Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Akademi menjadi ricuh saat Christopher dan Calief turun dari kereta kudanya dan keadaan semakin ricuh saat Caily juga turun dari kereta kuda.
Kekaguman terhadap Christopher dan Calief sirna begitu saja saat melihat penampilan Caily.
Mereka tidak tahu siapa Caily tapi setelah melihat warna bola matanya mereka menebak jika dia adalah gadis yang dirumorkan itu.
Yang membuat mereka amat sangat terkejut adalah penampilan dan wajahnya, begitu cantik dan tampak imut sekaligus.
Dalam bayangan mereka saat nama Caily disebut dan digosipkan adalah seorang gadis bermata merah dengan wajah buruk rupa, belum lagi rambutnya yang berwarna putih semakin membuat bayangan mereka melantur terlalu jauh, mereka mengira dia adalah seorang gadis dengan wajah keriput seperti seorang wanita tua.
Namun saat ini mereka benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan dari penampilannya.
Sejenak mereka melupakan siapa Caily dan terpaku pada wajah cantiknya.
Berbeda dengan murid yang lain, dari kejauhan Rosetta dan Vione terkejut hingga saling bertatapan sesaat begitu melihat kedatangan Caily.
"Bukannya dia gak sekolah disini, ya?" Gumam Vione saat mengingat alur buku aslinya.
Rosetta mengangguk lalu membuka buku sistemnya.
"Emang bener kok, dia gak sekolah disini, dia punya guru privat dikediamannya, dia keluar dari kediamannya untuk pertama kalinya cuma saat nikah sama Chalios doang." Jelas Rosetta sambil menunjuk deretan kalimat dibuku sistem.
Vione mengerutkan keningnya.
"Jadi, kenapa dia keluar? Kita ngerusak alur sampai sejauh itu, ya?" Gumamnya sambil terus mengawasi gerak-gerik Caily yang kini berjalan beriringan dengan kedua kakaknya meskipun tampak sekali dia enggan.
Rosetta menggelengkan kepalanya.
"Enggak deh, lihat, karakter yang lain masih sama, emang cuma dia doang yang beda." Sanggahnya sesuai keadaan dibuku saat ini.
Vione mengangguk anggukkan kepalanya.
"Hm, tapi sifat keluarganya jadi aneh, harusnya mereka gak deket kan? ini malah kelihatan kalau mereka lagi usaha buat deketin Caily." Tunjuknya pada deretan kalimat dibuku sistem.
Begitu pula dengan Rosetta, dia juga membaca deretan kalimat itu.
"Ya, alasan dia ke akademi karena perintah dari bapaknya yang ternyata juga permintaan dari dua kakaknya, ini emang bener mereka berusaha cari perhatian ke Caily."
"Terus juga, kakak kakak lo jadi aneh kan semenjak lo ambil alih tubuh Rosetta?" Ujar Vione saat mengingat sikap Charlos, Chalios dan Shanez terhadap Rosetta.
Rosetta mengangguk.
"Bener, mereka emang masih benci, tapi mereka lebih banyak bacot ke gue, awalnya mereka bahkan gak sudi natap muka gue."
"Jadi, kemungkinan perubahan sikap keluarga Valkey ini karena Caily, antara Caily ini hidup lagi atau dia dari masa depan." Gumam Vione.
"Kebetulan kita satu kelas, dia bisa kita awasi nanti." Ucap Rosetta sambil menunjuk kearah buku sistem yang kini menambahkan deretan kalimat baru.
Alur yang menceritakan jika Caily akan berada dikelas yang sama dengan Rosetta dan Vione.
Keduanya pergi dan segera kembali kekelas.
Beberapa saat kemudian seorang pengajar berjenis kelamin perempuan memasuki kelas bersama Caily.
"Caily Cassaundra Valkey."
Caily memberikan gestur tubuh anggun saat melakukan salam, etiket bangsawannya sangat bagus yang menandakan jika dia sudah belajar dengan baik.
Pandangan terhadap sekitarnya sangat datar, ekspresinya terkesan malas, bahkan perkenalannya singkat tanpa tambahan apapun.
Bisik bisik mulai terdengar, kebanyakan dari mereka jelas berbisik tentang rumor yang beredar jika Caily tak memiliki bakat sihir sedikitpun.
Pandangan Caily jatuh pada barisan belakang, pada Rosetta dan Vione yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Caily ini seharusnya pemalu, kan?" Bisik Vione.
"Hm." Sahut Rosetta sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Caily, kamu bisa duduk ditempatmu, pelajaran akan dimulai." Ucap sang pengajar.
