Quen, gadis biasa penjaga toko. Ia tidak segaja mengijak kodok lalu terjatuh.
Quen tersadar dirinya berada disebuah kamar permaisuri suatu kerajaan. Dayangnya bernama Sri berkata"nona permasuri Quena anda sadar, syukurlah"
"Kamu siapa?kenapa aku disini?"tanya Quen.
"Nona saya dayang nona, namaku Sri. Nona permaisuri terpeleset kekolam, tuan pangeran ke2 sangat menghawatirkan keadaan nona"jawab dayang Sri.
"Apaaa aku permaisuri???"teriak Quen.
Penasaran kelanjutanya. Baca ya kisah seorang gadis biasa-biasa menjadi Ratu. bocah dibawah umur dilarang baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juhridan Rambe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelakor Cebol.
Seminggu sudah pangeran Winata dan Quen menjadi Istri. Tidak ada yang berubah dari sikap Quen maupun sikap Winata( Azima).
Mereka terlihat romantis didepan umum. Aslinya mereka seperti kucing dan tikus. Quen serta Azima, memang satu kamar, satu ranjang. Tapi tidak pernah melakukan hubungan Layaknya suami istri.
Apakah karena Quen sedang Datang bulan??. Tidak juga, Karena keduanya belum ada perasaan cinta.
Kisah mereka memang lain, dari pada yang lain. Mereka ini seperti musuh bersatu untuk saling memanfaatkan.
Seminggu ini Quen bermalas-malasan berada di Istana kekaisaran Lee. Ratu ying malah membiarkan Quen dengan sikapnya itu. Karena Ratu Ying sangat bahagia, pangeran winata telah menikah.
Bahkan terlihat Ratu Ying memanjakan Quen dengan memberikan hadiah-hadiah. Perhiasan, baju-baju baru serta uang.
Quen sedang beruntung banyak, Bisnis pakaian dalam wanitanya semakin pesat. Disayang Ratu, diberi penghargaan oleh kaisar karena berhasil menyelamatkan kota dari ribuan kepiting. Penghargaan Membantu pangeran winata memecahkah kekurangan pangan terhadap ratusan prajurit.
Dan yang paling disukai Quen, penghargaan itu membuatnya mendapatkan uang yang banyak dari kaisar Lee.
Setelah seminggu di istana kekaisaran Lee, kini Quen harus kembali ke istana pangeran Winata. Mengikuti pangeran winata pulang keistananya.
Perasaan Quen sangat sebal, baru seminggu ini ia dimanja oleh Ratu Ying, tapi pangeran winata sudah membawanya pulang.
Quen memanyunkan bibirnya, membuka cendela kereta kuda yang ia naikki bersama Azima.
Quen Melirik kearah Azima yang duduk tertidur dikereta. Lalu mengabaikannya dan menatap setiap pemandangan jalan menuju istana pangeran winata.
Tanpa Quen sadari, Azima sudah bangun dari tidurnya. Lalu menatap Quen yang sedang memandang luar cendela.
"Kamu lihat apa??" penasaran Azima.
" Lihat jalan, dari pada lihat kamu bosen" Ketus Quen.
"mulutmu itu pedas seperti cabe setan" Ejek Azima.
" Bodo" Quen pun mengabaikan ejekan Azima.
Sesampainya diIstana pangeran winata. Mereka dikejutkan oleh kedatangan Puteri perdana mentri, Mitra. Mitra sudah didepan gerbang menunggu kedatangan Azima.
" Kak Azima" Sapa Mitra sambil mendekati Azima. Sambil tersenyum cantik.
" kamu kesini Mitra??bersama siapa?" tanya Azima.
" Aku sendiri, tadi aku mengikuti ayah tapi aku mampir ketempat ka Azima. Aku ingin memberikan kue bulan ini kepada kak Azima" Mitra pun memperlihatkan kue bulan dikeranjang.
" Terima kasih Mitra"
"Kak Azima tidak perlu sugkan kepadaku. Kue bulan ini tak seberapa dari pada pertolongan kak Azima padaku" Jelas Mitra.
Azima dan mitra berjalan masuk ke istana menuju Taman kolam.
Quen merasa terabaikan sekali.
S*alan, aku tidak dianggap orang. Pasti Azima sengaja ingin membuatku cemburu. Hehhh tak mempan.
"Nona, sebaiknya nona hati-hati. Puteri Mitra adalah anak perdana menteri. Kabar yang ber'edar nona mitra sangat mengagumi tuan. Apalagi sekarang tuan akan naik tahta, jadi banyak yang akan mendekati tuan agar jadi selir" Bisik Dayang Sri.
" Biarin saja, aku tidak peduli" ucap Quen.
Quen pun berjalan menuju kamarnya, tanpa peduli Azima dan Mitra yang sedang berjalan menuju taman kolam.
Azima pun melihat Quen berjalan santai sambil bersiul tanpa beban cemburu atau iri hati.
" Kakak sedang melamun??" tanya Mitra.
" Tidak"
"O, Ini kak cobalah kue bulan buatanku. Aku juga membuat teh yang aku dapatkan dari saudagar kenalan ayah. Rasanya sangat nikmat." Mitra pun menyeduhkan teh.
Azima pun meminum teh itu, Lalu tersenyum.
" Enakkan??? ayo cobalah kue bulan ini" Mitra pun menyodorkan sebuah kue bulan. Azima pun mengambilnya dan memakannya.
"Gimana rasanya??"
" Enak"
" Untunglah kakak Azima menyukainya" Mitra pun tersenyum bahagia.
Dikamar
"Nona, apa memang nona tidak perduli dengan tuan? nona kan istri tuan. Bagaimana bisa nona membiarkan suami nona digoda oleh seorang gadis. Apakah nona tidak sakit hati???" tanya Dayang Sri.
"Biarkan saja, lagian kalau memang sifatnya lelaki buaya, mau tidak rayu pun juga tergoda." Jawab Quen.
"Nona, nanti orang berfikir nona itu gampang tertindas" ucap dayang Sri.
"Tertindas, maksudmu lemah" Quen pun langsung berdiri, Hatinya paling benci dibilang tertindas dan lemah.
Semangatnya kini berkobar untuk menjahili Azima serta Mitra.
Tingggg tingggg👿👿👿 Otak Quen berputar. Tapi Lagi Heng (pikiran kosong).
"Kita intip mereka dulu, Ayo ikuti aku" Ajak Quen.
" Baik nona" Dayang Sri pun mengikuti Quena. Mereka layaknya seorang penguntit profesional.
Dari balik Batu besar Quen bersama dayang Sri bersembunyi.
" Ussttt, kita dengarkan mereka dulu" ucap Quen kepada dayang Sri.
Sambil mengintip Quen pun berfikir.
lama tau kak nungguin anda