Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.
Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.
Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNSPOKEN BONDS
Luz tahu betul, ia seharusnya tidak terbawa perasaan di dalam ikatan hubungan ini. Cuman perhatian Karel, pelukan yang tulus tanpa embel-embel, cara dia merespons setiap kekhawatiran Luz tanpa menyela atau menghakimi, semuanya terasa... terlalu nyaman. Terlalu aman. Padahal Luz paham. Mereka hanya dua orang yang sama-sama luka. Sama-sama butuh seseorang.
Sama-sama hancur, tapi berusaha terlihat utuh.
Karel mencintai James. Itu fakta. Dan Luz... seharusnya menganggap Karel hanya sebagai teman serupa, teman serumah, senasib.
Tapi sial. Luz jatuh cinta sendirian. Jatuh dengan perlahan, seperti kabut pagi yang diam-diam memeluk lembah. Tanpa suara, tapi meresap sampai ke tulang.
Di tambah kepergian ibunya secara mendadak membuat Luz semakin larut dalam sedihnya. Ia tahu panjangnya malam, dingin dan sunyi. Memeluk dirinya yang sepi bahkan sampai pagi tiba.
Dia masih belum tidur dan menangis, meratapi kepergian mamanya.
Apalagi ayahnya, memang sudah tidak peduli. Sudah menunjukkan siapa yang sebenarnya bahkan datang pagi itu untuk menanyakan warisan, harta gono-gini. Dimana letak akal sehatnya? Sampai meminta rumah ini menjadi haknya.
Padahal Luz lebih berkenan bila Devan yang menempati. Semuanya jadi terasa kalang kabut. Luz tidak masalah kalau tidak kebagian warisan, itu tidak penting. Ia hanya ingin akur dengan semuanya.
Untungnya Devan pagi itu mengusir Erwin dengan tegas bahwa yang milik Minawari akan tetap menjadi miliknya, Erwin hanya boleh membawa harta miliknya hasilnya tanpa mengambil sedikitpun milik mendiang istrinya. Dan itu hanya satu mobil yang ada di parkiran.
Sisanya milik Minawari semua, termasuk rumah dan usaha milik Devan modalnya dari mamanya. Mau seberat apapun, dunia tidak akan peduli tentang apa yang kita derita. Waktu juga akan terus berjalan, menerobos segalanya. Jika kita terus-menerus terpuruk, kita hanya akan kesulitan sendiri. Maka Luz harus kembali ceria.
“Tapi semuanya kerasa beda setelah mama pergi.”
--✿✿✿--
Hujan turun deras di luar. Karel duduk di sofa ruang tamu, tangan memegang gelas coklat panas yang udah dingin. Luz duduk di seberangnya, memperhatikan wajah Karel yang murung. Mereka hanya berdua di rumah, karna Devan tengah mengantar Bebingah belanja ke pasar.
“Lo sayang banget ya sama James.” Luz berkata seperti itu karna dari tadi tahu Karel sudah mencoba menghubungi James yang tidak juga menjawab.
Karel terdiam sangat lama, lalu menghela nafas berat. Matanya menatap kosong ke arah lantai. “Karna cuman dia yang gak pernah ngejek gue.”
“Emang ngejek kenapa?” Luz jadi penasaran, kayaknya ada sesuatu. “Mau cerita? Gue juga penasaran alasan lo belok. Itu murni dari kecil apa ada sesuatu?”
“Dulu gue pernah di lec*hin tante gue sendiri, waktu SMA.”
“Di hari yang sama, pacar gue waktu itu meninggal karna kecelakaan juga, dia mau ke rumah ngasih gue kejutan anniversary. Itu jadi hari yang paling nyakitin di hidup gue.”
Karel menunduk, menggenggam lututnya sendiri. Suaranya bergetar. “Gue bilang ke orang rumah, cari pertolongan tapi mereka bilang gue mengada-ngada. Mereka ketawa, bilang gue halu. Parahnya, tante gue nuduh gue balik, untung Tuhan langsung kasih dia balasan instan---kecelakaan tunggal dan meninggal di tempat.”
