepat waktu, bocah," ucap kakek itu sambil melemparkan kantong kulit ke arah Arlan. "Buka itu."

Arlan menangkap kantong tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah pisau pendek yang tumpul dan berat. Arlan menatap kakek itu dengan bingung. Dia mengira dia akan terus berlatih dengan tangan kosong karena ini adalah ilmu Taijutsu.

"Taijutsu bukan hanya soal tangan kosong," kakek itu menjelaskan seolah bisa membaca pikiran Arlan. "Taijutsu adalah tentang menjadikan segala sesuatu yang menyentuh tubuhmu sebagai bagian dari dirimu. Hari ini, kamu akan menghadapi musuh yang tidak memiliki belas kasihan. Manusia mungkin masih ragu saat ingin membunuhmu, tapi binatang sihir tidak akan berpikir dua kali untuk mengoyak lehermu."

Kakek itu mengajak Arlan berjalan menuju sebuah lembah kecil yang dipenuhi oleh pepohonan hitam yang berlumut. Di sana, Arlan melihat sesosok makhluk yang mengerikan. Makhluk itu terlihat seperti serigala namun ukurannya jauh lebih besar, hampir setinggi bahu Arlan. Bulunya berwarna perak gelap dan di dahinya terdapat kristal kecil yang bercahaya biru redup. Itu adalah Serigala Taring Perak, binatang sihir tingkat rendah yang sangat ditakuti karena kecepatannya.

"Serigala itu memiliki berkah elemen angin," kakek itu berbisik. "Dia bisa bergerak lebih cepat dari penglihatanmu. Tugasmu sederhana. Bunuh serigala itu dengan pisau tumpul itu. Jangan gunakan Gerbang Pertama kecuali kamu benar-benar terdesak. Jika kamu mati di sini, itu berarti takdirmu memang hanya sampai di sini."

Arlan memegang erat gagang pisau tumpul itu. Dia bisa merasakan telapak tangannya sedikit berkeringat. Ini adalah pertama kalinya dia akan bertarung hidup dan mati melawan makhluk yang berniat memakannya. Arlan mulai mengatur pernapasannya. Dia mengingat kembali semua rasa sakit yang dia alami saat berlatih di sungai. Dia mengingat pengkhianatan Rendra yang membuatnya kehilangan segalanya. Kemarahan yang terkendali mulai muncul di dalam dadanya.

Serigala itu menyadari kehadiran Arlan. Matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah bocah kecil itu. Serigala itu mengeluarkan geraman rendah yang menggetarkan udara di sekitarnya. Dengan satu gerakan kilat, serigala itu melompat ke arah Arlan.

Arlan segera berguling ke samping. Angin kencang mengikuti gerakan serigala itu, menyayat sedikit kain di lengan Arlan. Arlan terkejut dengan kecepatan makhluk itu. Jika dia terlambat setengah detik saja, dadanya pasti sudah robek oleh cakar serigala tersebut.

Serigala itu berbalik dengan sangat lincah dan kembali menyerang. Arlan mencoba menusukkan pisaunya, namun pisau itu hanya mengenai bulu keras serigala dan terpental. Pisau tumpul itu benar-benar tidak berguna jika tidak disertai dengan teknik yang tepat. Arlan mulai menyadari bahwa kakek itu ingin dia belajar cara menggunakan tenaga internal untuk meningkatkan ketajaman serangan, bukan hanya mengandalkan benda itu sendiri.

Arlan terus menghindar dan menepis serangan serigala itu. Tubuhnya yang kecil adalah keuntungan sekaligus kerugian. Dia sulit terkena serangan langsung, namun satu cakaran saja bisa berakibat fatal bagi tubuh anak tujuh tahun. Arlan mulai merasa lelah. Napasnya mulai tidak teratur. Serigala itu seolah tahu bahwa Arlan mulai melemah dan mulai mempercepat serangannya.

Di tengah kepungan angin yang diciptakan oleh gerakan serigala, Arlan memejamkan matanya sejenak. Dia mencoba merasakan getaran udara di sekelilingnya. Kakek itu pernah berkata bahwa setiap gerakan memiliki pola. Arlan berhenti mencoba untuk melihat serigala itu dengan matanya. Dia mulai menggunakan seluruh indra di kulitnya untuk merasakan aliran angin.

Tiba-tiba, Arlan merasakan perubahan tekanan udara di sisi kanannya. Dia tahu serigala itu akan menyerang dari sana. Arlan tidak menghindar kali ini. Dia justru merendahkan tubuhnya dan menunggu hingga serigala itu berada sangat dekat.

Saat moncong serigala itu hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya, Arlan meledakkan energi dari Gerbang Pertama. Kekuatan besar mengalir ke tangan kanannya. Dia tidak menusuk, melainkan menghantamkan punggung pisau tumpul itu tepat ke arah kristal di dahi serigala tersebut.

Prakkk!

Suara kristal yang retak terdengar nyaring. Serigala itu menjerit kesakitan dan terpental ke belakang. Kristal itu adalah sumber mana bagi binatang sihir, dan Arlan baru saja menghancurkan pusat kekuatannya. Serigala itu jatuh tersungkur, mencoba bangkit namun kakinya gemetar hebat.

Arlan tidak membuang waktu. Dia melompat ke atas punggung serigala itu dan menusukkan pisau tumpulnya ke bagian leher yang paling lunak dengan seluruh sisa tenaganya. Dia memusatkan tekanan energinya pada ujung pisau yang tumpul, membuatnya mampu menembus daging yang keras. Darah hangat muncrat mengenai wajah Arlan. Dia terus menekan pisau itu hingga serigala tersebut berhenti bergerak sepenuhnya.

