Gendis baru saja melahirkan, tetapi bayinya tak kunjung diberikan usai lelahnya mempertaruhkan nyawa. Jangankan melihat wajahnya, bahkan dia tidak tahu jenis kelamin bayi yang sudah dilahirkan. Tim medis justru mengatakan bahwa bayinya tidak selamat.
Di tengah rasa frustrasinya, Gendis kembali bertemu dengan Hiro. Seorang kolega bisnis di masa lalu. Dia meminta bantuan Gendis untuk menjadi ibu susu putrinya.
Awalnya Gendis menolak, tetapi naluri seorang ibu mendorongnya untuk menyusui Reina, putri Hiro. Berawal dari menyusui, mulai timbul rasa nyaman dan bergantung pada kehadiran Hiro. Akankah rasa cinta itu terus berkembang, ataukah harus berganti kecewa karena rahasia Hiro yang terungkap seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kejanggalan Rekam Medis
Samar terdengar suara ponsel yang berdering. Gendis menggeliat dengan mata yang perlahan terbuka. Namun, ketika melihat Hiro menggenggam ponselnya mata Gendis langsung terbuka lebar.
Perempuan tersebut bergegas turun dari ranjang dan menyambar ponselnya dari genggaman Hiro. Sebuah tatapan tajam dia berikan kepada lelaki itu. Hiro menelan ludah kasar.
"Aku hanya melihat itu panggilan dari siapa. Aku berencana membangunkanmu setelah mengetahui kalau itu panggilan penting." Hiro menunjuk ponsel Gendis, kemudian menggaruk tengkuk saat perempuan tersebut tetap menatapnya dingin.
Gendis tak bersuara. Dia hanya terus menatap Hiro sekilas, lalu berjalan menjauh keluar dari kamar. Gendis seakan tak ingin pembicaraannya dengan pihak rumah sakit diketahui oleh siapa pun.
Jemari Gendis gemetar ketika menatap layar ponsel. Perempuan tersebut menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ketika hendak menggeser tombol hijau, panggilan tersebut berhenti.
Bahu Gendis merosot seketika. Dia bermaksud kembali masuk ke kamar, tetapi tak lama berselang ponselnya kembali berdering. Perempuan tersebut menelan ludah kasar, menggeser tombol hijau, lantas menempelkan benda pipih itu pada telinga.
"Ha-halo ...."
Suara perawat di ujung sambungan telepon seakan menjadi kunci terbukanya tabir yang menyelimuti pikiran Gendis. Dia sesekali mengangguk, tetapi kadang kala diam hanya menyimak. Bibirnya hanya terkatup rapat karena tak mampu lagi berkata-kata.
"Baiklah, kirimkan saja via surel. Saya hanya ingin memastikan sesuatu."
Panggilan pun berakhir. Gendis masih berdiri di depan kamar. Dia terus menatap ponsel, sampai akhirnya sebuah notifikasi surel masuk muncul.
Jemarinya gemetar ketika menekan pemberitahuan tersebut. Dalam surat itu terdapat lampiran beberapa dokumen. Dalam satu sentuhan jari, semua dokumen bisa terunduh.
Gendis membuka dokumen itu, membaca perlahan dan mencoba memahami isinya. Dia ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi saat dirinya harus terpaksa melahirkan meski belum waktunya. Sebuah catatan mengenai bayinya membuat Gendis tertegun.
"Diambil oleh ayah karena kondisi ibu yang lemah?" Gendis mengerutkan dahi.
Tangan Gendis gemetar lebih kencang dengan pupil mata melebar ketika menatap layar ponselnya. Teka-teki mengenai anaknya semakin rumit. Namun, dari sana dia makin yakin bahwa anaknya masih hidup.
Namun, sebuah tanya tanda besar kini memenuhi kepala Gendis. Bagaimana bisa orang yang mengaku sebagai ayah bayinya membawa pergi tanpa persetujuan dari Gendis. Pikirannya langsung tertuju pada sebuah nama, Ayaka.
Ya, sahabatnya itu hanya satu-satunya kunci yang tahu kebenaran tentang anaknya. Dalam dokumen ditulis bahwa anak Gendis berjenis kelamin perempuan. Hatinya semakin yakin dan percaya bahwa Reina mungkin saja putrinya.
"Ndis!" panggil Hiro.
Suara lelaki itu tidak keras, bahkan cenderung sangat lembut. Akan tetapi, justru membuat Gendis tersentak. Dia buru-buru menyembunyikan ponselnya di balik punggung dengan kondisi layar yang masih menyala.
"Y-ya?"
"Sepertinya Reina butuh ASI, tidurnya terlihat kurang nyenyak." Hiro yang hanya melongok melalui celah pintu mengarahkan ujung jempolnya ke kamar.
"Ah, ya. A-aku akan segera menyusuinya. Bisa beri kami waktu berdua?" Gendis tersenyum kaku.
Hiro mengangguk, kemudian membuka lebar pintu. Ketika Gendis masuk, dirinya sengaja menabrakkan lengannya pada tangan Gendis. Ponsel perempuan tersebut pun terjatuh.
