Menjadi kaki tangan mafia, tidak menyurutkan peran ganda Mark Robert kali ini.
Duda memiliki anak satu, cantik dan cerdas itu. Tiba-tiba mengejar cinta seorang sekretarisnya. Setelah kegagalan perasaan cintanya atau hanya sekedar tanggung jawab dulu. Apakah Mark akan benar-benar jatuh cinta dan di cintai? Mengingat latar belakang hitam dirinya bukan menyurutkan wanita tidak menyukainya, malah mereka berharap dapat di sentuh pria beranak satu itu.
Selamat membaca kisah tuan Mark Robert sahabatnya Rendi Anggara ya Kak.
Salam hangat dari Herti Bilkis😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herti Bilkis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinginnya
NTR:Hai Kak, kasih bintang 5 kak, jangan lupa like, komen, favoritkan dan vote yach... Selamat membaca kak.
Mark terdiam melihat Alea yang hanya mengenakan pakaian yang sama seperti saat ia melamar pekerjaan kemarin pagi. Namun ia hanya mengenakan sweater saja untuk menutupi tubuhnya. Ia mengangkat sebelah alisnya melihat Alea dari atas kebawah. Alea tertegun melihat Mark yang memperhatikannya dengan serius tanpa berbicara lagi.
'Eeh, apa yang sedang dia lihat? Apa yang ada di pikiran orang dingin ini? Eh kok dia menatapku lagi ada apa ini?' batin Alea.
Alea masih terdiam ketika melihat Mark yang kini memperhatikannya tanpa berkedip sama sekali. Ketika melihat dan memperhatikan Alea. Alea menjadi salah tingkah ketika mendapati perlakuan dari bosnya yang bahkan tidak berbicara sama sekali. Saat keduanya tengah terdiam, sebuah ketukan membuyarkan keduanya lagi.
Mark kini membenarkan posisi duduknya begitupun dengan Alea. Ia berbalik ke arah pintu kaca lalu menurunkanya, ia tersenyum ketika melihat seorang petugas keamanan mengetuk pintu mobilnya.
"Maaf Nona! Apakah anda baik-baik saja? Sepertinya dari semalam anda tidak pulang?" tanya petugas itu.
"Iya Pak. Saya ketiduran semalam di mobil," jawab Alea.
"Oh baiklah, jika ada apa-apa! Silahkan Anda hubungi keamanan di sini. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," ucap petugas itu.
Alea mengangguk dan tersenyum ketika petugas itu tengah pergi. Alea kini menaikkan kembali kaca mobilnya, lalu ia terdiam. Bahkan tidak berani untuk berbalik ke arah tuannya itu.
"Pertanyaan yang sama! Kenapa tidak pulang?" ucap Mark.
"Emm, saya menunggu anda sadar tuan," jawab Alea ragu.
Mark mengerutkan dahinya mendengar jawaban Alea.
"jalan!" ucap Mark.
Alea tertegun dan terkejut ketika mendengar ucapan Mark yang terdengar sangat jelas dan dingin baginya. Ia hanya terdiam tidak menjawab ucapan Mark sama sekali.
Saat mendapati Alea yang bahkan tidak menanggapinya Mark mengerutkan dahinya, lalu ia terbatuk berulang kali. Namun Alea masih saja terdiam tidak menanggapinya apa lagi menyalakan Mobilnya.
"Kenapa kamu malah tidur di sini? Bahkan tidak langsung pulang?" tanya Mark.
Mark mencoba untuk berbicara terlebih dahulu.
"Saya tidak bisa menyetir Tuan," jawab Alea ragu-ragu.
Mark mengerutkan dahinya, ia bahkan menggelengkan kepalanya ketika mendapati sekretaris barunya itu, yang terlihat dan bahkan terdengar konyol ketika seorang sekretaris bahkan tidak bisa mengemudi.
'Pantesan saja aku terbangun hanya di dalam mobil! Gadis konyol,' batin Mark.
Mark membuang nafasnya dengan kasar, lalu ia membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobil. Setelah itu ia berdiri tepat di samping pintu kursi kemudi. Dimana Alea duduk. Saat Alya mendapati dan melihat Mark ini berada di sampingnya bahkan berdiri ia terkejut dan bahkan tertegun tidak mengerti apa yang tengah dilakukan oleh bos-nya itu.
Alea masih terdiam tidak mengerti sebuah ketukan membuyarkan lamunannya ia terkejut lalu menurunkan kaca mobilnya lalu menatap Alya dengan tajam.
"Keluar!" pinta Mark.
Alea terkejut ketika mendengar perintah tegas dari bos barunya itu, saat mendapati tatapan mata tajam dan dingin. Alea membuka pintu mobilnya dan keluar. Ia berdiri membiarkan Mark untuk masuk dan kini duduk tepat di kursi kemudi. Mark memasangkan sabuk pengamannya, lalu ia memegang setir kemudi. Dan melihat ke arah Alea yang terdiam memandangi nya bahkan sedikit melamun. Mark terdiam ia menatap tajam kearah Alea.
"Masuk!" tegas Mark.
Terkejut ketika mendengar perintah dari bosnya itu, apalagi saat mendapati Mark yang menatapnya dengan tajam. Alea mengangguk,dan mengelilingi mobil dan masuk. Alea berada tepat di samping kemudi, dan masih terdiam duduk dengan rapi.
Bahkan ia sedikit merasa ragu dan takut kepada Mark yang kini mencoba untuk menghidupkan mobilnya. Namun Mark menahan pedal gasnya dan menginjak rem. Saat itu Alea bahkan hampir terbentur kepalanya. Namun Mark menahanya berada tepat, ia menarik sweater bagian leher Alea dengan kencang. Sehingga membuat Alea merasa tercekik oleh bajunya yang ditarik oleh Mark.