“James... dia gak ketawa, dia peluk gue, waktu gue cerita dia dengerin. Dia support dan kita deket. Cuman perjalanannya rumit, gue males cerita. Gimana dia ngeyakinin gue mati-matian kalau gue bisa di sayang sama dia lebih dari apapun.”
Luz terlihat kaget dan mulai iba. Ia mengelus bahu Karel memberikan kekuatan. “Gue gatau kalo lo sekuat itu, Rel. Gue gatau lo juga punya luka batin yang sebagian orang nganggep itu mudah.” Ia menyandarkan kepala ke kepala Karel, memeluk wajahnya dan mengelusnya perlahan.
Karel tersenyum miris. “Gue gak kuat, cuman belajar sembunyi. Disitu gue pikir, kalo cewek bakalan di perjuangin. Kalau cowok? Cuman di ketawain dan selalu di anggap predator, padahal kita juga bisa jadi korban.”
Luz jadi kasihan, ia duduk di sampingnya, menarik kepalanya untuk tidur di pangkuan. Ia mengelus kepalanya perlahan, menemaninya menangis hingga lega. “Kadang, setiap orang perlu ruang buat meluapkan emosinya dengan tenang.”
Karel diam, tak lama dia mengatakan kalau dia tidak ingin bercerai, karna dia ingin terus bersama kekasihnya tanpa di curigai.
Karel juga berjanji akan memperlakukan Luz dengan baik, meskipun tidak sebagai pasangan tapi sebagai adik angkat yang berstatus suami istri.
“Sorry gue libatin lo dalam kehidupan yang rumit tapi gue gak akan sepelein itu semua.”
Apa Luz harus mencoba membuat Karel jatuh cinta? Tapi bagaimana? Sedangkan dia telah lama ada di dunianya dan mungkin sudah tidak ingin mencari cinta yang lain.
“Ekhem mentang-mentang di tinggal berduaan, mesra-mesraan mulu kerjaannya,” celetuk Devan yang baru datang kerepotan dengan rambut yang basah.
--✿✿✿--
Gladys duduk sendirian di dapur. Hari-hari yang suntuk, excited sendirian. Merasa kesepian dan tidak di inginkan. Meskipun jadi kebanggaan mertua dan keluarga besar. Gladys Tidak bisa berbohong kalau itu semua tak cukup kalau dirinya tidak bisa membuat pasangannya bangga memilikinya.
Dari hari pertama menikah. Sampai detik ini, Zaren selalu menghindar. Tidak tahu alasannya, tapi Gladys selalu kepikiran apa mungkin dia terpaksa melakukan semuanya untuk berbakti? Atau ada hal lain, tapi yang jelas ia merasakan ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Padahal sejak pertemuan pertama, dia menunjukkan ketertarikan dan sikap yang bijaksana juga hangat. Kalau memang Gladys adalah penghalang hubungan cinta lainnya Zaren, itu akan menjadi rasa bersalah yang besar.
Telah memisahkan pasangan yang saling mencintai. Tapi kadang Zaren juga berlaku seperti sosok pasangan yang hangat.
Gladys bingung, apa yang harus ia lakukan? Mana belum lagi harus menjawab banyak pertanyaan, kapan punya anak? Kenapa belum punya anak? Gladys stres, kerja juga gak boleh karna harus istirahat biar cepet hamil.
Nah itu dia, sang empu baru pulang dari pekerjaannya. Dia tidak menyapa, selalu begitu, terlihat banyak pikiran. Saat di hampiri, dia bilang baik-baik saja. Gladys selalu perhatian, menawarkan makanan, minuman atau di pijat. Lagi dan lagi Zaren menolak.
“Kalau boleh tau, Mas kenapa jadi kayak gini?”
Zaren cuman nyesel, dia pengen Luz. Pengen ngambil anaknya juga tapi gak bisa. Kenapa dirinya bego banget!
