NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Rahasia Tubuh yang Unik

Malam itu langit kembali kelam, namun keesokan paginya suasana berubah drastis. Kabut tipis yang biasa menggantung di lereng gunung telah tersapu angin, menyisakan udara segar yang menusuk hidung. Cahaya mentari jatuh menembus dedaunan pinus, memantulkan kilau samar di rerumputan yang masih basah oleh embun.

Para murid bangun lebih awal dari biasanya, karena Yunhai telah berpesan bahwa hari ini mereka akan menjalani latihan khusus. Bukan hanya sekadar mengatur pernapasan, melainkan juga menguji tubuh mereka masing-masing. Lin Feng, Mei Xue, Zhao Liang, dan tiga murid lain yang namanya jarang terdengar berdiri berbaris dengan wajah penuh harap sekaligus gugup.

“Latihan dasar sudah kalian kenal,” suara Yunhai datar, tetapi mengandung tekanan yang membuat dada mereka sesak. “Namun tubuh setiap orang berbeda. Ada yang lemah, ada yang tangguh, ada pula yang menyimpan rahasia tak kasat mata. Hari ini aku akan melihat siapa di antara kalian yang bisa melangkah lebih jauh.”

Murid-murid itu saling melirik. Zhao Liang menarik napas panjang, mencoba menahan rasa minder yang sering datang setiap kali berdiri di hadapan guru mereka. Mei Xue berdiri tegak, wajahnya penuh semangat. Sedangkan Lin Feng menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan rasa penasaran yang membuncah dalam dirinya sendiri—ia merasa tubuhnya berbeda, meski ia belum benar-benar mengerti alasannya.

Ujian Pertama – Pernafasan dan Kendali Qi

“Duduk bersila, atur napas kalian,” perintah Yunhai.

Mereka segera menuruti, menutup mata dan menarik udara pagi yang sejuk. Perlahan-lahan, Yunhai menyalurkan sedikit energinya ke arah mereka, seolah menguji bagaimana tubuh para murid menyerap getaran Qi dari sekitarnya.

Seketika, perbedaan mulai terlihat.

Zhao Liang tampak kesulitan, wajahnya memerah, nafasnya tersendat seperti orang tenggelam di air dangkal. Ia berjuang keras, tetapi arus Qi menolak masuk dengan mulus ke dalam tubuhnya.

Mei Xue berbeda. Ia hanya perlu beberapa tarikan napas, dan tubuhnya sudah mengikuti irama dengan tenang. Getaran Qi mengalir masuk perlahan, tak terburu-buru, tapi juga tidak terhambat. Yunhai sempat meliriknya dan mengangguk samar—meski tubuhnya biasa, kecerdasannya membuat ia cepat menyesuaikan diri.

Lalu giliran Lin Feng.

Sejak aliran Qi mendekat, tubuhnya seperti menyambut dengan rakus. Dada Lin Feng naik-turun perlahan, namun arus Qi itu tersedot masuk tanpa hambatan, seperti air yang mengalir ke sungai besar. Bahkan, ada pusaran samar yang terbentuk di sekitarnya, membuat embun tipis di rumput sekelilingnya bergetar halus.

Tiga murid lain juga mencoba, namun hasilnya biasa-biasa saja. Ada yang terlalu lemah, ada yang terbata-bata, tak ada yang mencolok.

Yunhai menatap mereka semua satu per satu.

“Zhao Liang,” katanya, suaranya keras tapi tak mengandung kemarahan, “kau memiliki semangat, tapi tubuhmu terlalu kaku. Kau harus belajar melepaskan, jangan hanya mengandalkan tenaga kasar. Jika tidak, kau akan selalu tertinggal.”

Zhao Liang menunduk, wajahnya memerah, perasaan malu membakar hatinya.

“Mei Xue,” lanjut Yunhai. Nada suaranya melunak sedikit. “Tubuhmu biasa saja, namun pikiranmu tajam. Kau cepat mengerti dan bisa menyesuaikan. Dengan kecerdasanmu, jika kau tidak menyerah, kau bisa melampaui banyak orang yang tampak lebih berbakat darimu.”

Mata Mei Xue berkilat bangga, meski ia tetap menjaga sikap hormat dengan menundukkan kepala.

Yunhai kemudian berhenti sejenak sebelum menatap Lin Feng. Tatapannya tajam, penuh makna, seolah hendak menembus rahasia terdalam tubuh muridnya itu.

“Lin Feng,” katanya pelan. “Tubuhmu… aneh. Sangat jarang aku melihat arus Qi mengalir begitu alami tanpa hambatan. Bahkan, ia tidak hanya menerima, tapi juga memanggil energi di sekitarnya. Tubuhmu seperti wadah yang diciptakan untuk menampung kekuatan.”

