Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Timbul Rasa Suka
Mobil New Camry silver baru saja membawa Riski pergi. Sepertinya lelaki itu sangat sibuk hari ini. Atau ia memang sedang terburu-buru karena ada janji dengan Ruka, sekretarisnya yang telah menyandang status janda.
Aku segera menepis segala praduga. Lagi pula, kenapa aku harus peduli jika dia akan menjumpai siapa. Namun, entah mengapa beberapa hari ini antara logika dan perasaan sering sekali tak sejalan. Apakah aku mulai menyukai tunangan pura-pura itu. Ah tidak, ini tidak boleh terjadi.
Ketika hendak membuka pintu mobil, tatapanku tak sengaja tertuju pada bayangan seorang lelaki yang mirip dengan Dokter Bayu. Pria itu melangkah mendekat sambil menyunggingkan senyuman. Aku mengalihkan pandangan kembali ke pintu mobil, membukanya lalu naik untuk mengemudi.
"Rini!" serunya sambil mengetuk kaca mobilku.
Aku menurunkan kaca, mendapati lelaki tampan itu menjorokkan kepalanya ke arah jendela.
"Iya Dok, ada apa?"
"Apakah kau punya waktu luang sekarang?"
Aku mengangguk senang ketika ia mengajak makan siang berdua, apa lagi restoran yang ia pilih adalah restoran yang lumayan mewah. Lengkap sudah alasan untuk membuatku melambung tinggi.
Sambil curi-curi pandang aku menikmati keindahan wajah Dokter Bayu, ia sedang fokus membalas pesan seseorang. Sepertinya itu pesan yang penting.
Lelaki itu terlihat lebih macho memakai baju rajut berwarna hitam dan dipadu dengan jas berwarna senada, wajahnya yang glowing pasti membutuhkan perawatan yang tidak murah. Tanpa sadar aku meraba wajah sendiri yang nyatanya berjerawat. Oh, Tuhan.
"Ini pesan dari rumah sakit, ada pasien bedah jam 5 sore nanti." ucapnya sambil meletakkan ponsel ke atas meja.
Belum sempat aku menjawab, pramusaji datang membawa pesanan kami. Ia menata bawaanya dengan telaten, lalu beranjak dari hadapan kami.
"Terima kasih sudah mengajak makan siang di tempat yang semewah ini. Jujur ini pertama kalinya saya makan di tempat seperti ini." ucapku sambil menahan malu. Namun, sedetik kemudian aku menyesali kepolosan ini.
Lelaki berkulit putih bersih itu terkekeh. "Kalau kamu mau, aku bisa mengajakmu tiap hari kesini." ucapnya sambil menatap manik mataku.
Aku menanggapinya dengan senyuman. Ada rasa bahagia yang meletup-letup di sanubari sana. Binar matanya yang indah membuatku ingin berlama-lama menatapnya. Seperti ini.
Dalam perjalanan pulang, pikiranku hanya tertuju kepada Dokter Bayu saja. Ada banyak pertanyaan tentangnya yang mulai bertindih di kepala ini menuntut jawaban. Di mana alamat rumahnya? siapa kedua orang tuanya? warna apa yang ia sukai? makanan dan minuman kesukaannya apa? Dan hal-hal lain yang menyangkut dirinya.
****
Malam ini aku memilih untuk tidur di rumah. Tubuh ini membutuhkan tidur yang nyaman sebagai ganti tiga malam bergadang. Menjaga Oma Dwi.
Rumah kembali lenggang. Kata Bi Ijah, Mama telah kembali kerumanya tadi pagi, di jemput oleh Salsa dan Bagas. Baguslah, usaha gadis nakal untuk membujuk Papa Heru agar memaafkan kesalahan Mama tidak sia-sia.
Meskipun harus kembali berteman dengan sepi seperti yang sudah-sudah. Aku tetap merasa bersyukur. Wanita yang ku cintai, kembali ke rumahnya.
Suara notifikasi pesan WhatsApp masuk dari nomor tak terdaftar. Aku mengusap layar 5 inci lebih itu.
[Lagi ngapain, Rin?] aku mengernyit dahi, siapa pemilik nomor tersebut. Kenapa ia bersikap sok akrab seperti ini.
[Maaf, ini dengan siapa?]" aku mengirim balasan.
Begitu terkirim, pesan langsung centang biru. Terlihat ia sedang mengetik balasan. Aku semakin penasaran.
[Aku Bayu, nomornya jangan lupa disimpan, ya!] mulutku membulat sempurna membaca balasan pesan darinya.
Kami semakin intim ber chatting ria. Kantuk yang tadi sempat menyerang kini telah melebur bersama dengan rasa yang mulai menyeringai lubuk hatiku. Hingga tanpa terasa jarum jam dinding telah bergeser ke angka 1 malam. Aku mulai menguap.