Hiro memungut benda pipih itu dan dengan sengaja membaca halaman terakhir tentang putri Gendis. Lelaki tersebut langsung tertegun. Wajah Hiro memang datar, tetapi jakunnya naik turun selama beberapa kali.
"Ini," ucap Hiro sambil menyodorkan ponsel kepada Gendis.
Gendis langsung menyambarnya dengan cepat. Perempuan tersebut bergegas masuk ketika Hiro memberinya jalan. Dia membanting pintu kasar dan langsung mengunci diri di kamar. Hiro masih membatu di depan kamar seraya menatap pintu yang telah tertutup rapat.
"Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa tanggal adopsinya sama dengan kecelakaan yang dialami Kak Reiki?" Jemari Hiro mengepal kuat di samping badan.
Lelaki itu balik kanan dan langsung berjalan menuruni anak tangga. Dia bergegas meminta Ren untuk mengantarnya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan pikirannya berkecamuk.
Misteri kecelakaan Ren tiga bulan lalu, kehadiran Reina dalam mobil itu, dan Gendis yang kehilangan putrinya seakan saling terhubung. Berbagai asumsi kini sedang berputar dalam kepala lelaki tersebut.
Hiro yang masih tenggelam dalam dugaan harus disadarkan oleh Ren ketika sampai di lobi rumah sakit. Hiro membetulkan letak kacamatanya, sebelum kembali menegakkan punggung.
"Aku akan menggantikan Kak Yumi berjaga. Bawa dia pulang ke hotel dan pastikan Kak Yumi tak lagi mendekati Gendis atau Reina. Pastikan keduanya aman dan nyaman dalam rumah."
Hiro melirik pada spion yang menggantung di depan Ren. Tampak bayangan asisten pribadinya itu mengangguk. Hiro pun membuka pintu mobil dan turun dari sana.
Langkah lelaki tersebut mantap saat memasuki rumah sakit. Beberapa perawat dan staf terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hiro tahu betul ke mana dia harus pergi.
Hiro masuk ke elevator dan menekan tombol untuk menuju lantai tempat sang kakak mendapatkan perawatan intensif dalam ruang ICU VIP rumah sakit. Denting suara khas menandakan Hiro sampai pun berbunyi. Dia menyusuri lorong yang lebih sunyi itu dan berhenti tepat di depan pintu.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari kami, Kak?" Hiro menatap pintu seakan tengah bicara dengan sang kakak.
Hiro menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Dia memutar tuas pintu, lalu masuk ke ruangan tersebut. Di samping brankar, Yumi sedang menggenggam jemari Reiki dengan mata basah.
"Kakak Ipar," panggil Hiro sehingga membuat Yumi menoleh.
Perempuan tersebut tersenyum tipis, lalu menghapus sisa tangis. Hiro melangkah mendekati brankar, menatap Yumi sekilas lalu mengalihkan tatapan kepada Reiki.
"Belum ada perkembangan dan tanda-tanda kesadaran?" tanya Hiro sambil terus menatap Reiki yang tak kunjung membuka mata.
"Belum," jawab Yumi.
Tatapan keduanya kini mengarah kepada Reiki. Harapan keduanya sama agar lelaki tersebut sadar. Yumi berharap agar bisa kembali bersama dengan sang suami, sementara Hiro ingin menanyakan banyak hal termasuk asal-usul Reina.
"Kak, pulanglah dulu. Ren sudah menunggu di bawah. Aku akan menjaga Kak Reiki. Jika ada perkembangan, aku akan langsung menghubungimu."
Yumi beranjak dari kursi. Sebenarnya dia berat untuk meninggalkan sang suami. Namun, rasa lelah yang menyusup pada setiap sel tubuh membuatnya harus istirahat. Dia sadar untuk menjaga kesehatan, agar bisa menyambut kesadaran Reiki nanti dengan badan yang tetap sehat.
***
Sementara itu, di sisi lain Gendis tengah menempelkan ponsel pada telinganya. Dia mondar-mandir di depan ranjang layaknya setrika. Ya, perempuan tersebut berusaha menghubungi Ayaka.
Akan tetapi, panggilannya seakan diabaikan oleh sang sahabat. Sesekali Gendis mengigit kukunya saat menatap layar ponsel. Ayaka yabg tak kunjung menjawab panggilannya, membuat Gendis mengambil keputusan untuk menelepon mantan rekan kerjanya.
"Halo, Stev kamu tahu Ayaka ada di mana?"
Akan tetapi, jawaban dari ujung telepon membuat perempuan tersebut mengerutkan dahi. Pupil matanya bergetar dan bibir Gendis terbuka lebar. Kepalanya mendadak seperti ditindih dengan batu besar detik itu juga.
aksara bener2 superhero untuk mereka
terima kasih bacaannya thor
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️
Akhirnya sah Hiro dan Gendis
Meski ada hati yang terluka dibalik kebahagiaan mereka.
Semangat Aksara
Aksara....pengorbananmu untuk Gendis dan Hiro begitu luar biasa
Hiro-Gendis-Aksara......kemana hati akan berlabuh