NovelToon NovelToon
CEO Wife

CEO Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fanfic / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Vi

Aletta Nanda Saraswati yang awalnya bermimpi dan membayangkan menjadi istri CEO dari perusahaan barunya, terwujud tanpa ia duga-duga. Namun, ternyata menjadi seorang istri dari Pengusaha Sukses (CEO) bukanlah hal yang mudah seperti yang mereka lihat. Banyak air mata yang tumpah karena keegoisan, pertikaian, dan perselingkuhan...

Bahkan ketika Aletta merasa semua sudah berubah, ia kembali mendapatkan cobaan yang menguras kesabarannya...

Inilah kisah Aletta Nanda Saraswati istri CEO kaya raya bernama Eric Sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Eric Sakit

Aku sudah putuskan akan bicara pada Eric tentang perceraian, aku sudah tidak tahan lagi melihat perselingkuhan terus menerus yang nyata di depan mataku.

"Aletta~" tutur Eric yang masih tertidur di sampingku.

"Ngigo?" ucapku sembari mengecek mata Eric yang saat itu memang masih tertutup.

"Aletta!" dia semakin keras menyebut namaku.

"Tumben sih, nyebut-nyebut namaku. Biasanya juga Dewi," keluhku.

Ketika aku berniat membangunkan Eric, kusentuh tangannya dan aku merasakan panas menempel di telapak tanganku.

"Eric demam?" Aku coba cek juga kening Eric, dan ternyata dia memang sedang sakit.

Entah mengapa rasa kesal yang kusimpan, bisa berubah menjadi iba ketika melihat Eric yang sedang sakit dan memanggil namaku. Aku pun bangun dan mengambil air dingin juga handuk kecil untuk mengompres Eric.

"Eric, kamu kenapa bisa sakit? Kan niatnya hari ini mau aku ajak berantem," celotehku pada Eric yang masih tertidur sembari aku meletakkan handuk di atas keningnya.

Eric masih tertidur dengan ekspresi wajah yang takut. Ia seperti tengah bermimpi buruk, batinku. Aku terus mengompres Eric dengan memandangi dia.

"Kalau saja kamu enggak selingkuh dengan Dewi, aku pasti akan sangat mencintaimu sampai detik ini," lanturku dengan air mata yang menetes kembali.

Aku dengan sengaja mencium pipi Eric pertanda rasa rindu yang kian memuncak, aku rindu di saat aku tidak tahu siapa Dewi, di saat kau mencubit pipiku dengan senyumanmu yang hangat, di saat kau tertawa bersamaku di awal pernikahan dulu.

"Andainya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan seperti ini," ucapku pelan sembari menyandarkan kepalaku di dada Eric.

"Aletta..."

Aku terbangun ketika mendengar namaku dipanggil, dan aku langsung bersikap biasa ketika mengetahui Eric sudah terbangun.

"Aletta, siapkan bajuku. Aku akan bekerja," lantur Eric yang langsung bangun dari tidurnya.

"Kamu sakit, Ric," tegasku.

"Oh, benarkah. Pantas saja kepalaku terasa sangat pusing," ujarnya sembari memegang kepalanya.

"Kamu istirahat aja, nanti kalau Mamah tau pasti kamu dimarahi. Kamu tidak boleh terlalu banyak bekerja sampai kesehatanmu menjadi taruhan," ungkapku sambil mengambil handuk yang jatuh di paha Eric.

'Cekk' Eric menangkap tanganku yang tengah mengambil handuk.

"Apa?" tanyaku heran.

"Jangan urusi aku, aku sudah menyakitimu berkali-kali," ungkap Eric dengan wajah yang serius.

"Yasudah, aku akan telfonkan Dewi untuk merawatmu." Tanganku mencoba melepaskan diri dari genggaman Eric. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di saat dia sendiri sedang sakit.

"Aletta, jangan bicarakan Dewi di saat kita berdua saja. Itu hanya akan membuatmu terluka," ungkap Eric dengan ia menarik tanganku dan mendekapku.