Kata-kata itu membuat semua murid terperanjat. Mereka menatap Lin Feng dengan berbagai perasaan: iri, kagum, bahkan sedikit takut.

Lin Feng sendiri terdiam, dada dan pikirannya bergejolak. Ia memang sering merasa berbeda, tapi mendengar langsung dari Yunhai membuat hatinya bergetar hebat.

Ujian Kedua – Daya Tahan Tubuh

Tak berhenti di situ, Yunhai menguji mereka lagi. Kali ini ia mengeluarkan sebuah kantong kecil berisi rumput kering. “Ini rumput gunung. Jika ditempelkan ke tubuh, ia akan menguji ketahananmu terhadap rasa sakit. Aku ingin melihat seberapa jauh kalian sanggup bertahan.”

Satu per satu murid mencoba.

Zhao Liang hanya bisa menahan sebentar sebelum meringis kesakitan, wajahnya berkeringat. Murid-murid lain pun tak jauh berbeda, ada yang bertahan sedikit lebih lama, tapi semuanya pada akhirnya mengerang.

Mei Xue mampu menahan lebih baik. Ia menggigit bibir, wajahnya pucat, namun ia menolak menyerah. Dalam hati, ia berkata pada dirinya sendiri bahwa kelemahan tubuh tak boleh menghalangi tekadnya.

Lalu giliran Lin Feng.

Begitu rumput itu ditempelkan ke kulitnya, rasa panas dan perih seharusnya menyerang. Namun yang terjadi malah sebaliknya—rasa itu masuk ke tubuhnya, berputar, lalu… menghilang. Seolah tubuh Lin Feng menyerap dan menetralkan semuanya.

Murid-murid yang melihatnya tercengang. Bahkan Mei Xue yang biasanya tenang tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Zhao Liang menggertakkan gigi, hatinya semakin tertekan.

Yunhai hanya memperhatikan dengan mata menyipit, lalu akhirnya berucap lirih, “Seperti yang kuduga. Tubuhmu memang berbeda, Lin Feng. Kau memiliki apa yang disebut para tetua sebagai tubuh penyerapan alami. Jika diasah dengan benar, kau akan melangkah jauh lebih cepat dari yang lain.”

Kata-kata itu menimbulkan gelombang besar di hati para murid.

Zhao Liang menunduk, tangannya mengepal hingga gemetar. Rasa iri dan kecewa bercampur jadi satu.

Mei Xue, meski sempat merasa getir karena dirinya hanya dianggap biasa, justru merasa semakin termotivasi. Ia tahu ia tidak bisa mengalahkan Lin Feng dalam hal tubuh, tapi ia bisa mengasah akalnya. “Aku harus belajar lebih cepat, lebih cerdas. Itulah jalanku,” pikirnya.

Tiga murid lain hanya bisa terdiam. Mereka menyadari perbedaan jurang yang begitu besar, hingga seolah tak ada kesempatan bagi mereka untuk bersaing.

Sedangkan Lin Feng… ia justru merasa berat. Hatinya bukan hanya dipenuhi kebanggaan, tapi juga tanggung jawab besar. Jika benar tubuhnya unik, berarti jalan yang akan ia tempuh tidak akan mudah.

Latihan berakhir menjelang sore. Para murid kembali ke api unggun kecil mereka dengan pikiran yang penuh.

Malam itu, angin berhembus lebih dingin dari biasanya.

Lin Feng duduk sendiri di luar, menatap bulan yang menggantung di langit. Ia teringat ucapan Yunhai, dan ia merasa campuran emosi yang rumit: syukur, takut, bangga, sekaligus gelisah.

Mei Xue mendekatinya, membawa kendi kecil berisi air. “Lin Feng,” katanya pelan. “Kau memang berbeda. Tapi jangan pikir itu membuat kami membencimu. Justru, mungkin jalan kita akan saling melengkapi. Kau punya tubuh unik, aku punya pikiran yang cepat. Bukankah itu bisa jadi kekuatan?”

Lin Feng menoleh, melihat senyum tipis di wajah gadis itu. Untuk pertama kalinya sejak pagi, hatinya sedikit tenang.

Namun di kejauhan, dari balik api unggun, Zhao Liang mendengar percakapan itu. Rahangnya mengeras, matanya dipenuhi bara yang semakin sulit padam.

Dan Yunhai, yang duduk sendirian di bawah pohon, membuka mata perlahan. Dalam hatinya ia bergumam, “Tubuh unik seperti Lin Feng… akan membawa cahaya, tapi juga bayangan. Semoga ia cukup kuat menghadapi keduanya.”

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!