Cerita yang mengisahkan tentang dua orang yang awalnya cuma kenal secara basa-basi karena si cewek adalah pacar dari sahabat si cowok, namun siapa sangka jika keduanya adalah jodoh yang sudah tertulis ditakdir Tuhan, bagaimana awal mula mereka menyadarinya, cerita selengkapnya akan tersaji dalam bab demi bab didalamnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di Lokasi Liburan
Setelah melewati perjalanan yang sangat melelahkan, aku tertidur dengan sangat lelapnya hingga aku merasakan ada sentuhan lembut dan penggilan halus di telingaku.
"Sayangku, ayo bangun." Dengar ku.
Aku membuka mata perlahan, tampak dengan samar aku melihat Celo ada di hadapanku yang mungkin sudah sedari tadi dia mencoba membangunkan ku.
Lambat laun pandanganku semakin jelas, langsung ku palingkan muka ke sebelah kiri karena malu melihatkan muka bantalku di hadapannya.
Ayah dan bunda melihat tingkahku terkekeh riang, mereka terus menggelengkan kepala seraya sesekali ayah meledekku untuk cuci muka.
mendengar kejahilan-kejahilan ayah sontak aku meliriknya sinis di iringi dengan tanganku yang terus menjulur ke belakang untuk mencubitnya.
"Ayah menjengkelkan." Umpat ku.
Celo segera menyenangkan ku, dia dengan sikap menarik tanganku dan seketika memelukku, mataku membulat karena kaget dengan respon spontan yang dilakukannya selalu mengesankan.
"Hmmm... Ingat loh ada ayah dan bunda disini." Celetuk bunda.
"Maklum namanya juga anak muda, bun." Timpal ayah.
"Tumben ayah membelaku, mulai detik ini ayah adalah bestie aku." Jawabku manja.
Mendengar responku itu membuat kami tertawa, suasana yang semula hening ketika di perjalanan bagaimana tidak hal ini karena dari semua orang yang ada di mobil hanya tersisa Celo seorang yang terjaga.
Tak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati suasana Puncak, aku bergegas membuka pintu mobil kemudian turun dan segera berlari ke tepi danau yang ada di samping penginapan yang sudah kami booking untuk beberapa hari ke depan.
"Halo princess, kita bertiga bukan asisten mu, jadi pastikan sebelum kita buang alangkah sopannya barang - barangmu, tolong dibawa ya!" Pekik ayah.
Aku yang terlanjur terpanah dengan suguhan alam di depanku tak menghiraukan teriakan-teriakan ayah.
Lagipula mana mungkin salah satu dari mereka tega melihatku berbalik arah hanya untuk mengambil koper dan beberapa tas dari bagasi mobil.
Di tepian danau aku memejamkan mata seraya menikmati sapuan angin yang berhembus dan berdesis manja di telingaku, helai demi helai rambutku juga melambai oleh goyangan angin danau. Segar dan damai yang ada dalam benak ku.
"Sayang, indah ya danaunya." Sapa Celo mengejutkan.
"Sejak kapan kamu disini sayang? Tadi ayah sepertinya memanggilku ya, kalau begitu aku harus segera ke mobil untuk membereskan koperku." Jawabku seraya berdiri dari tempat duduk.
''Gak perlu, semua barang mu aman. Semua sudah ada di tempatnya masing-masing memenuhi seluruh kamarmu." Jelas Celo sembari menahan tanganku.
"Serius?" Tanyaku ragu.
"Iya cantikku." Jawab Celo.
Aku menghela nafas lega sesaat kemudian diikuti tawa girang, Celo memanglah pahlawan untukku.
Biasanya jika aku pergi dengan ayah dan bunda jika aku bersikap seenaknya sendiri seperti tadi pasti aku selalu jadi pusat perhatian semua orang.
Karena petugas pengelola tempat tersebut menerima laporan kehilangan barang dariku yang ternyata itu ulah kejahilan ayah agar aku terlatih untuk tidak ceroboh.
Celo tersenyum mendengarkan cerita-ceritaku tentang kejadian-kejadian selama aku berlibur bersama ayah dan bunda atau bahkan keluarga besar.
Kemudian dia menarik ku untuk duduk di pangkuannya dan seperti biasa tujuannya pasti ingin membuatku nyaman setiap didekatnya, dia mengelus dan merapikan rambutku yang berantakan karena sapaan angin.
Aku menikmatinya seraya menyilangkan tanganku dilehernya, kemudian suasana hening danau membuat kami terbawa perasaan, tanpa permisi bibirnya menyentuh bibirku.