Caily mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dan menemukan kursi kosong disamping Rosetta.
Dia melangkah kesana dan duduk disebelahnya.
Rosetta dan Vione menjadi canggung untuk sesaat namun pelajaran dimulai dan ketiganya begitu saja hening karena memulai pelajaran.
Namun ditengah pelajaran yang berlangsung itu, tiba tiba Vione terpikirkan sesuatu.
Dia menyenggol lengan Rosetta dan berbisik.
"Gue mau buat cimol, lo mau bantuin gue gak?" Bisiknya dengan suara pelan namun masih cukup bisa didengar oleh Caily
Rosetta mengerutkan keningnya merasa bingung dengan apa yang dibisikkan oleh Vione, namun melihat kode melalui gerakan matanya dia akhirnya memahami maksud Vione dan segera ikut melakukan aktingnya.
"Cimol? gue bisa bantu dikit." Katanya balas berbisik.
Sedangkan Caily yang berada disamping Rosetta membeku, cimol itu salah satu favoritnya.
Tapi dari pada itu, Caily sangat terkejut hingga matanya melotot dan tak sengaja menatap kearah Rosetta dan Vione dengan gerakan cepat.
Melihat reaksinya, Rosetta dan Vione malah ikut terkejut.
Dia sungguhan dari masa depan, pikir keduanya.
Caily mendekat dan berbisik.
"Lu berdua bisa bikin cimol?" Bisiknya dengan mata menyipit.
Vione mengangguk sedangkan Rosetta menggelengkan kepalanya hingga membuat Caily bingung.
Rosetta segera mengkoreksinya.
"Maksudnya, gue gak terlalu bisa, tapi Vione kayaknya tau."
Tatapan Caily semakin tajam, matanya menyipit dan ia semakin mendekat.
"Intinya, lu berdua tau cimol?" Bisiknya dengan mata menyipit.
Rosetta dan Vione mengangguk serentak.
Tatapan Caily semakin menyipit namun bibirnya membentuk senyum lebar yang lebih mirip dengan seringai aneh.
Rosetta dan Vione malah ikut menyeringai dan memberikan jempol mereka kearah gadis itu.
Ketiganya malah cekikikan tak jelas hingga menarik perhatian para murid yang diam diam menatap dan sering kali mencuri pandang kearah mereka bertiga.
"Kalian! perhatikan pelajarannya!" Teriak wanita pengajar itu sambil memukul papan tulis.
Rosetta, Vione dan Caily serentak menahan tawa dan mulai menatap lurus kearah papan.
Pelajaran kembali berlanjut hingga tidak terasa waktu berjalan dan waktu istirahat pun menyudahi pelajaran.
Sang pengajar menutup bukunya dan pergi dari kelas.
Para murid kebanyakan segera pergi ke kantin, ada yang masih duduk dikelas dan ada yang ke perpustakaan akademi.
Di akademi semua tempat pasti dikunjungi oleh para murid, menemukan tempat kosong sangat susah sehingga mau tidak mau ketiga gadis itu harus pergi ke tempat yang sangat luas yang mampu memberikan jarak dengan para murid.
Seperti lapangan latihan kuda dan arena pertarungan.
Sedangkan Rosetta, Vione dan Caily memilih pergi ke lapangan latihan kuda yang amat sangat luas.
Benar saja, ada banyak tempat disana yang bisa memberikan jarak sehingga obrolan tidak mungkin didengar meskipun ada beberapa murid yang sedang berlatih disana.
Rosetta, Vione dan Caily memilih duduk dibawah pohon.
Mereka duduk ditanah bahkan tanpa alas apapun yang membuat ketiganya sempat mendapat tatapan tidak percaya dari beberapa murid yang ada ditempat itu.
"Ekhm, oke sekarang kenalan." Ucap Rosetta memulai obrolan.
Vione mengangkat tangannya.
"Oke! gue dulu!" Serunya dengan antusias.
Dua lainnya mengangguk.
Vione berdehem dan mulai membuka suaranya meskipun awalnya dia tampak menyeringai lebar seperti sedang merencanakan sesuatu.
"Kenalin gue Kalista food blogger dengan follower berjuta-juta, kerjaannya ngebacot aja, makan direkam, unggah sosmed langsung cuan! tiap bulan gajian, narik cuan dari bank keselek langsung mati, eh hidup lagi- malah jadi tukang bully! ... yeah yeah yeah! katanya penyihir, kelakuan mak lampir yang mulutnya nyinyir! namanya Vione, tengahnya Violetta marganya Arandelle, ini gue si Vione Violetta Arandelle!!!"