"Kamu wanita yang baik dan kuat Aletta, aku sebenarnya menyesal harus menyakiti orang sepertimu. Tapi, disatu sisi aku masih tidak bisa lepas dari Dewi. Maaf." Suhu tubuh Eric yang sangat panas membuatku merasa hangat berada di pelukannya. Andaikan saja Eric hanya memberikan pelukannya ini untukku.

"Aku akan pergi jika kalian saling mencintai, aku tidak bisa memaksakan perasaanmu. Soal orangtua, biarkan saja mereka mengerti," ungkapku.

"Aku akan mengenalkan temanku padamu, Letta," ujar Eric melepas pelukannya.

"Aku tidak butuh laki-laki lain, tidak apa hatiku terus sakit dan mengharapkan kamu mencintai aku. Jika itu maumu." Aku memaksa Eric untuk tiduran karena badannya masih sangat panas.

"Aku akan buatkan bubur, istirahat lah," ujarku sembari tersenyum pada Eric.

"Terima kasih," sautnya.

Dengan hati yang sesak, aku tetap membuatkan sarapan untuk Eric. Entah kenapa perasaanku masih terbuka untuk berbuat baik padanya, apakah ini cinta?

Selesai memasak aku berjalan menuju kamar dengan membawa semangkuk bubur dan segelas susu putih hangat. Kulihat Eric yang masih terbaring dengan kompres di keningnya.

"Setelah makan, aku telfonkan dokter untuk memeriksamu," ujarku sambil duduk di dekat Eric.

Eric tersenyum tipis membalas ucapanku, aku pun mulai menyuapinya.

"Aaa..." dengan mulut yang ikut terbuka aku menyuapi Eric.

Eric melahap bubur buatanku dengan tanpa ekspresi. "Maaf ya, kalau buburnya enggak seenak buatan pacarmu," ucapku sambil menyuapinya lagi.

"Ini adalah bubur terenak yang pernah aku makan." Eric membuatku salting dengan ucapannya.

"Gombal!" seruku sambil tersenyum.

"Sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum Aletta. Maafkan aku yang selalu membuatmu menangis," kini ungkapan Eric membuatku mellow.

Selesai menyuapi Eric, aku segera beranjak untuk menaruh mangkuk dan menelponkan dokter untuknya. Ketika hendak pergi, Eric menangkap lagi tanganku.

"Jangan pergi dulu, temani aku sebentar saja," ungkapnya dengan nada manja.

Aku pun meletakkan mangkuk dan gelas yang aku bawa di meja dekat tempat tidur, lalu aku duduk kembali di dekat Eric. Kita saling bertatapan dan tidak ada kata yang terucap dari mulut siapapun.

"Aletta, apa aku boleh menciummu lagi?" tanya Eric dengan wajah yang polos.

"Hmh, aku tidak percaya orang sakit akan berpikiran seperti itu!" Aku mulai membentak.

"Aletta, aku pikir saat ini obatku adalah kamu!" Eric menarik pinggangku agar lebih dekat dengannya.

"Eric, kita baru bangun tidur dan kau sakit, kau butuh istirahat!" tuturku.

Namun, Eric justru menggeleng dan memasang wajah baby face-nya. Ia terus menarik pinggangku semakin dekat dengannya hingga menaiki setengah pahanya.

"Eric, please jangan lakukan!" Mendengar ucapanku ia justru lebih menaikkan badanku hingga menindih seluruh pahanya.

"Eric emang aku enggak berat ya, lepasin aku!" ketusku.

Lagi-lagi wajah baby face-nya itu benar-benar membuatku juga tidak bisa marah padanya.

"Sekali saja, aku janji," bisiknya sembari tersenyum nakal.

Aku hanya terdiam dan mengedipkan mata pertanda bingung. Tanpa mendengar jawabanku Eric mengubah posisi ku menjadi tertidur di bawah badannya.

"Eric!" seruku sembari menutup wajah karena malu.