Arlan terengah engah. Wajahnya yang terkena noda darah membuatnya terlihat sangat menyeramkan bagi anak seusianya. Dia menatap bangkai serigala itu tanpa rasa menyesal. Di dunia ini, jika dia tidak membunuh, maka dia akan dibunuh. Hukum itu terasa sangat nyata sekarang.

Kakek tua itu keluar dari tempat persembunyiannya sambil bertepuk tangan pelan. "Luar biasa. Kamu belajar dengan cepat bagaimana cara menghancurkan sumber kekuatan lawan. Tapi jangan senang dulu. Bau darah ini akan menarik perhatian pemangsa lain yang lebih kuat."

Kakek itu mendekati bangkai serigala dan dengan satu gerakan tangan yang santai, dia membelah perut serigala itu. Dia mengambil sebuah batu kecil yang berwarna biru keruh dari dalam sana. "Ini adalah inti mana. Di pasar gelap, ini bisa dijual dengan harga yang cukup untuk memberi makan ibumu selama satu bulan penuh."

Arlan mengambil inti mana itu. Dia merasa tangannya sedikit bergetar. Bukan karena takut, tapi karena rasa puas yang aneh. Di kehidupan sebelumnya, dia mendapatkan uang dengan cara memanipulasi angka dan dokumen. Sekarang, dia mendapatkan nilai dari hasil perjuangan fisiknya sendiri. Ini terasa jauh lebih nyata bagi Arlan.

"Simpan itu," ucap kakek itu. "Dan bersiaplah. Kita belum selesai. Latihan yang sesungguhnya adalah bagaimana kamu tetap bisa bertarung saat tubuhmu sudah mencapai batasnya."

Sepanjang sisa hari itu, Arlan dipaksa untuk memburu binatang sihir lainnya. Dia harus menghadapi berbagai macam makhluk, mulai dari ular berbisa hingga babi hutan dengan kulit sekeras batu. Setiap pertarungan meninggalkan luka baru di tubuhnya, namun Arlan tidak pernah mengeluh. Dia justru merasa setiap luka itu adalah pelajaran yang sangat berharga.

Saat matahari mulai terbenam dan kegelapan mulai menyelimuti hutan, Arlan baru diperbolehkan pulang. Dia membawa sebuah kantong berisi daging serigala dan inti mana yang dia dapatkan. Tubuhnya sangat lelah, setiap inci ototnya terasa seperti akan copot. Namun, matanya tetap waspada saat dia berjalan mendekati batas desa.

Namun, di jalan masuk menuju desa, Arlan melihat sesuatu yang membuatnya berhenti seketika. Di sana berdiri seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian mewah berwarna putih dengan sulaman emas. Pemuda itu terlihat berusia sekitar lima belas tahun dan membawa sebuah pedang panjang yang indah di pinggangnya. Aura yang terpancar dari pemuda ini jauh lebih kuat dari Gort atau siapa pun yang pernah Arlan temui di desa ini.

Pemuda itu menatap Arlan dengan pandangan meremehkan. Di belakangnya, berdiri Gort yang wajahnya masih terlihat pucat dan diperban.

"Jadi, ini adalah anak pengkhianat yang telah berani melukai paman Gort?" tanya pemuda itu dengan suara yang halus namun penuh dengan kesombongan.

Gort mengangguk dengan cepat. "Benar, Tuan Muda Julian. Dia adalah sampah yang saya ceritakan. Dia menggunakan semacam teknik aneh untuk menyerang saya saat saya tidak waspada."

Arlan mengepalkan tangannya di balik kantong daging yang dia bawa. Dia tahu siapa pemuda ini. Julian adalah putra dari seorang bangsawan tinggi di ibu kota yang sedang mengunjungi wilayah ini. Julian dikenal sebagai jenius yang memiliki berkah tingkat tinggi dari Dewa Pedang.

Julian melangkah maju, membuat para pengawal di sekitarnya memberi jalan. Dia menatap noda darah di wajah Arlan dan tertawa kecil. "Berlatih di hutan hanya akan membuatmu menjadi binatang, bukan ksatria. Seorang pengkhianat tetaplah pengkhianat, tidak peduli seberapa keras kamu berusaha. Sekarang, berlutut lah di depan paman Gort dan minta maaf, maka aku mungkin akan membiarkanmu tetap memiliki tanganmu."

Arlan tidak berlutut. Dia justru berdiri tegak, menatap mata Julian dengan keberanian yang membuat Julian merasa tersinggung. Arlan tahu bahwa dia tidak bisa menang melawan Julian dalam kondisinya yang sekarang. Namun, dia juga tahu bahwa jika dia menyerah sekarang, maka seluruh usahanya akan sia-sia.

"Aku tidak melakukan kesalahan," ucap Arlan dengan tenang. "Dan aku tidak akan pernah berlutut pada siapa pun."

Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Julian menarik sedikit pedangnya dari sarungnya, menciptakan suara denting logam yang tajam. Pertemuan antara Arlan yang baru saja bangkit dari penderitaan dan Julian sang jenius kerajaan akan segera menjadi awal dari persaingan yang panjang dan penuh darah.

Arlan menyadari bahwa musuh yang sesungguhnya baru saja muncul. Dan kali ini, dia harus benar-benar berjuang lebih keras lagi jika tidak ingin kehilangan nyawa keduanya.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!