Seorang abdi negara yang berusia matang, di pertemukan dengan gadis muda yang tingkahnya mirip petasan.
~
"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"
"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.
"Apa?"
"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"
"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."
"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."
"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."
"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.
Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tante biduan
Jam terus bergulir, hari terus berganti. Tak terasa sudah seminggu lamanya ia bekerja. Dan hari ini adalah weekend pertama yang ia jalani dengan status berbeda, bukan pengangguran lagi pastinya tapi, APK asisten perawat kesehatan! Cukup keren kan wirrr? Hihihi ...!
Bangun dengan keadaan segar bugar, Ranti lantas membasuh diri dan segera berganti pakaian, tak lupa ia juga menyempatkan untuk beribadah.
Mematut dirinya di depan kaca, ia melanggak-lenggok meneliti penampilannya. Hanya memakai leging hitam selutut serta kaos oblong yang menyamarkan lekuk tubuhnya, ia cukup percaya diri demgan penampilan demikian.
Cukup cantik! Pujinya sembari tersenyum lebar.
Membenarkan ikatan kuncirannya yang ia kepang rapi, Ranti lantas segera melenggang bergegas membantu si mboknya. Tak perlu waktu lama, cuci piring, nyapu, ngepel ia kerjakan dengan waktu singkat, pokoknya beres semuanya lahh.
Setelahnya ia beranjak ke halaman untuk menyapu guguran daun seperti biasanya. Sementara mbok Darmi jangan di tanya lagi, sudah pasti ia sibuk berkutat perdapuran.
Menyapu mengelilingi halaman serta pekarangan rumah, kali ini Ranti tak begitu letih seperti awal-awal. Sebab fisiknya kini sudah cukup terlatih akibat bekerja di dinas kemiliteran.
Sedang asyik-asyiknya menyapu, tiba-tiba sebuah mobil asing berhenti di depan rumah. Ranti kontan segera melangkah membuka pintu, namun belum sempat ia menggapai gagangnya Bu Indira serta Mbak Caca berseru dari dalam rumah seraya berlari kearahnya.
"Gak usah di buka lebar!" teriak Bu Indira sambil berlari.
"Huuh?"
"Itu taksi online Ran," beritahu Caca yang mengekor di belakangnya.
Sampai di ambang gerbang, mereka kemudian berhenti sejenak.
"Titip rumah bentar ya Nak, Ibuk sama Caca ada acara luar kota bentaran, nanti sore baru pulang."
"Ohh, iya Bu. Siapp!"
Bu Indira lantas membelai lembut pipinya dan masuk kedalam mobil di ikuti oleh anak gadisnya.
"Bye, Ran," pamit Caca sambil melambaikan tangan.
Memperhatikan laju kendaraannya yang kian lama kian menghilang, barulah ia menutup gerbang dan tiba-tiba ada mobil lagi yang berhenti di depannya.
Pintu mobil terbuka, Ranti memincing kepo menantikan siapa gerangan pagi-pagi begini bertandang kemari. Hanya sedikit sela, nampaklah sejuntai tungkai mulus nan begitu putih. nampak begitu halus dan juga mengkilat.
"Wihh, bisa mengkilat begitu? Pasti abis di pernis itu kaki!"
Tak berselang lama sosok itu keluar, dengan gestur anggun serta langkah gemulai. Sosok itu tak lain adalah wanita yang kemarin baru saja bertamu kemari.
"Ck, ternyata si Mbak biduan," decaknya samar.
Membukakan gerbang lantas Ranti menyambutnya dengan senyum terlewat manis namun di paksakan.
"Halo Tante, cari siapa?"
Perempuan yang di panggil Tante itu lantas sedikit merengut samar, terlihat sekali dari alisnya yang mirip keong sawah itu tengah menukik sebelah.
"Ahh, iya. Mas Bhadrika nya ada?" tanyanya dengan suara lembut tapi terdengar begitu menggelikan di telinga Ranti.
"Ohh, Pak Braja! Bapak ada tapi di kamar mandi, lagi kepiritt hehehe."
"Hah?" saut wanita itu sarat mengendik geli.
Namun, dasarnya aji mumpung belum berpihak kepadanya. Tiba saja Braja muncul dari pintu di belakangnya. Memakai kemeja lengan pendek berwarna navy, serta celana Chino creamy, auranya benar-benar tidak karuan. Melebihi kadar normal dan bisa berakibat fatal.
Wanita itu pun lantas melirik mengejek ke arah Ranti.
"Mas," sapanya dengan tangan melambai serta senyum yang Ranti yakin itu di buat-buat.
Hilihhh!
Braja mendekat dan hanya mengangguk singkat sebagai responnya. Berdiri menjulang di sisi Ranti dan wanita itu. Tubuhnya yang bidang sempat membuat Ranti terpesona sebelum kemudian ia menggeleng dan berdehem singkat.
Bertengger di sisi gerbang dengan tangan di pinggang serta lirikan tajam. Ranti berucap ketus hingga menarik delikan tajam dari lelaki di sebelahnya.
"Panas nihh, mau keluar atau bagaimana? Keburu badan ku kering kena panas berlebihan!"
"Tutup saja." sejurusnya Braja dan juga wanita itu melenggang keluar dan masuk kedalam mobil.
Kontan Ranti berdecak sengit, apalagi tanpa sengaja ekor matanya melihat tangan Braja yang menggenggam jemari wanita itu.
"Dihh, lagaknya!"
Menutup gerbang sedikit kasar, ia lantas kembali ke halaman mengambil sapu butut yang jika di lihat-lihat lebih menarik dari pada lelaki barusan.
"Seenggaknya kamu gak bikin geregetan kaya doi puuu sapuu!"
Biarlah Ranti di kira gila, tohh juga tidak ada orang lain yang melihatnya saat ini.
...----------------🍁🍁🍁----------------...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hhuuuuaaaaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
wesss tabok ae Ran....
jan macam² kamu BajaHitam...
s' BajaHitam ini ya...
klo smp rindu beneran ku tabok pake teflon keramat...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🏃🏃
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