Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.
Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Salju Terakhir yang Turun
Aku terbangun setelah mendengar suara-suara khas pagi bersamaan dengan seberkas cahaya yang memasuki celah jendela kamarku. Udara pagi sudah tak sedingin hari-hari sebelumnya.
Keluar dari kamar, aku mendapati Bright tengah berdiri di depan cermin besar yang seukuran dengan badannya. Pria itu memegang kedua sisi cermin, kemudian memiringkan kepalanya seraya memajukan wajahnya secara perlahan ke arah bayang dirinya yang terpantul di sana. Tingkah anehnya itu lantas membuatku mengernyit.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku dengan kening berkerut.
Sepasang bahunya tampak terangkat begitu mendengar suaraku. Ia pun berbalik ke arahku lalu berkata, "Ah, akhirnya kau bangun! Aku ingin menanyakan ini padamu sejak semalam. Begini, ketika upacara pernikahan berlangsung ..." Ia menaikkan telunjuk kiri dan kanannya, lalu menempelkan jari-jari itu dengan gerakan pelan sambil berkata dengan nada hati-hati, "bukankah mempelai pria dan mempelai wanita akan bercium—"
"Tidak akan ada hal seperti itu!" potongku cepat, "aku akan meminta meniadakannya!"
"Yah sayang sekali! Padahal aku sudah berlatih semalaman."
Mataku terbelalak melihat ekspresi kecewa yang tercetak di wajahnya.
"Dasar mesum!" umpatku.
"Hah? Siapa yang kau bilang mesum?"
"Siapa lagi?" tandasku sambil buru-buru masuk kamar lagi.
"Hei, itu karena tadinya kukira kita akan berciuman di depan banyak orang nantinya. Aku takut bibirku mungkin saja nanti akan meleset saat memejamkan mata," jelasnya sambil berteriak.
Aku yang mendengar itu dari balik pintu kamar, hanya bisa bergidik geli membayangkannya. Namun seketika aku pun tersadar kalau apa yang dikatakan Bright benar adanya. Tradisi berciuman setelah upacara pernikahan telah ada sejak zaman Romawi kuno yang berfungsi sebagai tanda menyegel perjanjian pernikahan, layaknya sebuah tanda tangan. Perlukah aku mencari cara untuk meniadakan sesi itu nanti?
***
Seperti biasa, meski tinggal bersama dengan Bright di rumah lamaku, aku selalu menyempatkan datang ke istana agar orang-orang kerajaan tak menaruh curiga. Apalagi, hari ini aku harus mencoba gaun pengantinku.
"Anda cantik sekali, Nona. Saya yakin pangeran Julian akan jatuh cinta berkali-kali lipat dari sebelumnya," ucap pelayanku.
Aku memandang wujud diriku di dalam cermin. Mungkin orang-orang menganggap aku sebagai perempuan paling beruntung di negeri ini. Di mana seorang anak bangsawan kelas rendah, bisa bersanding dengan pangeran yang juga menjadi putra mahkota. Sayangnya, ini hanyalah semu belaka. Kenyataannya yang akan menikah denganku bukanlah pangeran Julian, melainkan saudaranya yang namanya bahkan tak tercatat sebagai anggota keluarga kerajaan.
Setelah mencoba gaun pengantin, aku pun hendak menyempatkan diri menjenguk pangeran Julian. Aku berjalan dengan langkah tergesa-gesa sambil memandang ke kiri dan kanan untuk memastikan tak ada yang melihatku.
"Nona Claney ...."
Langkahku tercegat ketika mendengar suara seseorang memanggilku. Dengan gerakan anggun, aku pun berbalik. Seorang wanita paruh baya sudah berdiri di hadapanku saat ini, menatap dengan penuh menelisik.
"Pendeta Victoria." Aku menyapanya dengan penuh hormat.
"Apa yang membuat Nona berkeliaran di sekitar paviliun pangeran?" tanyanya seraya menoleh ke arah gerbang kediaman pangeran Julian.
"Ah, tadi ... aku mendengar kabar kalau pangeran sudah tiba. Karena penasaran aku pun datang ke sini. Ternyata itu tidak benar karena pangeran masih di Amberstone," ucapku beralasan.
"Nona Claney kelihatannya sudah tak sabar ingin bertemu pangeran," ucapnya sambil menahan senyum.
Aku hanya bergeming menatapnya.