"Aletta, aku sayang kamu." Aku membuka tanganku yang tadinya menutup wajahku, seolah tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Aku menatap wajah Eric yang memerah entah karena demam atau malu mengucap kata itu padaku.

"Aku tidak mendengarmu Eric," pancingku agar aku mendengar ucapan itu untuk kedua kalinya.

"Eum enggak," ucapnya dengan wajah yang semakin memerah.

"Kamu tuh, demamnya makin tinggi nih. Udah ah, jan main beginian." Aku mencoba bangun dari tempat tidur, namun Eric dengan sengaja menahanku ia menyentuh buah dadaku.

"Satu ronde saja!" bujuk Eric dengan wajah memelas.

"Dikira sepak bola apa, satu ronde!" keluhku.

"Aaa, Aletta!" Eric merajuk dan bersikap seperti anak kecil yang kehilangan permennya.

"Iya ... Iya!" Aku akhirnya pasrah karena tak tahan melihat kelakuan Eric yang menggemaskan.

"Tapi kalau satu ronde kurang, boleh nambah ya?" tawarnya.

"Sekali lagi nambah, aku telfon dokter sekarang!" ujarku yang berhasil memegang handphone Eric.

"Aaa Aletta!"

"Eric, apa kamu juga manja kayagini kalau sama Dewi?" tanyaku kepo.

Eric menjawab pertanyaanku dengan menggelengkan kepala dan wajah imutnya yang cemberut merajuk.

"Enggak boleh lebih dari satu ronde, soalnya kamu lagi sakit," tuturku dengan memegang kedua pipi Eric dan menggeleng-gelengkannya.

"Yaudah iya!" keluhnya yang tak berhasil membujukku.

Aku pun akhirnya kembali menuruti kata-kata Eric ... Kita melakukan hubungan suami-istri untuk yang kedua kalinya.

1
Syahilla Naazifa
Luar biasa
Yuliawati Sajo
kmu jahat Thor bikin mataku bengkak /Sob//Sob//Sob/
Pichaacha
lagian munum susu, kn mengandung asam laktat ibarat cairan asam lagi naik di tambah asem laktat ya tambah²
teh juga ada kafeinnya jg bahaya klo lg kambuh
Anisa😀😀
fisual aletta mna
Evie Nurmala
Dia tu yg nyelakain lu dan buat kak dion lu cacat loh Letta
Siti Maimunah
lnjt
Yuanitarstnt
kok lama banget up nya thorrrrrr
vi: maap kak hehe
total 1 replies
Icha Ae
lihat visual tae nangis koq q malah ngakak ya😂😂😂😂...gemes deh
Aulia Marsela
dok saya punya penyakit mematikan bisakah di obati dgn memberikan setengah hati mu untuk ku.
eaaaaaaaa🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yuanitarstnt
Pasti mau ngomong jaketnya dijual azura😂
Luksi Istianty
nyesek bangett 😭
Ririn Hasibuan3925
lanjutt lagi thorr
Dian
jan lma lma thor up nya, sampai lupa ceritanya hihi
vi: siap boskueeee
total 1 replies
Nurkosy
aduh gk tahan aq bacanya, berlinang air mata ku 😭😭😭
Dian
lanjut dong thor
Yuanitarstnt
yang jadi ken Jungkook dan yang jadi Rendy kakek Jimin 😂
vi: begitulah
total 1 replies
Yuanitarstnt
Woy thorr apakabar😁 lama ga muncul, kalau muncul lagi harusnya up nya double 😊

Salut sama Rendy cintanya ga pernah pudar untuk alleta😢
vi: baiklah selanjutnya dobel up
total 2 replies
Syafriana Jamal
author jahat 🥺 berkali2 baca novel ini tetap aja mewek aku tuhh
Syafriana Jamal: iyakan kita satu server gimana di film kan yak ?? 🤔
total 3 replies
꧁ℌ𝔢𝔰𝔱𝔦꧂
Song kang
Maeniyatun
endingnya nyesek thor😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!