“Gapapa.” Zaren tidak akan membiarkan Gladys tahu apa yang terjadi sebelum bertemu dengannya.
“Baiklah kalo gitu, ibu selalu gertak kita cepet punya anak. Tapi sampe sekarang kita belum di kasih kepercayaan. Gimana kalau kita coba program kehamilan?”
Zaren menggeleng. “Gausahlah, kesannya kita bermasalah. Sedikasihnya aja, emang perlu banget tujuan nikah biar punya anak? Enggak, kan! Coba kamu periksa, siapa tau emang masalahnya ada di kamu. Apa mungkin kamu belum siap?”
“Aku sudah siap, Mas. Tapi Mas sendiri?”
“Terserah, ngikut aja.” Zaren berdiri, membawa jaketnya dan pergi ke kamar.
Gladys ingin tahu sesuatu. Tapi apa? Ia juga tidak tahu harus bertanya apa. Ah ingat! Ia harus menanyakannya sekarang.
“Mas kalau boleh tau, sebelum kita menikah, apa Mas sedang menjalin hubungan dengan seseorang?”
“Kan udah bilang berapa kali sih? Enggak!” Zaren mulai gedek. “Tapi gue punya anak sama orang lain, pas gue nikah sama lu, dia lagi hamil.”
Zaren tidak peduli kalau Gladys mau terluka tau gimanapun. Tapi yang jelas ia muak dengan tutur kata manisnya, membuat telinga sakit. Pikiran mumet. Hubungan macam apa ini? Terlalu borong dan formal. Hampa suasananya.
“A-apa?” Tubuh Gladys membeku. Terasa seperti tersengat listrik. Sakit, ya tentu. “Lalu bagaimana?”
Zaren membanting pintu membuat Gladys terlonjak kaget.
Gladys berbalik badan dengan perasaan tidak karuan. Kakinya melangkah turun sambil menahan tangis. “J-jadi itu alasannya? Mungkin Mas Zaren merindukan wanita itu? A-aku---“
Zaren sadar, dia langsung menghampiri Gladys. “Gue minta maaf karna udah bentak lo.” Ia mengguncang bahu wanita itu. “Tapi gak ada kebohongan lagi sumpah, ini yang selama ini gue sembunyiin. Yang bikin gue bingung. Lo gapapa?”
“Gapapa.”
“Gak mau cerai?”
Gladys menggeleng. “Gapapa, Mas, aku ikhlas.”
Zaren memeluknya sangat erat dan berterima kasih. “Gue bakalan pertahanin lo.”
“Tapi dia siapa? Terus anaknya Mas gimana?”
“Dia udah gamau ketemu sama gue. Soal anaknya gatau, terakhir ketemu, dia masih hamil, katanya udah nikah sama orang lain.” Zaren membuang pandangan, rasanya ada teman cerita sekarang walaupun menyakiti hatinya.
Zaren duduk di salah satu kursi. Gladys ingin tahu semuanya dan setelah tahu ia berusaha menguatkan.
“Kalau memang awalnya dia bilang itu anak Mas, tapi setelah Mas ketemu sama dia udah nikah sama orang lain bilangnya bukan anak Mas. Bisa aja memang bukan, itu dia bilang gitu biar Mas tanggung jawab.”
“Gue gatau, yang jelas cowoknya itu lebih kaya dari gue. Gak mungkin kalau emang tuh cowok yang hamilin, tapi minta tanggung jawab sama gue yang lebih miskin? Anehkan.”
“Iya juga ya, bisa aja, cowoknya emang naksir dia dari lama pas tau dia hamil langsung dia yang tanggung jawab. Aku yakin masih ada orang baik.”
Zaren menatap Gladys. “Lo terlalu baik dan polos buat ngerti apa yang gue maksud. Luz beneran hamil anak gue, hati gue yang ngomong walau akhirnya Luz mengalihkan perkataannya.”
...--To Be Continued--
...