Alea mengerutkan dahinya ia bahkan dengan kesal melihat kearah Mark, namun saat ia melihat wajah Mark yang sangat tajam bahkan dingin, ia mengurungkan niatnya yang akan memarahi Mark. Ia terdiam bahkan tidak bisa berbicara sama sekali.
"Apa kamu mau kecelakaan di dalam mobilku?" tanya Mark dengan tegas.
Alea terdiam ketika mendengar ucapan Mark yang tengah membuatnya terkejut.
'Kenapa dia bertanya seperti itu? Bukannya disini aku yang merasa tertekan hingga seperti mau mati,' batin Alea kesal
Bahkan yang ada di pikiran Alea, seharusnya dirinyalah yang marah ketika mendapati perlakuan Mark, yang justru membuatnya tercekik seperti tadi. Namun saat Alea mencoba untuk membenarkan posisi duduknya. Tiba-tiba Mark mendekatkan tubuhnya ke arah Alea, hingga kini wajahnya Mark mendekatinya. Membuat Alea terkejut bahkan ia mengerutkan bahunya, takut akan apa yang akan dilakukan oleh Bos barunya itu.
"Eeh apa yang akan di lakukan oleh dia? Apa seperti yang di lakukan CEO yang di lakuakn bersama kekasihnya itu ya? Drama yang sering aku tonton,' batin Alea.
Ia menduga-duga dan bergelut dengan pemikirannya sendiri. Tubuhnya kini hingga menempel ke pintu mobil dan menutup kedua matanya. Namun saat Alea merasakan tidak ada hal yang terjadi, ia melihat Mark tengah memasangkan sabuk pengaman melingkar tepat di samping pinggangnya. Alea terkejut bahkan wajahnya kini merah padam menahan malu. Pikiran yang sangat jauh, ketika mendapati perlakuan dari bos barunya itu.
Mark kini duduk dengan benar setelah memasang sabuk pengaman untuk sekertaris barunya itu. Begitupun dengan Alea kini membenarkan posisi duduknya. Bahkan ia berpura-pura tidak terjadi hal apapun ketika saat dirinya melakukan hal konyol seperti tadi.
"Gila! Hal apa yang aku pikirkan tadi? Apa aku berharap dia melakuakn hal aneh padaku? Hahaha, parah kamu Alea,' batin Alea tertawa.
Ketika melihat Alea yang sedikit tersenyum tipis, Mark mengerutkan dahinya, bahkan menggelengkan kepalanya sedikit.
'Sepertinya aku tidak salah memilih sekertaris yang sedikit bodoh!' batin Mark.
Mark menyalakan mobilnya dan berkemudi ia kini menuju ke perusahaannya. Saat mendapati mobilnya yang ditumpangi oleh Alea kini tidak pergi ke rumahnya. Alea terkejut bahkan ketika melihat mobilnya kini berhenti tepat di depan perusahaanya dan sudah berada tepat di parkiran.
"Kenapa aku malaj di bawa pergi ke perusahaan? Kan aku belum siap-siap. Bahkan aku belum mandi loh dari kemarin!' batin Alea.
Mark kini membuka sabuk pengamannya dan melihat ke arah Alea yang masih terdiam sepanjang perjalanannya. Ia lalu memberikan kartu warna hitam kepada Alea. Ia bahkan terdiam ketika melihat Alea yang terkejut mendapati dirinya memegang sebuah kartu.
"Belikan aku satu set pakaian dan juga kamu juga ganti baju! Satu lagi belikan sarapan untukku," tegas Mark.
Alea terkejut ketika mendengar ucapan tuannya itu. Namun ia kini terdiam bahkan melihat kartu warna hitam berada tepat di tangannya.
"Apa ini kartu yang tiada batasnya itu ya?Aku bisa beli apapun menggunakan ini!' batin Alea tersenyum.
Saat tengah bergelut dengan pikirannya Alea bahkan ia membayangkan hal apa saja yang akan dia beli. Ia tidak memperhatikan Mark yang semakin heran kepadanya menatap dengan tajam. Mark memilih untuk keluar dari mobilnya dan ketika hendak keluar dari mobilnya. Ia berhenti selalu berbicara lagi kepada Alea.
"Aku tidak suka sekretaris yang bau!" ucap Mark dingin.
Setelah berbicara dengan tegas, Mark pergi terlebih dahulu memasuki perusahaannya membiarkan Alea yang kini terkejut. Ia bahkan terdiam ketika mendengar ucapan bosnya itu yang terdengar sangat kejam bagi dirinya. Dia memajukan bibirnya cemberut ketika ia tidak terima bahwa dirinya disebut bau oleh tuannya itu.
"Apanya yang bau! Aku rasa aku tidak tahu kok! Lagipula aku begini juga karena dia yang tiba-tiba menelponku," cetus Alea.
Ia menggerutu di dalam mobilnya. Saat melihat sekilas reaksi wajah Alea yang cemberut, ketika mendengar apa yang diucapkannya. Mark ersenyum tipis ketika melihat wajah yang sekretaris barunya itu. Lalu Mark pergi memasuki perusahaanya tanpa menghiraukan Alea.
Alea yang kini juga keluar dari mobilnya dan dia pergi dari perusahaan Itu dan memberhentikan sebuah taksi untuk ia pergi ke pusat perbelanjaan. Dengan hati yang senang dan riang, Alea kini menuju pusat perbelanjaan. Ia membayangkan dirinya yang akan membelanjakan kan semua hal yang ia inginkan saat ini.