Mendaki adalah napas bagi Evan, pria berjiwa bebas yang tak pernah gentar menantang puncak tertinggi. Bersama teman-temannya, ia nekat menjelajah hutan perawan yang dikelilingi sungai berarus deras tempat yang bahkan penjaga hutan pun melarang untuk dimasuki. Satu per satu temannya menyerah pada ganasnya medan, hingga Evan harus melanjutkan perjalanan sendirian, tersesat di tengah belantara yang belum pernah dijamah manusia.
Di dunia yang berbeda, ada Sierra, gadis manja pewaris konglomerat, yang lebih sering membakar uang di pusat perbelanjaan. Liburannya ke pulau eksotis berubah menjadi mimpi buruk ketika pesawatnya dihantam badai. Dengan parasut gagal terbuka, Sierra terhempas ke rimba misterius dan hanya pohon yang menyelamatkannya dari maut.
Dua jiwa yang bertolak belakang kini terperangkap di dunia liar tanpa jalan pulang. Saat mereka bertahan hidup bersama, hutan mulai mengungkap rahasia gelap yang selama ini terkubur..., mampukah mereka menemukan jalan keluar?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HHM 16
Sierra yang sejak tadi terganggu dengan obrolan mereka, refleks ikut berkomentar. “Alami? Maksudnya... dari hutan ini?”
Victor mengangguk pelan.
“Ada tanaman. Akar. Tumbuh cuma di bagian terdalam hutan.”
“Bersinar samar di malam hari. Indah... dan berbahaya.”
Evan langsung paham ke mana arah ceritanya.
“Namanya akar Lumina,” ujar Victor. “Kalau digabung sama serum Inhibitor, dia bisa nahan perubahan.”
Hening jatuh di antara mereka.
“Berapa lama?” tanya Evan.
Victor menggeleng. “Nggak ada yang tau. Belum pernah diuji ke manusia sadar.”
“Dan yang berbahayanya tempat tumbuhnya...” ia menelan ludah. “Itu wilayah sarang mereka.”
“Wilayah sarang mereka?” Evan mengulang pelan.
Sudut bibirnya terangkat, lalu Victor tertawa pendek kering, nyaris seperti orang kehabisan napas.
“Makhluk itu bilang cuma tinggal dia satu-satunya,” katanya. “Makhluk terakhir.”
Victor menggeleng kecil. “Bullshit.”
Evan menatapnya tajam. “Maksud lo?”
Victor menyandarkan kepala ke dinding gua. “Mereka selalu bohong, Van. Dari awal.”
Evan terdiam sesaat, lalu berkata dingin,
“Kalau mereka pembohong besar... lo sekarang bagian dari mereka juga, Vic.”
“Berarti lo juga bisa bohong.”
Victor tertawa lagi. Kali ini diikuti rintihan pelan. Tangannya mencengkeram dada, seolah menahan sesuatu yang berontak dari dalam.
“Buat apa?” katanya terputus-putus.
“Buat apa gue capek-capek ngasih tau lo semua ini... kalau niat gue bohong?”
Ia mengangkat wajahnya. Mata merahnya menatap Evan lurus tanpa sisa kesombongan, tanpa topeng.
“Kalau gue mau bohong, gue tinggal diem.”
“Atau gue biarin lo masuk lebih dalam tanpa tau apa-apa.”
Hening menggantung di antara mereka.
Victor menelan ludah, suaranya melemah.
“Gue pengin sembuh, Van.”
Kalimat itu keluar sederhana, tapi berat.
“Gue capek nahan ini tiap malam. Capek takut bangun dan nggak inget siapa diri gue.”
“Dan sekarang...” ia menarik napas panjang.
“Lo satu-satunya orang yang bisa bantu gue.”
Evan mengepalkan tangan.
Sierra langsung menggeleng keras. “Enggak, nggak. Jangan. Kedengerannya aja udah nggak mungkin.”
Evan berdiri.
Gerakannya tenang, tapi keputusannya terasa berat.
“Gue bakal ke sana.”
“HAH?” Sierra refleks. “Ke sana itu ke mana dulu, nih? Ke sana yang mana? Yang sarang monster glowing-glowing itu?”
Ia menunjuk ke arah hutan, gerakannya lebay tapi matanya serius.
“Sierra...”
“Enggak, bentar.” Ia memotong cepat. “Gue cuma mau pastiin, rencana lo tuh bukan tipe rencana ‘tenang aja, nanti juga aman’ yang biasanya diakhiri sama orang ilang tanpa jejak.”
Evan menghela napas pelan.
“Itu satu-satunya pilihan.”
“Enggak.” Sierra langsung menggeleng. “Itu pilihan paling nekat. Ada bedanya, ya.”
Victor menunduk, pura-pura fokus ke tangannya sendiri.
“Lo tuh sadar nggak,” lanjut Sierra tanpa jeda, “sejak gue jatuh dari langit, ketemu lo, terus nyasar di hutan horror ini, hidup gue isinya keputusan buruk semua. Dan sekarang lo nambah satu lagi.”
“Sierra.”
“Apa? Gue belum selesai.”
Ia menyilangkan tangan. “Lo mau jadi pahlawan? Silakan. Tapi minimal kabarin dulu fans lo yang satu ini kalo lo berniat mati.”
Rahang Evan mengeras.
“Gue nggak mati.”
“Semua orang yang bilang gitu di film selalu mati duluan,” sahut Sierra cepat. “Itu hukum alam.”
Victor berdeham pelan. “Dia...”
“Lo juga.” Sierra langsung menoleh ke Victor. “Lo diem aja ya. Kondisi lo aja udah kayak baterai low power tapi sok multitasking.”