[baiklah. Selamat istirahat. Semoga kita bertemu di alam mimpi]
Aku tersenyum bahagia membaca pesan WhatsApp-nya yang terakhir untuk malam ini. Setelah meletakkan ponsel di meja nakas, aku beranjak ke kamar mandi. Membersihkan muka dan gigi sekaligus berwudhu sebelum tidur. Patuah dari almarhum ayah yang masih aku lakukan hingga sekarang.
***
Cuaca pagi ini terasa lebih cerah dari biasanya. Aku menyibak tirai jendela kamar yang daunnya terbuat dari kaca bening. Tanaman hias yang di rawat oleh Bi Ijah sepenuh hati telah banyak berbunga.
Pandanganku tertuju pada kuntum bunga mawar berwarna merah. Ia seperti baru bermekaran pagi ini. Merekah dengan sempurna. Dari dulu, bunga yang paling ku sukai adalah mawar merah. Bagiku bunga pemilik kelopak indah tesebut melambangkan seorang gadis dan duri yang dimiliki oleh tangkainya menjadi pelindung baginya dari lelaki tidak bertanggung jawab.
Bukankah seorang gadis harus seperti itu. Selalu menjaga marwah dan harga dirinya.
Menatap mawar merah membuatku membayangkan Dokter Bayu, meski aku tidak mengetahui hubungan keduanya.
Aku beranjak. Mengambil ponsel yang terletak di sudut kiri tempat tidur lalu membaca kembali pesan WhatsApp dari Dokter Bayu, semalam. Sambil mengulum senyum.
"Non Rini, sarapannya sudah siap." seru Bi Ijah di ambang pintu.
"Baik, Bik! saya akan segera keluar."
***
Aku menyetir mobil, membelah jalanan kota menuju rumah Oma Dwi, tentunya setelah mendapatkan panggilan darinya. Kata Oma, ada hal penting yang ingin beliau sampaikan.
Begitu memasuki pintu depan, terlihat kedua orang tua Riski dan dua lelaki asing. Aku merasa ada yang tidak beres, dengan langkah ragu ku hampiri mereka di ruang tamu.
"Assalamualaikum, semuanya ...."
"Waalaikumsalam." jawab mereka secara bersamaan dengan pandangan yang menyiratkan pertanyaan.
Aku memilih duduk di samping Oma, wanita setengah abat itu terseyum mengembang menatap ke arahku. Aku membidik mereka satu persatu secara bergantian.
Oma membuka percakapan yang menurutku lebih mirip dengan rapat keluarga. Dari pembicaraan Oma, aku baru tahu jika kedua lelaki asing itu adalah pengacara keluarga Anjana. Keluarga besar Oma.
Ada harap-harap cemas terbaca dari raut papanya Riski. Anak lelaki dari Oma Dwi. Sedangkan istrinya, wanita itu terlihat tenang, sesekali ia menatap layar gawai sambil tersenyum.
"Selamat siang semuanya, maaf saya terlambat. Terjebak macet tadi di jalan." ucap Riski begitu ia sampai, membuat kami semua menatap ke arahnya.
"Sekarang semuanya telah terkumpul, Ibu bisa memulainya." ucap Papanya Riski. Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk mendengarkan apa yang akan Oma katakan.
Oma Dwi menarik nafas lalu membuangnya secara perlahan. Sorot matanya masih sendu. Tampak jelas dari aura mukanya, ia belum sepenuhnya pulih. Oma Dwi membetulkan posisi duduk lalu menatap kearahku. Aku tersenyum menanggapinya.
"Kalian sudah tau bukan, jika Rini Valencia ini adalah tunangannya Riski." ucap Oma yang lebih pantas di sebut sebagai pengunguman.
Ucapan Oma spontan membuat kedua orang tua Riski kaget. Begitu juga dengan kedua pengacaranya. Mereka saling memandang satu sama lain.
Tubuhku terasa mengecil kala Mama dan Papanya riski membidik kearahku dengan tatapan yang sulit ku mengerti. Sementara Riski, lelaki itu terlihat pasrah dengan apapun yang terjadi.
"Tunggu dulu, Bu! Saya masih belum paham dengan apa yang Ibu bicarakan. Karena semaktu di rumah sakit, Riski memperkenalkan perempuan ini bukan sebagai tunangannya melainkan se—"
"Pasti waktu itu Papa salah dengar." ucap Riski menyela.
Aku semakin tidak nyaman. Rasanya ingin sekali pergi menjauh dari hadapan mereka. Ada kecemasan yang mulai menguar di sanubari.
"Tidak mungkin saya salah dengar, ya kan, Ma." Mama Riski mengangguk.
"Sudah, sudah. Yang lalu biarlah berlalu. Mulai dari sekarang hingga kapanpun, Rini adalah wanita yang akan mendampingi cucu semata wayangku." ucap Oma sambil mengelus kepalaku lembut.
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