"Kelihatannya beberapa hari ini Nona Claney sangat cemas. Saya bisa merasakan perasaan berdebar-debar di dalam diri Nona Claney. Tapi, saya kurang tahu apakah perasaan berdebar-debar itu karena tak sabar menunggu hari pernikahan ataukah karena hal lainnya."
Ucapan pendeta Victoria membuatku mencengkram gaun tanpa sadar. Sudah kubilang pendeta Victoria sangat pandai membaca aura yang ada dalam diri seseorang. Dia lalu berjalan selangkah lebih dekat, kemudian memposisikan tubuhnya berdiri tepat di sampingku.
"Hati-hati melangkah, jangan sampai tersandung, Nona." Dia tersenyum, sebelum akhirnya pergi dari hadapanku.
Aku kembali ke rumahku ketika langit telah berwarna kehitaman. Kubuka mantel bulu yang membungkus badanku. Dinginnya cuaca malam ini membuatku ingin segera meringkuk di dekat perapian.
Saat memalingkan wajah, kudapati Bright tengah berdiri menghadap jendela dengan kedua tangan bersedekap. Aku lantas menghampirinya, memosisikan berdiri di sampingnya.
"Sedang lihat apa?" tanyaku.
Tanpa menoleh ke arahku, dia berkata, "Sedang melihat salju."
Kami sama-sama memandang keluar jendela. Menyaksikan bagaimana setiap butiran kapas putih itu jatuh ke tanah hingga membentuk gundukan yang menutupi jejak-jejak kaki manusia.
"Ini mungkin akan jadi salju terakhir sebelum musim semi tiba," ucapnya sambil terus memusatkan pandangan ke luar jendela kaca yang buram.
"Kalau begitu ... tidak lama lagi," balasku pelan. Hampir tak terdengar.
Dia menoleh ke arahku, kemudian menyentuh tanganku yang meremas gaun. Sentuhan lembut nan hangat itu membuatku tersentak. Kepalaku pun refleks menoleh ke arahnya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan kesalahan yang membuat mereka curiga." Tatapan pria itu melembut disertai senyuman samar yang terbingkai di bibirnya.
"Kehidupan di istana sangat keras. Hampir setiap orang memakai topengnya masing-masing. Hampir setiap orang memiliki sikap bunglon. Begitu tiba di istana, identitasmu sebagai Bright akan hilang, yang ada hanyalah kau sebagai pangeran Julian. Kau tak bisa menunjukkan jati dirimu karena yang akan kau perankan adalah sosok pangeran yang terkenal bengis. Akan banyak yang menyanjungmu dengan sebuah tujuan, membencimu, bahkan mengharapkan kematianmu. Kau akan terkungkung dengan segala peraturan yang ada. Apa kau sudah siap dengan itu semua?"
Bright malah melempar senyum segaris seraya mengangguk tanpa suara.
"Bright, kau masih punya pilihan untuk mundur," ucapku sambil menancapkan pandangan ke sepasang mata pekatnya.
Tidak, seharusnya aku tak mengatakan ini. Seharusnya aku tak menakut-nakuti dia. Seharusnya aku tak membuatnya bimbang setelah mati-matian membujuknya. Namun, entah mengapa, aku menjadi tak tega menyeretnya masuk ke dalam pusaran masalah.
Ruangan itu diselimuti lenggang sejenak sampai terdengar suara tegasnya yang merobek keheningan.
"Tapi aku juga punya pilihan untuk terus maju," ucapnya tanpa keraguan.
Aku tersentak mendengar jawabannya. "Apa kau tak takut?"
"Selama kita saling percaya dan terbuka satu sama lain, maka semua pasti akan berjalan mulus," ucapnya sambil menyodorkan jari kelingkingnya ke arahku.
Kutatap matanya yang teduh. Jari kelingkingku pun terangkat perlahan, kemudian kusilangkan pada jari kelingkingnya yang sudah menanti. Kami masih tetap berdiri di tempat masing-masing, saling memandang dengan sepasang jari kelingking yang bertautan erat. Sementara di luar sana, bulir salju masih tenang melayang.
.
.
.
Pas bright dah masuk ke istana, akan ada POV 3 dari author ya. Karena banyak sudut pandang yang harus diceritakan
Like dan komeng
kenapa ga langsung aja, Barbara ini anunya gitu
pastinya luar dalam dilayani🤭
Bgmn y Bright memperlakukan Barbara serba salah y......
dan selanjutnya apa yang akan terjadi...Kooong
Pangeran bright.....,, waspada,, hati2 jangan smpe si batubara mencurigaimu....