Benar saja, gadis itu memperkenalkan dirinya namun dengan gaya seperti seorang rapper.
Rosetta yang dulu hobinya bermain beatbox segera membuka mulutnya dan langsung membuat musik sebagai pelengkap dari rap yang dilakukan oleh Vione.
Selesai dengan perkenalan absurdnya, Vione mendengus dan mengangkat dagunya dengan bangga.
Rosetta mengangkat tangannya dengan tinggi.
"Gue, sekarang gue!" Serunya dengan senyum lebar.
Kini yang menggantikan Rosetta memainkan beatbox adalah Vione, sedangkan Caily menjentikkan jarinya hingga menciptakan ketukan yang sempurna saat digabung dengan beatbox yang dilakukan oleh Vione, sesekali ia juga menepuk tangannya.
"Gue Aruna, anak Bu Idah yang kerja di restorannya, seblak hot coy namanya-"
"A a a-" -Caily
"Jadi kasir harus mikir-"
"Oh!" -Caily.
"Jadi pelayan harus ramah ke pelanggan-"
"Yeah!" -Caily.
"Mati kepeleset emang kampret-"
"Ekhm!" -Caily.
"Hidup ditubuh Rosetta, eh ternyata beban negara. penampilan suram lebih mirip setan, punya pembenci di gosip sana sini, gak ada sihir gak usah khawatir, punya sistem gue mah adem ayem!"
Perkenalan yang sama absurdnya sudah Rosetta lakukan, bahkan Caily pun melakukan tugas tambahan disela sela jentikan jari dan tepukan tangannya, yaitu jadi penambah suara dilatar belakang sehingga Rosetta tampak seperti seorang penyanyi rap sungguhan.
Daily mengangkat tangannya.
"Ekhm, sekarang gua."
Kali ini yang menjadi pemain beatbox adalah Rosetta yang memang lebih jago dari Vione, sedangkan Vione kini melakukan tugas yang dilakukan oleh Caily, yaitu menjentikkan jari dan sesekali menepuk tangannya.
Sedangkan Caily mulai membuka suaranya sambil menggerakkan tangannya persis seperti gaya seorang rapper, Rosetta dan Vione tampak terkejut dengan betapa aktifnya gadis itu, tapi akhirnya keduanya malah ikut bersemangat.
"Kenalin gue Luna, tinggal didesa jadi anak orang paling kaya! gak pusing soal kerja, karena gua punya harta-"
"Ya ya ya..." -Vione.
"Mati ditabrak sapi, peliharaan sendiri, dasar ireng gak tahu diri-"
"Wiii..." -Vione.
"Hidup ditubuh Caily, ternyata dibenci keluarga sendiri, karna gua bukan yang asli ya gua gak peduli-"
"Yeah!" -Vione.
Dan begitu saja, perkenalan absurd itu terjadi.
Ketiganya bahkan tidak sadar jika ada beberapa orang yang menatap dengan rasa ingin tahu, melihat betapa seru dan hebohnya mereka tentu saja membuat mereka menjadi tontonan meskipun tidak ada yang mendengar dengan jelas apa yang ketiganya katakan.
Visual tiga gadis itu saja sudah cukup membuat gempar, apalagi kini malah berkumpul dan tampak sibuk dengan dunia sendiri seperti itu.
Senyum dan tawa mereka tampak menular hingga dalam sekejap membuat siapapun lupa untuk sejenak tentang rumor ketiga gadis itu, yang para murid rasakan, tawa mereka menciptakan keharmonisan untuk sesaat dilapangan pacuan kuda itu.
Dari kejauhan, Christopher dan Calief merasa heran saat melihat betapa akrabnya Caily dengan dua orang baru yang gadis itu temui, apalagi kedua gadis itu memiliki latar belakang yang tidak sembarangan.
Tentu saja keduanya tahu siapa Rosetta dan Vione.
"Salah satunya adalah penyihir berbakat, mungkinkan akan ada orang yang berani merundungnya?" Gumam Calief.
"Mungkin tidak, apalagi yang satunya adalah keturunan kerajaan." Sahut Christopher.
Dua orang itu pun berbalik dan pergi dari tempat itu, yang entah mereka sadari atau tidak, rasa cemburu dihati mereka meningkat saat melihat Caily tampak mudah sekali dekat dengan orang lain.
Tangan terkepal dan wajah semakin datar, itulah yang tidak disadari oleh keduanya.