Aku memejamkan mata mengikuti irama mesra yang telah tersaji hari ini, kecupan kami semakin dalam.
Sesekali Celo juga menelusuri leherku, sentuhan tiap sentuhannya membuatku terhanyut dalam jeratan kasihnya.
Kami larut dalam suasana kemesraan hingga tidak memperhatikan sekeliling yang ternyata sedari tadi tanpa aku sadari para sahabat serta karyawan Celo sudah berdiri melihat adegan ku dengannya, tentunya kami malu dan rasanya ingin menghilang seharian.
"Lanjutkan anak muda, anggap saja dunia kalian yang punya." Celetuk Rafka jahil.
"Sejak kapan kalian ada disini, kok gak ngasih info?" Tanya Celo mengalihkan.
"Cukup lama menonton adegan romantis yang tersaji di depan mata, pak." Jawab salah satu karyawan.
Mendengar jawaban salah satu karyawan Celo, tentu saja membuat suasana menjadi gaduh.
Mereka saling memandang dan tertawa tak terkecuali Rafka yang menurut dugaanku dan Celo adalah dalang dari penggrebekan kami.
Penggerebekan yang menurutku sangat tidak masuk logika dan pastinya menyalahi etika karena mengganggu privasi orang lain, aku dan Celo kan hanya mengekspresikan hasrat rindu yang selama ini tertunda.
"Ish... Dasar jomblo jadi iri lihat keharmonisan orang lain.'' Gerutuku sambil melangkah pergi dengan meninggalkan cubitan di pinggang Rafka.
"Sakit nyonya Dirganda." Teriak Rafka seraya memegang pinggangnya.
Celo tertawa puas melihatnya, sementara aku berjalan tegak menuju penginapan untuk mencari ayah dan bunda.
Sesampainya disana ku dapati mereka sedang berbincang dengan salah satu anggota vendor acara, tanpa ragu aku segera bergabung dengannya.
"Ayah dan bunda lagi bahas apa?" Tanyaku.
"Kami sedang membahas agenda apa saja yang nantinya kita lakukan, sayang." Jawab bunda.
Aku mengangguk dan tersenyum, pegawai itu sangat telaten dan sabar menjabarkan agenda demi agenda kepada mereka.
Tak berjarak lama ternyata Celo juga mengikuti ku, tangannya seketika bergelantung di leherku.
Mengetahui hal ini tentu saja pipiku seketika memerah, malu dan bahagia bercampur jadi satu.
Kedua orang tuaku tak bergeming karena pemandangan ini sering mereka lihat, bagi ayah dan ibu hubunganku sudah masuk ke dalam hubungan serius.
Jadi selama itu tidak melanggar norma dan masih ditahap wajar tentu saja tak ada yang perlu di khawatirkan.
Justru mereka akan khawatir jika aku sedang ribut dengan Celo, hubungan kami yang seharusnya sudah bisa untuk bertunangan ini malah sering mengalami kesalahpahaman hanya karena hal-hal remeh.
Tentu saja yang sedih dan panik bukan hanya aku ataupun Celo tetapi juga ayah dan bunda.
"Mas Celo nanti malam untuk planningnya apakah siap di eksekusi." Tanya Pegawai vendor.
"Tentu saja." Jawab Celo.
"Planning apa sayang? Bukankah agenda acaranya baru akan dimulai besok lusa ya?" Tanyaku kebingungan.
"Rahasia, nanti juga pacarku yang cantik ini tahu sendiri dan aku harap bisa bikin kamu senang." Tuturnya.
"Sekarang mulai main rahasia sama aku ya, awas kamu!" Ancam ku.
"Ampun sayang, tetapi untuk yang ini memang sifatnya suprise. Aku hanya minta kamu persiapkan diri secantik mungkin nanti malam." Terangnya sambil mencium pipiku.
Aku tersenyum ke arahnya, sejujurnya aku semakin penasaran agenda apa yang dia rahasiakan dariku.
Jika aku mendesaknya sekarang bisa jadi keributan yang akan aku hadapi dan tentunya agenda nanti malam tidak bisa aku ketahui.
Akhirnya aku putuskan untuk menahan sejenak rasa kepo ku ini sampai menunggu nanti malam yang hanya membutuhkan sedikit rasa sabar.
Ku lanjutkan langkahku menuju kamar yang dipilihkan Celo tepat di sebelah kanan sudut penginapannya.
Menurut penuturannya karena kamar itu sesuai denganku karena ketika jendelanya dibuka maka mataku akan dimanjakan dengan pemandangan desiran air danau dan lambaian pohon kelapa di sekeliling danau.
..