Evan memijat pelipisnya.
“Sierra, ini serius.”
“Gue tau ini serius,” katanya.
“Justru karena serius, gue nggak mau lo pergi sendirian ke tempat yang bahkan makhluk hutan aja bikin homebase di sana.”
Ia mendekat, nadanya melemah tapi masih khas.
“Gue bukan minta ikut buat sok berani. Gue cuma... nggak mau duduk nunggu sambil mikir tiap detik, ‘oh, ini mungkin detik Evan mati’.”
Evan terdiam.
“Jadi kalo lo tetep ke sana,” Sierra mengangkat dagu, “gue ikut.
Entah sebagai beban, pengganggu, atau reminder hidup kalo lo itu nggak kebal.”
Sunyi sebentar.
Victor akhirnya angkat suara lirih, “Dia beneran nyebelin.”
“Thank you,” jawab Sierra cepat. “Validasi diterima.”
Sudut bibir Evan bergerak tipis sedikit menahan kesabaran.
Sierra berdiri tepat di depan Evan sebelum ia sempat melangkah keluar gua.
“Gue ikut.”
“Enggak.”
“Van.” Nadanya langsung berubah.
“Lo tuh nggak ngerti ya rasanya disuruh nunggu di gua sama orang yang...”
Ia melirik Victor sekilas, lalu buru-buru menoleh lagi.
“...yang tiap lima menit kelihatannya mau berubah jadi sesuatu yang nggak manusiawi.”
Victor mendengus pelan. “Gue masih denger, Si.”
“Justru itu,” balas Sierra cepat. “Itu masalahnya.”
Evan menghela napas. “Sierra, ini bukan soal takut atau berani.”
“Ini soal logika,” potong Sierra.
“Logikanya, kalo lo pergi dan gue tinggal di sini, kemungkinan gue mati karena panik itu lebih gede daripada mati diserang monster.”
“Sierra.”
“Gue serius,” katanya buru-buru.
“Gue bisa bantu. Gue nggak bakal ribet. Gue bisa diem. Oke, mungkin... nggak lama, tapi gue bisa nyoba.”
Evan menatapnya lama. Terlalu lama.
“Gue nggak mau ninggalin Victor sendirian,” katanya akhirnya.
Sierra langsung menunjuk dirinya sendiri. “LAH, TERUS GUE?”
“Apa gue kelihatan kayak karakter NPC yang disuruh nunggu sambil berdoa?”
Ia menarik napas cepat, matanya mulai berkaca-kaca tapi mulutnya masih berceloteh.
“Gue jatuh dari langit, Van. Ketemu hutan aneh, ketemu makhluk gagal eksperimen, sekarang disuruh milih...”
“nunggu di gua sama orang yang gue takutkan,” suaranya menurun,
“atau ikut orang yang setidaknya gue percaya.”
Hening.
Victor memalingkan wajah. “Biarin dia ikut, Van.”
Sierra langsung menoleh. “Eh, jangan sok baik, ya. Gue tetep takut sama lo.”
“Gue tau,” jawab Victor lirih.
Evan memejamkan mata sesaat.
“Kalau lo ikut,” katanya akhirnya, dingin dan tegas,
“lo dengerin semua perintah gue. Tanpa debat. Tanpa komentar.”
Sierra mengangguk cepat. Terlalu cepat. “Deal.”
“Sekali lo panik, gimana?”
“Gue bakal tarik napas. Gue diem. Gue inget lo.”
Evan menatapnya tajam.
“Ini bukan janji main-main.”
Sierra menelan ludah, lalu mengangguk lebih pelan.
“Gue tau.”
Evan berbalik, melangkah keluar gua.
“Siap-siap,” katanya singkat.
Di belakangnya, Sierra buru-buru meraih tasnya.
*
*
Mereka mulai menyadari telah masuk wilayah sarang saat hutan berhenti bersuara.
Tidak ada jangkrik.
Tidak ada dedaunan jatuh.
Bahkan angin pun seolah lupa caranya bergerak.
Sierra melambat, menempel di belakang Evan.
“Van,” bisiknya, tapi tetap terdengar terlalu jelas.
“Ini tempat yang vibesnya jelek banget, tau nggak sih?”
Evan mengangkat satu jari, isyarat diam.
“Oke, oke, gue diem,” lanjut Sierra cepat.
“Tapi serius, tempat kayak gini tuh biasanya di film muncul tulisan don’t go further.”
Evan menoleh sekilas. Tatapannya bilang cukup.
Sierra menutup mulutnya sendiri. Dua detik.
Lalu berbisik lagi, lebih kecil.
“Gue cuma ngomong kalo kita mati di sini, nyokap gue bakal nuntut hutan ini.”
Evan menarik napas pelan. Fokus.
Di depan mereka, cahaya samar mulai terlihat biru keperakan, berdenyut lembut dari balik akar-akar pohon mati.
“Akar Lumina,” gumam Evan.
“Cantik,” kata Sierra refleks.
“Kayak lampu tumblr... tapi versi neraka.”
Mereka melangkah masuk.
Dan saat itu juga, cahaya menguat.
Hutan merespons.
Tanah di sekitar mereka terasa lebih dingin. Bayangan pepohonan memanjang, seolah bergerak sendiri. Evan berhenti, merasakan tekanan aneh di dadanya bukan takut, tapi diawasi.
ayoo kita sama² ke rumah sierra van..bikin sierra sadar akan kehadiran dirimu setelahnya langsung akad nikah ..than kita bawa sierra tinggal di hutan konservasi cinta..peduli setan dengan bisnis pak konglo..😛🤣🤣
semangat💪